Hidup mewah tidak menjanjikan seseorang akan bahagia, sama seperti yang di alami Ardin. Anak tunggal dari keluarga kaya, namun kurang mendapatkan kasih sayang.
Ketika ulang tahunya yang ke 23 tahun, orang tuanya malah mengatakan bahwa mereka sudah bercerai.
Setelah 6 bulan perceraian Papanya menikah lagi, sedangkan sang Mama tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.
Banyak kejutan yang terjadi di kehidupan Ardin, hingga hari di mana dirinya dilamar oleh sahabatnya sendiri, rasa haru serta keterkejutan bercampur kala itu, moment yang sunggu tidak bisa di lupakan selama hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harmilmil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Permisi dokter Ardinnya ada" tanya Raina kepada salah satu resepsionis.
"Ada mba, ruangan lurus dari sini"
Raina kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Ardin sesuai arahan resepsionis tadi.
'Lah orangnya masih ada jadwal toh, haduh nunggu deh' keluh Raina dalam hati saat melihat ruangan sang sahabat kosong.
Sudah satu jam lamanya namun tidak ada tanda tanda kemunculan Ardin, Raina hanya mendegus kesal.
'Sesibuk itukah, gue udah lama nunggu, udah berjamur juga, tu bocah kagak nongol nongol' cicit Raina dalam hati.
"Eh kamu di sini Ra, sejak kapan"
"Baru kok baru aja" Raina tersenyum misterius.
"Ih jangan gitu dong mukanya serem tau" cibir Ardin
"Lo kemana aja sih, ga liat apa jamur sudah mulai tumbuh di badan gue kelamaan nunggu lo" cicit Raina muali kesal
"Ya maaf tadi masih ada kerjaan, terus ada masalah apa kamu kemari? "
"Emangnya gue tipe orang yang suka datang kalau ada butuhnya doang"
"Bukan, maksudku kenapa tidak memberi kabar sebelum kesini, kan aku bisa memberi tau sedang sibuk atau tidak, jadi tidak membuat mu mengganggu lama seperti ini " jelas Ardin
"Gue gak urus masalah itu, sekarang kerjaan lo udah kelar belum, gue udah udah pengep banget" cibir Raina seraya mengibas ngibaskan tangannya.
"Bentar beres beres dulu, gak akan lama kok"
Setelah 15 menit, akhirnya mereka keluar dari rumah sakit, menuju parkir di mana mobil mereka berdua berada. Karena mereka membawa mobil masing masing jadinya mereka berjalan sambil beriringan menuju tempat sesuai rencana.
Perjalanan cukup lama karena jalanan mulai di padati dengan kendaraan di sore hari. Mereka terus memacukan mobil masing masing membelah keramaian.
Kini mereke telah sampai di depan Cafe yang cukup terkenal di Jakarta. Saat memasuki Cafe banyak sekali mata yang menuju ke arah mereka berdua. Bagaimana tidak Raina yang masih menngenakan baju kantornya dengan kemeja putih bergaris hitam di padukan dengan celana palazzo hitam dan blazer tersangkut di lengan kirinya tampak modis. Sedangkan Ardin menggunakan dress berawarna biru langit dengan cardigan kusus dokter berwarna putih, menambah kesan anggunnya.
Saat setelah mereka duduk pun tetap menjadi sorortan bagi para pengunjung cafe saat ini. Tapi mereka tidak ambil pusing, mereka masih menikmati pemandangan interior cafe ini.
"Kevin gak di ajak ngumpul nih" tanya Ardin membuka pembicaraan.
"Bentar gue telfon"
Telfon tersambung namun belum ada jawaban ketika hendak di akhiri panggilan terangkat, terdengar suara orang di sebrang sana.
"Halo Ra, ada apa".
"Lo di mana Vin kesini gih, gue sama Ardin lagi di cafe xxx".
"Gue lagi di rumah sih".
"Tapi gue lagi sama dua cecunguk ini, nanti kalau ngikut gimana? ".
" Yaudah sih bawa aja, biar makin rame ni cafe".
"Limabelas menit tungguin ya".
Tut tut tut
Raina mendegus kesal, bukannya permisi Kevin langsung saja mematikan telfon sepihak.
Benar saja setelah 15 menit dari panggilan telfon tadi cafe kembali terdengar ricuh lagi, ternyata 3 lelaki tampan memasuki cafe dengan gaya yang sok cool. Ketiganya menggunakan kaca mata hitam, Kevin menggunakan celana jeans berwarna hitam dengan atasan kemeja bergaris hitam, hijau, kuning tua, kontras dengan warna kulit putih nya. Sedangkan Ardan sendiri menggunakan baju kaos hitam oblong di padu dengan celana jeans cream. Dan Putra menggunakan baju kemeja putih lengannya di gulung sampai kesiku dengan celana formal. Ketiganya kelihatan sangat modis.
Tampak dari arah ujung Raina melambaikan tangan memberi tanda bahwa mereka berada di ujung cafe. Ketiga lelaki itu mempercepat langkahnya menuju arah lambaian.
"Gimana kita tepat waktu kan" ucap Kevin setelah duduk.
Bukannya di jawab kedua gadis itu hanya menanggapi dengan mengangguk anggukan kepala mereke.
"Eh udah pada pesen belum" tanya Ardin seraya melihat kearah tiga lelaki itu.
Mereka kompak menggelengkan kepala. Dengan cepat Ardin memanggil salah satu pelayan cafe tersebut.
"Kalian mau pesan apa".
Terlihar pelayanan itu salah tingkah saat melihat ketiga cowok tampan yang ada di hadapannya sekarang, di tambah lagi dengan kedua wanita cantik yang sedang menanyakan ketiga lelaki itu.
"Samain sama punya kamu aja Ar" ucap Kevin.
"American capucino 5 mba" ucap Ardin kepada pelayan itu. Dengan gelagapan dia cepat cepat mencatat pesanan Ardin, karena pasalnya tadi ia masih melamun memandangin ketiga lelaki tampan itu.
Bersambung.........
🙏🙏
Saling dukung yuk
Mampir yuk ke novel ku
"TROUBLE QUEEN"
Dia bukan mafia, bukan juga pembunuh berdarah dingin. Namun membunuh adalah hal yang selalu ia lakukan pada orang-orang yang menurutnya pantas.
Dia bukan mafia yang memiliki kekuasaan di dunia bawah. Tapi dia memiliki kekuasaan atas dunia ini. Hanya saja ia tidak tahu takdirnya.
Banyak misteri dan teka-teki yang entah kapan akan terungkap. Dia adalah sebuah misteri. Hidupnya adalah teka-teki. Jalan pikirannya tidak bisa ditebak.
Penasaran?
Cus baca☺
ditunggu feedbacknya di karyaku "emak, aku pengen kawin". terimakasih