Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru bimbel
“sudahlah jika dia bukan jodohku, mungkin tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik darinya” gumamku, aku berdiri membereskan Laptop dan buku, kemudian berjalan menuju parkiran, pandanganku tertuju pada satu orang yang kurasa aku mengenalinya, aku menghampirinya, jarak kami semakin dekat, ternyata dia adalah Shobhi, aku sudah sangat lama sekali tidak melihatnya, “kak” sapaku padanya, “iya” dia membalikkan tubuhnya menghadapku, sekarang kami berhadapan, aku menengadahkan kepalaku untuk menatapnya, ya,, tinggi kami memang sangat beda jauh, “eh Latira, ada apa?” tambahnya memecah suasana
Seketika aku bingung aku mendekatinya tanpa alasan, oh aku baru ingat, dulu dia pernah menawariku untuk
ikut menjadi pengajar di lembaga bimbel, “oh itu kak, kemaren yang kakak bilang lamaran pekerjaan jadi pengajar bimbel, apakah masih ada lowongan?” tanyaku pada Shobhi, untung saja aku mendapatkan alasan yang tepat, “oh masih, tunggu kakak cari dulu brosurnya” dia mengeluarkan ponselnya dan beberapa saat kemudian dia mengirimkan brosur yang dia maksud padaku, itu adalah chat pertama dari Shobhi setelah sekian lama
Sekarang aku sudah semester 3, tentu saja aku memenuhi syarat seperti yang tercantum di brosur itu, “tapi aku
nggak ngerti cara nyari alamat ini kak” tanyaku sambil menunjukkan alamat Bimbel yang tertera di brosur, aku sungguh-sungguh tidak tau, bukan karena aku ingin mencari kesempatan agar dia mau mengantarku, tetapi aku memang tidak kenal arah di kota ini, selama ini Arsan yang selalu mengantarku kemana-mana, dia telah membuatku sangat tergantung padanya
“kapan kamu mau kesana\, biar kakak temani” ujar Shobhi\, dia masih tetap baik\, masih sama seperti yang dulu\, aku sangat bersyukur bertemu dengan orang baik seperti dia\, “besok kak” balasku\, “besok kita ketemu di depan Ja***s ya\, kakak bakalan temenin kamu kesana\,” ujar Shobhi
Besoknya....
Aku menuju tempat kami janjian\, kami berjanji untuk bertemu jam 4:30 sore namun jam 4 sore aku sudah on the way\, aku tidak mau dia menungguku\, aku sampai di depan Ja***s jam 4:15\, aku menunggunya\, namun sudah lewat jam 4:30 sore dia belum terlihat\, aku menunggunya lebih dari tiga puluh menit\, “Shobhi oh Shobhi dimana ya?” gumamku\, sambil membuang nafas\, “hey” suara Shobhi\, seketika dia muncul di depanku\, “apa dia mendengarku memanggil namanya” gumamku dala hati\, aku membalas dengan melambaikan tanganku\, dia menyuruhku mengikutinya
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan, dia menceritakan padaku apa saja yang harus dilakukan agar bisa
diterima sebagai pengejar di lembaga Bimbel tersebut, “kamu masih pacaran dengan Arsan?” tanya Shobhi, aku mengelengkan kepalaku, “enggak” jawabku singkat, “kenapa?” tanya Shobhi lagi, “dia selingkuh sama Putri” jawabku, “Putri yang tinggal dekat rumah tantenya itu ya?” tanya Shobhi lagi, “iya, kok kakak kenal?” tanyaku mulai penasaran, “dulu kami sekolah di SD yang sama, dia pernah tinggal kelas dulu, dia seharusnya angkatan kamu” jelas Shobhi, aku baru tau satu lagi keburukannya, “ternyata dia pernah tinggal kelas” gumamku, jiwa jahatku
senang mendengarnya
“Arsan itu dari dulu memang di manjakan sama orang tuanya, karena kedua orang tuanya sibuk kerja, jadi semua
keinginannya di turuti, karena itulah dia jadi kurang bertanggung jawab” Shobhi menceritakan tentang Arsan, aku mengiyakan, karena apa yang dikatakan Shobhi memang benar adanya, “kenapa dia baru mengatakannya sekarang, saat aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Arsan” gumamku dalam hati
Aku mengajukan lamaran pekerjaan ke tempat yang katakan Shobhi, ada tiga sesi ujian yang harus aku lewati untuk bisa bekerja disini, pertama tes tertulis, selanjutnya adalah tes mengajar dan yang terakhir adalah wawancara, walaupun aku sedikit gugup saat tes mengajar, namun akhirnya aku diterima dan bisa mulai mengajar keesokan harinya
Aku sangat senang, selain bisa membantuku melupakan Arsan dengan menyibukkan diri, aku juga akan mendapatkan penghasilan tambahan nantinya, beasiswa yang kuterima memang sudah cukup untuk kebutuhanku
sehari-hari, ditambah lagi uang jajan dari orang tuaku, tapi kuliah sambil kerja menjadi kebanggaan tersendiri bagiku, seharusnya aku memulai lebih awal, tapi ini juga belum terlambat