Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih belum cukup
"Baru aja seminggu kerja, Ra." jawab Mama Olive sebelum Inez sempat menjawab pertanyaan Rara.
"Oh ya? Kerja dimana? Jadi apa?" kali ini Rara memang benar-benar penasaran dimanakah Inez bekerja. Apakah lebih bagus tempat kerja Inez dibandingkan dengan Rara? Rara tak mau kalah saing dari Inez dalam hal apapun.
"Cuma anak perusahaan aja si, Ra. Kamu sendiri gimana? Pasti perusahaan besar ya? Aku dengar kamu dapet rekomendasi dari kampus kamu ya karena kamu pintar?" tanya Inez dengan penuh antusias.
"Ah bisa aja. Kamu tahu dari siapa aku dapet rekomendasi dari kampus?" selidik Rara. Seingatnya Ia tidak pernah mengatakan kepada Inez.
"Dari Mama kali, Ra. Mama kan masih suka telepon-teleponan sama Inez sesekali. Mungkin Mama yang kasih tau Inez." kata Tante Vio menyela percakapan antara Inez dan Rara.
"Iya kayaknya dari Tante Vio." bohong Inez. Inez gak mau Rara tahu kalau Rio yang memberitahunya. Inez takut Rara marah kalau tahu Ia berteman dengan mantan pacarnya.
"Ih Mama mah, kebanyakan pamer." omel Rara.
"Bukan pamer kali, Ra. Mama kamu itu bangga sama kamu. Makanya cerita-cerita sama Inez." kata Mama Olive dengan bijaknya.
"Kamu keren banget sih, Ra. Kamu pinter. Dan hebatnya kampus kamu malah rekomendasiin kamu. Sedangkan aku, nyari kerja aja banyak ditolaknya karena masih fresh graduate, udah gitu nilai aku juga gak sebagus nilai kamu. Ah aku jadi iri...." kata Inez.
"Iri? Bukannya emang dari dulu lo mau rebut semua yang gue punya karena lo iri? Sekarang lo nyari simpati semua orang dengan alasan iri? Pinter banget taktik lo." kata hati Rara.
" Jangan gitu ah Aku kan jadi malu. Aku nggak sehebat yang kamu bilang kok." kata Rara merendah.
"Kamu ya Ra, udah pintar, baik, enggak sombong lagi. Memang enggak salah ya Mama kamu mendidik kamu. Kamu memang anak yang baik, anak yang benar-benar membanggakan orang tua kamu." Puji Mama Olive.
"Iiihh... Tante mah kebanyakan muji aku. Nanti aku jadi besar kepala loh Tante. Tante mau aku kayak gitu?" goda Rara.
"Udah ah jangan kebanyakan saling memuji. Oh iya hampir lupa, aku beliin sesuatu nih buat kalian. Kemarin aku ada tugas ke luar negeri, terus aku ingat kalau Inez tuh suka banget pernak-pernik yang lucu-lucu. Mungkin nggak mahal, tapi aku yakin Inez pasti suka."kata Tante Vio.
Tante Vio lalu mengeluarkan paperbag yang ia bawa. Ia membelikan Inez sebuah dompet koin lucu dan jaket berwarna pink. Jaket tersebut dibelinya sama persis dengan milik Rara. Cuma bedanya kalau jaket milik Rara ada garis satu sedangkan milik Inez tidak ada garisnya. Untuk warna, mereka dibelikan jaket dengan warna yang sama. Tante Vio sudah menganggap Inez sebagai anaknya sendiri, karena itu Ia biasa membeli untuk Rara dan Inez yang sama dan tidak membeda-bedakannya.
"Wah... bagus banget... asyik... Jaket baru lagi nih... Tante Vio memang paling baik deh sama aku." puji Inez sambil tersenyum bahagia.
" Iya dong, Tante kan sengaja beli buat kamu sama Rara yang sama. Biar kalian kaya anak kembar, kemana-mana selalu samaan." Tante Vio amat menyukai reaksi Inez jika dibelikan sesuatu. Ia amat sangat bahagia dan mensyukuri apapun yang diberikan. Tidak seperti Rara, wajahnya suka cemberut saat tahu kalau jaket yang diberikan atau apapun yang diberikan padanya sama dengan Inez.
Tante Vio memaklumi, mungkin Rara sudah merasa dirinya sudah besar jadi agak malu kalau apa-apa selalu sama dengan milik Inez. Tapi, Tante Vio tidak peduli karena menurutnya lucu memberikan sesuatu yang samaan.
"Makasih ya Vio, lo tuh selalu ingat sama anak gue di manapun lo pergi. Lo nggak pernah lupa buat beliin anak gue meskipun gue suka lupa sih kadang-kadang beliin anak lo kalo gue keluar kota ha....ha....ha...." kata Papa Willy mencairkan suasana. Papa memang hobby bercanda.
"Ih... kok udah bisa ngeledek Dia? Berarti udah sehat nih Oliv. Suruh aja Dia jalan-jalan ke mall. Pasti dia lagi manja nih sama lo mintanya diurusin melulu sama lo. Tuh buktinya Dia bisa ngeledekin gue lagi." ledek Tante Vio lagi.
"Iya ya Vio, jangan-jangan gue cuma di kerjain doang nih sama laki gue. Padahal Dia tuh udah bisa lari Vio tapi dia manja sama gue. Emang ya cowok itu makin tua makin manja aja." sahut Mama Olive tak mau ketinggalan momen untuk meledek suaminya tersebut.
Mama Olive, Papa Willy dan Tante Vio masih saja saling meledek layaknya anak muda. Persahabatan mereka begitu erat, Tante Vio begitu menghargai kebaikan hati pasangan suami istri yang sudah hidup menjadi tetangganya selama lebih dari 10 tahun.
Mereka adalah orang yang telah membantunya disaat ia terpuruk dulu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya jika tidak ada Willy dan Olive.
Setelah suaminya pergi, kehidupannya mulai goyah. Ibaratnya ada badai besar menghantam rumah tangga miliknya. Kehilangan suami karena berselingkuh dengan wanita lain, korban kekerasan dalam rumah tangga dan juga kehilangan kepercayaan dari putri semata wayangnya.
Belum lagi masalah ekonomi. Ia harus berjuang menopang keluarganya dengan usahanya sendiri. Ia bekerja banting tulang siang dan malam hanya untuk membiayai Rara semata. Terkadang, Ia amat lelah hanya untuk makan, kebaikan Olive lah yang membuat Rara tetap bisa merasakan masakan rumahan yang tak pernah bisa Ia sediakan. Juga, sikap kebapakan yang dimiliki oleh Willy membuat Rara masih bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
Itu yang dipikirkan oleh Vio, namun tidak demikian dengan yang dipikirkan oleh Rara. Rara tidak suka dirinya diurus oleh orang lain. Rara ingin hidup bersama Papanya. Selama ini, papanya sudah Rara anggap sebagai superhero dalam hidupnya. Kehilangan sosok seorang ayah telah membuat Rara menutup diri untuk kasih sayang orang lain yang diberikan padanya.
Walaupun Olive dan Willy memperhatikannya tetap saja bagi Rara semua itu kurang. Mama yang selalu Ia dambakan dan papa yang selalu ada di sisinya semua seakan hilang. Papa pergi dan mama menjadi seorang yang gila kerja.
Terkadang mama bekerja sampai larut malam dan bahkan sampai pagi malah. Lalu siang hari Ia tertidur lelap karena kelelahan. Rara sendiri jarang berhubungan dengan mamanya. Setiap Rara ingin berbicara Mama selalu berkata kalau Mama lelah, kalau mama capek, kalau mama lagi stress, kalau enggak mama lagi banyak pikiran.
Mama enggak pernah mendengarkan apapun keluhan Rara. Lambat laun, Rara tumbuh menjadi anak yang bahkan tidak pernah menceritakan apapun kegundahan di hatinya. Ia menjadi seorang anak yang tertutup. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belajar dan bersenang-senang, tentunya bersenang-senang di diskotik. Berbeda dengan Rara, Tante Vio tidak sama sekali menikmati hidupnya. Ia cantik. Sangat cantik malah jika dibandingkan dengan wanita-wanita seusianya. Banyak laki-laki yang menyukainya dan berharap untuk mempersuntingnya, namun Tante Vio selalu menolak dengan alasan Ia tak mau memberikan seorang papa tiri untuk Rara.
"Tante sama Om.... aku izin mau ke kamar mandi dulu ya."kata Rara.
"Oh, ayo Ra aku anterin." jawab Inez. Inez lalu bangun dari duduknya dan mengantarkan Rara ke kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan kamarnya dan kamar Mama Olive.
"Kamar mandinya di sini ya?" tanya Rara.
"Iya." jawab Inez.
"Enggak ada yang di kamar kamu?" tanya Rara, sebenarnya sih Rara mau meledek bukan mau bertanya. Itu cuma basa-basi aja.
"Enggak ada, Ra. Sekarang kan rumah aku nggak kaya dulu lagi, rumahnya kecil. Kamar mandinya aku gabung sama mama papa." jawab Inez dengan sedih.
"Ini yang aku suka, cuma ngelihat kamu sedih sudah buat hati aku bahagia" senyum Rara dalam hati.
Rara tersenyum-senyum bahagia, amat bahagia dalam hatinya.
"Aku masuk dulu ya." Rara pun masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya. Inez kembali bergabung dengan orang tua untuk mengobrol.
Rara melihat sekeliling kamar mandi yang begitu kecil. Tidak ada bathup dan luasnya juga jauh bila dibandingkan dengan kamar mandi milik Inez dulu. Ia kembali tersenyum. Ada rasa puas dalam hatinya.
"Ini baru sedikit dalam hidup kamu yang aku mencuri, Nez. Masih banyak lagi yang harus aku hancurin dalam hidup kamu." gumam Rara. Senyumnya makin lebar, ternyata kunjungan hari ini ke rumah Inez membuat bahagia hatinya. Sudah lama rasanya Ia tidak membalas dendam. Rara memikirkan cara apa lagi yang akan Ia lakukan untuk membalas Inez.
*******
Andrew menatap online shop yang sempat terlibat skandal karena menjual produk miliknya padahal belum di launching. Ia melihat dengan jelas, disana ada hadiah ulang tahun yang Ia rancang sendiri sebagai hadiah ulang tahun saat Inez berulang tahun yang ke-20.
Tas tersebut masih ada ada di halaman barang yang dijual. Ini yang membuatnya kecewa. Bukan hanya kecewa, tapi amat sangat kecewa dengan apa yang Inez lakukan. Mereka memang sudah putus, tapi apa salahnya jika Inez mau menyimpan barang yang benar-benar dia berikan kan? Ini bukan tas biasa, Andrew sengaja mendesain sendiri.
Ini adalah tas pertama hasil design Andreq. Saat membuatnya Andrew meminta izin kepada papanya agar diberikan hak agar dapat memanfaatkan fasilitas kantor. Papanya menyetujui, Ia lalu ke bagian produksi dan menyerahkan rancangan buatannya.
Tas tersebut tidak ada yang jual karena memang rancangannya dibuat khusus untuk Inez. Kalau diperhatikan dengan serius ada tulisan berbentuk nama Inez dan Andrew tapi dalam bentuk graffiti dan itu terletak di bagian dalam.
Inez tidak akan menyadari, tapi tas ini memiliki keunikan yang berbeda dari yang lain. Saat papanya mengetahui kalau Endru memiliki bakat dalam pembuatan dan penilaian tas, Andrew pun diberikan kekuasaan oleh papanya untuk memimpin perusahaan milik papanya tersebut. Bahkan papanya ingin membeli model dan akan membuat tas seperti yang Andrew buat. Namun Andrew menolaknya. Ia tidak mau ada tas lain yang menyerupai tas hasil rancangannya untuk Inez.
Ting... tong....
Suara bel di pintu apartemen Andrew berbunyi. Andrew membuka pintunya, ternyata ada kiriman paket untuknya. Andrew menandatangani penerimaan paket lalu Andrew membawa paket tersebut ke dalam rumah. Dibukanya kardus yang menutupi paket tersebut. Isinya adalah tas yang ia beli dari online shop tersebut.
Ini adalah tas yang Inez jual. Ia membuka resleting tas tersebut dan mendapati ukiran grafiti yang ia buat sendiri di dalamnya. Air matapun mulai membasahi matanya.
Rasanya sakit pun tidak akan cukup untuk mewakili perasaannya. Ia kecewa, amat sangat kecewa. Kenapa Inez sampai tega menjual tas yang telah Ia berikan padanya. Apakah Inez begitu ingin melupakannya sampai tega menjual hadiah yang Ia berikan pada ulang tahunnya.
Padahal Andrew membuat tas tersebut sepenuh hati.Apakah Inez memang selama ini mendekatinya hanya untuk dibelikan hadiah hadiah yang mewah saja? Selama ini Ia sudah menutupi jati dirinya sebagai anak salah seorang pengusaha terkenal tapi apakah akhirnya Inez tahu dan Inez akhirnya mau berpacaran dengannya?
Andrew yang awalnya mulai berbaik sangka dan berpikiran untuk memaafkan Inez perlahan rasa benci mulai melingkupi hatinya lagi. Kekecewaan yang mendalam menjadikan rasa benci tersebut makin dan semakin besar. Ia menaruh kembali tas tersebut ke dalam kotaknya dan menyimpan di dalam kamarnya.
Andrewe lalu duduk di pinggir tempat tidurnya dan mengacak-acak rambutnya karena pikirannya amat mumet. Air mata yang menetes Ia hapus dengan kesal.
Ia teringat bagaimana hari terakhir dirinya dan Inez bertemu di kantor. Dengan wajah tanpa dosa Inez bahkan ingin Andrew mendekatinya lagi. Tidak, tidak akan bisa lagi Dia seperti dirinya yang dulu. Tidak setelah Inez bahkan tega membuang sesuatu yang dibuat dengan sepenuh hati.
Endrew melihat dengan jelas, Inez sesekali melihat kearah, tetapi Ia nggak mau menatap mata Inez balik. Baginya, Inez terlalu banyak kesalahan, terlalu banyak kebohongan. Ia merasa belum benar-benar mengenal Inez meskipun mereka sudah 2 tahun berpacaran.
Andrew sangat kecewa. Masalah di kantor sudah membuatnya pusing karena dikhianati anak buahnya, lalu kenyataan bahwa Inez melakukan hal tersebut terhadapnya membuat kemarahan dalam dirinya semakin besar.
Tak Ia hiraukan kepergian Inez sampai akhirnya Inez benar-benar pergi meninggalkan kantornya. Mungkin mereka tidak akan bertemu lagi. Mungkin memang mereka belum berjodoh.
Tapi siapa yang tahu?
********
Hari-hari berlalu dalam hidup Inez. Ia sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya sebagai Auditor. Ia bahkan sudah menangani beberapa perusahaan.
Inez mungkin tidak terlalu pintar seperti Rara. Kelebihan Inez adalah Ia bekerja dengan teliti dan rapi. Hasil pekerjaannya pun memuaskan.
Bukan Inez saja yang cemerlang dalam pekerjaannya. Rio juga. Rio pun mendapat kepercayaan Papinya untuk bergabung dengan perusahaan induk B-Brothers yakni B-Company.
Perusahaan besar yang memiliki banyak anak perusahaan yang bekerja di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, jasa dan industri. Rio diangkat menjadi salah satu manager.
Rio menyanggupi permintaan Papinya dengan syarat kalau Ia akan membawa satu orang dari team auditnya untuk ikut serta sebagai asisten pribadinya. Siapa lagi kalau bukan Inez. Syarat yang Rio ajukan pun disetujui. Mulai minggu depan Ia dan Inez akan bekerja di B-Company.
terima kasih ya kak 😍😍😍😍