Di usia dua puluh lima tahun, Gurkha pergi meninggalkan keluarganya dan habitatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINDAH
Gurkha mengusap-usap rambut Devi penuh kasih sayang, sesekali dia mengecup kening wanita itu dengan mesra. Dia lalu menggendong Devi ala bridal style membawanya keluar menuju mobil.
"Aku bisa jalan sendiri." protes Devi dengan mulut manyun. Dia memang lelah karena Gurkha menggasaknya tanpa jeda.
"Aku tahu kamu lelah sayank, nanti minum susu Naga, lelahmu akan hilang, dan kau semakin kuat."
"Apa yang di kulkas itu kamu maksudkan susu Naga? rasanya aneh dan amis?"
"Itu istilah saja, tidak ada susu Naga beneran, itu hanya obat kuat." kilah Gurkha. Sebenarnya susu yang Devi minum adalah susu Naga, dia selalu di kasi jatah oleh Goreon.
"Mari kita naik, sayank...." kata Gurkha membuka pintu mobil dan mengajak Devi duduk di jok mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Gurkha akan membawa Devi ke sebuah Villa Indah di atas Bukit Sambala. Malam ini dia ingin tidur dengan wanita itu di atas Bukit, tanpa di tunggui oleh Goreon yang selalu mengintip. Gurkha tahu selama ini hidupnya di mata-matai oleh bangsa Naga Api suruhan Ayahnya, atau kakek nya.
Sebenarnya Gurkha menginginkan lebih dari tidur, misalnya dia ingin mengajak Devi melatih ilmu api, dibawah langit di atas puncak Bukit. Ilmu ini bisa membentengi diri, supaya Devi bisa melawan serangan Naga. Tapi melihat Devi slow respon, dan tidak ingin menyatu dan selalu menentang kehendaknya, sepertinya dia harus menahan diri.
"Kita akan kemana?" tanya Devi menatap lurus ke depan. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan, tetap menjadi budak pria ini, atau pulang bergabung dengan orang tuanya. Kedua pilihannya mengandung resiko, dia tidak tahu siapa Gurkha sebenarnya, menurut desas desus Gurkha anak pungut yang amnesia.
"Aku membeli Villa untuk mu, saat ini tidak ada yang bisa dilakukan, selain bersembunyi untuk sementara waktu sampai semuanya selesai."
"Apakah aku akan hidup sendiri lagi disana? atau ada pengurus rumah tangga? aku takut dengan Naga yang selalu datang seperti hantu." tanya Devi acuh.
Tangan lentiknya membuka playlist mobil. Sebuah lagu X Ambassadors yang berjudul Unsteady begitu saja mengalir, berkumandang lugas, membuat hati Gurkha tersayat perih. Matanya berkabut, dia ingat ayah dan ibunya yang meronta terbakar hidup-hidup.
"Aku mencintaimu." lirih suara Gurkha, ntah untuk siapa. Dia sangat mencintai Devi, wanita yang pertama dalam hidupnya, yang bakal menjadi Ibu dari anak-anaknya. Tapi dia ragu untuk membuat keturunan, karena Ayah dan Kakek nya pasti akan membakar Istrinya hidup-hidup.
"Aku membencimu, karena banyak hal. Setelah semuanya normal aku akan pergi meninggalkanmu. Aku tidak butuh kekayaan, uang banyak atau apapun yang kau hadiahkan, aku butuh kebebasan. Aku ingin melihat orang tuaku." sahut Devi geram dan pasrah tidak berdaya.
Kaca pintu mobil dibuka setengah, Devi memutar volume lebih kencang, suara musik terdengar sampai keluar terasa kampungan banget. Untung lengang. Angin bertiup sepoi-sepoi basah, sepanjang jalan mereka mendengarkan musik sambil melihat pemandangan alam, jalan yang berkelok-kelok, di sebelah kiri Laut bebas dan sebelah kanan Hutan Mangrove. Sungguh indah.
Sekitar dua jam perjalanan, mereka sampai juga di Bukit Sambala. Gurkha mengajak Devi turun, Pak Samin penunggu Villa menyambut kedatangan mereka.
"Selamat siang Tuan, silahkan masuk semua sudah di bersihkan, ini kuncinya." sapa Pak Samin sopan, lalu menyerahkan kunci Villa.
"Trimakasih Pak, sekarang saya sudah datang, Bapak boleh pulang."
"Baik Tuan, kalau ada perlu, Tuan boleh panggil saya."
"Pasti itu Pak." Pak Samin mohon diri dan menghilang.
"Kenapa barang-barang tidak dibawa masuk?" tanya Devi menoleh kepada Gurkha.
"Kamu istirahat saja, itu urusan ku, ingat minum susu." ucap Gurkha. Dia menggandeng tangan Devi menuju kamar utama. Kamar ini luas dan mewah, seperti kamar Villa pada umumnya. Spring bed king koil dan
Villa ini memiliki design segitiga emas Fibonacci, mengusung tinggi nilai bangunan.
"Kamu boleh tiduran atau berkeliling, di belakang ada kolam renang."
"Aku mau minum susu, lalu tidur, soalnya tadi malam tidak bisa tidur."
"Tidurlah, aku akan membereskan barang-barang."
Gurkha keluar dari kamar utama, dia menuju mobil, mau menurunkan koper.
"Derrrttt...derrrrttt...derrrttt...." ponsel Gurkha bergetar. Gurkha membuka ponselnya, ternyata Pak Surya.
"Halo Paa, ada apa?"
"Kata Pak Burhan kamu jarang kerja, sedangkan pekerjaanmu menumpuk, banyak keputusan yang harus di selesaikan."
"Maaf Paa...aku hanya libur dua hari, mulai besok aku akan bekerja. Pak Burhan senang melebih-lebihkan."
"Katanya, kau memakai uang kantor untuk berpoya-poya, benar itu?"
"Astaga, itu fitnah. Aku tidak pernah ke Club, Bar atau memakai uang tidak benar, aku punya uang gaji dan itu aku pakai belanja. Semua jelas, aku punya keuntungan di Saham. Seandainya Papa tidak percaya, aku bersedia di audit kekayaan ku."
"Papa menyerahkan tanggung jawab kepadamu, karena percaya kepada kamu. Tapi jika kamu menyalah gunakan kepercayaan Papa, kami akan memecatmu."
"Aku mengerti Paa, tidak ada keinginan untuk menipu Papa. Besok kita bertemu di kantor, kita bahas soal ini." sahut Gurkha.
Permainan Pak Burhan dan Rina, sudah di ketahui oleh Gurkha, orang itu akan selalu memburunya sampai Gurkha di tendang ke luar. Sudah beberapa kali Pak Burhan memfitnah nya, dan ada saja tuduhan mereka. Untungnya Pak Surya tidak percaya, tapi kali ini, rupanya Pak Surya akan terpedaya.
Selesai merapikan barang yang dia bawa, Gurkha masuk ke kamar. Dia melihat Devi tidur terlentang. Wajah cantiknya sangat memukau. Gurkha naik ke tempat tidur langsung memeluk wanitanya dengan gairah.
Devi tersentak saat merasakan ada yang memeluknya. Dia menoleh kesamping dan mendapati Gurkha
sedang tersenyum.
"Aku ikut tidur, bolehkah?" kata Gurkha menopang kepalanya dengan satu tangan. Dia gemas dengan wajah Devi. Gurkha menarik tengkuk Devi dan mencium bibirnya dengan liar. Devi menolak dada Gurkha, tapi tubuh pria itu sangat kuat dan berat.
"Jangan melawan, kau akan sakit." bisik Gurkha, lalu menarik Devi lebih dekat dan menghilangkan jarak di antara mereka, kemudian Gurkha menyatukan bibir nya dengan bibir ranum milik Devi. Dia mencium Devi dalam dan penuh nafsu.
Wanita ini selalu membuat dia tergoda, dia sudah menahannya dari tadi, terkadang dia tidak bisa tidur nyenyak, karena bayangan Devi yang sexy mengusik ketenangan jiwanya. Jiwa Naganya menghambur keluar, ingin menggasaknya sampai klenger. Begitu besar pengaruh dari wanita itu, membuat Gurkha tergila-gila. Bahkan dengan memandangnya saja, gladiator nya bisa bangkit. Gurkha tahu wanita ini jodohnya, pelabuhan hatinya, itu tidak bisa di pungkiri.
"Gurkha, jangan lakukan, aku tidak mau hamil sebelum kita menikah. Ini salah, kita melakukan kesalahan dari awal." kata Devi menolak Gurkha.
"Aku tidak bisa menahannya lagi, setiap dekat denganmu, gladiator ku mengamuk. Dan kau ingin aku berhenti?" ada jeda sejenak, dia ingin Devi menjawab. Tapi Devi diam.
"Aku tidak akan mengabulkannya." Gurkha menyentak kuat pakaian Devi hingga kancingnya berhamburan, serta membuka paksa penutup vital dari tubuh Devi.
Terlihat tubuh Devi yang nudis. Gurkha menelan salivanya dengan kasar dan mulai menindih tubuh Devi. Wanita itu tidak bisa melawan kekuatan Gurkha yang sangat perkasa.
Devi pasrah dan menerima Gurkha di dalamnya.Tanpa sadar dia mendesah erotis, membuat sang gladiator tambah liar dan menyentak kasar saat Gurkha berhasil menyatukan tubuh mereka. Devi menggigit bibir nya menahan sang gladiator menghentakan dirinya berkali-kali.
*****
penasaran sama lanjutannya
KARYA NYA BAGUS SAYA SUKA😍👌👌👌
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
aku merasa blm puas thooooor ceritanya gantung bgm si gukha
ktnya mau menikahi Devi
terus Devi kerja apa dan pd akhirnya mereka bs bersatu apa gk