Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Mengubah Segalanya
Langit malam ini begitu terasa gelap tanpa bintang. Angin berhembus perlahan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang rusuk. Jalanan yang sepi justru terasa semakin menakutkan bagi Viona.
Langkahnya terburu-buru, hembusan nafasnya terdengar sangat memburu. Alas kakinya hampir terlepas saat ia berlari tanpa arah, nafasnya tersengal, dadanya terasa sesak.
“Cepat! Dia ke sana!”Suara berat itu menggema di belakangnya.
Viona menoleh sekilas dan rasa ketakutan kian menghantamnya. Empat pria berbadan kekar, wajah mereka terlihat penuh angkara. Tanpa terasa kristal bening menetes dari pelupuk mata Viona, tak lagi dapat ia bendung.
“Ya Tuhan aku harus gimana lagi ini...” lirihnya hampir tak terdengar.
Ia berbelok ke sebuah gang sempit, gelap, dan sunyi. Namun itu satu-satunya pilihan baginya. Langkah kakinya mendadak terhenti saat tubuhnya membentur sesuatu yang terasa keras, hangat dan berdiri terdiam namun kokoh. Viona terkejut, tubuhnya hampir terjatuh jika saja seseorang itu tidak menahannya.
“Ma-maaf…” ucapnya gugup tanpa berani mendongak sedikitpun.
Namun belum sempat ia menjauh dari pria misterius itu, keempat pria berwajah bengis tadi sudah menemukan keberadaannya.
“Wah, dapat bantuan rupanya?” Suara para pria itu kembali terdengar, kini lebih dekat, lebih mengintimidasi.
Tubuh Viona langsung menegang kembali, tangannya refleks mencengkeram ujung kerah baju pria di hadapannya.
“Tolong…” bisiknya gemetar.
Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban dari pria itu. Namun tatapan pria itu terlihat nyalang tajam seperti mata elang.
“Heh.....” Satu suara helaan nafas rendah keluar namun dingin tanpa emosi.
Perlahan, pria itu melangkah maju, melewati Viona. Dan saat itulah Viona melihatnya dengan jelas, pria itu memiliki wajah tegas, rahang tegas, dan tatapan tajam yang terasa seperti mampu membekukan siapa saja.
Sosok itu tak lain adalah Bryan. Tanpa banyak berbicara, ia berdiri di antara Viona dan para pria bengis itu.
“Pergi!” ucapnya singkat.
Para pria itu tertawa, “Lo pikir lo siapa, anak muda? Pahlawan hah?”
Senyuman tipis muncul di sudut bibir Bryan. Bukan senyum penuh keramahan namun senyuman sinis untuk sebuah tanda peringatan.
“Kesempatan cuma ada sekali,” katanya pelan.
Detik berikutnya, tak ada yang saling mengalah berdebat hingga akhirnya pria itu melayangkan sebuah pukulan pada keempat pria bengis itu.
"Jangan salahin gue kalau gue bertindak kasar!" ucap Bryan lagi
"BUGH!!"
Satu pukulan mendarat tak terelakkan, pekik penuh kesakitan pecah di udara malam. Semuanya terjadi begitu cepat. Bryan yang merupakan seorang mafia bergerak seperti bayangan dengan secepat kilat, tepat, dan brutal.
Satu persatu pria berbadan kekar itu tumbang tanpa sempat melawan dengan benar. Suara pukulan, erangan kesakitan, dan tubuh yang jatuh menghantam tanah aspal hitam memenuhi gang sempit itu.
Viona hanya bisa berdiri kaku, tangannya gemetar, matanya tak berkedip. Ia belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, kesunyian kembali memenuhi suasana malam yang dingin saat ini. Empat pria itu tergeletak tak berdaya, Bryan berdiri tegak, bahkan nafasnya masih terdengar stabil seolah semua itu bukanlah apa-apa. Viona ragu untuk melangkah mendekatinya, namun pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekat.
“Te…terima kasih…aku Viona...” suaranya terdengar kecil, nyaris menghilang, uluran tangannya mengambang di udara.
Bryan menoleh sekilas, tatapannya dingin. Tak ada kelembutan, tak ada kepedulian sama sekali.
“Gak usah berlebihan,” jawabnya datar.
Viona langsung terdiam, menggenggam ujung bajunya sendiri, Bryan tidak langsung pergi.
Ia menatap Viona beberapa detik lebih lama, seolah tengah menilai sesuatu atau mungkin sedang memastikan sesuatu. Kemudian ia menghela nafas pelan.
“Lekas pulang,” ucapnya datar.
“Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Viona mengangguk dengan cepat, meski kakinya masih terasa lemas. Namun sebelum ia benar-benar berbalik, suara Bryan kembali terdengar lebih rendah dan lebih dalam.
“Dan satu lagi,”
Viona menoleh perlahan, tatapan mereka pun akhirnya saling bertemu satu sama lain. Ada sesuatu yang berbeda di mata pria itu. Bukan sebuah kehangatan namun sebuah kebingungan. Ada getaran yang tak bisa mereka jelaskan dengan kata-kata.
“Jangan sembarangan percaya sama orang yang belum lo kenal,” lanjutnya.
"Bahkan mungkin…gue juga bukan orang baik yang kayak lo bayangin...”
Jantung Viona berdegup kencang, kata-kata itu terasa aneh dan dingin. Akan tetapi juga seperti sebuah peringatan yang tulus dari hati.
Sebelum ia sempat menjawab, Bryan sudah berbalik dan melangkah pergi. Kali ini tanpa berhenti dan meninggalkan Viona dalam diam.
Namun bayangan sosoknya dan kata-katanya terus terngiang di benak Viona. Malam ini tidak hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga telah membuka pintu menuju dunia yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
BERSAMBUNG! ⭐
Visualisasi Bryan Anggara Wijaya.
Visualisasi Viona Anandika Prasetya.