"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 21
Happy reading!
.
***
Bibir Alita terus mengerucut, melupakan sesaat bahagia yang tadi dirasakannya saat melihat banyak lembaran kertas dolar. Kekesalannya makin bertambah melihat seringai di bibir Diego.
"Harusnya kamu memelukku jauh sebelum ledakan itu terjadi. Jadinya aku memeluk angin 'kan," protesnya. "Aku pikir tadi suasana romantisnya akan berlangsung lama, kamu memang pandai membuatku kesal."
"Kamu bisa memelukku sekarang," sahut Diego. Alita terbelalak, posisi mereka sekarang tidak mungkin untuk memeluk pemuda itu.
"Kemudi saja yang benar mobilnya, lihat musuh kita sudah mengejar," omel Alita lagi. Dia melirik kaca spion, mobil polisi beserta agen FBI yang mengincar mereka sejak lama, mengejar dan berusaha mendapatkan bukti.
Diego terkekeh pelan, dengan satu tangan dia memegang kemudi dan satu tangan menarik telapak gadis itu dan menggenggamnya, menyalurkan rasa aman lewat sentuhan kulitnya pada Alita yang masih belum terbiasa dengan suasana seperti ini.
"Mereka akan lelah sendiri, tidak usah pedulikan," ucapnya berjanji.
"Tapi kamu meninggalkan jejak di dinding," sahut Alita khawatir.
Pemuda itu mengulas senyum tipis, makin mengeratkan genggaman tangan mereka. "Tidak ada yang perlu ditakutkan, kamu percaya padaku 'kan?"
Alita mengangguk dalam keraguan. Benarkah mereka bisa menghindar sementara beberapa mobil mengepung dari segala arah. Ini tidak sama seperti mereka berlari sambil berpegangan tangan saat meledakkan mesin atm milik Edmund Riley, kereta besi milik mereka gampang mogok dan jalanan malam sedikit tidak bersahabat.
Entah apa yang akan terjadi, Alita menaruh harapannya pada Diego yang lihai memutar kemudi mobil dan merapalkan doa dalam hati. Dalam keadaan seperti ini, Alita tidak melupakan Tuhan-nya meski sedang melakukan kejahatan.
Dia berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya murni karena sedang miskin dan berusaha mendapatkan uang, tanpa sadar bahwa perbuatan keduanya sedang dicatat dalam buku kehidupan, seberapa besar dosa keduanya sama seperti besarnya sudut tangen 90º.
Alita mencengkram erat seatbelt yang terpasang juga balik menggenggam telapak tangan yang lebih besar darinya. "Shaun, kamu janji 'kan? Jangan biarkan mereka menangkap kita," ucapnya lirih dengan sesekali melirik kaca spion.
Diego tidak menjawab, tapi ulasan senyum di bibir tipis itu menenangkan Alita. Dia menghembuskan napas dengan hati-hati, debaran jantungnya makin menggila. Bahkan lebih besar lagi daripada saat Diego memeluknya tadi.
"Shaun!!!" Alita berteriak saat mobil mereka terjebak, dari semua sisi, mobil yang membunyikan sirene mengganggu pendengaran para penghuni tempat itu.
"Tenanglah, Lele sayang. Tidak ada yang akan terjadi," ujar Diego, lagi-lagi mengucapkan kalimat itu.
Dan benar saja, beberapa mobil yang tadi berhenti dan keluar dengan mengacungkan pistol segera meledak, Alita menutup telinganya. "Aku melupakan Valent," imbuhnya dengan senyum yang mulai mengembang.
"Apa sebegitu saja besar kepercayaanmu padaku?" Diego mulai protes dan itu membuat Alita murung. "Maaf," ucap gadis itu.
"Hanya maaf?" Diego mulai menaik-turunkan alisnya, menatap Alita dengan pandangan sedih. Suasana yang tadi mencekam sudah mulai berkurang, dan Diego tidak mengabaikan kesempatan ini. "Tidak ingin menyenangkanku dengan yang lain? Ciuman misalnya? Atau pelukan di ranjang?"
Yang tadinya bermaksud minta maaf, sekarang Alita mengurungkan niatnya. Diego mulai menyebalkan lagi. Dia memutar bola mata malas saat pemuda itu menunjuk pipi, isyarat agar Alita menciumnya.
"Jangan harap, kamu masih berhutang pelukan. Juga penjelasan tentang besar sudut tangen 90º."
Diego tertawa pelan, sambil terus memutar kemudi mobil rongsokan itu, mereka membelah malam tanpa rembulan, ditemani decitan rem yang nyaring di telinga, tangan yang saling menggenggam menandakan kesempurnaan kerja sama keduanya.
"We are Perfect partner!"
***
Pagi dengan cepat datang menyapa, mentari sudah menampakkan diri dari tempat peraduannya, mencari sang pemuja yang masih sangat enggan beranjak.
Pemuda yang tampak acak-acakan itu masih mengetuk pintu, tidak sabar menunggu gadis blonde yang masih terlelap agar tersadar dari tidurnya.
"Lele, bangun!"
Seperti ini tugas setiap pagi Diego setelah mereka berlari semalaman, Alita tidak akan bisa bangun. "Lele, ini sudah siang! Kamu harus ke sekolah!"
Tak lama setelahnya, benda persegi panjang itu terbuka, memunculkan sosok yang tidak asing lagi bagi Diego saat pagi hari. Piyama kusut dan rambut yang tidak beraturan, serta iler yang menggantung di sudut bibir.
"Dragon," ucap Diego setelah menoyor kepala yang masih terkantuk-kantuk itu. "Cuci muka lalu sarapan!"
"Hm."
Tanpa menutup pintu kamar, Alita kembali ke kamar. Bukannya ke kamar mandi seperti yang dikatakan pemuda itu, Alita malah menjatuhkan tubuhnya lagi di atas ranjang. Telungkup sambil menindih badannya dengan guling, menutup telinga agar tidak terdengar suara bising seperti tadi.
Diego berdecak sebal, dia masuk dan menarik semua bantal dan guling yang mengganggu. "Bagun! Atau mau aku kirim foto kamu yang jelek ini pada pacar-pacar kamu?"
Diego mengambil gambar membuat Alita melenguh kasar. Kesal juga malas saat Diego menarik paksa tangannya. "Aku berhutang pelukan, bukan? Aku akan membayarnya setelah kamu mandi."
Binar manik hijau itu seketika menjadi horor di mata Diego. Entah apa, dia merasa Alita seperti bukan dirinya lagi. Gila tingkat akut.
"Pergi sana, jangan tersenyum seperti orang gila," usir Diego dan mengibaskan tangan, tapi Alita malah mendekat. "Bagaimana dengan tawaran ciuman itu? Aku maunya pagi ini," tukas gadis itu dan membuat Diego mundur perlahan.
"Oke, tapi bukan sekarang. Nanti setelah kamu cuci muka, mulutmu bau."
Alita menyengir. "Bau amis?" tanyanya.
"Bukan amis you gila. Tapi bau busuk yang bikin mual."
Alita mencebik sebal, meniup udara dari mulutnya dan berujar, "Masih wangi," imbuhnya.
"Bau, pergi sana." Diego mendorong tubuh kurus nan kecil itu ke kamar mandi, mengunci pintu itu agar Alita tidak main-main lagi. "Anak setan," umpatnya.
Melihat ponsel yang sedari tadi berdering tanda pesan masuk, Diego keluar dan menunggu Alita di meja makan. Membaca berbagai pesan yang dikirimkan Valent padanya.
"Michael brengsekk itu," gumamnya melihat gambar si pemilik julukan Malaikat Maut memukul seseorang. "Aku tidak akan bermurah hati padamu lagi."
Meletakkan sebentar ponsel itu, Diego mengoleskan selai pada roti yang tadi dibakarnya, menunggu Alita yang biasanya sangat lama saat berdandan.
Benar saja, sudah setengah jam Diego menunggu, tapi gadis itu tidak muncul. Dia mendesah pasrah, kebiasaan pagi hari yang tidak akan pernah berubah. Karenanya, dia mengambil potongan roti itu.
Ketika gigitan pertama sudah ditelan, derap langkah yang menggema mengganggu perhatiannya. Belum sempat dia menoleh, satu kecupan mendarat di pipinya.
"Tidak boleh di bibir," ucap Alita saat Diego memegang pipinya yang memanas.
"Kenapa?"
"Kamu harus nikahin aku dulu."
Diego mencebik, namun sesaat kemudian dia teringat sesuatu. "Apa kamu juga minta dinikahi sama pacar yang sudah mencium bibir kamu?"
Alita terdiam sesaat, wajahnya berubah pias. Namun, dengan gerakan cepat dia menutup mulutnya. "Mereka tidak setampan kamu kok, sejauh ini kamu yang paling tampan, jadi minta dinikahi tidak akan rugi."
Perubahan itu dilihat Diego, seringai menakutkan muncul dan Alita mundur perlahan. "Apa kamu sengaja memancingku? Seperti kamu yang pura-pura pacaran dengan banyak orang agar aku cemburu? Kamu juga menipuku dengan ciuman itu 'kan?"
Diego bangkit tanpa meninggalkan potongan roti yang tadi digigit, mendekat ke arah gadis yang tampak gemetar. Dia semakin maju dan Alita mundur sambil terus membekap mulutnya. Serigai tipis di bibir yang menggoda itu membuat Alita tidak bisa bersuara.
"Benar 'kan? Kamu penipu level awal," ujar Diego sambil tersenyum. Dia menarik tangan Alita yang membekap mulut, tapi gadis itu menepisnya. "Jangan," pintanya.
"Kenapa? Aku akan nikahi kamu kok, tenang saja."
Alita menggeleng, degup jantungnya disertai rasa takut, menambah kepucatan di wajah yang putih itu.
Tidak lama setelahnya, tawa Diego menambah ritme kerja jantung Alita. "Kalau mau curi ciuman, usahakan di bibir ya. Jangan di pipi, kan sayang kalau bibir yang menggoda ini dicuekin."
Alita memutar bola matanya, menghembuskan napas kasar karena apa yang ada di pikirannya tidak terjadi. Menyebalkan memang, Alita sangat berharap tapi pemuda yang sedang asyik mengunyah itu tidak paham. "Berengsek," umpatnya.
Pemuda yang hampir duduk itu kembali berbalik, senyum di bibirnya tidak pernah pudar sekali pun. Menambah kerja yang sangat berat untuk jantung Alita.
"Perempuan itu diciptakan untuk dijaga dan dimuliakan, hanya orang brengsekk yang menghancurkan ciptaan Tuhan yang mulia. Jadi, jangan patah hati kalau belum mendapat jatah ciuman pagi ini, tiba saatnya kamu akan mengerti," ujar Diego dan mengacak rambut gadis yang sudah klimis itu. "Jaga diri ya."
Alita tertegun, ternyata sisi manis Diego masih ada, tidak se-menyebalkan pikirannya. Entah Alita ingin menangis terharu atau marah karena kesal, karena setelahnya Diego menyindirnya. "Jangan bilang amis lagi sama pria lain ya, ingat ada suami di rumah."
Gadis itu mengerucut, duduk di tempat yang bersebelahan dengan Diego, Alita tiba-tiba merasakan atmosfer berubah suram. Melihat wajah Diego, Alita merasa ada yang tidak beres. Belum juga beberapa detik, Diego sudah berubah.
Tangan pemuda itu mengepal dengan rahang mengeras dan muka memerah sambil menatap ponsel. Sepertinya Diego marah pada seseorang.
"Putuskan Summer!"
Alita terkejut, bukan pada kalimat Diego tapi nada suara pemuda itu sangat keras sampai dia hampir jatuh dari kursi yang baru saja didudukinya. Pagi-pagi sudah olahraga jantung, gumamnya.
"Ke-kenapa ...?"
"Aku bilang putus ya putus, harus menurut!"
.
---
---
Hareudang, hareudang, panas thor😁😁
Iya, aku juga hareudang kalo kalian kagak komen😑😑. Kasih jempol sama tulisan 'next' nya ya😊. Makasih🙏❤.
***