Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leona
Semua orang melihat wajah Alex mulai memerah, terlihat guratan diwajahnya ingin memakan orang secara hidup-hidup.
"Kakak!" teriak Revalina lalu berlari dan memeluknya.
"Kakak nggak pa-pa Va, jangan khawatir ya." Mentari membalas pelukan Revalina.
"Kalian disini?" tanya Mentari kaget.
"Kita semua khawatir loh, malah lo berdua-duaan tuh Ama Bang Nata," sindir Niki.
"Maaf, Bang Nata yang bantuin gue," jawabnya jujur.
"Gimana ceritanya si Tar lo bisa diculik kaya gini?" tanya Weni.
"Bangs*t emang, bokap gue yang jual gue ama mucikari. Buat bayar hutang-hutang dia ama istri mudanya," terangnya dengan nada kesal.
"Astaga," ucap Rio dan Weni berbarengan.
"Lalu kenapa Bang Nata bisa tau?" selidik Alex.
"Takdir yang mempertemukan kita," jawab dengan santai sambil menatap Mentari.
Rio dan Weni mereka berdua main mata melirik ke kiri dan ke kanan. Seolah-olah mata mereka telah bicara tentang Nata dan Alex.
"Anjir, kayanya akan ada perang dunia ini," jelas Rio dengan ekspresi bahagia.
"Lo liat temen berantem malah seneng, dasar b*nci." sorotan mata Weni dipertajam.
Alex hanya senyum miris sedikit meremehkan jawaban Nata.
"Jadi selama ini kalian?" tanyanya terhenti.
"Gue mau pulang," lanjutnya dengan kesal.
"Widih, gue lo guys," ejek Weni.
Alex yang biasanya hanya menggunakan kata aku kamu saking kesalnya ia mengucapkan kata gue membuat semua orang tercengang.
"Lex, tunggu gue!" teriak Niki sambil berlarian.
"Bang, Alex," cicit Mentari.
"Nggak pa-pa, nggak usah dipikirin ya." Nata memegang tangan Mentari.
"Ehem," Rio berdehem.
"Nyamuk kali gue ini nggak dianggep orang," cibir Weni.
"Apaan si lo orang, lebay," balas Mentari.
"Ya udah deh, karena lo udah pulang dengan selamat. Gue ama Weni pulang dulu," pamit Rio.
"Makasih ya, Ri, Wen," ucap Mentari.
Saat Rio hendak masuk ke dalam mobil Revalina berteriak memberi nasihat.
"Kak Rio, hati-hati! pelan-pelan bawa mobilnya." Revalina melambai-lambaikan tangannya.
Rio hanya tersenyum membalas lambaian tangannya lalu melajukan mobilnya.
"Reva," panggil Mentari.
"Kamu kenapa begitu?" tanyanya dengan menyergitkan dahinya.
Mentari jengah melihat tingkah Revalina sangat peduli dengan Rio merasa aneh dimatanya.
"Kamu suka Ama Rio, Re?" celetuk Mentari.
"Nggak tau Kak, menurut aku Kak Reno tuh lucu tau," jawab Revalina jujur.
"Awas kamu sampai pacaran dengan pria lunak itu," sungut Mentari.
"Kak, kalo Kak Rio bisa berubah kenapa tidak? manusia nggak sempurna. Toh aku yang menjalani hubungan ini bukan Kakak." Revalina pergi.
Jawaban Revalina sangat menohok sekali, membuat Mentari sadar memang cinta itu tidak bisa dipaksakan.
"Aku pulang dulu ya," pamit Nata.
"Iya," jawab Mentari lalu menganggukkan kepalanya.
Nata yang sudah berjalan kembali lagi menemui kembali Mentari.
"Ada apa Bang, kok balik lagi?"
"Ada ketinggalan," jawabnya.
"Apa?"
Cup...
Nata mencium kening Mentari dengan lembut, Mentari tersenyum canggung. Didalam hidupnya baru Nata memberikan kehangatan seperti ini.
*****
"Lex! lo cari mati!" Niki berteriak-teriak didalam mobil.
Alex hanya diam saja tak menjawab ucapan Niki, ia hanya lanjut mengemudikan mobilnya dengan cepat.
"Lex stop, Lex," ucap Niki ketakutan tangannya memegang belt dengan kuat.
"Berisik!" balasnya.
"Ya Tuhan, gue nggak mau mati sekarang," cicit Niki.
Dan didepan ada lampu merah telah muncul mau tidak mau Alex harus mengerem mobil.
Cit...
Bunyi decitan ban mobil Alex di jalan raya, yang membuat Niki berteriak sangat kencang.
"Alex, no!"
Niki menutup matanya dengan tangan, berharap ini semua hanya mimpi.
Bruk...
Ternyata Alex hanya menabrak bemper mobil belakang.
"Untung cuma bemper," gumam Alex.
"Cari mati lo ya," ucap Niki kesal sambil metoyor kepala Alex.
"Lo! ini kepala," sungut Alex.
"Bodo amad," balas Niki santai.
Tiba-tiba keluar sosok wanita muda yang mungkin di atas Alex beberapa tahun umurnya. Wanita tersebut menggedor jendela mobil Alex dengan kuat.
"Keluar Lo!" teriaknya dengan kesal.
"Mati lah kita, mana mobil sport mahal pula," celoteh Niki.
"Gue pinjem duet lo ya, buat ganti bempernya." Alex mengiba.
"Mana ada duet gue banyak! gaji di cave Bang Nata aja, cukup buat gue makan, kan lo tau gue lagi nggak dikasih uang ama bokap," terang Niki.
"Woy! keluar." Leona memukul-mukul jendela mobil Alex.
Cukup waktu yang lama hampir 5 menit Leona menunggu Alex keluar dari mobilnya. Membuat Leona emosi tak terbendung lagi mulai memuncak.
"Biasa aja dong," sungut Alex.
"Apa lo bilang biasa aja, mata lo buta? itu liat bemper mobil gue, penyok gara-gara lo," ucap Leona penuh kebencian.
"lo tau mobil gue, mobil sport mahal harganya sekitar 100 juta buat ganti bemper dan ngerapihin belakang yang penyok ini mungkin abis 350juta," terang Leona.
"Mati lah lo Lex, duit banyak gitu dari mana?" gumam Niki di dalam mobil.
"Lo mau nipu gue? mana mungkin abis segitu," kilah Alex.
"Kalo lo nggak percaya, ayo kita ke bengkel sama-sama," ajak Leona.
Akhirnya mereka bertiga berangkat ke bengkel yang Leona rekomendasikan dan ternyata bengkel tersebut adalah bengkel langganan sang Kakak.
"Wah, Tuan Alex mau ngambil mobil Tuan Nata?" tanya Montir.
"Nggak Pak, ini saya mau benerin mobil temen saya rusak, kira-kira abis berapa ya pak?"
"Waduh, ini mobil mahal atuh, kira-kira abis 300 jutaan," jawab jujur Montir.
"Nggak ada diskon pak?"
"Itu sudah saya buat murah Tuan,"
Niki yang di samping Alex, hanya bisa tertawa didalam hatinya.
"Mampus lo mampu," ejek Niki dalam hati, lalu ia tersenyum dengan menaikkan dan menurunkan alisnya.
"Gue gada duet segitu lagi," desis Alex.
"Apa lo bilang? nggak punya duit, apa mau urusan ini dibawa ke pihak berwajib saja," ancam Leona.
"Jangan," wajah Alex panik.
"Lo bisa jadi pembantu gue selama beberapa bulan, kalo lo mau, jadi supir gue bisa." Leona mencoba bernegosiasi.
"Yang bener aja cowok kaya gue, jadi pembokat lo," terang Alex dengan bangga.
"Lo kenapa, pede banget kaya gitu, tampang kaya lo banyak diluaran sana," cibir Leona.
"Lo nggak tau siapa gue," sungut Alex.
"Nggak tau lah," balas Leona.
"Kenalin Alex Wiguna," ucap Alex sambil mengulurkan tangannya.
Leona tak membalas uluran tangan Alex, malah melempar kartu nama didepan wajah Alex. Lalu pergi meninggalkan Alex dan Niki.
"Sialan tuh cewek! nggak sopan banget! berani-beraninya melempar ini di wajah tampan ku," umpat Alex dengan lantang.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤