Natasya Callissa Atmadja seorang mahasiswi cantik semester enam berusia dua puluh tahun berpacaran dengan Richo Sbastian, mahasiswa tampan dan sangat populer tapi sayang Richo malah mengkhianatinya. Pengkhianatan yang dilakukan Richo membuat Callissa trauma untuk berpacaran dengan lelaki yang populer.
"Ca tampan banget sumpah, katanya dia itu cowok paling tampan dan populer di Universitas Tunas Bangsa" ucap Olivia sahabat Callissa.
"Ga perduli, udah jangan mau sama yang terkenal. Pacarnya dimana-dimana" ucap Callissa pergi.
Tapi tanpa diduga Callissa telah kembali jatuh hati pada sosok pria tampan dan juga populer yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Akankah Callissa kembali menjalin asmara dengan sosok laki-laki yang selalu ingin dia hindari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yes.im'emil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNEXPTDL BAB 23
"Callissa, gue tanya sekali lagi. Siapa cowok yang udah hamilin loe?." tanya Dava sambil memegang dagu Callissa, agar menatapnya.
"Jawab gue, Ca." bentaknya melepaskan tangannya pada dagu Callissa dengan kasar.
"Kak- Kak Reynan." ucap Callissa ragu dan pelan namun masih terdengar oleh Dava. Dengan segera Dava mendorong tubuh adiknya.
"Sialan, brengsek." teriak Dava yang kini kembali meninju dinding kamar dan tanpa sadar tangannya sudah menguluarkan darah.
Dava pun berniat pergi, namun langkahnya ditahan oleh Callissa. "Kak, dengerin penjelasan aku. Ini semua bukan salah Kak Reynan." ucap Callissa yang membuat Dava tersenyum smirk.
"Loe masih ngebela dia? Setelah apa yang dia lakukan sama loe? Hebat loe, Ca." ucap Dava yang kini menghempaskan tangan Callissa lalu keluar dari kamar.
Bima yang memang sudah terusik dari tadi karena suara teriakan Dava, kini memilih keluar kamar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dav, loe mau kemana?." tanya Bima yang berada diambang pintu kamar Dava.
Dava sama sekali tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, dia memilih pergi untuk menemui Reynan yang dia yakini saat ini berada di appartementnya.
"Gue yakin, Dava berantem sama Callissa." gumam Bima yang kini berjalan ke kamar Callissa.
Bima begitu terkejut ketika melihat Callissa sedang duduk di lantai sambil menangis. "Ca, loe kenapa? Loe berantam sama Kakak loe?." tanyanya khawatir.
Callissa tidak menjawabnya, perempuan itu hanya menunduk dan menangis. Dava tersentak kaget ketika melihat test pack yang sedang di pegang Callissa dan juga beberapa test pack lainnya yang ada di lantai.
"Ca, loe hamil?." tanyanya tidak percaya, ketika melihat tanda dua garis di test pack tersebut.
Callissa masih tidak menjawab pertanyaan Bima, dia terus menangis. Lalu tiba-tiba terngiang di kepalanya mungkin hanya Bima yang bisa membantunya saat ini untuk menghentikan amarah Dava. "Kak, aku mau minta tolong. Aku mohon kita ikutin Kak Dava." ucap Callissa, memohon pada Bima.
Kali ini Bima dan Callissa sedang mengikuti mobil Dava. Beruntung sekali Dava belum terlalu jauh hingga mereka berdua dapat mengikutinya. "Ca, kayanya ini ke appartement Reynan deh." ucap Bima.
"Sebenarnya ada apa sih, Ca?." tanya Bima melirik Callissa yang terlihat cemas.
"Loe ga mungkin hamil karena Reynan kan?." tanya Bima terus menerus yang tetap tidak mendapatkan jawaban dari Callissa, perempuan yang ada disamping Bima itu hanya menangis sambil memainkan jari tangannya.
Tapi dari diamnya Callissa, Bima sudah tau jawabannya bahwa benar Callissa hamil anak dari sahabatnya.
**
Setelah tiba di appartement Reynan, Dava langsung masuk begitu saja karena dia mengetahui passwordnya. "Reynan, Reynan dimana loe?." teriak Dava membuka setiap pintu yang ada disana tapi tidak menemukan Reynan.
Dava pun kembali keluar dan kini dia menuju lapangan basket yang ada di gedung appartement elit itu. "Ca, itu Kakak loe kayanya mau ke arah area olahraga deh." ucap Bima saat melihat Dava.
"Cepet, Kak. Kejar, Kak Dava. Aku ga mau mereka kenapa-kenapa." ucap Callissa.
**
Dava kini melihat Reynan yang sedang bermain basket sendirian. "Dav, kapan loe datang? Tumben ga ngabarin gue mau kesini." ucap Reynan melemparkan bola ke arah Dava.
Dava hanya tersenyum smirk ke arahnya, lalu dengan keras Dava kembali melemparkan bola basket ke arah Reynan. "Santai, bro. Ga usah nge gas gituh." ucap Reynan tersenyum, dia belum tau maksud kedatangan Dava.
"Loe bilang santai? Loe mau gue tetap santai saat ini?." ucap Dava yang kini berjalan ke arah Reynan, Reynan hanya bisa mengernyitkan dahinya, bingung.
Lalu tanpa aba-aba Dava meninju Reynan dan dengan satu kali pukulan mampu membuat ujung bibir Reynan sedikit mengeluarkan darah, akibat kerasnya pukulan Dava barusan.
"Loe kenapa sih? Loe m*abuk huh?." tanya Reynan memegangi ujung bibirnya yang sakit.
"Sadar, gue cukup sadar saat ini memberikan pukulan ke loe." ucap Dava yang kini tanpa ampun kembali menghajar Reynan habis-habisan.
Reynan yang di serang seperti itu kini kembali membalas perlakuan sahabatnya. "Loe ada apa sih Dav? Loe kenapa?." tanyanya disela-sela perkelahian mereka.
Sementara kini Bima dan Callissa sejenak terdiam saat menyaksikan perkelahian yang sangat menakutkan itu. "Kak, jangan diam aja dong. Pisahin mereka." ucap Callissa.
"Gimana, Ca? Gue takut nanti kena hajar mereka berdua. Lu ga liat tuh, mereka nyeremin semua, Ca." ucap Bima yang merasa tidak sanggup memisahkan kedua sahabatnya.
"Yaudah kalau Kak Bima ga bisa, biar aku aja." ucapnya melangkahkan kaki menghampiri Reynan dan Dava yang sedang baku hantam.
"Ca, jangan g*la deh." teriak Bima.
"Yaudah, makanya bantuain. Kak Bima tahan Kak Dava." ucapnya.
"Huhf oke, oke" ucapnya berjalan cepat mensejajarkan dengan Callissa.
"Stop Kak, stop!." teriak Callissa ketika dia sudah mendekat pada Reynan dan Dava yang sedang berkelahi, namun dia mengurungkan niatnya karena takut.
Dava hanya melirik adiknya lalu tersenyum smirk dan kembali memberikan pukulan pada Reynan. Kali ini Reynan mengerti mengapa sahabatnya bersikap seperti ini. "Jadi Dava udah tau semuanya?." ucap Reynan dalam hati.
Untuk selanjutnya, Reynan hanya pasrah tanpa membalas setiap pukulan yang dilayangkan Dava untuknya. Dia mengakui kesalahannya, dia menerima semua kekesalan Dava, dia memang berhak diperlakukan seperti itu oleh Dava. Siapa pun akan bersikap sama seperti Dava, ketika adik perempuan satu-satunya di hamili oleh orang lain, apalagi ini sahabat baiknya sendiri.
"Kenapa loe? Kenapa ga lawan gue huh?." ucapnya saat melihat Reynan tersungkur dilantai dengan wajah yang sudah penuh bekas luka.
"Gue tau, gue salah Dav." ucapnya lalu kembali berdiri.
Lalu Callissa kini menghampiri Reynan dan menarik ujung belakang bajunya. "Kak udah stop." ucap Callissa takut Reynan memukul Kakaknya.
"Gue tau gue brengsek Dav, gue udah bikin adik loe hancur. Tapi gue melakukan itu ga sadar, Dav." ucap Reynan yang kini malah kembali di pukul Dava karena tidak percaya atas perkataannya.
"Gue ga yakin loe melakukan itu tanpa sadar. Gue tau loe Rey, gue tau loe seperti apa." teriak Dava.
"Gue emang bejad Dav, tapi gue ga akan pernah maksa seseorang buat ngelakuin hal seperti itu." ucapnya dengan emosi ketika sahabatnya sendiri tidak percaya padanya.
"Kak tolong dengerin penjelasan aku sama Kak Reynan. Ini semua jebakan Kak. Ini semua ulah Richo." ucap Callissa yang kini mulai menjelaskan semuanya dari awal.
Beruntung Dava saat ini emosinya sudah mereda, sehingga dia mau mendengarkan penjelasan adik dan sahabatnya itu. "S*al. Jadi ini semua karena cowok brengsek itu?." ucap Dava kesal.
"Iya, dia emang mau jebak gue." ucap Reynan.
"Jadi ini semua bukan salah Kak Reynan, Kak. Kakak jangan berantam kaya gituh lagi, aku ga mau ngeliat kalian terluka kaya ginih." ucap Callissa memengang tangan Kakaknya dan tersenyum getir ketika melihat wajah Dava yang sama babak belur seperti Reynan.
Bima, laki-laki itu malah berdiam menyaksikan saja. Karena menurutnya, percuma menghentikan perkelahian keduanya ketika emosi mereka masih membara, jadi biarkan saja sampai api nya padam sendiri. Toh nanti mereka juga akan selesai jika mereka berdua lelah.
Kemudian Bima baru berani mendekat setelah situasi aman dan melihat kedua sahabatnya sedikit tenang. Dia merangkul kedua sahabatnya, menjadi penengah diantara mereka. "Loe berdua ngapain sih huh? Mau jadi jagoan? Ga sekalian bawa golok tuh?." ucapnya menatap sinis mereka.
Dava dan Reynan kini malah kembali menatapnya dengan tak kalah sinis, membuatnya takut sendiri. "Loe Rey, kalau ada masalah, apapun yang terjadi loe harus cerita. Jangan sampai salah paham seperti ini. Dan, Loe Dav, loe kalau ada apa-apa dengerin penjelasan dulu, jangan sampai semua terburu-buru. Ga semua masalah bisa diselesaikan dengan otot." ucap Bima.
"Sejak kapan loe jadi bijak gituh?." ucap Reynan.
"Loe yah, kalau dibilangin. Gue ga mau liat kedua sahabat gue kaya ginih lagi. Terlepas dari semuanya, loe emang salah Rey. Tapi gue yakin dan percaya loe ga bakalan mungkin melakukan hal bejad itu ke adik sahabat loe sendiri kalau loe sadar."
"Gue ngaku gue salah, tapi gue di jebak." ucapnya lirih.
"Udah, sekarang bukan saatnya berantem. Tapi pikirkan jalan keluarnya. Gue mau loe berdua baikan dan ga terus berada dalam situasi ini, gue mau kita kaya dulu." ucapnya merangkul kedua sahabatnya lalu Reynan dan Dava menangis memikirkan apa yang sudah terjadi pada mereka hingga saling menyerang seperti tadi.
Tadi saja baku hantam sekarang malah jadi melow seperti ini huhf.
Callissa yang melihat mereka merasa sedikit lega. Entahlah bagaimana pun kelanjutannya yang terpenting saat ini kedua laki-laki yang dia sayangi sudah tidak saling melukai lagi. Baginya itu sudah cukup melegakan.
"Adik gue hamil." ucap Dava datar menatap Reynan.
"Huh apa?." kagetnya tak tercaya.
"Apa? Kenapa kaget? Loe ga mau tanggung jawab? Gue bunuh juga sekarang." ucap Dava takut sahabatnya tidak mau bertanggung jawab.
"Bukan gituh, Dav. Gue mau tanggung jawab sama Callissa dan anaknya." ucap matab.
"Gue pegang omongan loe." jawab Dava menatap sinis.
"Mau berantem lagi loe berdua?." ucap Bima ketika melihat tatapan Dava yang kembali seperti menahan emosi.
"Udah sana loe, samperin adik gue."
Reynan pun melangkahkan kakinya menghampiri Callissa yang wajahnya tampak sembab. "Maaf." ucap Reynan tulus memeluk Callissa.
"Kak Rey ga apa-apa kan? Pasti sakit ya dipukulin Kak Dava?." tanyanya khawatir.
"Ga apa-apa. Ini cuman luka kecil, ga sebanding sama luka yang udah gue buat ke loe." jawab Reynan.
***
Aduhh akhirnya aku menemukan visual mereka yang lagi kaya ginih, perjuangan beut nyarinya. Walaupun cowoknya bukan Dava sih, tapi ya anggap saja dia lah yaa. hihii.
Sumber photo dapet dari pinterest yaa.
Jangan lupa yaa teman-teman di LIKE, KOMEN, VOTE DAN KASIH RATE BINTANG LIMA.
Terimakasih💚💚💚
bagus thor😀😀😀
cemNgat thoorrrr😀😀