Ghea Adisti Biantara dan Alvino Sanjaya pernah menjalin hubungan cinta monyet yang kebablasan saat keduanya masih duduk di bangku SMA. Hingga sebuah kesalahpahaman membuat cinta monyet mereka menjadi kandas, ditambah Ghea yang berpindah kota setelah lulus SMA, membuat Ghea dan Alvin putus kontak sama sekali.
Tahun berganti dan Alvin tak sengaja bertemu kembali dengan Ghea namun di posisi yang serba sulit karena Alvin yang sudah memiliki kekasih sedangkan Ghea yang masih menunggu Alvin demi menjelaskan kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara mereka di masa lampau.
Hingga suatu malam, Ghea melakukan satu kesalahan yang membuatnya harus mengandung anak dari Alvin. Namun karena Ghea sadar bahwa Alvin akan segera menikah dengan kekasihnya, jadi Ghea memilih untuk pergi dan tidak memberi tahu Alvin tentang kehamilannya.
Di satu sisi, Alvin yang baru saja kehilangan calon istrinya karena sebuah kecelakaan mendapat tugas dari Galen untuk mencari Ghea yang tiba-tiba menghilang dan tak bisa dihubungi
Akankah Alvin bisa menemukan Ghea kembali?
Dimana sebenarnya Ghea bersembunyi, dan bagaimana nasib Ghea beserta anak Alvin yang ada di kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN MENGGANGGUKU LAGI!
Alvin terkejut saat membuka ponselnya dan mendapati Bang Galen yang sudah mengirimkan nomor kontak Ghea ke ponsel Alvin.
Ck!
Tadi saja sok-sokan tidak mau memberikan.
Akhirnya dikirim juga.
Alvin segera menghubungi Ghea.
"Halo, ini siapa?"
Jawab Ghea dari seberang telepon. Hati Alvin terasa menghangat hanya karena mendengar suara Ghea.
"Ini aku Alvin, Ghe," ucap Alvin penuh semangat.
"Oh, maaf. Aku harus bertemu dokter. Nanti saja bicaranya."
Tuut! Tuut! Tuut!
Sambungan telepon terputus begitu saja dan Alvin hanya melongo tak percaya.
Apa maksudnya harus bertemu dokter?
Alvin menghubungi Ghea sekai lagi, naun tak bisa lagi terhubung.
Ghea sudah memblokir nomor Alvin.
Sial sekali!
Alvin yang tak pantang menyerah segera menghubungi nomor Abang Galen lagi seolah tak peduli kalau nanti ia akan kena semprot dari Abang Galen.
****
Kediaman Biantara
"Ini obat kamu!" Mom Mia mengangsurkan sekantung obat untuk Ghea dan putrinya itu masih merengut.
Ghea dan Mom Mia memang baru pulang dari klinik. Ghea yang tadi siang sempat mengeluh pusing saat baru pulag dari airport, malah demam sorenya. Jadi karena khawatir, mom Mia membawa putrinya tersebut ke klinik dekat rumah.
"Makan, minum obat, lalu istirahat! Jangan begadang!" Pesan Mom Mia pada Ghea yang tetap merengut.
"Iya, Mom! Iya!" Ghea memutar bola matanya.
"Dan berhenti memikirkan pria brengsek bernama Dean Alexander itu! Cuma bikin penyakit saja!" Pesan Mom Mia seraya mengambil makanan untuk Ghea yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Siapa juga yang mikirin Dean? Mom sok tahu!" Gerutu Ghea sebal.
"Cepat habiskan!" Titah Mom Mia seraya menyodorkan sepiring nasi lengkap untuk Ghea.
Ghea hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya dan sedikit melamun, memikirkan kejadian semalam antara dirinya dan Alvin.
Hingga detik ini, masih terasa ada yang mengganjal dan seperti mengganggu pikiran Ghea.
Seperti ada yang salah dengan kejadian semalam.
Tapi itu memang salah, karena Alvin dan Ghea belum menikah dan mereka malah melaukan hubungan suami istri tanpa pengaman.
Tanpa pengaman?
Alvin tak memakai pengaman semalam.
Dan Ghea baru selesai haid dua hari yang lalu.
"Bodoh!" Gumam Ghea menepuk keningnya sendiri dan merutuki kebodohannya sekali lagi.
"Siapa yang bodoh?" Tanya Mom Mia yang rupanya sejak tadi masih duduk di depan Ghea dan mengawasi Ghea makan.
"Tidak ada, Mom," jawab Ghea salah tingkah dan sedikit meringis.
Ghea segera menyendokkan makanan di piring dan menyuapkannya ke dalam mulut karena Mom Mia sudah menatapnya dengan horor.
Rasa makanan kali ini benar-benar hambar karena pikiran Ghea sudah kemana-mana sekarang.
Bagaimana kalau Ghea hamil?
Mommy dan papi pasti akan shock dan kecewa berat pada Ghea nanti.
Alvin tujuh belas tahun rupanya lebih cerdas ketimbang Alvin dua puluh satu tahun. Dulu Alvin selalu menomorsatukan keamanan setiap ia dan Ghea berhubungan badan demi mencegah Ghea hamil, karena mereka sama-sama masih ingin melanjutkan sekolah lalu kuliah.
Kecuali saat pembobolan pertama, dimana kulit langsung bertemu kulit tanpa adanya pengaman. Namun Alvin juga mengeluarkanya di luar kala itu, dan nyatanya Ghea memang tak hamil hingga mereka lulus SMA.
Namun sekarang, pria itu mendadak menjadi bodoh dan melupakan pengamannya.
Mungkin efek mabuk berat juga yang malam itu dialami oleh Ghea dan Alvin hingga mereka sama-sama lupa dan akhirnya kebablasan di dalam.
Dan Ghea juga tak tahu Alvin menembakkan benihnya berapa kali ke dalam rahim Ghea.
Sekarang Ghea hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga bulan depan Ghea tak terlambat haid, dan tetap sesuai dengan jadwal.
"Ghea sudah kenyang, Mom!" Rengek Ghea yang tak sanggup lagi menghabiskan makanan di piringnya.
Pikiran Ghea tentang kehamilan, membuat Ghea kehilangan selera makan.
"Habiskan, Ghe! Itu sedikit lagi!" Ucap Mom Mia tegas menunjuk ke piring Ghea yang masih berisi makanan yang bentuknya sudah tak karuan karena sejak tadi hanya diaduk-aduk oleh Ghea.
"Nanti Ghea muntah, Mom! Kalau dipaksa," ujar Ghea mencari alasan.
Mom Mia hanya berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Minum obatmu kalau begitu! Lalu istirahat," titah Mom Mia akhirnya seraya menyodorkan obat yang harus diminum oleh Ghea.
Ghea meminum obatnya dengan cepat dan segera bangkit berdiri, hendak menuju ke kamarnya.
Baru tiba di depan kamar, Kak Emily sudah keluar dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ghea.
"Ghe, Alvin nyariin kamu," Kak Emily menyodorkan ponsel Abang Galen dan masih tertera nama Alvin di layar telepon.
"Tadi aku sudah memberikan nomor kontakmu pada Alvin, tapi katanya nggak bisa dihubungi, jadi Alvin berkali-kali menelepon ke ponsel Galen."
"Katanya mau bicara hal penting sama kamu," tutur Kak Emily panjang lebar.
"Abang Galen mana?" Ghea malah menanyakan keberadaan Abang Galen pada Kak Emily.
"Masih mandi."
"Ini, kamu angkat dulu telepon dari Alvin! Dari tadi nelpon terus nggak mau berhenti," Kak Emily menyodorkan sekali lagi ponsel Galen yang masih bergetar pada Ghea.
Ghea hanya membuang nafas kasar dan akhirnya menerima ponsel tersebut.
"Ghea bawa ke kamar dulu, Kak," izin Ghea pada sang kakak ipar.
Emily hanya mengangguk dan segera masuk ke kamar karaena terdengar tangisan dari Aileen yang sepertinya terbangun.
Ghea juga masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu lalu mengangkat telepon dari Alvin di ponsel Abang Galen.
"Halo, Bang Galen!" Sapa Alvin dari seberang telepon saat Ghea baru mengangkatnya.
"Bang, Alvin ingin bicara hal penting pada Ghea! Tolong berikan ponselnya ke Ghea!"
"Aku Ghea," jawab Ghea singkat yang langsung membuat Alvin terdiam sesaat.
"Ghe, kamu sakit apa? Kata Abang Galen tadi kamu ke klinik."
Suara Alvin terdengar khawatir.
"Hanya demam biasa." Jawab Ghea datar.
"Ghe,"
"Apa tadi malam kau menginap di kamar aku? Apa kita melakukannya?"
"Melakukan apa?" Ghea balik bertanya dan pura-pura tak paham.
"Aku bangun tanpa mengenakan sehelai bajupun. Apa kita-"
"Kita tidak melakukan apa-apa semalam!" Potong Ghea tegas, karena mendadak bayangan foto Alvin dan Tiara yang saling merangkul dengan mesra berkelebat di benak Ghea dan membuat hati Ghea terasa nyeri.
Ghea masih mencintai Alvin.
"Kau mabuk dan bajumu kotor, jadi aku melepaskan semua bajumu semalam, lalu aku menaruhnya di sudut tempat tidur."
Yang itu memang benar!
Ghea memang mengumpulkan baju Alvin yang berserakan di sudut tempat tidur.
Tapi itu pagi setelah Ghea dan Alvin saling menghangatkan.
Masih sangat jelas di ingatan Ghea, kecupan hangat dari Alvin yang menjadi sebuah candu untuknya.
"Aku langsung pergi setelah menyelimutimu," sambung Ghea lagi mengarang cerita indah.
"Jadi kita tidak-"
"Sama sekali tidak!" Potong Ghea sekali lagi tetap dengan nada yang tegas.
"Kau menginap dimana semalam?"
Nada bicara Alvin masih terdengar khawatir.
"Di hotel dekat bandara," jawab Ghea berdusta.
Alvin diam sejenak dan Ghea juga ikut diam.
"Ghe, soal kata-kataku semala yang ingin bicara pada Tiara-"
"Tidak usah, Vin!" Sela Ghea cepat.
"Aku tidak mau menjadi perusak hubunganmu dengan Tiara," Ghea mengusap kasar airmata yag meleleh di kecua pipinya.
"Jangan meninggalkan Tiara!" Ucap Ghea lagi mencoba mempertahankan nada bicaranya agar Alvin tak tahu kalau Ghea sedang menangis.
"Tadi malam itu aku sedang kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Jadi aku meracau tak karuan," Tutur Ghea panjang lebar.
"Semua yang terjadi diantara kita sudah lama berakhir, Vin! Dan kau adalah kekasih Tiara sekarang. Jadi jangan meninggalkannya atau menyakiti hatinya!" Pesan Ghea sekali lagi dengan airmata yag semakin deras mengalir.
"Tapi aku sudah menghancurkan masa depanmu, Ghe!"
Nada bicara Alvin penuh rasa bersalah.
Ghea menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu sudah masalalu. Aku baik-baik saja!"
"Aku akan bertemu pria lain yang menerimaku apa adanya," ucap Ghea sdolah sedang meyakinkan dirinya sendiri meskipun hal itu mustahil.
Hanya pria bodoh yang mau dengan gadis bekas sejenis Ghea.
"Aku minta maaf, Ghe!"
"Tidak! Kita lupakan saja semuanya!" Ghea kembali menyeka airmatanya.
"Tetaplah bersama Tiara dan jangan menghubungiku lagi," pesan Ghea sekali lagi pada Alvin.
"Tapi kenapa? Apa kita tidak bisa menjadi teman?"
"Tidak!" Jawab Ghea tegas.
"Aku tidak mau menyakiti hati Tiara dan membuat gadis itu berpikir kalau aku akan merebut kau darinya."
"Jadi berhentilah menggangguku, Alvin! Semua yang pernah terjadi diantara kita sudah berakhir."
"Ghe!"
"Berhentilah menggangguku!" Tegas Ghea sekali lagi sebelum mengakhiri teleponnya pada Alvin.
Ghea menyeka airmatanya sekali lagi dan berbalik hendak mengembalikan ponsel Abang Galen.
Namun seseorang yang berdiri di ambang pintu kamar, membuat Ghea terkejut bukan kepalang.
Apa?
Sejak kapan dia disana?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
terimakasih author 👍👍👍😍😍😍😍