Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesakitan
Malam yang semakin larut, membuat Anin kembali tertidur pulas. Pak Hendra gelisah, pikirannya menjadi tak karuan. Ia selalu merasakan jauh lebih terluka dari pada anaknya itu.
Pak Hendra terus memandangi ponselnya, entah apa yang ia harapkan. Rasa cemas, resah, semua beradu satu dalam hati dan pikirannya.
"Aku telepon saja El, beri tahu Anin ada disini. Kasihan kalau dia terus mencari Anin.." ucap Pak Hendra pelan pada dirinya sendiri
Pak Hendra langsung mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja itu, lalu mencari nomor kontak El. Langsung ia tekan panggil.
El masih terus mencari Anin, ia belum juga menyerah dan memutuskan untuk pulang. Ia sangat khawatir pada istrinya itu.
Tiba-tiba dering ponselnya mengagetkan, ia berharap itu Anin yang menghubungi. Saat dilihat dilayar ponselnya bertuliskan "Papa".
"Haaah.." El membuang nafasnya kasar
"Papa ternyata.." lanjut ucap El lalu dengan cepat ia menekan tombol terima panggilan
"Assalamu'alaikum El.." ucap Pak Hendra dengan nada tak bersemangatnya
"Walaikumsalam Pa.." jawab El dengan cepat
"Kamu tidak perlu lagi mencari Anin, Anin sudah tidur. Dia pulang kerumah Papa. Papa sudah tahu semuanya. Kamu juga pulang saja, besok kita selesaikan semua dirumah orangtua kamu" ucap Pak Hendra langsung to the point pada El lalu mematikan sambungan teleponnya
"Tapi Pa..." ucap El padahal sambungan telepon itu sudah terputus
"Halo Pa? Papa.. Pa?" lanjut ucap El lalu melihat kelayar ponselnya dan ia baru tahu bahwa sambungan telepon itu sudah terputus.
El langsung melajukan kembali mobilnya, menuju ke jalan rumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam, dan jalanan pun sudah semakin sepi.
El sudah merasa Pak Hendra sangat kecewa pada dirinya, pasti Pak Hendra akan sangat marah.
...----------------...
Pukul 7 pagi El sudah siap untuk berangkat ke Bandung, menuju kerumah Orangtuanya. Dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi El terus fokus pada jalanan yang kebetulan masih sepi.
Perasaan cemas, berdebar-debar tak karuan sudah menguasai dirinya. Ia bingung harus bicara apa nanti, orangtuanya pasti tahu, dan akan menambah masalah baru.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi, setelah sarapan, Anin dan Pak Hendra berangkat menuju Lembang kerumah Orangtua El, dengan motor matic milik Pak Hendra itu. Anin duduk berboncengan dengan Papanya, ia sudah terbiasa pergi-pergian menggunakan motor itu bersama Ayahnya.
Anin menggunakan jaket tebal, celana jeans, juga tidak lupa helm dan kaca mata hitamnya untuk menutupi mata sembabnya.
Tak butuh waktu lama, Anin dan Pak Hendra sudah sampai dirumah kedua orangtua El. Terlihat Ibu El sedang menyapu halaman depan rumahnya, melihat kedatangan Anin dan Pak Hendra, Ibu El langsung tersenyum manis kearah Anin juga Pak Hendra, lalu dengan cepat ia membukakan pagar. Pak Hendra memarkirkan motornya, sementara Anin sudah turun lalu menyalami Ibu mertuanya itu.
"Neng kok sama Papa? Kamana si El?" tanya Ibu El setelah menerima jabatan tangan Anin, sembari celingak celinguk melihat kearah lain mencari El
"Iya Bu, sama Papa.." jawab Anin dengan senyum tipis
"Oh.. Hayu atuh masuk we ke dalem.." ucap Ibu El lalu mengajak Anin juga Pak Hendra untuk masuk ke dalam.
Anin dan Pak Hendra mengikuti Ibu El masuk ke dalam, lalu duduk di sofa ruang tamu bersampingan.
"Sebentar atuh ya, Ibu buatkan dulu minumnya.." ucap Ibu El dengan ramahnya, tanpa curiga apapun akan kedatangan Menantu juga besannya itu
"Jangan repot-repot Bu.." ucap Anin mencegah
"Iya Bu, jangan ngerepotin.. Oh enya, Bapak ada?" ucap Pak Hendra lalu menanyakan Bapak El
"Ah gak repot atuh, cuma minum aja mah.. Bapak teh barusan pergi ke Kebun, sebentarnya Ibu suruh pulang dulu.." jawab Ibu El panjang lebar
Anin dan Pak Hendra jadi menunggu dulu kedatangan Bapaknya El, sembari menunggu El. Anin meneguk teh manis hangat buatan Ibu mertuanya itu untuk menghangatkan tubuhnya, yang terasa menggigil.
"Kenapa Lembang terasa dingin banget yaaa.. Mungkin karena aku kini tinggal di daerah panas kali yaaa" ucap Anin dalam batinnya
Tak ada obrolan apapun antara Anin juga Pak Hendra, karena memang Anin ingin menghemat tenaganya.
Tak lama, El datang. Mobilnya terlihat memasuki halaman rumah orangtuannya itu.
Anin melihatnya, jantungnya semakin berdebar-debar tak karuan.
Ibu dan Bapak El pun sudah duduk berkumpul bersama Anin juga Pak Hendra.
"El juga datang.." ucap Ibu El dengan senyum mengembangnya
"Eh iya.. Sebenarnya ada apa ini teh? Kok datangnya berpisah gitu Neng Anin sama El?" ucap Bapak El, bertanya penasaran.
Anin hanya terdiam, rasanya tak ingin menjawab Apapun. Sedari tadi Anin belum juga membuka kaca mata hitamnya, karena malu untuk menunjukan matanya yang sembab.
"Assalamu'alaikum.." ucap El langsung masuk kedalam rumahnya lalu menyalami kedua orangtuanya, lalu bergantian ke arah Pak Hendra juga istrinya
El langsung terduduk, berlutut di hadapan istrinya itu. Tangannya tak melepas genggaman tangan Anin.
"Sayang maafin aku.." ucap El bersimpuh lemah di hadapan Anin
Anin hanya terdiam, air matanya ia tahan agar tidak lagi bertumpah-tumpah. Tak ada jawaban apapun dari Anin, semua mata tertuju pada El yang masih bersimpuh di hadapan Anin itu.
"Sudah, duduk dulu.." ucap Pak Hendra menepuk pundak El
El mengerti, ia langsung duduk di kursi sofa samping Pak Hendra.
"Ada apa sebenarnya ini teh?" tanya Bapak El yang penasaran
"Begini Pak Bu.." ucap Pak Hendra mencoba menceritakan
"Kemarin sore Saya baru pulang jualan, rumah memang gelap seperti tak ada orang. Memang seperti itu biasanya, gak lama El menghubungi saya menanyakan keberadaan Anin, Saya jawab tidak ada dirumah karena memang saya tak bertemu Anin.." ucap Pak Hendra menceritakan kejadiannya dengan panjang lebar
Kedua orangtua El, dan El mendengarkannya dengan sangat fokus.
"Pas saya mau masuk ke kamar Anin, eh pintunya terkunci dan ternyata ada Anin.. Anin sudah nangis-nangis, matanya sembab saat bertemu dengan saya, untuk permasalahannya silahkan El kamu jelaskan" lanjut ucap Pak Hendra lalu dengan sengaja ingin El yang menjelaskannya
El hanya terdiam, ia ragu untuk menceritakan semuanya.
"El sok ceritakan, ada apa ini teh? Bapak mah sampai tidak habis pikir Neng Anin bisa sampai nangis seperti itu.." ucap Bapak El dengan tak sabar
El masih saja terdiam, lidahnya seolah-olah kelu.
"Apa benar El pernah menikah dan punya anak?" tanya Anin, membuka suaranya
Kedua orangtua El memandang ke arah Anin, dengan tatapan tak menyangka, dari mana menantunya ini tahu, padahal Elvira sudah lama sekali meninggalkan El.
"Anak?" tanya Ibu El tak percaya
Anin lalu menceritakan pertemuannya dengan Elvira dan Erina kemarin siang di kantor suaminya itu.
Kedua Orangtua El merasa tak menyangka akan hal itu, kenapa Elvira kembali muncul saat El sudah menikah lagi.
"Iya El pernah menikah 4 tahun yang lalu, bersama dengan Elvira" ucap Bapak El dengan berat hati
"Tapi El ditinggalkan begitu saja oleh Elvira, El sudah berusaha mencarinya, bahkan ia sampia depresi sendiri. Elvira menghilang begitu saja.." lanjut ucap Bapak El
"Iya dan kini dia muncul membawa seorang anak perempuan, dan mengaku sebagai istri El karena belum cerai. Kenapa tidak dibicarakan dulu sebelum kita menikah?" ucap Anin pada El
"Aku takut kamu tidak akan menerima aku.." ucap El dengan gemetar
"Aku kecewa sama kamu!" ucap Anin suaranya lirih
"Aku tak masalah jika kamu punya anak dari wanita lain, tapi yang membuat aku kecewa adalah kenyataan kalau aku ini ISTRI KEDUA!" ucap Anin dengan air mata yang mulai menetes di pipinya
"Enggak sayang.. Gak gitu.." ucap El mencoba menjelaskan semuanya
"Aku akan menceraikan Elvira, dia datang untuk bercerai, tidak lebih" lanjut ucap El berusaha menjelaskan
Pak Hendra mencoba menenangkan Anin putrinya, yang kembali menangis sesegukan itu. Pak Hendra mengelus lembut punggung putrinya itu.
"Sayang aku mohon.. Maafin aku.." ucap El sembari mohon-mohon pada Anin
"Selesaikan saja urusan mu dengan istri pertama mu! Jangan temui aku lagi!" ucap Anin pada El sembari menyeka air matanya yang membasahi pipinya
Anin lalu bangkit dari duduknya, dan hendak pergi berjalan meninggalkan rumah mertuanya itu.
"Saya pamit Pak, Bu.. Assalamu'alaikum.." ucap Anin lalu pergi meninggalkan mertuanya begitu saja
Pak Hendra langsung mengikuti putrinya itu, karena khawatir dengan putrinya itu.
"Pa... gimana ini?" ucap El merasa menyesal
"Nanti Papa yang bicara sama Anin, Kamu tenang dulu.. Perhatiin Anin dari jauh saja.. Selesaikan urusan mu dengan istri pertama mu, itu jauh lebih baik sekarang. Baru temui Anin lagi nanti.." ucap Pak Hendra panjang lebar pada El
"Saya pamit ya Pak Bu.." ucap Pak Hendra pada kedua besannya itu
Ibu dan Bapak El hanya mengangguk, ia merasa sangat tak percaya akan hal ini. Kedua orangtua El itu sampai merasa syok.
Pak Hendra berlari keluar, dengan cepat menaiki motornya dan mengejar Anin yang sudah berjalan duluan itu.
Dirumah, El merasa sangat frustasi. Pikirannya sangat kacau, ia mengusap kasar wajahnya, mengacak-ngacak rambutnya.
"El kenapa bisa seperti ini?" tanya Ibunya tak percaya
"Aku gak sengaja bertemu Elvira di Singapur. Ternyata dia hamil anak ku, ketika pergi meninggalkan aku" ucap El menjelaskan dengan perasaan malasnya
Kedua orangtua El tercengang mendengar semuanya, kenapa Elvira harus bertemu kembali saat El sudah menikah lagi.
"Segera ceraikan Elvira, kasihan Anin.." ucap Bapak El dengan nada kesalnya
"Tapi Elvira punya anak dari aku, Pak.." ucap El yang merasa bingung
"Terus kamu mau kembali ke wanita yang sudah membuang kamu gitu saja?" tanya Bapak El lagi-lagi semakin kesal
"Pikir-pikir El.. Dia sudah ngecewain kamu!" lanjut ucap Bapak El
El terdiam, ternyata kedua orangtuanya sangat marah dan juga sudah terlanjur kecewa pada Elvira.
"Jangan datang kesini kalau kamu belum menceraikan Elvira! Anin biar kami yang tanggung jawab memberikan nafkah.. Anin akan tetap menjadi anak Bapak, meski kamu memilih si Elvira!" ucap Bapak El dengan tegasnya, mengusir El secara halus
El tak menyangka dengan ucapan Bapaknya itu, ternyata kedua orangtuanya itu sangat menyayangi Anin.
Bapak El pergi meninggalkan El begitu saja, tinggallah Ibu El yang masih memperhatikan putranya itu.
"Bu.." ucap El dengan nada lirih
Ibu El langsung memeluk El dengan hangatnya. Ia tahu beban berat sedang dipikul oleh anak laki-lakinya itu.
"Ibu ngerti sayang.. Itu adalah pilihan yang berat, tapi Ibu harap kamu bisa berbuat bijak dalam hal ini.
Ibu ngerti kamu pasti berat pada anak mu bukan?" ucap Ibu El dalam peluknya
"Iya Bu, El sayang sekali pada Erina anak El.. Wajah Erina sangat mirip dengan El.." jawab El di sela-sela tangisnya
Ibu El memasang senyum manis di wajahnya, menenangkan untuk jiwa anaknya yang sedang meronta-ronta penuh masalah itu.