Calina Sanders menikahi seorang putra mahkota karena ingin mencari keadilan atas kematian ibunya.
Sedangkan Kama El Barrak menikahi Calina karena ingin mencari seorang pendonor yang sesuai untuk penyakit langkanya.
Siapa yang menyangka, Calina malah terjebak didalam istana megah itu seperti seorang tahanan. Sedangkan Kama perlahan mulai mencintai wanita yang dinikahinya.
Bagaimana mereka bersama setelah kehadiran orang ketiga diantara keduanya? Sedangkan sang Ratu begitu membenci Calina yang hanya seorang wanita dari kasta terendah.
Yuk Simak bersama Kisah Cinta menarik antara Kama dan Calina.
Jangan lupa dukung author berupa like, koment dan vote ya gaes. Jiayou 💪🏻🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calina Istriku 2
Siang itu Kama dan Harley berkendara selama tiga jam ke arah pesisir pantai Artilyc untuk meninjau pembangunan Hotel Prince yang sedang dibangun. Sesuai dengan target Kama, acara peresmian hotel akan diadakan bersamaan dengan acara puncak Spring Festival sebulan yang akan datang. Jadi berbagai peralatan, alat berat dikerahkan untuk memperlancar pembangunan tahap akhir gedung hotel tersebut.
Segala keperluan telah disiap kan. Furnitur dan pekerja telah disiapkan. Hotel yang telah rampung 98% itu terlihat megah dan mewah menghadap pantai berpasir putih.
Kama berdiri menatap lautan luas yang membenntang dihadapannya.
Calina, melihat keindahan ini aku jadi teringat akan dirimu. Aku...
Kama menatap ponsel ditangannya yang hendak melakukan panggilan.
Ah, Calina tidak memegang ponselnya. Tiba tiba saja aku merindukan wanita itu. Batin Kama.
Menjelang sore Kama dan Harley kembali ke istana dan langsung menemui ibundanya.
"Bu," sapa Kama.
"Kamu sudah kembali?"
"Aku ke sini ingin mengambil ponsel Calina. Dia sudah terlalu lama tak menghubungi kerabat dan keluarga nya," ujar Kama.
"Apa dia yang meminta kamu mengambil ponselnya?" tanya Sophia.
Kama mengangguk. "Lagian kita tidak berhak melarangnya memegang Ponsel disini. Dia bukan seorang tawanan bu," ujar Kama.
"Ibu melakukan itu agar kekacauan istana tidak akan bocor keluar," jelas Sophia datar. Wajahnya sedikit tidak senang.
"Tapi bu, buat apa Calina membocorkan kekacauan disini? Tidak ada gunanya menjelek jelekkan kita. Toh dia sekarang juga adalah bagian dari anggota keluarga kita," bantah Kama.
"Tidak, ibu tidak menganggapnya anggota keluarga ibu."
"Bu, lagian masalah itu sudah berlalu. Sekarang ponselnya sudah bisa dong dikembalikan," pinta Kama.
"Justru itu, karena sudah lama berlalu ibu bahkan lupa dimana handphonnya sekarang," ucap Sophia cuek.
"Bu, mana mungkin ibu lupa? Semua ponsel pelayan yang kau sita. Pasti ada bersama ponsel Calina," Tukas Kama.
"Ibu tak ingat lagi, ibu telah membuang semua ponsel mereka dan memberikan pengembalian berupa uang," jelas Sophia.
"Baiklah, jika ibu tidak ingat lagi. Kama akan membelikan ponsel baru untuk Calina," ucap Kama.
"Kamu? buat apa kamu repot repot membelikannya ponsel baru?"
"Dia memintaku mengembalikan ponselnya, apa Kama harus cuek dan pura pura lupa seperti ibu sekarang ini? Sudah lah bu, sebentar lagi akan banyak tamu yang datang ke negara ini. Jangan menambah masalah baru. Bagaimana jika keluarganya mencarinya ke sini?" tanya Kama.
"Dia tak memiliki keluarga,"
"Teman temannya? Mereka sekarang pasti sedang bingung menghubungi Calina ke mana," Kama beranjak dari kursi didepan ibunya. "Pokoknya Kama akan memgganti ponselnya yang hilang," ucap Kama kemudian meninggalkan ibunya yang hanya diam atas keputusannya.
Anak itu, otaknya mulai diracuni wanita itu. Batin Sophia sambil menatap punggung anaknya menghilang dibalik pintu.
Setelah berdebat panjang lebar dengan ibunya Kama meluncur ke sebuah toko elektronik yang paling terkenal. Kama membeli sebuah ponsel terbaru dan termutakhir untuk Calina.
Seperti biasa, Harley selalu setia menemani kemanapun Kama berada.
"Harley, cari nomor telpon ketiga orang teman nona Calina," pinta Kama dalam perjalanan pulang kembali ke istana.
"Tuan, saya memiliki nomor ponsel temen nona Calina yang bernama lupita,"
"Oke, simpan kembali nomor mereka ke dalam ponsel ini," ucap Kama sambil menyerahkan ponsel itu ke Harley. "Dan, kemas yang cantik. Anggap saja itu sebagai kado dan permintaan maaf dariku," ucap Kama.
"Baik tuan."
Setiba diistana Kama langsung mencari Calina diruangannya.
Saat itu Calina tengah duduk sila diatas sebuah sofa. Tisu tisu berserakan diatas lantai dan sofa. Sedangkan Rosa sedang berlutut dihadapan Calina yang saat itu tengah menangis tersedu.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Kama panik. Seketika itu Kama langsung menghampiri Calina dan duduk disamping Calina.
Rosa menundukkan kepala dan mundur beberapa langkah kebelakang. Sementara Calina masih terisak dengan selembar tisu ditangannya menatap ke arah tv.
"Aku nggak apa yang mulia." Calina melap sisa sisa air mata yang membasahi pipinya. "Rosa dipause dulu," pinta Calina.
"Apa yang terjadi?" tanya Kama sambil menatap wajah Calina yang jadi terlihat canggung akibat.
"Yang mulia saya baik baik saja, saya hanya sedang menonton drama sedih," ucap Calina.
Kama sedikit mengendorkan urat urat tegang diwajahnya. "Ya ampun, kamu menonton dan menangis hingga mata kamu bengkak begitu?"
"Maaf yang mulia," ucap Calina.
Rosa yang sedikit menahan tawa berlalu meninggalkan kedua majikannya disitu.
"Sesedih apa film itu hingga kamu menangis seperti ini?" Kama meraih selembar tisu kemudian membantu membersihkan mata Calina dari sisa sisa air mata.
"Apa anda tau? Semua drama dari negri ginseng itu bisa membuat anda menangis kemudian tertawa terbahak bahak."
"Buat apa menonton yang sedih? Cerita yang lebih bahagiakan masih banyak."
"Yang mulia ingin menonton bersama?" tanya Calina sembari melirik remot tv diatas meja.
"Nggak, nggak. Aku nggak ingin menangis kemudian tertawa. Aku belum ingin menjadi gila," ucap Kama menolak.
"Jadi maksud yang mulia aku ini orang gila?" ucap Calina protes.
"Bukan. Kamu itu kan seorang wanita, ya wajar jika gampang mengeluarkan air mata,"
"Yang mulia juga suka menonton?" tanya Calina.
"Calina sudah beberapa kali aku mengatakan. Jangan panggil aku seperti itu."
"Maaf, aku lupa lagi. Karena memanggil nama saja terasa tidak sopan buatku," ujar Calina.
"Kamu panggil nama jauh lebih baik dari memanggilku yang mulia," ujar Kama.
"Baiklah Kama suamiku."
"Ya panggil seperti itu lebih baik,"
"Yang mulia ingin menonton sesuatu?" tanya Calina.
"Saya biasanya menonton Chanel berita, itu pasti hal yang sangat bosan buatmu,"
"Disini tidak ada chanel untuk berita, bahkan sebosan bosannya saya disini. Saya juga ingin tau info soal dunia luar," ucap Calina.
"Jadi disini chanel tv isinya apa aja?" tanya Kama sambil mengambil remote dihadapannya.
"Entahlah, drama. Film isinya film semua." ucap Calina.
Apa ibu juga memutus chanel internet disini? Kama bertanya dalam hatinya.
"Ya sudah, sekarang kita nonton yang ini. Besok saya akan minta mekanik memperbaiki jaringan tv disini," ucap Kama setelah menyetel sebuah drama romantis.
"Ternyata suamiku hoby drama romantis,"
"Aku nggak pernah nonton film atau apapun itu. Setiap hari ku isi dengan belajar dan belajar. Seorang pangeran tentu saja harus memiliki nilai A dalam segala hal,"
"Jadi yang mul, ups suamiku nggak pernah nonton bioskop atau teater?" tanya Calina.
Kama menggeleng. "Bioskop? Buat apa?" ucap Kama.
"Kamu nggak pernah sekalipun masuk ke gedung bioskop atau teather?" tanya Calina lagi.
Lagi lagi Kama menggelengkan kepalanya.
Ke bioskop? dengan kondisiku yang seperti ini bagaimana bisa aku ketemu banyak orang diluar sana? Dan jika alergi ku kumat bukannya akan repot? Lagian menonton itu bukanlah hobiku sama sekali. Batin Kama.
"Apa menonton bioskop itu wajib?" tanya Kama.
"Bagi orang awam yang berpacaran kudu nonton bioskop sambil pacaran," Calina menarik nafas panjang kemudian membuangnya. "Huffff, aku lupa. Anda seorang pangran. Nggak mungkin berkeliaran diluar sana," ujar Calina seakan mengerti.
Kama menatap wajah polos Calina.
"Sudah, jangan membahas masalah film lagi, kamu pasti belum makan," ucap Kama.
Calina mengangguk. "Ya perutku sudah mulai kelaparan."
"Kita makan disebelah aja yuk?" ajak Kama.
"Apa ada menu special?" tanya Calina sambil berdiri dari kursinya. "Makanannya sudah siap belum?" tanya Calina lagi.
"Harley sedang menyiapkan."
Calina terlebih dahulu memasuki pintu pembatas ruangan Kama.
Hanya dengan mengenakan celana hot pants, kaos oblong berwarna putih dan sepasang sendal kelinci sambil rambut digulung asal Calina berlari menuju meja makan.
Ah wanita ini, jika ibu melihatnya seperti ini pasti beliau akan marah.
Tapi, sudah lah. setelah menangis hingga matanya bengkak dia terlihat gembira sekarang. Mana mungkin aku menyuruhnya menukar pakaian terlebih dahulu.
"Nona anda..." Ucap Harley terhenti.
Kama yang berdiri dibelakang Calina menarik telunjuknya kebibir sebagai isyarat agar Harley diam.
"Silahkan duduk," ucap Kama.
"Baiklah,"
"Selamat makan, Semua menu ini adalah menu favoritmu," tukas Kama.
"Suamiku buruan duduk, atau aku akan mulai makan lebih dahulu," ucap Calina sambil membuka serbet ke atas pahanya.
Saat itu dirinya sadar, jika dirinya hanya mengenakan celana pendek dan kaos putih. Menurut peraturan, saat makan bersama anggota keluarga kerajaan harus berpakaian rapih.
"Tapi aku?" ucap Calina sambil berdiri dari posisi duduknya dan menatap pakaiannya.
"Duduklah, saat makan bersamaku. Kamu bisa mengenakan pakaian apa saja asalkan itu nyaman buatmu," tukas Kama.
"Baiklah." Calina kembali duduk dikursinya.
Seporsi beef stick dipiring nya mulai dilahapnya hingga tak tersisa.
Usai makan Kama memberikan kotak handpone yang sudah terbungkus dengan rapih.
"Maaf, karena aku tak bisa menemukan ponselmu jadi aku menggantikannya dengan yang baru,"
Calina menerima handphone itu dengan begitu haru. "Terimakasih, akhirnya aku bisa menghubungi teman temanku," ujar Calina.
"Oh ya, nomor teman temanmu sudah disave didalam, ternyata Harley punya kontak mereka," ucap Kama.
"Terimakasih Harley," ucap Calina pada Harley yang berdiri tak jauh dari situ.
"Besok kita akan adakan rapat, usai jam makan siang saya akan menjemputmu disini. Kita sama sama ke sekertariat dilantai 8,"
"Baiklah, saya akan kembali sekarang," ucap Calina.
"Good night." sebuah kecupan dari Kama mendarat didahi Calina.
Calina berlalu dengan cepat tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Tuan. Anda memperlakukan nona Calina begitu istimewah, sepertinya anda sudah mulai jatuh cinta dengannya?" tanya Harley.
"Haha mana mungkin? Beberapa bulan lagi aku akan menceraikannya. Aku tak ingin neninggalkan kesan jahat dimatanya. Aku melakukan ini sekedar untuk mengurangi rasa bersalahku padanya," jelas Kama.
Bersambung...
(Para readers jangan lupa like cerita author ya. Bisa juga tinggalkan koment apapun dalam bentuk kritik, saran ataupun ide sebagai dukungan dan memicu semangat author dalam berkarya)
semangat terus ya thor berkaryanya💪😇