Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTSD
🍂🍂🍂
Tanpa berpikir panjang lagi. Mama menyuruh Ardian membawa Rindu ke dalam kamar. Ardian yang ketakutan segera membopong tubuh Rindu. Setelah sampai di kamar, Ardian membaringkan secara perlahan. Mereka semua ikut masuk ke dalam. Untung saja Kanaya tidur di kamar Omanya.
"Allan… ambilkan segelas air...! Allen ambilkan obat kakakmu di laci meja sana," perintah mama Lia.
Kedua saudara kembar itu terus bergerak melaksanakan perintah mamanya. Ardian yang kebingungan melihat semuanya sigap dalam situasi seperti ini.
"Ada apa ini? Apakah Rindu sakit?" pikirnya cemas.
Mama Lia kemudian duduk di pinggir bersebelahan dengan Rindu. Ardian hanya terdiam berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Tatapan matanya terus mengarah kepada mata Rindu yang seakan tidak melihat apa-apa. Tatapan wanita itu masih lurus menghadap langit-langit. Tubuhnya masih bergetar. Kedua tangannya mengepal dengan kuat.
Seketika Ardian menangis melihat itu. Tangannya mengepal, matanya merah membara. Kakinya mulai goyah, sekuat tenaga ia mencoba untuk tetap berdiri tegak.
Allan dan Allen yang datang hampir bersamaan, langsung menyerahkan obat dan air yang di minta mama Lia tadi.
"Len… bantu kakakmu bangun!"
Mama Lia langsung meminumkan obat untuk Rindu. Allan yang menyadari kondisi Ardian yang juga seperti tertekan langsung menyadarkan.
"Kak… kak Ardi…!" panggilnya sambil berbisik.
Ardian melirik sesaat. Tubuhnya oleng ke samping. Dengan sigap Allan menopang tubuh itu, karena terlalu berat ia sedikit kesulitan. Lalu Allen membantunya dengan cepat. Kedua saudara kembar itu melihat deraian air mata di pipi pria berotot itu.
"Sebaiknya kak Ardi duduk dulu," pinta Allan padanya.
Ardian mengikuti Allen yang telah menuntunnya duduk di sofa kamar itu. Dan Allen kembali membantu mamanya. Allan kembali lagi ke dapur mengambilkan air untuk Ardian. Tidak lama ia kembali.
"Ini kak, minum dulu."
Allan menyerahkan segelas air ke tangan Ardian. Ardian menerima dan langsung meminumnya. Setelah merasa cukup, gelas itu ia kembalikan pada Allan.
"Lan… kenapa Rindu bisa jadi seperti itu?" tanya Ardian kemudian.
"Ceritanya panjang kak, sebaiknya kita pastikan kondisi kak Rindu dulu."
Ardian mengangguk mengiyakan. Rasa ingin tahunya semakin besar. Rindu bisa menjadi seperti ini, pasti bukan karena masalah biasa. Ini pasti kejadian yang buruk, sangat buruk.
_____
Beberapa menit kemudian Rindu mulai memejamkan matanya. Semua orang tampak sudah bisa bernapas lega. Mereka semua keluar dari kamar itu meninggalkan Rindu beristirahat sendiri. Mama membawa mereka semua ke ruang makan. Supaya obrolan mereka tidak sampai terdengar ke dalam kamar Rindu. Allan pergi melihat Kanaya di kamar mama. Lalu satu persatu mereka duduk saling berhadapan.
"Ardi… mama mau menanyakan sesuatu padamu."
"Iya… mama mau bertanya apa?"
"Apakah kamu menyukai Rindu… maksud mama kamu menyukainya sebagai seorang wanita, bukan sahabat."
Mama Lia yang peka dengan ekspresi wajah Ardian tadi, mulai bertanya dengan gamblang. Apalagi setelah Ardian mengatakan bahwa ia ingin menjadi calon suami Rindu. Melihat Kanaya juga sangat menyukai Ardian, mama Lia tidak akan ragu lagi untuk bertanya.
"Iya… benar ma," jawabnya tanpa ragu.
"Apakah kamu mencintainya?"
"Sangat ma… Ardi sangat mencintai Rindu sudah sejak lama."
"Apakah kamu benar-benar ingin menikahinya?"
"Tentu saja ma… hanya Rindu satu-satunya wanita yang akan aku nikahi."
"Syukurlah… ternyata Rindu masih bisa tertolong."
Ardian justru merasa bingung dengan ucapan mama Lia. Allan dan Allen hanya terdiam dari tadi sebagai pendengar.
"Tertolong? Apa maksud mama?"
"Ardi… Rindu sebenarnya sakit."
"Sakit? Apakah parah?" tanyanya mulai cemas.
"Seperti yang kamu lihat tadi. Rindu mempunyai penyakit PTSD atau gangguan traumatik."
"Ya Tuhan…!"
Ardian mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lalu mengepalkan tangannya dan memuku-mukul sendiri kedua pahanya. Allen yang duduk di sampingnya mencoba menahan dengan menggenggam pergelangan tangan Ardian.
"Apakah Rindu pernah mengalami sesuatu yang buruk ma...?"
"Iya… dan sepertinya ia tidak pernah meminum obatnya lagi. Tadi sewaktu mama lihat botol obatnya masih tersisa banyak. Obat itu mama tebus sudah sebulan yang lalu."
Mama Lia berusaha untuk tetap tenang. Ardian lagi-lagi meluruhkan cairan bening dari matanya. Laki-laki hebat itu menjadi sangat cengeng, menangis tanpa bersuara.
"Apakah kamu pernah bertanya mengenai masa lalunya?" tanya mama Lia kemudian.
"Iya… kemarin, tapi rindu bersikap biasa-biasa saja, tidak seperti sekarang ini," jawab Ardian dengan suara parau.
"Itu mungkin karena Rindu bisa mengendalikan diri. Atau karena suasana hatinya sedang baik, maka dia sementara tidak memikirkan kejadian itu lagi."
"Lalu kenapa tadi Rindu bisa jadi seperti itu?" Ardian semakin ingin tahu.
"Mama pikir mungkin karena dia teringat dengan kenangan buruk yang lain."
"Maksud mama… Rindu mengalami kejadian buruk tidak hanya sekali?"
"Tidak… maksud mama, Rindu mungkin mengingat kenangan buruk yang memicunya mengingat kejadian yang pernah dialaminya."
Ardian mengetatkan rahangnya. Tangan ingin kembali memukul pahanya, namun ditahan Allan dengan cepat.
"Apakah ini ada kaitannya dengan mantan suaminya, ma?"
"Iya… beberapa bulan yang lalu, saat Rindu dengan gigihnya ingin segera bercerai dengan laki-laki itu." suara mama Lia telah terdengar parau.
"Apa yang terjadi ma?"
"Laki-laki tidak bertanggung jawab itu pernah mengancam Rindu melalui telepon. Ia mengancam akan membawa Kanaya secara paksa jika Rindu menjalin hubungan dengan orang lain."
"Iya… Rindu pernah mengatakannya."
"Waktu itu, Rindu kembali mengalami gangguan traumatik nya, setelah lama tidak pernah kambuh lagi. Namun tidak separah sekarang. Mungkin karena Rindu rutin meminum obatnya. Tapi ternyata sekarang Rindu tidak lagi minum obat."
Akhirnya luruh juga air mata yang telah tergenang di pelupuk mata mama Lia dari tadi. Allen yang berada di samping segera merangkul dan mengusap-usap lengan mamanya. Sosok ibu yang penyayang itu menangis sesenggukan.
"Ma… sebaiknya kita hentikan saja dulu. Lain kali kita ceritakan pada kak Ardi," ucap Allan kemudian.
"Iya...ma… biar mama tenang dulu, kak Ardian sepertinya juga masih belum bisa tenang," bujuk Allen seraya mengusap lengan mamanya lagi.
Mata kedua kembar itu sudah memerah dari tadi. Mereka menahan dengan sekuat tenaga agar tidak ikut menagih. Jika mereka juga menangis maka mamanya akan semakin merasa bersalah.
"Iya baiklah… mama mau istirahat dulu. Ardi… tidak apa-apa kan, mama ceritakan lain kali saja."
"Iya ma… Ardi bisa menunggu. Walaupun ini sangat terasa berat, namun Ardi tetap ingin mengetahui semuanya. Ardi sudah berjanji akan mengambil semua penderitaan Rindu dan mengubahnya jadi kebahagiaan."
"Benarkah… mama sangat senang mendengarnya. Mama yakin, kamu bisa membahagiakan Rindu, kamu anak yang baik Ardi."
Mama Lia mendekati Ardian lalu menyentuh pundak anak laki-laki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Kemudian Mama Lia masuk ke kabar, menemani cucu kesayangannya tidur.
*
*
*
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Dukung terus author ya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣