Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.
Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.
Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.
Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib Wang Yun
Mahesa membuka kelopak matanya. Dari balik dedaunan, cahaya mentari pagi telah menyentuh wajahnya. Rasa hangat itu berhasil mengusik mimpi indahnya.
''Oh, kiranya aku masih hidup.'' batin Mahesa.
Tubuhnya semakin sulit untuk digerakkan. Selain rasa nyeri yang menjalari seluruh saraf, tubuh Mahesa terasa bagai tertindih sesuatu hingga tidak mampu untuk duduk.
Mahesa mencoba menggerakkan tangannya, dia seperti menyentuh suatu benda yang sangat halus. Halus dan mulus. Ada aroma lain yang belum pernah Mahesa hirup. Wangi yang sangat menenangkan.
Mahesa tersadar. Benda yang menindih tubuhnya dan aroma wangi ini berasal dari sosok yang berada di atasnya. Sosok itu adalah abdi setianya. Puspita Dewi.
Sejak malam merangkak naik, saat rasa dingin mulai menyelimuti, Mahesa ingat, dia menggunakan tubuh Puspita untuk melawan dingin. Sepanjang malam dia memeluk tubuh itu layaknya bantal guling. Entah lah, apa Puspita jatuh pingsan atau bagaimana. Yang jelas, tubuhnya tidak lagi bisa bergerak. Kaki dan tangan Mahesa mengunci dengan erat. Mahesa hanya berharap tidak terjadi sesuatu yang membahayakan. Seperti patah tulang, terkilir atau ...
''Ah tidak. Benda itu masih baik-baik saja.'' Mahesa masih bisa merasakan sesuatu mengganjal hangat di atas dadanya.
Perlahan, Mahesa merenggangkan kakinya. Melepaskan kuncian. Tangannya pun mulai menjauh dari tubuh gadis diatasnya.
"Uhk..uhk...." Suara batuk yang sangat lemah terdengar.
''Syukurlah ....'' Hati Mahesa bersorak gembira mengetahui Puspita masih sadarkan diri.
Nampaknya gadis itu masih tertidur. Selain telah berlari sangat jauh. Sepanjang malam, dia berusaha melawan rasa sakit dan juga susah bernafas karena Mahesa memeluk seperti orang memeras pakaian. Mungkin, menjelang pagi Puspita baru bisa tidur.
"Pasti dia sangat lelah. Puspita, maafkan saya. Karena saya, kau jadi ikut menderita. Saya berjanji akan membalas semua budi baik yang kau berikan." Ucap Mahesa lirih. Tangannya bergerak membelai rambut hitam Puspita.
Hingga beberapa saat kemudian, barulah Puspita terbangun.
Puspita Dewi mengangkat kepalanya perlahan. Dia memastikan Mahesa masih bernafas. kemudian dengan sangat hati-hati gadis itu mengangkat tubuhnya dan membenahi pakaiannya yang tersingkap.
Mahesa masih memejamkan mata. Sebenarnya, setelah terbangun tadi Mahesa tidak tidur lagi. Hanya saja dia menyadari, meski tubuh mereka terbungkus kain tebal, pakaian Puspita telah terbuka. Mahesa dapat merasakan bagian tubuh itu.
Kalau Mahesa tidak berpua-pura masih tidur, takutnya Puspita mengira dirinya telah dilecehkan. "Atau jangan-jangan, benar dia telah dilecehkan?" ah, Mahesa memilih untuk tidak memikirkan hal itu.
Puspita sudah merapihkan pakaiannya juga kain-kain yang digunakan semalam. Barulah Mahesa membuka mata.
"Tuan Muda, Anda sudah bangun ...." Puspita membantu Mahesa untuk duduk bersandar di akar kayu.
Gadis itu meminunkan beberapa teguk air. Sementara Mahesa menatap hampir tidak berkedip. Meski tanpa make up dan poles, wajah Puspita memancarkan sinar kecantikan alami. Mahesa tersenyum kagum.
"Tuan Muda, apa apa ada yang salah dengan diri saya?" tanya Puspita sambil mengusap sudut mata dan wajahnya. Dia takut hadiah tidur masih menempel.
"A.. Tidak! Tidak ada apa-apa. Aku hanya memikirkan cara untuk membalas semua kebaikan mu." Mahesa tergagap. Terpaksa dia mencari alasan agar Puspita tidak curiga.
Puspita tersenyum simpul. "Sudah merupakan kewajiban saya Tuan Muda, mohon untuk tidak dibesar-besarkan."
Sebenarnya Mahesa masih ingin mengobrol lebih jauh. Akan tetapi rasa sakit bercampur panas kembali mendera seluruh tubuhnya. Wajah Mahesa merah padam menahan panas.
Untuk tidak memberikan beban fikiran pada Puspita, Mahesa meminta Puspita untuk segera membersihkan diri dan mengobati luka-lukanya.
"Tidak perlu terlalu merisaukan saya. Saya baik-baik saja. Bukankah kita akan kembali melanjutkan perjalanan?" Mahesa mencoba menghibur pelayannya.
Akhirnya Puspita menurut. Dia pergi ke tepian sungai yang letaknya tidak jauh. Puspita sengaja, agar Mahesa masih dalam jangkauan penglihatannya.
"CLIIIKKKK ... CLIIIKKKK ....!!!" tiba-tiba terdengar suara keras burung elang membelah angkasa.
"CLIIIKKKK ... !!!" Burung elang berwarna putih itu terbang berputar tepat di atas Mahesa bersandar.
Puspita Dewi yang sedang mengelap tubuh Mahesa memperhatikan burung elang itu. Dia mengenali bahwa burung itu adalah peliharaan Mahesa. Bernama Si Putih.
"Bagaimana bisa Si Putih ada disini?" Gumam Puspita. Dia terus mengamati burung elang putih itu hingga hinggap di atas akar tempat Mahesa bersandar.
"CLIIIKKKK...." SI Putih kembali bersuara. Kali ini suaranya pelan. Seolah burung itu ikut bersedih melihat kondisi Mahesa. Setitik buliran bening muncul di sudut mata Si Putih.
"Aku baik-baik saja." Jawab Mahesa seolah mengerti kesedihan yang dirasakan burung elang peliharaannya.
"CLIIIKKKK... CLIIIKKKK...." Si Putih bersuara sambil menggoyangkan kepalanya berulang kali.
Mahesa menatap Puspita. "Si Putih ingin menunjukkan sesuatu. Ikuti dia."
"Tuan Muda, maaf. Saya tidak mungkin meninggalkan Tuan sendiri disini. Sebaiknya kita pergi bersama." Tanpa menunggu persetujuan dari Mahesa, Puspita segera menggendong tubuh Mahesa. Mahesa tidak punya tenaga untuk menolak atau melawan. Dia pasrah saat Puspita membawanya berlari menyusuri sungai mengikuti arah Si Putih terbang.
Berjarak sekitar tiga ratus meter, Puspita bisa melihat seseorang sedang mendayung rakit di seberang sungai.
"CLIIIKKKK...." Suara nyaring Si Putih membuat orang itu mudah menemukan Puspita. Kemudian dia mengarahkan rakitnya mendekat.
"Tabib Wang ...." Puspita terkejut sekaligus gembira karena bisa bertemu tabib baik hati itu lagi.
"Maaf, dari mana Nona mengetahui marga saya?" Pria sepuh yang dipanggil Tabib Wang mengerutkan dahi.
Puspita menjelaskan bahwa mereka pernah bertemu sekali. Saat itu, Tabib Wang Yin yang menolong temannya.
Pria itu tertawa kecil.
"Banyak orang mengira kami memang sama." Jawabnya kemudian.
Puspita tidak mengerti apa maksud perkataan Tabib Wang. Namun sepertinya Tabib Wang memahami kebingungan Puspita.
"Nama saya Wang Yun tang. Bukan Wang Yin tang, dia itu adik sepupu saya. Heheee ... Saya senang mendengar adik menjadi tabib juga." Tabib Wang Yun tertawa ramah.
Puspita jadi salah tingkah. Dia malu sudah sok kenal.
"Maaf, Tuan Tabib. Saya tidak mengetahui hal itu...."
"Heheheee ... Nona jangan sungkan. Ayo naikkan teman nona keatas rakit."
Puspita Dewi membaringkan Mahesa di atas rakit bambu milik Tabib Wang Yun. Kemudian dia mengambil alih kemudi kala Tabib Wang Yun memeriksa keadaan Mahesa yang pingsan.
"Racun Tengkorak !!!" Tabib Wang Yun tersedak. Ekspresi wajahnya berubah buruk.
"Tabib Wang, apakah Tuan Muda saya masih bisa tertolong?" Puspita bertanya dengan suara bergetar. Dia menjadi sangat khawatir setelah melihat ekspresi wajah Tabib Wang barusan.
"Tuan Muda memiliki ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi. Saya yakin dia akan mampu bertahan." Jelas Tabib Wang sekedar menghibur Puspita. Sementara dirinya sendiri pesimis bisa menjinakkan Racun Tengkorak.
°°
Di markas Aliansi Bunga Suci,
Gandring Calaka (Pimpinan Aliansi) terlihat mondar-mandir tidak menentu. Dia masih menunggu Paron Geni siuman. Tiga hari telah berlalu sejak pertempuran di Sumur Batu. Paron Geni belum sadarkan diri juga.
Sementara Lebur Saketi duduk di atas kursi sambil memegang secangkir arak. Matanya mengikuti kemanapun gerak tubuh Gandring Calaka.
Dursila masuk. Planga-plongo melihat kedua orang temannya. Dursila menangkap hawa-hawa tidak baik. Dia memutuskan untuk tidak bersuara. Langkah nya terayun lamban menuju tempat duduk. Sekali lagi dia melirik Gandring Calaka dan Lebur Saketi. Mereka nampak larut dalam pemikiran masing-masing.
"Uhuk ... Uhuk ... " Dursila batuk dibuat-buat. Kemudian meletakkan cangkir air minum nya.
"Sudah mau mati?" tanya Lebur Saketi dengan suara berat.
Dursila nyengir.
"Bagaimana keadaan Paron Geni?" Dengan setengah berbisik, Dursila malah balik bertanya.
Lebur Saketi menarik nafas berat lalu mengangkat kedua bahunya.
Dursila manyun melihat ekspresi temannya.
"Sebelum Paron Geni sadarkan diri, jangan ada yang melakukan tindakan." Suara Gandring Calaka menggema mengisi ruangan.
"Ketua, bagaimana dengan pasukan khusus yang dikirim ke sumur batu?" tanya Dursila polos.
"Bodoh!!! Tentu saja mereka sudah berangkat. Mereka hanya menyelidiki." Bentak Gandring Calaka. Membuat Dursila terdiam menelan ludah.
Lebur Saketi menatap sinis pada Dursila. Dia sangat menyesalkan kebodohan yang sudah mendarah daging pada diri Dursila.
"Kalo mau mangap, pikir dulu pake otak. Jangan pake dengkul." Lebur Saketi mendengus kesal.
Dursila cuma me"menyon"kan bibirnya. Tanpa beban dia kembali menenggak arak di cangkirnya.
Seorang pelayan masuk. Dia melaporkan kondisi terkini Paron Geni.
"Sebaiknya kita temui Paron Geni esok hari saja kakang. Mungkin kondisi tubuhnya mulai membaik." Lebur Saketi menyarankan.
Yang dia takutkan, jika Gandring Calaka lebih awal menemui Paron Geni akan berakibat tidak baik. Dia sangat memahami watak pimpinannya itu.
"Besok-besok-besok terus. Mau sampai kapan??!! Sudah tiga hari dia tidak bangun-bangun. Mungkin saja arwahnya sudah tersangkut di neraka."
Lebur Saketi dan Dursila tidak menyahut. Suasana hati Gandring Calaka sedang tidak baik. Menanggapi emosinya cuma membuat masalah saja.
Tidak menunggu lama, Lebur Saketi dan Dursila pamit meninggalkan Gandring Calaka sendirian.
"Heh, kita mau kemana?" tanya Dursila.
"Ikuti saja aku. Nanti kau akan tahu sendiri." Jawab Lebur Saketi singkat.
"Aku mau jawabannya sekarang. Kau selalu memberi perintah yang tidak jelas. Kau hanya membuat ku bingung." Celoteh Dursila.
Lebur Saketi menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap mata Dursila.
"Kau temani aku mengumpulkan orang-orang terbaik kita. Kita harus menyelidiki setiap tempat pengobatan dan sejenisnya. Mana tahu kita bisa menemukan pendekar muda yang melukai Paron Geni."
"Kenapa mencarinya ketempat pengobatan?" Tanya Dursila.
"Otakmu tidak berubah." Lebur Saketi menggeleng. "Baiklah !!! Mengapa kita mencari ditempat pengobatan? Jawaban pertama. Kakang Gandring Calaka sudah mengirimkan orangnya untuk mencari di sekitaran sumur batu. Jika pendekar itu tewas, pasti mereka menemukan jasadnya. Minimal berita kematian nya. Kemungkinan kedua, pendekar muda itu tidak tewas. Lalu mencari tabib untuk mengobati luka akibat Racun Tengkorak milik Paron Geni. Nah jika kita cepat bergerak, kita tidak akan didahului kelompok aliran lurus. Mengerti???"
"Wah, kau sungguh cerdas Lebur Saketi. Kalau begitu, aku setuju." Jawab Dursila berbinar.
Lebur Saketi mengembuskan nafas kuat-kuat. Berkat kesabarannya, entoh Dursila berhasil bertahan dalam Aliansi Bunga Suci. Kemudian mereka berdua melanjutkan langkah. Dursila nampak semangat untuk merealisasikan rencana Lebur Saketi.