Hito diperlakukan secara tidak adil oleh keluarga istrinya. Segala hal buruk ia dapatkan, tetapi pria itu tetap setia demi cintanya.
Namun, seiring berjalannya waktu. Hito semakin tidak dianggap. Secara terang-terangan sang istri berselingkuh dengan pria lain.
Hito direndahkan, dan dianggap pria sampah yang hanya menumpang. Namun, mereka semua tidak menyadari jika Hito, adalah seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Bertemu
"Kamu mengajakku ke negara D, lalu di mana kita akan menemukan pria gila itu?" kata Juan.
Keduanya telah sampai di negara D untuk menemui Ye Chen. Aksi balas dendam itu nyatanya memang benar-benar keduanya laksanakan.
"Hei, sangat mudah untuk menemui pria itu. Pria seperti Ye Chen akan berada di casino ataupun tempat hiburan malam bintang lima," tutur Aldo.
"Sepertinya misi ini akan bahaya. Aku tidak mau hidupku sia-sia nantinya."
Aldo tergelak, "Tenang saja. Kita jual nama Hito. Sudah pasti pria itu akan mendengarkan kita. Siapa tahu aku bisa meminjam modal padanya untuk membangkitkan kembali perusahaanku."
Juan berdecih, "Jadi, kamu kemari dengan maksud itu?"
"Oh, ayolah! Nanti kamu juga akan kecipratan." Aldo menepuk pundak temannya itu.
Aldo menghentikan taksi untuk membawa mereka ke hotel terdekat. Keduanya takjub akan suasana negara D. Bangunan menjulang tinggi serta penghijauan yang dilakukan oleh pemerintahnya sangat baik.
"Dari mana kamu kenal Ye Chen? Kamu tahu dari mana Hito, adalah temannya," tanya Juan penasaran.
"Aku tidak kenal dia, tetapi aku mendapat informasi dari riwayat hidup Hito. Mereka sama-sama satu sekolah. Entah kenapa Ye Chen pindah ke negara D. Pria itu sangat terobsesi akan kekuasaan. Menurut informasi yang kudapat. Ye Chen sangat dihormati di sini. Dia bagai dewa karena memang pria itu mencitrakan dirinya sebagai pria dermawan," kata Aldo menjelaskan.
"Sepertinya itu kedok," kata Juan.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan masalah itu. Kita istirahat saja, dan malamnya kita bersiap untuk mencari pria itu," ucap Aldo.
Taksi berhenti tepat di depan pintu masuk hotel. Keduanya keluar dari dalam mobil setelah membayar ongkos perjalanan.
...****************...
"Bagaimana penampilanku?" kata Juan.
"Lumayan," sahut Aldo.
"Kamu sudah menyewa mobil? Kita tidak mungkin ke club dengan taksi, bukan?"
"Kamu kira aku punya uang sebanyak itu! Kita sudah tidak punya apa-apa lagi semenjak Hito menghancurkan segalanya. Setidaknya aku harus berhemat," tutur Aldo.
"Payah kamu!"
"Aku temanmu satu-satunya yang masih peduli akan nasibmu. Lihat, temanmu yang lain. Apa mereka peduli padamu? Tidak, kan? Mereka hanya datang di saat kita berada di atas saja. Saat susah mereka menjauh." Aldo juga diperlakukan sama seperti itu oleh teman-temannya.
Kamu juga berteman denganku karena satu tujuan. Kamu sama saja Aldo.
"Kita berangkat saja sekarang," kata Juan.
Keduanya keluar dari kamar hotel, dan setelah sampai di luar, Aldo meminta pelayan hotel memesankan mereka taksi.
"Aku jadi tidak sabar untuk segera sampai ke club. Biarpun begitu kita harus merogoh kocek yang lebih dalam," kata Juan.
"Itu sebab aku mengatakannya padamu. Kita harus berhemat agar bisa bergaul dengan kalangan atas di sana," sahut Aldo. "Itu taksinya. Ayo, kita berangkat."
Juan dan Aldo masuk ke dalam mobil taksi. Tujuan mereka, adalah club malam Excort. Club terbesar di ibukota, dan pasti Ye Chen akan berada di sana.
"Wow! Benar-benar menakjubkan," kata Juan setelah keduanya sampai di club. "Kita masuknya bagaimana? Pasti pakai kartu VIP."
"Lihat ini," kata Aldo sembari menunjukkan kartu masuk VIP emas di tangannya.
"Dari mana kamu mendapatkan itu?"
"Makanya, saat kamu kaya jangan hanya diam di negeri sendiri. Jalan-jalan, dong. Aku pernah kemari sebelumnya," kata Aldo.
"Hebat kamu! Ayo masuk," kata Juan.
Aldo menunjukkan kartu VIP kepada satpam penjaga dan mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Suara musik memekakkan telinga. Wanita serta pria berdansa bersama mengikuti alunan musik yang menghentak.
"Aku mau ikut menari," kata Juan yang memang sangat gemar berpesta.
"Hei, kita di sini mencari Ye Chen. Dia pasti berada di ruang privat," kata Aldo.
"Mumpung di sini. Kita senang-senang dulu."
"Jangan menunda pekerjaan. Kita harus segera menemuinya," kata Aldo, lalu menarik tangan Juan menuju ruangan privat.
Ada beberapa kamar yang mereka lewati di sepanjang koridor khusus kamar bagi para kalangan atas yang ingin mengadakan pesta pribadi.
"Kalau pintu kamarnya ditutup, bagaimana kita mau bertemu dengannya?" kata Juan.
"Lihat pintu berlapis emas yang dijaga itu. Sudah pasti Ye Chen berada di sana."
Aldo melangkah mendekati dua pria yang berjaga di pintu berlapis emas tersebut. Tatapan dua pria bersetelan jas hitam itu sangat dingin, dan mampu membuat Juan serta Aldo bergidik.
"Mau apa?" tanya salah satu penjaga.
"Kami ingin bertemu tuan Ye Chen," kata Aldo.
"Memamgnya kalian siapa?"
"Katakan jika aku membawa berita mengenai sahabat lamanya Hito Wiliam Hutomo," jawab Aldo.
Dua pria itu saling lirik. Salah satu masuk ke dalam ruangan, dan satu lagi tetap berjaga-jaga. Tidak lama penjaga yang masuk tadi keluar.
"Kalian boleh masuk." Sebelum Juan serta Aldo masuk, keduanya diperiksa terlebih dahulu.
Juan dan Aldo masuk ke dalam ruangan yang membuat bulu kuduk mereka merinding oleh tatapan intimidasi. Ada beberapa pria di dalam sana dengan ditemani wanita. Minuman keras, wanita yang menari dengan pakaian minim, tetapi yang sangat menakutkan, adalah seorang tuan muda yang menatap tajam mereka berdua.
Pria berusia tiga puluh tahun. Warna rambut serta matanya sama, yaitu hitam mengkilap. Tubuhnya kekar dengan dibalut setelan jas mahal. Pria itu duduk dengan kaki menyilang, dan diperkirakan memiliki tinggi tubuh sekitar seratus delapan puluh. Jangan lupakan wanita yang berada di sisi kiri dan kanannya, maka lengkap sudah betapa sempurnanya pria itu. Harta, takhta serta wanita melingkupi hidupnya.
"Selamat malam Tuan Ye Chen. Saya Aldo dan ini Juan." Keduanya membungkukkan sedikit tubuh mereka memberi salam penghormatan.
"Katakan tujuan kalian," ucap Ye dengan suara bariton.
"Kami ingin meminta bantuan Anda," kata Aldo.
"Benar, Tuan. Kami ingin meminta bantuan karena telah disakiti," sambung Juan.
Semuanya yang berada di ruangan itu tertawa. Penari wanita menghentikan kegiatan mereka. Musik juga berhenti. Yang ada hanya suara tawa, lalu semua terdiam saat Ye Chen mengerakkan satu jari telunjuknya.
"Bantuan karena disakiti? Kalian ingin aku melakukan apa?" tanya Ye Chen.
"Ini semua karena Hito, Tuan. Dia yang membuat kami sengsara," ucap Juan.
Aldo memasang senyum terpaksa. Juan seperti pria yang tidak sabaran. Ia merasa malu, dan juga menyesal telah mengajak Juan bertemu Ye Chen.
"Hito Wiliam Hutumo? Lalu, apa yang aku dapat jika telah menghancurkannya?" tanya Ye Chen.
Aldo dan Juan menelan ludah. Mereka tidak ada sesuatu yang berharga untuk ditukarkan dalam kesepakatan ini.
"Tuan, Hito menjadi seorang penguasa di sana. Dia sangat semena-mena kepada kami. Tolong bantu kami," kata Aldo memelas.
"Buang waktu! Penjaga usir mereka dari sini!" perintah Ye Chen.
Bersambung