NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta ABG

Terjerat Cinta ABG

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:76.2k
Nilai: 5
Nama Author: Azya Tanre

kisah ini bercerita tentang Nindy Nugraha Pale, seorang dosen muda nan cantik jelita yang terpaksa menikahi pelajar SMA dari kelas homogen.

Awalnya mereka berdua sangat menolak, namun pernikahan itu tetap saja berlangsung karena desakan keluarga dan orang-orang sekitar yang main hakim sendiri.

Bagaimana kehidupan mereka setelah menikah? Akankah pernikahan mereka bertahan? Yuk simak ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azya Tanre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Ayah

Darco berusaha menahan matanya yang mulai mengantuk, sementara Nindy yang ditunggu tak kunjung bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30, Darco mengambil telepon genggamnya lalu menonton video-video lucu. Meski sudah beberapa kali menyaksikannya, tetap saja Darco tertawa terpingkal-pingkal.

Tidak lama kemudian Nindy terbangun dan memanggil nama ayahnya.

“Kenapa Aku disini?" Nindy membuka matanya perlahan.

“Alhamdulillah ibu sudah sadar,” Darco bangkit dari duduknya, kebahagiaan tergambar jelas diwajahnya.

“Ibuku dimana?" Nindy memegang kepalanya yang terasa pusing.

“Kenapa harus menanyakan wanita jahat itu? Kondisi ibu lebih penting sekarang,” tegas Darco menatap Nindy.

“Aku harus bicara dengannya, harus menemani ayah kedokter dan banyak lagi yang harus aku selesaikan,”

“Kita bisa lakukan itu besok, hari ini ibu istirahat saja,”

“Tidak, aku harus kembali kerumah, kamu tidak perlu ikut campur urusan pribadiku,” Nindy berusaha turun dari tempat tidurnya, namun seketika ia terbaring kembali karena seluruh tubuhnya terasa kaku dan sakit untuk digerakkan.

“Jangan keras kepala, ini sudah larut malam,” kata Darco membantu Nindy memperbaiki posisi tidurnya, kemudian merapikan selimut Nindy hingga kebagian leher. Nindy hanya terdiam, bukan karena setuju tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit.

Nindy mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi, teriakan ibunya mulai terngiang di telinganya. Tatapan yang tak lagi memancarkan kasih sayang tergambar jelas di bola mata itu. Untuk pertama kalinya Ia mendapatkan pukulan dari ibunya setelah usia mendekati 28 tahun. semuanya seakan mimpi buruk yang berharap tidak akan pernah terulang lagi.

Nindy yang merasa tidak nyaman, mencoba memiringkan tubuhnya kesebelah kanan, menyentuh pelan bagian perut yang tanpa rasa bersalah ditendang ibunya.

"Pukul lagi aku, hingga amarah ibu terlampiaskan seutuhnya, tapi tolong maafkan aku setelah itu ibu,"

Nindy yang merasakan hendak buang air kecil berusaha turun dari tempat tidurnya. Perlahan menekuk tangannya, namun ia kembali terbaring karena perutnya semakin sakit.

"Apa tidak nyaman tidur disini? Apa kita harus ke hotel?" Kata Darco melihat Nindy yang terus gelisah.

“Aku mau turun,”

“Ini sudah malam Bu, besok pagi kita ke sana,”

Nindy semakin tidak bisa menahannya, namun enggan untuk minta tolong kepada Darco. Ia memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur lalu mengerang kesakitan.

“Astaga. Ibu benar-benar keras kepala ya, orang tua Ibu pasti sedang tidur pulas jam segini, tidak ada gunanya kita datang kesana,”

Darco memaksa Nindy untuk berbaring dan menyelimutinya, pada saat hendak Kembali ke tempat duduknya, Nindy menahan tangan Darco.

"Ada apa? Apa ibu kesakitan?” Darco kembali menoleh menatap Nindy.

“Bantu aku turun, aku sudah tidak tahan,” kata Nindy pelan.

“Akan semakin sakit jika ibu banyak bergerak. Lebih Baik Ibu diam dan tidur saja,”

“Aku mau buang air kecil!” teriak Nindy sambil menutup matanya. Darco tersenyum melihat raut wajah Nindy.

“Apa ibu malu?” Darco mendekatkan kepalanya wajahnya Nindy.

Nindy membuka matanya perlahan, ia kaget Darco tepat di hadapannya.

“Berhenti mengolokku, cepat bantu aku turun,” kata Nindy mendorong pelan Darco.

“Kenapa Ibu tidak bilang dari tadi?”

“Aku bisa buang air kecil di celana jika terus kamu ajak bicara,”

Darco menjulurkan tangannya untuk menggendong Nindy, dalam sekejap Nindy sudah berada di pangkuannya. Nindy kaget dan memegang pundak Darco.

“Turunkan aku, aku hanya minta kamu memapahku. Aku tidak lumpuh!” Nindy menjadi salah tingkah.

“Menggendong tubuh kecil ibu akan menjadi hobiku mulai sekarang,” Darco tersenyum menatap wajah Nindy yang berangsur memerah karena malu. Lalu Darco berjalan ke kamar mandi dan menurunkan Nindy dengan perlahan.

“Terima kasih,” kata Nindy pelan sambil merapikan rambutnya.

“Cepat lakukan,” kata Darco yang masih berada di samping Nindy.

“Bagaimana aku bisa melakukannya jika kamu masih berdiri disini,”

“Lakukan saja, aku tidak mau ibu terpeleset atau terjatuh,”

“Tidak, kamu harus keluar dari sini,” Nindy dengan susah payah mendorong tubuh Darco dari kamar mandi.

“Baiklah, panggil aku kalau sudah selesai,” Darco meninggalkan Nindy

“Iya,” jawab Nindy singkat.

“Dasar si Rebung aneh, tadi sore begitu berani menggodaku layaknya pria dewasa, sekarang dengan polosnya menyuruhku buang air kecil di hadapannya,” Nindy menutup pintu dengan wajah cemberut.

Kemudian Nindy melanjutkan ritualnya dengan menyikat gigi dan mencuci muka. Ia melakukannya dengan pelan karena nyeri di perutnya semakin menusuk ketika ia menunduk. Setelah selesai Ia membuka pintu dengan perlahan.

“Kenapa lama sekali? Aku sudah mengantuk,”

“Iya maaf,” Darco dengan cepat mengangkat Nindy.

“Astaga, kenapa masih menggendongku?” Nindy kaget karena tubuhnya seakan begitu ringan bagi Darco.

Darco tidak menjawab, ia langsung membawa Nindy ke tempat tidur dan membaringkannya. Darco menguap beberapa kali kemudian kembali ke sofa di sudut ruangan itu.

“Terima kasih,”

“Hmm,” balas Darco yang sudah memejamkan matanya.

Nindy yang belum mengantuk meraih telepon genggamnya, Ia membuka pesan singkat dari ayahnya.

“Bagaimana kondisimu sayang?

Apa badanmu masih terasa sakit?

Maafkan ayah, jangan pulang dulu ke rumah. Bersabarlah hingga ibumu bisa menerima keadaan, jangan juga terlalu mengkhawatirkan Ayah,

Ayah akan baik-baik saja,”

Nindy menangis membaca pesan dari ayahnya, dadanya terasa sesak, rasa perih kembali melanda hatinya. Tidak lama kemudian Nindy tertidur dengan handphone masih ditangannya.

***

Matahari pagi mulai mengintip, menyapa penghuni bumi tanpa pilih kasih, memancarkan cahayanya ke celah-celah yang disambut ceria oleh penunggunya. Disaat bersamaan, jalan-jalan mulai dipenuhi oleh para pencari rezeki, bekerja dengan penuh semangat dan harapan. Hal yang sama terjadi di sebuah rumah sakit di daerah itu, beberapa tenaga kebersihan terlihat sibuk membersihkan ruangan, memastikan setiap sudut tidak menyisakan debu. Langkah kaki mereka yang saling bersahutan menjadi alarm bagi sebagian penghuni kamar. Darco mulai membuka matanya perlahan, ia terpaksa bangun dan menghampiri petugas itu.

“Permisi ya Mas, saya bersihkan dulu,” katanya dengan sopan melihat Darco bangkit dari duduknya.

“Silahkan bu, tolong pelan-pelan ya Bu, takut Istri saya terganggu,”

“Baik Mas,”

Namun seketika Nindy terbangun dan memanggil Darco.

“Lanjutkan saja tidurnya, ini masih pagi,” kata Darco menghampiri nindy.

“Tidak, kita akan kembali ke kota hari ini,”

“kenapa buru-buru? Bukankah mau bertemu dengan orang tua ibu?”

“Aku akan datang lagi di lain waktu,”

“Keputusan yang tepat,” kata Darco hendak memeluk Nindy.

“Stop! Cuci mukamu terlebih dahulu,” kata Nindy berusaha menghindar.

“Hmm, baiklah,” Darco berjalan kekamar mandi dengan langkah lunglai, namun ia senang karena Nindy tidak mengajaknya kembali ke rumahnya, ia khawatir Nindy akan dipukul lagi oleh Ibu mertuanya.

Nindy bangkit dari tidurnya, badannya sudah terasa lebih baik, ia menatap pantulan wajahnya di jendela. Dipikirannya kembali tergambar jelas wajah ibunya.

"Kenapa Ibu begitu marah,"

1
Herman Rinaldi
cerita nya bagus Thor tapi jgn sampai berlarut larut, jd kurang sreg ahirnya.., jd sy nyimak dulu kelanjutannya, semangat thor
I'm Pink
udah ngak up lagi ya thor, kalo gitu mending beri tahu aja biar saya ngak terlalu berharap dapat notif dari anda.

BAGI YANG MAU BACA, MENDING JANGAN NOVELNYA GAK ADA LANJUTANNYA.
Agoeng's Yakuzha
lanjut thor
Similikii
up langung bnyak GK bisa
Azka
kenapa ngak lanjut"
Muhammad Rotib
up lah
Boh Lali
Woi ayolah upp
Fathimah Zahra
mana nih
Fathimah Zahra
lanjut donk
Fathimah Zahra
mana lagi
Bude Sumi
lanjut tp jgn bikin nindinya terus diem dgn hinaan dr org lain tanpa ada perlawanan dari dia, hanya menangis ketika dihina kurang greget jd yg baca kurang puas.
Rafif rafi'i
harusnya dr dl km cerita sama sahabat mu nin... kan jadi plong nggak terlalu berat dipikiran kamu.. ada tmn yg ngasih semangat..
Mun
Lanjut Kak...
Makin penasaran...
Boh Lali
P
Mun
Kemana nih Othornya...?
Nungguin NindyDarco bucin..😍
Semangat Up-nya Kak...
Boh Lali
Semangat nulisnya thor jangan lupa rajin rajin up ya thor
Boh Lali
Thor up tiap akhir dong plisss
Herda Lia
padahal bagus critanya tapi thormen nya males up sih
Rafif rafi'i
akhirnya up jg... hampir lupa aku thor..
duuhh mkin ruwet...
Rb Kristanto
next next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!