UPDATE SETIAP RABU, KAMIS, JUMAT
Sequel Novel Wedding Drama
Saila Aditama, merupakan putri dari pasangan Randy dan Rika. Sifat lembut dan pengertiannya membuat banyak lelaki sangat memujanya. Ditambah dengan wajah ayu dan juga penuh keramahan. Meski begitu, dia merupakan sosok wanita kuat dan sangat tangguh. Dia mampu menahan beban dalam hidupnya seorang diri. Menahan semua rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Mikail Aditama, putra tunggal dari pasangan Michael Aditama dan juga Hervinda merupakan pria dengan ego yang sangat tinggi. Sifatnya selalu berubah ketika bersama dengan Saila, gadis yag sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Namun, hal itu membuat Mischa, tunangannya merasa cemburu. Dia merasa sikap Mikail itu tidaklah menunjukan sikap seorang kakak dengan adiknya. Lebih tepatnya perlakuan itu adalah CINTA. Hal yang membuat Mischa menyimpan perasaan tersendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23_Pertunangan Sesungguhnya
“Ma, aku tidak usah datang ke acara kak Mikail ya. Saila merasa kurang enak badan,” ucap Saila dengan tatapan lekat.
Rika yang ada di depannya mengulas senyum tipis dan meletakan telapak tangannya tepat di dahi anaknya. Mengecek suhu badan yang terasa normal. Membuat Rika mengulas senyum mendengar jawaban sang anak.
“Suhu tubuh kamu normal, sayang. Jadi, mananya yang sakit?” tanya Rika dengan bibir mengulum senyum. Rasanya dia tahu apa yang dipikirkan anaknya saat ini.
Saila kembali diam, mencoba mencari alasan agar mamanya percaya. Namun, pikirannya terasa buntu. Tidak ada ide yang muncul dalam benak pikirannya meski hanya sekilas. Sampai elusan lembut membuat Saila terdiam, menatap mamanya dengan tatapan lekat.
“Mama tahu apa yang ada dipikian kamu, sayang. Mama tahu kalau kamu merasa tidak rela dengan hal ini. Tetapi, ini hari bahagia Mikail dan mama yakin dia sangat mengharapkanmu hadir. Mama percaya, meski dia sudah memiliki tunangan, dia akan tetap menyayangimu sebagai adiknya. Bukankah dia sangat menyayangimu?” jelas Rika denga suara lembut.
Bagaimana Saila bisa melihat pria yang Saila cintai bersama dengan wanita lain, Ma, batin Saila merasa pilu.
“Datanglah, sayang,” ucap Rika dengan suara pelan.
Saila kembali diam. Rasanya mencoba mengalihkan pembicaraan mamanya kali ini. Menolak apa yang diharapkan mamanya sejak tadi. Sampai deheman kecil membuat keduanya menatap ke asal suara, melihat Gibran yang sudah berpenampilan rapi di depannya.
“Ma, jangan paksa Saila. Lagi pula kalau dia tidak datang, pertunangan juga tidak akan gagal, kan?” celetuk Gibran dengan pandangan lekat. Wajahnya sudah menunjukan senyum manis, menatap mamanya penuh makna.
“Tetapi, Saila dan....”
“Ma,” potong Gibran lagi. Matanya menatap mamanya yang sudah menarik napas daalam dan mengembuskanya perlahan.
“Baiklah,” putus Rika sembari menatap putri tunggalnya. “Kalau kamu tidak mau ikut, jangan lupa jaga diri di rumah ya. Kita semua akan ke sana,” ucap Rika sembari mengelus pelan wajah anakya.
Saila hanya diam dan mengangguk. Menatap kepergian mamanya dan beralih menatap ke arah Gibran yang memandang lekat.
“Kakak tidak berangkat bersama mama dan papa?” tanya Saila dengan tatapan lekat.
Gibran mengulas senyum tipis dan melangkah mendekati Saila. Tangannya mulai terulur, mengelus pelan puncak kepala adiknya dan menghela napas perlahan. “Jangan sedih, Saila. Kakak tahu apa yang kamu rasakan. Kamu berhak mencari pria lain yang jauh lebih menghargai kamu,” ucap Gibran pelan.
Saila yang mendengar menatap Gibran dengan pandangan lekat. Rasanya ada hal aneh yang dirasakan, mengingat Gibran tidak pernah mempedulikan mengenai hidupnya. Sama sekali tidak pernah.
Apa kakak Gibran mengetahui hubunganku dengan kak Mikail, batin Saila sedikit cemas.
Saila baru akan menanyakan mengenai hal yang baru saja terlintas dalam pikirannya. Namun, Gibran sudah melangkah menjauh. Sampai dering ponsel terdengar, membuat Saila menatap ke arah layar ponsel. Perlahan, tangannya segera meraih ponsel dan membuka pesan masuk. Menatapnya lekat dan menghela napas perlahan.
“Kak, tunggu Saila. Saila akan ikut ke pertunangan kak Mikail,” ucap Saila membuat langkah Gibran terhenti.
Gibran baru akan membuka pintu kamar adiknya dan siap keluar, terpaksa membalik badan dan menatap ke arah Saila dengan tatapan lekat. “Kamu yakin?” tanya Gibran dan mendapat anggukan dari arah adiknya.
“Baiklah. Kakak tunggu di bawah. Cepatlah keluar,” ucap Gibran.
_____
Mikail menatap ke arah para tamu undangan dengan pandangan lekat. Mengamati satu per satu, mencari sosok Saila yang belum datang ke acaranya. Padahal dia sudah mengirim pesan yang langsung terbaca oleh kekasihnya. Hanya saja Saila tidak membalas sama sekali.
“Ke mana dia?” gumam Mikail dengan tangan yang mengepal keras. Jika saja bukan dalam acara resmi yang sudah diselenggarakan keluarganya, Mikail akan memilih pergi dari tempat saat ini dia berdiri. Mikail benar-benar ingin berlari dan menyusul Saila. Ya, Sailanya.
“Mikail, selamat atas pertunanganmu. Om harap, Mischa akan bisa menjadi istri yang baik untukmu nantinya,” ucap Roby yang baru saja datang dengan wajah berbinar.
Mikail mengabaikan ucapan Roby dan memilih menatap Mischa yang mulai melangkah ke arahnya. Berjalan dengan langkah anggun yang membuat Mikail merasa muak. Namun, dia berusaha menahan emosinya dan mentapa Micsha seperti biasa.
“Kamu cantik hari ini, Mischa,” ucap Mikail dengan wajah mengamati.
Mischa menunduk malu, mengulas senyum tipis. Dia segera memilih melangkah ke arah Mikail. Dengan perlahan, tangannya terulur dan meraih tangan Mikail, mendekal dengan erat legan kekasihnya.
“Aku sangat bahagia malam ini. Kita akan bertunangan dan segera, aku akan menjadi istrimu, sayang,” ucap Mischa dengan tatapan lekat.
Lagi-lagi, Mikial memilih mengabaikannya. Dia hanya diam dan tidak memperhatikan sekitarnya sama sekali. Sampai tepukan pelan terasa di pundaknya, membuat Mikail menatap ke arah sang pelaku.
“Kita mulai acara ini sekarang, Mikail,” ucap sang kakek dengan tegas.
Mikial awalnya hendak menolak, tetapi dia mengurungkannya. Mikail memilih mengangguk dan menyetujui keputusan kakeknya. “Kita mulai sekarang, Kek,” putus Mikail membuat Mischa dan keluarga menatap senang.
_____
Saila hanya memejamkan mata ketika Mikail mulai memasukan cincin ke jari Mischa, membuat seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Hanya dia yang diam dan menatap ke arah Mikail dengan pandangan lekat. Bahkan, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.
Aku sudah kehilanganmu, kak. Lalu untuk apa aku harus menunggu, batin Saila dengan perasaan perih.
Saila sadar dengan tatapan Mikail yang sedang ada di pelataran terdepan, menggenggam tangan Miscah dengan lembut. Saila menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya memilih beralih ke arah mamanya yang masih tersenyum bahagia.
“Ma, Saila ke arah kolam, ya. Saila mau menghilangkan penat di kepala sebentar,” ucap Saila dan langsung mendapat anggukan dari mamanya
Saila mulai melangkah, menyusuri tamu undangan yang sudah begitu sesak. Dia hanya ingin mengeluarkan semua air mata yang sejak tadi ditahan, menjauh dari keramaian yang semakin membatnya sesak.
Saila baru melewati taman belakang rumah Michael dan siap pergi lebih jauh. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah tangan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya. Membuat Saila menghentikan langkah dan menatap ke arah sang pelaku.
“Kak Mikail,” ucap Saila dengan pandangan tidak percaya.
“Kenapa pergi? Bahkan, acara belum selesai, sayang,” tegas Mikail dengan pandangan lekat.
Saila hanya diam, menatap ke arah lain. Namun, Mikail memilih menggenggam kedua tangan Saila, menarik kekasihya agar menatap ke arahnya.
“Kamu marah sama aku?” tanya Mikail dengan suara datar.
Saila menggeleng perlahan. “Saila tidak memiliki hak untuk itu, Kak. Bukannya Saila hanya butuh menuruti apa yang Kakak mau?,” jawab Saila dengan suara yang tidak kalah datar.
Mikial hanya diam dan mengulas senyum tipis, menatap Saila yang ada di depannya. Perlahan, dia mulai mengeluarkan benda kecil dari dalam saku jas. Memasukan ke arah jemari Saila pelan.
“Kak,” ucap Saila terkejut ketika Mikail memasukan cincin dengan berlian di atasnya. Matanya menatap lekat pria yang dengan santai melihatnya.
“Bukankah aku bilang kalau malam ini aku akan bertunangan? Dan saat ini adalah pertunangan sebenarnya,” ucap Mikial datar. “Sekarang, kamu terikat denganku, Saila. Jangan dekati pria lain dan jangan mencoba pergi.”
Saila yang mendera hanya diam, bingung dengan apa yang dipikirkan kakaknya. Sampai sebuah tangan mendekap Saila erat, memberikan rasa nyaman untuk gadis tersebut.
Apa ini benar, Kak?, batin Saila merasa bingung.
_____
. Kak kim di tunggu cerita selanjutnya ya
. Kalau bisa lanjutin cerita anak saila dan mikail sekalian anak ghibran dan sevirda juga
selamat bertemu di karya selanjutnya...
sehat n syemangaaaatt sllu 🥰❤️
baby boy....
🥰❤️🤣
Gibran junior segera di louncing...
selamat Gibran n sefvirda....
🥰🤣🤣🤣🤣🤣