Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan
Masa SMA udah diambang usai. Angkatan Danu udah selesai UAN dan UAS, sekarang hanya tinggal menunggu hasilnya aja. Danu dan Juli tidak ada dalam daftar siswa yang masuk dalam program PMDN atau Program bebas test lainnya, dari kelas Danu hanya ada Dewi dan Devina, sedang dikelas Juli ada Yuni, Ganda, Imelda, dan Lisa. Tak ada juga nama Juli disana. Fahmi juga ternyata punya nasib yang sama, tak ada namanya dalam daftar itu, yang ada hanya Listi, Martina, Edward, dan Vandra.
Tapi terang, Danu sama sekali tidak kecewa. Danu tak memiliki rasa kecewa sama sekali, kesempatan untuk masuk PTN masih terbuka tentunya, Danu bisa coba melalui jalur UMPTN.
“ Ikut UMPTN Mi ?”.
Fahmi anggukkan kepala. “ Kalau lulus, Ya “.
“ Kok begitu ?”.
“ Ente makin aneh kadang Dan. Lulus aja belum ente udah bicara soal UMPTN, udah yakin lulus ?”.
Danu hanya senyum. “ Kita perlu optimis kan ?”.
“ Iya memang, tapi Optimis itu juga harus ada remnya bung, ngga’ asalan “.
Danu hanya anggukkan kepala aja. Danu ikuti langkah Fahmi menuju kantin sekolah. Mesan minum dan cerita panjang lebar. Danu memandangi sekolahnya dari sudut yang satu ke sudut yang lain. Sekolah ini dalam waktu tak sampai sebulan akan ia tinggalkan, tiga tahun disini ternyata banyak menyimpan kenangan yang panjang, ada yang manis, ada yang kurang baik.
“ Tiga tahun ternyata ngga’ lama ya Mi “.
Fahmi anggukkan kepala. “ Waktu bagai sebuah mobil balap, melaju dengan begitu kencang, hingga kita tidak tahu kita sudah banyak kehilangan waktu “.
“ Lama lama kau jadi penceramah bisa juga Mi “.
Fahmi tertawa kecil. “ Asal aja “.
Dan hal yang paling membuat Danu merasa begitu haru adalah Danu akan banyak kehilangan teman yang baik, guru yang baik, dan lingkungan yang baik. Disekolah ini terlalu banyak orang baik, hingga sulit menentukan siapa yang paling baik diantara yang baik baik itu. Tiga tahun Danu disini, Danu belum pernah mendapat tekanan yang memusingkan kepala, semua berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan yang ada dalam hati.
“ Tapi kamu kuliah kan Mi ?”.
“ Rencananya seperti itu. Orang tua juga bilang begitu “.
“ Walau nanti gagal UMPTN misalnya “.
“ Banyak PTS yang berkualitas di Sumatera Utara, apa yang kau ragukan “.
Danu anggukkan kepala. “ Wita ?”.
Fahmi geleng kepala. “ Aku belum tanya, Juli gimana ?”.
“ Mungkin Kuliah Mi, tapi aku juga memang belum tanya. Tapi aku yakin Juli pasti kuliah, aku yakin itu “.
“ Rasanya juga begitu. Pulang yok “.
Danu anggukkan kepala dan langsung berdiri, kali ini Fahmi yang bayar, Danu hanya menunggu di pintu, dan langsung melangkah saat Fahmi melangkah keluar, Danu masih menyempatkan matanya memandang sekeliling sekolahnya.
Danu amat bahagia, demikian juga dengan Juli. Hari ini bukan hanya sekedar mereka tahu kalau mereka sudah lulus SMA, tapi orang tua mereka juga sudah sepakat mengikat Danu dan Juli dalam sebuah ikatan pertunangan.
“ Kelanjutan kalian bagaimana ?”.
Ayah Juli memandang Danu dan Juli bergantian. Tak ada acara yang besar pada proses pertunangan itu. Yang ada hanya keluarga Danu dan Juli aja, tak ada pesta-pestaan, tak ada seremonial yang dilakukan. Hanya sebuah pertemuan keluarga aja.
“ Juli masih mau kuliah Yah.. “. Mata Juli kearah Danu.
Danu anggukkan kepala. “ Danu juga masih mau kuliah “.
“ Itu kalian. Sebagai orang tua, kami hanya bisa kasih pesan kalian jaga baik baik harga diri kalian. Pertunangan bukan sebuah ikatan legal untuk hal-hal yang tidak dilegalkan “.
Danu kembali anggukkan kepala. “ Danu paham Pak “.
“ Terima kasih kalau begitu “.
“ Danu akan pegang kata kata itu “.
Ayah Juli kembali anggukkan kepala. “ Bapak percaya padamu Nak “.
Danu dan Juli terus berbalas senyum. Rasanya tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari ini. Danu merasa sungguh sangat bahagia dengan ini semua. Danu paham apa yang dimaksud ayah Juli. Sebuah ujian berat memang, tapi Danu yakin ia dan Juli bakal mampu melaluinya dengan baik.
Setelah itu hanya ada makan siang bersama, dibilang makan siang juga agak salah jadinya, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kebahagiaan itu nyata sekali bukan hanya dirasakan oleh Danu dan Juli, kedua orang tua mereka juga amat bahagia. Terutama ayah Danu dan ayah Juli. Dua orang tua ini amat bangga dan amat bahagia, hari ini setidaknya mereka sudah 75% melunasi janji yang pernah mereka ikrarkan puluhan tahun yang lalu. Janji yang tulus itu dapat jalan yang mulus untuk pelaksanaannya, sebab pada kenyataannya salah juga kalau bahasanya dijodohkan, sebab kedua anak mereka adalah sepasang kekasih yang saling sayang dan mencintai satu sama lainnya.
“ Aku sangat bahagia Jul, lega rasanya “.
Ayah Danu merangkul bahu ayah Juli. “ Kau pikir aku tidak ?”.
“ Harus dong“.
“ Ya.. memang harus begitu “.
Kedua orang tua itu tertawa bersama, senyum lebar terus tampak hiasi bibir mereka tanpa ada celahnya. Mulut mereka memang tertawa, tampak amat begitu gembira. Tapi jelas terlihat sudut mata keduanya ada air bening yang mengalir tak tertahan. Hal itu pula yang kemudian keduanya terdiam bersama, sedikit tertunduk, persis seperti orang yang mengheningkan cipta.
Danu menangkap semua itu dengan jelas. Danu tanpa sadar juga ikut merasakan ada yang bening disudut matanya. Danu cepat cepat menghapus sebelum Juli melihatnya, dalam hati Danu pasang sumpah, Danu akan membahagiakan Juli sekuat tenaga yang ia punya. Danu akan memberikan 2/3 hidupnya untuk Juli. Juli yang juga amat ia cintai, Juli yang amat Danu sayangi.
Kakak Danu ternyata ikut saksikan air mata Pamannya dan ayah Juli. Kakak Danu merasa sangat begitu terharu, Kakak Danu menatap Danu dan Juli dari tempat yang agak jauh. Kakak Danu yakin adiknya akan mampu mempertahankan rasa bahagia orang tua mereka, Kakak Danu yang memang paling sayang pada Danu adalah orang yang paling paham kepribadian Danu.
Kakak Danu hampiri Danu dan Juli dan memeluk keduanya dengan erat, entah karena dasar perempuan, Kakak Danu tak kuasa menahan haru, jelas sekali terdengar ia terisak saat memeluk erat keduanya. Ini tentu membuat yang ada diruangan itu ikut larut.
“ Kakak kenapa sih ?”. Danu agak bingung.
“ Kakak ngga’ apa-apa kok “.
“ Kok nangis ?”.
Kakak Danu melepas pelukannya. Kakak Danu fokus ke Juli, kedua tangan ibu muda itu berada dipipi Juli. Kakak Danu cium kening Juli dengan lembut, ada senyum yang banyak dibibirnya, tapi jelas tampak air matanya. Juli juga wanita, Juli langsung memeluk Kakak Danu dengan erat, Juli membenamkan kepalanya kedada Kakak Danu, kembali ada air mata.
Juli jadi ikut terharu, Kakak Danu selama ini sudah bak keluarga dekat bagi Juli, pada Ibu muda itu Juli terus keluarkan keluh kesahnya, tidak hanya soal Danu, tapi juga semua masalah yang dia temukan diluar yang menurutnya kurang tepat. Dan Kakak Danu selalu sabar menjadi pendengar terbaik, bahkan kadang kadang Juli merengut dan seperti marah-marah. Kakak Danu selalu sabar dan memberikan nasehat dan selalu mampu membuat hati Juli kembali dingin.
“ Udah ach.. kok malah sedih sedihan. Ini kan setuasi yang membahagiakan, udah ach. Yang penting, kamu Danu, harus jaga Juli dengan baik. Dan kamu Juli, harus mampu menjadi orang yang baik, jangan bandal. Okey.. “.
Hampir semuanya kembali punya tawa mendengar kalimat yang dikeluarkan Ibunya Juli. Ibu yang cantik itu nampak memang menjadi orang yang paling tenang diantara semuanya. Semua tahu kalau dia juga amat haru, tapi dia mampu menahan semua dengan ketenangan, ibu itu juga amat bahagia melihat putri sulungnya dapat menemukan cinta, dan ibu ini juga amat sayang dan senang pada Danu, Danu yang sopan, Danu yang penurut dan rajin.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya