Ken merasakan dunianya runtuh dan kebahagiaannya sirna ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat seluruh keluarganya dibunuh dengan begitu sadisnya oleh sekelompok pria tak dikenal.
Ken adalah saksi bisu pembunuhan sadis yang menimpa seluruh keluarganya. Ayah, Ibu serta adiknya dibunuh tepat di depan matanya dengan sangat sadis. Tapi Ken tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan meratapi kematian mereka.
Ken ingin membalas dendam dan menghancurkan pria yang ia yakini sebagai dalang utama dibalik kematian keluarganya. Dan gadis bernama Shea Oliver-lah yang menjadi sasarannya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, apakah benar-benar pria itu yang telah membunuh keluarganya?
Ken menculik dan menjadikan gadis tak berdosa itu sebagai sandera di mansion mewahnya. Memenjarakannya di sana dan mengikat paksa Shea dengan sebuah pernikahan.
Dan apakah Cintanya pada Shea mampu membuat Ken melupakan dendam kesumatnya pada keluarga Oliver? Apakah Ken mampu melepaskan dendamnya demi Shea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-Sama Terluka
"Maaf, aku sedikit terlambat!"
Cris dapat menghela nafas lega karna pada akhirnya Ken datang jung, laki-laki berdarah China-Canada itu tidak perlu merasa cemas dan khawatir lagi. Dan keadaan kini sepenuhnya di ambil alih oleh Ken. Dan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun karna telah membuat klien-nya menunggu terlalu lama.
Ken berjalan menuju sofa dan menempatkan dirinya dengan nyaman di sana.
"Di mana barangnya?" tanya Ken tanpa basa basi.
Laki-laki berpakaian formal itu mengangguk. "Ambilkan barang itu dan perlihatkan pada, Tuan Ai," pinta pria itu pada pria yang berdiri di belakangnya.
Pria itu mengangguk. "Baik Boss,"
Tidak sampai 5 menit. Barang itu sudah ada di atas meja depan Ken. Sebuah senjata api berjenis cold 1911 dengan kecepatan 1.225 kaki perdetik terpampang jelas di hadapan Ken.
Menatap sekilas pada pria itu, Ken mengambil senjata tersebut dan memeriksa keasliaannya. Senyum miring terpatri di wajah tampan itu. Hanya dengan sekilas melihat, Ken sudah tau jika senjata itu palsu. Ken meletakkan senjata itu kembali di tempatnya, meskipun Ia sudah mengetahui jika senjata itu palsu. Untuk sementara Ken tetap membiarkannya, Ia tidak ingin bertindak gegabah.
Ia ingin memberikan sedikit kesempatan pada laki-laki itu untuk mengetahui yang sebenarnya agar tidak sampai ada pertumpahan darah.
"Apakah barang ini sungguh-sungguh asli, Jhony-ssi?" tanya Ken penuh selidik.
"Tentu saja, Tuan Ai. Mana berani saya membohongi Anda," jawabnya.
Ken menyeringai meremehkan 'Benar-benar cari masalah dia rupanya!' kata Ken membatin.
Ken mendongak dan berbicara pada Cris melalui bahasa non verbal, Cris yang mengerti arti tatapan itu segera mengangguk. "Jika sampai barang ini palsu, apa taruhannya?" Ken mengambil satu batang rokok kemudian menyulutnya.
Ken mengangkat kaki kanannya dan meletakkan di atas kaki kirinya. Ken menghisap rokok beraroma mint itu lalu menghembuskan kepulan asap putih dari mulutnya.
"Aku pertaruhkan kepalaku, jika barang itu memang palsu. Aku akan menukarnya dengan kepalaku!"
"Kesepakatan di terima!" Ken bangkit dari posisi duduknya dan menjabat tangan Jhony. "Tapi, sebelum itu. Boleh aku mencobanya?" tanya Ken sambil menyeringai tajam.
Susah payah Jhonny menelan saliva melihat smrik tajam Ken. "Te.tentu saja, Tuan Ai!" Tanpa melepaskan smrik itu dari bibirnya. Ken mengangkat pistol itu dan mengarahkan pada kepala Jhony.
"Ken-ssi, apa yang anda lakukan?" Jhony sangat terkejut dan menatap Ken penuh tanya.
"Mencoba meledakkan kepalamu, bukankah kau sendiri yang memintanya!" jawab Ken santai.
"APA!!" Melihat keterkejutan Park Jhony membuat senyum Ken semakin lebar, dan dapat Ken tebak jika pria itu begitu ketakutan.
Trakkkk ...!!
Ken menutup matanya ketika merasakan sesuatu menempel pada kepala belakangnya. "Turunkan senjatamu dari Boss Jhony!" pinta orang itu menuntut.
"HEIII... berani-beraninya kau mengangkat senjatamu pada Boss kami!" tak ingin kalah dari anak buah Jhony. Salah satu anak buah Ken mengangkat senjatanya dan mengarahkan pada kepala laki-laki itu.
"Meskipun kau meledakkan kepalaku, aku tidak akan menurunkan senjataku sebelum bosmu menurunkan senjatanya!" ujar laki-laki itu menegaskan.
"Bangsat, benar-benar cari mati kau rupanya!" tukasnya yang mulai tersulut emosi
"Key, cukup!!"
Ken menurunkan senjata itu dari kepala Jhony dan mengembalikkan pada tempatnya semula. Ken enoleh pada Key, Dia segera memberi kode pada salah satu tangan kanannya itu untuk segera menurunkan senjatanya.
"Ambil uang ini dan segeralah pergi!"
Brakkk...!!
Ken melemparkan koper yang penuh dengan uang keatas meja dan dengan cepat Jhony mengambil koper tersebut dan melenggang pergi meninggalkan ruangan pertemuan.
Dengan penuh emosi, Ken mengambil senjata palsu itu dan membantingnya hingga pistol rakitan itu hancur menjadi tiga bagian. Ken menggepalkan kedua tangannya, auranya menggelap. Membuat siapa pun yang melihatnya akan menjadi ketakutan.
"Dasar bajingan, memangnya dia fikir aku sebodoh itu. Bedebah itu harus merasakan akibatnya!" amuk Ken. "Key, bawah beberapa anak buahku bersamamu dan beri pelajaran pada bajingan-bajingan itu. Aku yakin, Singa-Singamu sudah lama tidak memakan daging manusia!" ujar Ken di iringi smrik mengerikan.
Key mengangguk dan meninggalkan ruangan Ken. "Park Jhony, kau akan segera tau dengan siapa kau berhadapan!"
-
Shea melepaskan satu persatu foto-foto ayahnya yang tergantung dan tertempel pada dinding kamar Ken. Ada tanda silang berwarna merah di wajah sang ayah, dan di setiap fotonya terdapat tulisan yang sama
'Pembunuh harus mati'.
Shea menatap foto-foto itu dengan sendu, tanpa terasa air mata mengalir dari pelupuk matanya. Selama ini Ken telah salah paham pada ayahnya, dan kini Shea tau jika Ken jauh lebih menderita di bandingkan dirinya.
"Pasti kau sangat membencinya setelah mengetahui kebenaran ini!"
Pandangan Shea bergulir pada sosok wanita yang tengah mengahampirinya dengan senyum lembut menghangatkannya.
"Senna, Eonni," katanya.
Senna duduk di samping Shea. Tangannya meraih foto-foto tersebut dari pangkuan gadis itu. "Bagaimana kau bisa menemukan foto-foto ini?" tanya wanita itu tanpa menatap lawan bicaranya. Senna terlalu sibuk dengan foto-foto di tangannya.
Shea menghela nafas panjang. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar di belakang tempat tidurnya. Mata hazelnya menatap langit malam yang tertutup awan kelabu, seulas senyum tipis tersungging nyata di wajah cantiknya.
"Bagaimana aku bisa membencinya sedangkan aku tau, jika kami sama-sama terluka. Aku tidak tau bagaimana dia melewati hari-harinya setelah kepergian keluarganya, aku tidak bisa membayangkan seorang anak berusia 14 tahun hidup sebatang kara tanpa keluarga."
"Pasti itu sangat berat dan menyakitkan untuknya. Pada hari itu ayahku memang datang kesana, namun kedatangannya bukan untuk menghabisi seluruh keluarga Ai melainkan untuk menyelamatkan mereka. Tapi ayah terlambat, karna setibanya di sana. Seluruh keluarga Ken oppa telah terbunuh, aku melihat wajah sendu ayah ketika dia meninggalkan rumah itu."
"Dari dalam mobil, aku hanya bisa memperhatikan ayah yang sedang menangis meratapi penyesalannya. Ia merasa gagal sebagai seorang sahabat, ayah menyesal karna tidak berhasil menyelamatkan nyawa sahabat baiknya sendiri. Dan ketika kami tiba di lokasi."
"Aku melihat sekelompok pria berpakaian formal meninggalkan rumah itu dengan langkah tergesa, dan aku juga melihat seorang pria duduk di dalam mobil mewah yang kemudian di naiki oleh para pembunuh itu. Setelah itu, aku tidak tau apa lagi yang terjadi. Selama bertahun-tahun aku dan ayah berusaha menemukan keberadaan Ken oppa, tapi pencarian kami selalu nihil."
"Aku selalu mengatakan jika aku membencinya, dan hampir setiap hari aku selalu mengucapkan sumpah serapah untuknya, karna aku fikir dia sengaja meninggalkanku tanpa aku sadari bagaimana hatinya pada saat itu. Dan setelah kami bertemu lagi, aku menemukan kesepidah dan kekosongan dari sorot matanya. Dan malam itu akhirnya aku menemukan semua jawabannya. Dan kehilanganlah yang merubahnya menjadi sosok yang berbeda."
"Ai-Ken, yang dulunya adalah sosok pemuda yang hangat dan penuh kasih sayang, tiba-tiba menjelma menjadi Iblis yang mengerikan. Terus terang saja Eonni, aku sangat sakit dan aku sedih melihatnya menjadi seperti itu. Aku ingin dia segera tau kebenarannya dan kembali menjadi, Ken seperti yang dulu pernah aku kenal!" ujar Shea panjang lebar.
Senna meletakkan foto itu kemudian bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Shea. Senna memahami betul bagaimana perasaan Shea saat ini, bukan hanya kesedihan yang gadis itu rasakan. Namun Ia juga sangat takut, Ia takut jika Ken akan membalaskan dendamnya pada orang yang salah.
Sama seperti Shea, Senna pun tidak ingin Ken sampai menyesal pada akhirnya. Dan dalam hatinya Ia bersumpah, Senna akan membantu Shea mengungkapkan kebenaran itu pada Ken dan menunjukkan pada dia jika ayah Shea tidaklah bersalah.
"Aku tau yang kau rasakan dan aku sangat memahaminya. Meskipun dia terlihat sangat kuat dan tegar, tapi sesungguhnya Ken begitu rapuh. Dia membutuhkan kekuatan, dia membutuhkan seseorang yang bisa Ia percaya untuk menjaga hatinya. Dan akhirnya Ken memilih dirimu, dia tidak pernah bisa melupakanmu dan menggantikanmu dengan orang lain."
"Satu fakta yang perlu kau ketahui mengenai alasan kenapa Ken menikahimu, karna dia ingin kau selalu berada di sisinya. Mungkin caranya memang salah. Tapi percayalah, jika Ken sangatlah mencintaimu!" tutur Senna panjang lebar.
Shea tidak bisa lagi membendung air matanya. Air mata yang semula hanya beberapa tetes saja kini tumpah membasahi wajah cantiknya. Dengan lembut Senna menghampus air mata itu lalu membawa Shea ke dalam pelukannya.
Senna membiarkan Shea menumpahkan semua kesedihannya dan perasaan yang tertahan di hatinya. Mengusap punggungnya dengan gerakan naik turun, Senna mencoba memberi kekuatan pada gadis itu.
"Ini sudah malam, kembalilah kekamarmu kemudian tidurlah. Tidak perlu menunggu Ken, dia tidak akan kembali dalam waktu cepat!" Senna melepaskan pelukannya dan memandang Shea dengan senyum hangatnya.
Gadis itu mengangguk, dan memaksakan diri untuk menarim sudut bibirnya. "Baiklah, Eonni," jawabnya.
Kedua gadis itu berjalan beriringan meninggalkan kamar Ken dan kembali kekamar masing-masing.
-
Bersambung.
n ini cuma bisa kirim sekuntum mawar untuk Thor seorang.
selalu ceria dalam berkarya,biar selalu indah n menyenangkan untuk d baca n d ikuti alurnya.
slalu bahagia....
moga hasilnya sama2 kembar jg
gak masalah n gak maku2in kok