Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.
Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.
Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.
Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?
Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?
Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?
Bagaimana kelanjutannya.
Ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Definisi dari Dunia Sempit.
Setelah pandangan mata dari keduanya yang sama-sama terkejut, Akmal dikejutkan lagi dengan colekan dari teman yang ada di belakangnya.
"Mas Akmal, malah bengong, kamu terpesona ya dengan Bu dosen cantik itu? Ayo cepat sebutkan nama lengkap, panggilan dan alamat seperti teman-teman yang sudah tadi. Di belakang absen kamu masih banyak ini yang antri belum diabsen juga," kata Samih, teman di bangku belakang Akmal. Mereka biasa memanggil Akmal dengan panggilan Mas karena selisih umur di antara mereka.
Akmal masih belum bisa berkonsentrasi akibat pikirannya terdistraksi dengan makhluk yang ada di depan itu. Dirinya berusaha bersikap biasa, tetapi tetap belum mampu.
"E....e.....na...na..nama Saya Muhammad Akmal Hafidz...." sebelum Akmal melanjutkan kalimatnya, sudah dipotong oleh Fikri, temannya yang terkenal suka ngasih prank kepada teman-temannya.
"Baru kali ini kita menyaksikan adegan live ketua DEMA (Dewan Mahasiswa), calon orator ulung, ternyata bisa mati kutu juga, kena demam panggung kayaknya." Ucapan Fikri langsung disambut teriakan dari teman-teman sekelasnya.
"Ssstttttt.....masih pada mau melanjutkan berisiknya? Kasihan kelas sebelah yang terganggu akibat perbuatan kalian. Kebiasaan dari hutan jangan dibawa serta masuk kelas ya?" titah Titi setelah berusaha menguasai dirinya. Titi tidak boleh kalah dengan mahasiswanya. Bisa-bisa dirinya yang dijadikan sebagai penonton, menyaksikan tingkah mereka. Titi harus bisa tetap memanajemen kelas ini dengan baik.
"Mau dilanjutkan absennya atau sudah cukup?"
"Lanjut Bu?"
"Dosen cantik ternyata galak juga," gumam Fikri. Suasana di dalam kelas yang mendadak hening, otomatis gumamannya terdengar dengan jelas.
"Kalau mau gibah, di luar saja ya. Sekarang waktunya di kelas untuk melaksanakan perkuliahan," balas Titi.
"Ehhhmmmm....," Akmal berdehem beberapa kali, untuk melegakan tenggorokannya, biar suaranya bisa didengar dengan jelas. Tidak terlalu kentara groginya.
"Saya lanjutkan B...B...Bu..," ucap Akmal yang segera melafalkan doa agar lisannya bisa lancar, tidak gagap seperti tadi. Entahlah... memanggil yang ada di depan dengan sebutan Bu, padahal dirinya sudah beberapa kali bertemu dengan Titi, yang biasanya Akmal memanggil dengan Mbak Titi, jadi sedikit aneh. Inikah definisi dari dunia itu sempit?
"Nama saya Muhammad Akmal Hafidz, biasa dipanggil Akmal. Asli Purwokerto city," ucap Akmal akhirnya bisa dengan lancar.
"Kami biasa memanggil Mas Akmal Bu, karena Beliau sudah senior, baik senior dalam hal umur maupun senior dalam kepintaran dan lain-lain," sela Fikri lagi. Rupanya Fikri ini tipe yang suka menyerobot, baiklah kalau sekedar menyerobot omongan tidak terlalu masalah selama masih suasana tidak terlalu serius. Asal jangan menyerobot apalagi menikung jodoh orang saja. Hahaha.
Akmal langsung memberi Fikri hadiah berupa tatapan maut. Yang ditatap langsung pura-pura menunduk.
"Ampun Boss," jawab Fikri tanpa suara, cukup dengan isyarat gerakan mulut yang lebar.
Akmal memandang Fikri lagi sambil tangannya digerakkan di dekat lehernya, posisi seperti orang mau mematahkan leher.
"Sudah, kita lanjutkan lagi. Kalau bercanda terus, bisa-bisa sampai subuh tidak selesai." ucap Titi. Titi melanjutkan memanggil kembali nama-nama mahasiswanya. Setelah semuanya dipanggil sekalian absen tadi, segera dilanjutkan dengan agenda yang lain. Hari pertama Titi ngajar Alhamdulillah semuanya hadir. Mahasiswa berjumlah 50 orang itu datang semuanya yang membuat ruangan kelas jadi penuh.
Agenda selanjutnya yaitu kontrak belajar. Titi ingin kesepakatan bersama mengenai jam masuk, yang terlambat, ijin dll. Akhirnya disepakati kontrak belajar, bagi yang melanggarnya sudah tentu ada konsekuensinya. Sebelum dilanjutkan ke materi Titi bertanya dulu ada yang belum jelas atau ada yang masih perlu dikonfirmasi.
"Maaf Bu, ijin bertanya, nama saya Mela. Untuk penilaian bagaimana Bu? Kalau UTS dan UAS?" tanya Mela. Mahasiswa berjilbab motif, cukup manis penampilannya.
"Baik. Langsung saya jawab ya. Menurut surat edaran, penilaian terdiri dari absen 10 persen, Keaktifan di kelas 20 persen, UTS 30 persen dan UAS 40 persen. Tetapi untuk mata kuliah saya, tidak semuanya mengacu kepada keempat komponen tadi. Saya melakukan penilaian secara komprehensif. Artinya semuanya saya nilai. Attitude kalian dll," jawab Titi panjang lebar.
"Harus waspada kita ini. Harus sopan kepada Bu Dosen," ucap Fikri seperti biasa, terlalu vokal di kelasnya.
"Ya, memang kita harus sopan santun kepada semuanya. Karena akhlak itu kebiasaan. Jadi harus diterapkan di manapun dan dengan siapapun juga," jawab Titi.
"Oke Bu. Siap" koor dari teman-teman satu kelas.
"Untuk UTS dan UAS nanti nunggu edaran dulu ya. Baru saja masuk pertemuan pertama, masa sudah mau langsung UTS dan UAS." ucap Titi.
Titi mengirimkan RPS kepada Kosma (Komisariat Mahasiswa) untuk dijadikan acuan selama perkuliahan satu semester ini. Tadi sudah menuliskan nomor WhatsApp nya, dan kosma sudah chat ke handphone Titi.
Kemudian Titi menjelaskan materi yang pertama tentang manajemen keuangan. Pengertian manajemen keuangan, sejarahnya, manfaat mempelajari manajemen keuangan.
Nampak di pojok belakang ada yang bisik-bisik. "Woi, kedip itu mata, jangan mlongo seperti ikan koi. Rika (kamu) tidak capek, dari tadi mengagumi Bu Dosen cantik. Tumben tertarik kepada lawan jenis, biasanya dingin kayak freezer. Kami kira Mas Akmal itu tidak pernah tertarik dengan wanita. Ternyata. Tapi sayang masa tertarik sama dosennya sendiri. Nanti bisa gempar, ada mahasiswa yang mengejar Bu Dosennya." kata Samih dengan senyum mengejek karena berhasil menggoda Akmal. Sekarang dirinya tahu kartu As Akmal. Lumayan bisa untuk dijadikan referensi dalam hal pembulyan.
"Ssstttttt...diam. Jangan ganggu Inyong (saya)!" jawab Akmal sambil meletakkan jari telunjuk ke depan mulut. Akmal kembali konsentrasi melihat ke depan. Entahlah.. benar-benar konsentrasi mendengar tentang materi perkuliahan yang diajarkan atau konsentrasi memandang seseorang yang sedang mengajar. Hanya Allah SWT dan Akmal yang tahu.
Titi menjelaskan materi dengan power point, sesekali dirinya mengitari kelas, tetapi tidak ke pojok tempat seseorang sedang duduk di bangkunya. Dirinya masih syok. Benar-benar tidak menyangka. Inikah definisi yang sebenarnya kalau dunia itu sempit. Dirinya beberapa kali berjumpa tidak sengaja dengan orang itu. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata orang itu menjadi mahasiswanya. Benar-benar sempurna. Sempurna membuat pening kepala kalau memikirkannya.
Setelah slide presentasi yang berjumlah 20 buah itu selesai dijelaskan semuanya, menunjukkan kalau materi yang diajarkan untuk pertemuan kali ini sudah selesai.
"Bu, ijin bertanya boleh?"
"Monggo Mas, sekalian perkenalan biar saya juga hapal wajah di kelas ini," jawab Titi.
"Terima kasih tadi sudah dijelaskan materi perkuliahannya dengan menarik, slide presentasi juga cantik seperti...eehhmmmm.., maaf Bu Dosen dan teman-teman, tiba-tiba tenggorokan saya jadi gatal."
"Huuuuuuu..." sorak-sorai tidak bisa dihindari mengingat Fikri sebagai pelawak di kelas mereka yang selalu beraksi. Pantas juga dirinya sebagai stand up komedi.
"Perkenalkan Bu, nama saya Fikri Mustofa Hadi, tidak usah pakai ningrat, karena wajah saya sudah menunjukkan dari trah darah biru. Harap tenang teman-teman, tidak usah berebut mengagumi Inyong, Nanti Inyong lupa pertanyaan yang akan Nyong ajukan," ucap Fikri sambil berpikir, entahlah berpikir beneran atau cuma pura-pura berpikir.
"Tuh kan jadi lupa beneran," jawab Fikri lagi sambil memegang pelipisnya dengan ballpoint yang dipegangnya. Entahlah tidak pernah mati gaya rupanya anak ini.
Titi jadi mau tidak mau ikut tersenyum melihat ada pelawak gratis di depan mata. Senyum simpul saja, tetap harus jaga image.
"Alhamdulillah, Nyong ingat Bu. Tadi kita sudah belajar tentang definisi manajemen keuangan. Pertanyaan saya dan mungkin juga mewakili teman-teman semuanya, Apakah manajemen keuangan bisa diterapkan untuk mahasiswa seperti kita? Bagaimana caranya memanajemen uang bulanan, harian, tahunan, sedangkan uangnya masih ghoib?" tanya Fikri dengan senyum khas andalannya.
"Tentu tetap bisa diterapkan Mas Fikri, kalau tidak ada uangnya, berarti kita merencanakan dulu, masih wacana atau sedang rencana ya. Bukan ha lu parah. Bukankah kita seringnya suka dengan ekspektasi? Walaupun kenyataannya tidak seindah yang dipikirkan," jawab Titi dengan tetap tersenyum. Menghadapi tingkah mahasiswa seperti model begini tentu juga harus siap dengan kuda-kuda. Hikmahnya Titi jadi langsung ingat wajah dan nama mahasiswa itu, Fikri. Titi jadi teringat ucapan dari Dosennya waktu kuliah S1 dulu. Kalau mau terkenal bisa dengan beberapa jalan, dengan prestasi, dengan tingkah yang aneh, unik alias absurd atau dengan cara yang spesial yang tidak semua orang bisa melakukannya. Apapun itu yang terpenting tidak melanggar norma. Alhamdulillah pertemuan pertama ini Titi sudah mengenal dua mahasiswa, yang pertama tentu saja si dia dan yang kedua Fikri.
Bagaimana kelanjutannya??
Ikuti terus ceritanya.
Jangan lupa untuk selalu tekan like komentar dll. Terima kasih semuanya.
..
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.
keren.