GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pemburu Batik Bunga, Jalan-Jalan Siang, dan Kanebo kering
Sementara itu, beberapa hari sebelum kapal kargo GPS Andromeda mendarat di atas punggung Cosmobalaena...
Di Galaksi IC-10, Planet Veyros nyaris tak lagi menyisakan kehidupan. Hujan asam turun tanpa henti, mempercepat karat pada gedung-gedung tua yang kini dipenuhi lumut dan tanaman liar.
Di tengah kuburan peradaban itu, sebuah benturan logam memekakkan telinga.
KLANG!
Benturan logam itu menggema ke seluruh Reruntuhan. Bunga api memercik terang menembus tirai hujan yang suram saat sebuah robot tempur setinggi bangunan tiga lantai, mengayunkan kepalan besarnya secara membabi buta. Pukulannya menghancurkan aspal, namun mengira sasarannya telah hancur, mesin itu berhenti sejenak.
Dari balik kepulan debu, sesosok bayangan melesat dengan kelincahan yang indah. Melati menangkis tinju baja raksasa itu hanya dengan sebilah katana.
Wanita itu berasal dari ras Srivani. Rambutnya bukan helaian rambut biasa, melainkan sulur-sulur tanaman hidup yang menjuntai hingga pipinya. Air hujan berdesis saat membasahi mantel transparannya. Di balik mantel itu tampak kebaya panjang berwarna gelap dengan motif batik yang mulai memudar dimakan usia, sementara sebuah topi caping lebar menyembunyikan kilat mata hijaunya.
"Sepertinya kau sangat tidak rela menyerahkan core-mu, ya?" desis Melati dingin. "Sayangnya, aku tidak punya waktu untuk bermain-main."
Melati melompat mundur. Dengan gerakan elegan, ia menyarungkan katananya kembali, lalu berlutut dan menancapkan kedua telapak tangannya langsung menembus tanah berlumpur.
GRRRR....
Veyros bergetar, disusul suara kretek keras saat lapisan batuan hancur dari dalam. Dalam hitungan detik, puluhan sulur tanaman rambat sekeras baja berduri meletus dari bawah tanah. Tanaman buas itu melilit kaki-kaki sang robot, menjalar naik, dan mengunci setiap pergerakan mesin raksasa itu hingga engsel-engselnya berderit sekarat.
Begitu memastikan robot itu tak lagi bisa bergerak, Melati berdiri perlahan. Ia memasang kuda-kuda Iaijutsu, tangannya mencengkeram erat gagang katana. Sesaat, hanya suara hujan yang terdengar.
Dengan satu tarikan napas.
WUSSS!
Melati melesat merobek angin, meninggalkan jejak kelopak bunga hijau yang berputar tertiup angin.
SRING!
Kilatan cahaya perak membelah tirai hujan dalam satu garis lurus, disusul bunyi klik tajam saat pedang itu dikembalikan sempurna ke dalam sarungnya.
Robot itu diam tanpa bergerak. Sebuah garis diagonal bercahaya oranye menganga di dada robot tersebut, sebelum akhirnya seluruh tubuh raksasa itu terbelah dua.
BOOM!
Ledakan dahsyat memekakkan telinga, mengirimkan gelombang kejut yang menyapu sisa-sisa reruntuhan. Kobaran api memantul di punggung jubah transparan Melati yang membelakangi hancurnya mesin tersebut. Di tangan kirinya, sebuah inti core biru menyala terang.
"Huft, terlalu banyak waktu terbuang di planet rongsokan ini," gumamnya lelah.
Tiba-tiba suara tepuk tangan pelan berirama muncul dari balik bayang-bayang puing baja.
Mata Melati langsung menyipit. Ibu jarinya refleks mendorong pangkal katananya, siap untuk mencabutnya kembali. Namun, niat membunuhnya ditahan begitu ia melihat siapa yang melangkah keluar dari kegelapan.
Pria itu mengenakan setelan jas mahal yang sama sekali tidak cocok dengan planet kotor ini, dengan kulit hitam kebiruan mengilap layaknya sisik hiu.
"Untuk apa seorang direktur eksekutif Hyperson sudi mengotori sepatu mahalnya di sini... Nereon?" sambut Melati dingin.
Nereon menghentikan langkahnya, tersenyum miring memamerkan wibawa arogannya. "Gerakan pedangmu selalu berhasil membuatku takjub, Melati. Melihat bakat alami itu, tak heran orang-orang di dunia bawah memanggilmu... Sang Pemburu Batik Bunga."
Suhu di udara seakan anjlok drastis saat kalimat itu selesai terucap.
Dalam sekejap, Melati sudah berdiri tepat di depan Nereon. Ujung katananya yang sedingin es kini bersandar di urat nadi leher Nereon.
"Berapa kali harus kubilang," ancam Melati, suaranya sangat tenang namun mematikan. "Aku benci julukan konyol itu. Dan jangan coba-coba memancingku, Nereon. Kau pikir orang-orangmu yang bersembunyi di balik gedung karatan itu bisa menyelamatkan nyawamu sebelum kepalamu lepas?"
Meski kematian menempel di tenggorokannya, Nereon sama sekali tidak gentar. Ia mengangkat tangannya yang berselaput tipis, lalu menggunakan ujung telunjuknya untuk mendorong punggung pedang Melati perlahan, menjauhkannya dari leher.
"Tenanglah," bisik Nereon, tatapan emasnya bertemu mata hijau sang mutan. "Aku datang jauh-jauh ke sini bukan untuk mencari masalah denganmu. Aku membawa tawaran pekerjaan."
Melati menatapnya selama beberapa detik, mencari celah kebohongan. Setelah yakin, ia menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali.
"Seharusnya kau katakan itu dari awal," sahut Melati seraya merapikan kerah mantelnya. "Pekerjaan apa?"
***
Kembali ke waktu sekarang.
Langit Kota Lumba-Lumba di atas punggung Cosmobalaena cerah tanpa cela. Pendar dari matahari biologis memberikan kehangatan pada jalanan berbatu yang membelah deretan kastel putih megah. Di atas mereka, layar-layar hologram raksasa dan kendaraan antigravitasi melayang teratur, menciptakan harmoni sempurna antara peradaban kuno dan teknologi puncak.
Di salah satu trotoar utama kota, Lyra berjalan santai memandu Tuan Putri Kahlia dan Jin, sang pengawal setia.
Kahlia kini mengenakan gaun kasual. Ia tampak layaknya gadis muda Mizura biasa yang sedang menikmati hari libur. Sementara Jin, dalam balutan kaus GPS GUEST dan jaketnya, berjalan tegap tepat selangkah di belakang sang putri. Matanya terus menyapu keramaian di sekitar mereka tanpa pernah lengah.
Lyra meregangkan keenam lengannya ke atas, menghirup udara dalam-dalam.
"Waaah... senangnya bisa jalan-jalan siang santai begini sambil dikawal langsung sama pengawal elit kekaisaran," seru Lyra, sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik jahil ke arah Jin.
Kahlia menutup mulut dengan punggung tangannya, tertawa pelan. "Oh, begitu ya, Lyra?"
Merasa mendapat dukungan, Lyra mencondongkan tubuhnya ke belakang hingga wajahnya sejajar dengan sang pengawal.
"Ngomong-ngomong, Pak Pengawal yang tampan... udah nikah belum, sih?" goda Lyra, memutar-mutar ujung rambut dreadlock-nya dengan salah satu tangannya yang luang.
Kahlia menyikut pelan lengan pengawalnya sambil menahan senyum. "Tuh, ditanyain sama Lyra. Dijawab dong, Jin."
Jin berdeham pelan. Wajah tegas bersisik tipisnya sama sekali tidak berekspresi, menatap lurus ke depan seperti patung bernapas. "Ehem. Saya rasa saya tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan pribadi semacam itu kepada Anda, Nona."
Lyra memberengut sebentar, namun senyum menggodanya kembali terpasang. Ia melangkah mundur agar bisa berjalan beriringan langsung dengan Jin. Keenam lengannya bergerak santai mengikuti langkahnya.
"Heeee... kakunya," goda Lyra. "Padahal kau tahu kan, ras Vishnar itu punya enam lengan. Bayangin, Jin... aku bisa menggunakan tangan-tanganku ini dengan sangat kreatif ke tubuhmu."
Langkah Jin langsung terhenti. Ia buru-buru menarik bahu Kahlia untuk mundur selangkah, menjadikan tubuh besarnya sebagai perisai.
"Yang Mulia, tolong menjauh darinya," ucap Jin dengan nada waspada level tinggi. "Saya tidak mau Anda ikut tertular virus kemesuman dari wanita Vishnar ini."
Lyra meledak dalam tawa lepas yang menggema di trotoar. "Astaga! Cowok Mizura memang kaku banget kayak kanebo kering!"
Kahlia hanya bisa tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala. Ia benar-benar menikmati pemandangan ini; pengawal kesayangannya yang selalu kaku, kini tak berdaya dijahili oleh pilot kargo GPS. Suasana siang itu terasa sangat damai.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi semata.
Jauh di atas sana, dari puncak atap menara berukir gargoyle yang mengawasi jalanan kota, sepasang mata hijau mengunci pergerakan mereka.
Di bawah bayangan topi caping besar, untaian rambut sulur hijau merambat tertiup angin. Baju gelap bermotif batik itu menyatu sempurna dengan bayangan batu di sekitarnya.
Melati memicingkan matanya. Ia telah menemukan targetnya: wanita bergaun kasual yang sedang tertawa bersama seorang Vishnar berlengan enam di bawah sana.