Menorehkan tinta di atas kanvas, tak selalu hitam juga putih, akan ada banyak warna yang menghiasi.
Namun, fatal bila salah menorehkan warna, karena akan menjadi noda yang akan merusak nilai estetik lukisan itu sendiri. Berani melukis cinta, juga harus berani menerima risikonya.
Alvin Daran, Pria berparas tampan yang telah menorehkan noda dan merusak sketsa lukisan yang telah susah payah Miya Patrisia rangkai. Akankah Alvin mampu mengubah Noda menjadi indah?, hingga pantas disebut sebagai lukisan, yang akan membuat senyum Miya kembali merekah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesembuhan Naumi
***
"Lihatlah, dia langsung pergi setelah mendapatkan uang. Semua perempaun di dunia ini sama saja. Mereka hanya mencintai uang." Kesal Alvin sambil memasang pakainnya.
"Bilang saja anda kesal karena dia tidak pamit pada Anda, Tuan." Jawab Sekretaris Haven yang pastinya hanya didalam hati.
Tiba dirumah sakit, Miya langsung menuju ruangan Dokter Kelvin. Betapa terkejutnya Miya saat melihat ada tuan Anan disana.
"Nona Miya, apa yang Nona lakukan disini?" Tanya Anan.
"Saya ingin ....
"Tuan Anan. Ini Nona Miya, dia pasien saya." Potong Dokter Kelvin yang mengerti kegugupan Miya.
"Oh begitu. Silahkan, Nona Miya. Saya sudah selesai. Kalau begitu saya permisi." Ucap Anan lalu keluar sari ruangan Dokter Kelvin.
"Dokter Kelvin, saya mendapatkan uangnya. Tolong lanjutan pengobatan putri saya, Dokter." Ucap Miya tersenyum lega.
"Baguslah kalau begitu, Nona. Hari ini juga saya akan memberikan pengobatan terbaik agar Naumi segera pulih." Jawab Dokter Kelvin berpura-pura ikut bahagia.
"Terimakasih, Dokter. Terimakasih." Ucap Miya tulus.
"Kalau begitu saya akan langsung bertindak karena kondisi Naumi saat ini cukup buruk." Kata Dokter Kelvin.
"Baiklah, Dokter." Jawab Miya mulai merasa gelisah. Memikirkan sang putri yang akan mengalami kesakitan membuatnya juga ikut merasa nyeri. Hatinya mulai tidak tenang, dia selalu berdoa untuk kesembuhan putri tercintanya.
Kini, Miya menunggu di luar ruangan putrinya ditangani. Dari tadi tak henti-hentinya Miya terus mondar-mandir.
Beberapa jam kemudian, Dokter Kelvin pun keluar dari ruangan. Miya langsung mendekati Dokter Kelvin untuk menanyakan keadaan putrinya.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" Tanya Miya tak sabaran.
"Syukurlah, Nona Miya. Keadaan Naumi semakin membaik saat ini." Jawab Dokter Kelvin tersenyum.
"Benarkah, Dokter. Terimakasih banyak Dokter Kelvin, terimakasih banyak." Ucap Miya tulus. "Apa saya boleh masuk, Dokter?" Sambung Miya bertanya.
"Silahkan, Nona. Kebetulan Naumi memang mencari Ibunya." Jawab Dokter Kelvin mempersilahkan Miya untuk menjenguk putrinya Naumi.
"Naumi sayang. Bagaimana perasaanmu, sayang?" Tanya Miya memeluk erat putrinya.
"Aku baik-baik saja, Ibu. Sekarang rasanya sangat nyaman, aku bahkan bisa berlari saat ini juga." Jawab Naumi dengan wajah yang begitu berseri.
"Syukurlah, sayang. Ibu sangat bahagia melihatmu sembuh." Ucap Miya. Entahlah, sepertinya Miya tidak ingin memikirkan atapun curiga bagaimana putrinya bisa sembuh hanya dengan sekali pengobatan. Yang terpenting baginya, putrinya sembuh. Itu sudah cukup baginya. Lagi pula dia tidak mengeri banyak tentang leukemia. Dipikirannya pasti Dokter Kelvin sudah memberikan pengobatan terbaik hingga putrinya bisa sembuh secepat itu, walaupun belum sembuh sepenuhnya. Tapi tetap saja putrinya sudah kembali ceria seperti dulu lagi.
"Agar semakin sembuh kamu makan dulu ya, Ibu suapin." Ucap Miya.
"Iya Bu. Rasanya aku samgaaat lapar." Jawab Naumi.
"Ibu, Bagaimana dengan Ayah. Ibu sudah janji padaku untuk membawaku bertemu dengan Ayah jika aku sembuh. Sekarang aku sudah sembuh, apakah aku sudah boleh bertemu Ayah?" Bola mata berwarna biru itu berbinar begitu indah membuat Miya tidak mampu menolak.
"Tentu saja, Sayang. Ibu kan sudah berjanji padamu. Jadi, Ibu pasti akan menepatinya. Setelah kamu benar-benar pulih dan sudah diperbolehkan pulang. Ibu akan membawamu pulang ke rumah Ayahmu. Ibu, Ayah, dan kamu Naumi sayang. Kita akan berkumpul bersama satu keluarga. Keluarga yang lengkap." Jawab Miya berbohong.
"Terimakasih, Ibu. Aku sudah tidak sabar menanti hari itu. Hari dimana aku akan memanggil Ayahku," jawab Naumi dengan segala kepolosannya.
ceritamu kali ini agak beda, namun malah semakin luar biasa..
keren dah pokoknya.. 🥰🥰🥰
yg ini g ada sekuelnya ya???
oke deh lanjut cerita berikutnya..
sehat2 terus kakak..
tetap semangat untuk berkarya.. 😘🥰🤩😍
ga tll panjang to bener2 berkesan 🥰