follow igku @zariya_zaya
Bagaimana kalau tunangan yang sudah lama tak kau temui, tiba-tiba dia menjadi buta, apa kau percaya?
Yuna, bidan cantik dari desa tak sengaja bertemu dengan pria asing yang menyelamatkannya beberapa kali. Pria asing itu tak sengaja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Yuna karena suatu hal dan menjadi buta.
Pria buta itupun meminta Yuna menikah dengannya. Awalnya Yuna menolak karena ia sudah bertunangan, tapi rasa bersalah telah membuat Yuna mengambil keputusan pahit dalam hidupnya, yaitu melanggar janjinya pada tunangannya yang tak pernah ia temui sejak ia masih kecil. Tak disangka, ternyata pria buta itu adalah tunangan masa kecilnya sendiri, yang baru saja kembali dari Swiss, yaitu Yeon.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Yeon benar-benar buta atau hanya pura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23 Kedatangan Yeon
Perjalanan menuju desa Malingmati, tempat Yuna bertugas sebagai bidan lumayan jauh juga. Semakin lama, tempatnya semakin terperosok dan hanya dipenuhi dengan berbagai tanaman serta pohon yang berwarna hijau. Pemandangannya juga semakin indah dan asri, nuansa pedesaan begitu kental di sini sehingga Yuna bisa sedikit rileks saat melihat hamparan padang safana dan juga hutan jati yang tumbuh memanjang di sepanjang kanan dan kiri jalan.
Saat pertama kali membaca nama desa itu … Yuna sedikit bingung dan terkejut. Nama desa yang aneh dan juga unik sebenarnya. Dan Yuna baru pertama kali ini mendengar nama desa seperti itu. Namun, di zaman sekarang keanehan dan keunikan sebuah hal, itu sudah menjadi biasa dan bukanlah tabu lagi. Setiap tempat, pasti punya sejarah tersendiri, termasuk desa Malingmati ini, kenapa desa ini dinamai dengan sebutan seperti itu, pasti ada sejarahnya.
Hanya saja, Yuna tidak tahu sejarah dari pemberian nama desa Malingmati itu seperti apa. Ia bertekad, akan menanyakan perihal nama desa aneh ini pada kepala desa yang pasti tahu seluk beluk desanya.
Tinggal sedikit lagi, Yuna akan memasuki perbatasan desa. Namun tiba-tiba saja, taksi yang ditumpangi Yuna mogok ditengah jalan karena keempat bannya bocor secara bersamaan. Benar-benar aneh. Kalau cuma satu ban yang bocor sih mending, lah ini keempat-empatnya, kempes semua. Kalau seperti itu, mana bisa mobilnya jalan. Mau tidak mau, sopir taksi menghentikan mobilnya sebelum semakin bertambah rusak.
“Maaf, Non. Sepertinya, saya cuma bisa mengantar sampai di sini saja.” Sopir itu pasrah akan keadaan mobilnya. Ia sendiri juga bingung kenaap bisa bocor semuanya.
Butuh waktu untuk memanggil tukang bengkel agar bisa sampai ke tempat terpencil ini, ditambah lagi sang sopir tak tahu apakah di desa Malingmati itu ada bengkel atau tidak mengingat desanya sangat jauh dari perkotaan dan penduduknya hanya sebagian saja yang punya kendaraan bermotor. Itupun orang-orang tertentu.
“Sial benget sih aku, tiada hari tanpa apes,” gumam Yuna ikutan pasrah juga. Mau tidak mau ia harus memilih berjalan kaki memasuki desa itu. “Apa lokasinya masih sangat jauh, Pak?” tanya Yuna sambil mengeluarkan kopernya dari bagasi.
“Sekitar 5 kilometer, Non. Lumayan jauh dan agak seram, karena ini kawasan hutan. Lokasinya juga sangat sepi. Sebaiknya Non, panggil suami atau siapa saja untuk menjemput, jangan jalan sendiri. Bahaya, Non.” Sopir itu mengingatkan.
“Masa sih, Pak? Saya belum menikah, Pak, jadi belum punya suami.”
“Beneran, Non. Meskipun ini pedesaan tak menuntut kemungkinan tindak kejahatan ada dimana-mana Non, meskipun namanya desa Malingmati tetap saja bahaya kalau Non jalan sendiri di desa ini. Jadi, Non hati-hati dan panggil siapa saja yang Non kenal untuk mengantar ke desa.”
Setelah mendengar penjelasan pak sopir taksi, Yuna ragu apakah ia harus melanjutkan perjalanan atau tidak, ia tak kenal siapa-siapa di tempat ini. Entah kenapa ia menyesal karena menolak tawaran calon suaminya untuk mengantarnya kemari tadi. Kalau tahu begini harusnya ia tidak menolak. Tapi Yuna langsung menggelengkan kepala karena hal itu tak mungkin terjadi. Yuna tidak tega bila meminta calon suaminya yang masih sakit untuk mengantarnya kemari. Sementara itu, Yuna sudah tidak boleh terlambat datang dan harsus segera mengirimkan laporan atau kalau tidak, lisensinya sebagai bidan akan dicabut.
“Aduh, bagaimana ini?” gumam Yuna bingung. Tidak mungkin ia hanya berdiam diri di sini saja tanpa melakukan apa-apa.
Mendadak dari kejauhan, terlihat dua pemuda desa yang usianya jauh lebih muda dari Yuna datang dan berhenti di depan Yuna. Namanya juga anak muda, kalau melihat yang bening pasti nggak bisa nolak.
“Mau kemana, mbak? Mau diantar nggak? Bisa cenglu kok,” ujar salah satu pemuda itu menggoda Yuna.
“Cenglu apaan?” tanya Yuna agak kurang paham maksud ucapan pemuda desa itu.
“Masa nggak tahu sih Mbak? Cenglu itu ‘Bonceng telu’ artinya bonceng tiga. Mbak di tengah biar nggak jatuh,” jelas pemuda itu sambil tertawa bersama dengan temannya. Sepertinya mereka punya maksud tersembunyi pada Yuna.
“Dasar anak muda zaman sekarang! Apa kalian tidak tahu tidak sopan kalau ketemu orang yang lebih tua dari kalian, ha!” geram Yuna.
Kedua pemuda desa itu turun dari motornya dan mulai mendekati Yuna. Tentu saja Yuna merasa risih dan langsung mengomeli pemuda-pemuda ini habis-habisan. Bukannya didengarkan, dua remaja yang entah anak siapa itu cuma cengengas-cengenges saja melihat Yuna berbicara.
“Kalian ini, masih remaja kok bisa-bisanya menggoda wanita. Itu tidak baik, tahu. Jam segini kan harusnya kalian sekolah? Kenapa malah keluyuran di jalan? Kalian bolos, ya? Cepat balik ke sekolah sana! Kalau sampai orangtua dan guru kalian tahu kalian bolos, pasti bakal di hukum.” Yuna memulai wejangannya.
“Terserah kami, kami mau bolos apa nggak? Kenapa kau ikut campur urusan kami?” sanggah pemuda itu mulai kesal juga dengan omelan Yuna.
“Eeeetdah, ini bocah ya? Berani amat sama orang yang lebih tua. Dikasih tahu malah ngeyel,” bentak Yuna kesal.
“Biarin, weeek! Awas kau … aku panggilin gengku biar tahu rasa,” ancam pemuda itu dan mereka langsung menyalakan mesin motor lalu melesat pergi.
“Eeehh … malah main ancam, masih bau kencir juga!” teriak Yuna. ia tidak habis pikir dengan anak muda zama sekarang yang lebih suka geng-gengan ketimbang duduk manis untuk belajar. Beda dengan zaman dirinya dulu yang lebih memfokuskan diri untuk menuntut ilmu ketimbang bikut-ikuan teman-temannya yang suka bikin onar.
“Non, kenapa anda cari masalah dengan mereka? Desa ini terkenal dengan ….” Pak sopir taksi itu sedikit mendekatkan wajahnya pada Yuna sambil setengah berbisik. “Mafia,” bisiknya pelan takut kalau ada orang yang dengar. “Kepala desanya saja seram, Non. Apalagi anak buahnya, itulah kenapa desa ini bernama Malingmati.”
“Memang Bapak tahu seperti apa wajah kepala desa itu?” tanya Yuna.
“Belum pernah, cuma desas-desus saja. Selama beliau tidak diganggu, maka beliau juga tidak akan menggangggu siapapun. Cuma ada yang aneh, Non.”
“Aneh apanya, Pak? Jangan bikin takut, ah?”
“Kepala desa itu jarang sekali menampakkan diri, kecuali kalau ada apa-apa. Katanya, sih begitu.”
“Ya wajarlah kalau seperti itu, Pak. Pasti kerjaan kepala desa kan banyak apalagi untuk daerah terpencil seperti ini, masih banyak yang harus diurus demi kemajuan desa. Kirain apaan, Bapak bikin deg degan aja. Ya sudah kalau begitu, saya harus menemui beliau secepatnya. Terimaksih informasinya, Pak. Saya harus melanjutkan perjalanan. Syukur-syukur nanti ada orang yang bersedia memberikan tumpangan. Permisi, Pak.” Yuna bersiap pergi dan memilih jalan kaki.
“Non!” seru sang sipir masih tak tega melihat keprgian Yuna. “Sebaiknya tunggu saja kerabat atau siapa saja yang Nona kenal, jangan pergi sendiri! Bahaya!” teriak pak sopir tapi Yuna tidak menggubris.
Bidan cantik itu sangat penasaran memangnya seperti apa rupa kepala desa yang katanya menyeramkan itu? pasti ada hubungannay dengan nama desa ini. Nama desanya saja aneh. Apalagi pemimpinnya.
Baru beberapa langkah Yuna berjalan, segerombolan geng motor tiba-tiba saja datang mendekat kearah Yuna. Rupanya dua pemuda nakal tadi tidak main-main dengan ucapannya. Mereka benar-benar kembali dengan membawa geromolan geng motor dan hendak cari masalah dengan Yuna.
“Ini ceweknya?” tanya pemuda bertato yang usianya jauh lebih tua dari Yuna.
“Iya, Mas. Itu ceweknya,” jawab pemuda tadi.
“Cantik juga, lumayan kalau dijadikan istri,” ujar pria itu dan langsung disambut tawa oleh seluruh rekan-rekannya.
Yuna tidak bersuara dan menatap tajam seluruh pemuda yang mulai mengelilinginya dengan berkendara motor bersama. Mereka sengaja mengepung Yuna dan hendak berniat buruk pada calon istri Yeon ini. Beruntung, ditengah-tengan situasi genting, sebuah mobil sedan hitam membunyikan klaksonnya kencang-kencang sehinga bunyi tersebut memekikkan telinga siapa saja yang mendengar.
“Berengsek! Siapa orang yang berani merusak kesenanganku ini, ha!” teriak ketua geng motor itu dengan penuh emosi. Ia turun dari motor gedenya dan berdiri di depan mobil sedan itu. “Heh kau! Keluar!” tantang ketua geng tersebut dengan suara lantang.
Seseorang yang duduk di bangku belaakng mobil mulai mmebuka pintu mobil sedan hitamnya dan keluar sambil menurunkan sebuah tongkat bersaman dengan satu kakinya diikuti kai yang lain. Pria itu membungkuk agar tak terbentur badan mobil kemudian berdiri tegap disamping mobilnya.
Seorang pemuda tampan berkacamata hitam menutup pintu lalu berjalan sambil membawa tongkat khusus yang digunakan untuk para penyandang tunanetra. Mata Yuna langsung menajam karena ia tahu siapa pria berkaca mata hitam dan memegang tongkat ditangan kanannya itu. Pria itu adalah calon suaminya sendiri, laki-laki yang mengaku bernama Leonard.
“Kau!” seru Yuna dan Yeon langsung menyunggingkan senyumnya.
“Hai my dear Yuna,” sapa Yeon ramah dan terlihat sangat santai.
Mulut Yuna menganga lebar melihat orang yang sedang berdiri tegap dihadapannya sambil memegang tongkat untuk menuntunnya berjalan.
BERSAMBUNG
***