Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Romantisme hubungan jarak jauh yang awalnya dihiasi oleh panggilan video rutin setiap malam, lambat laun mulai tergerus oleh kerasnya realita.
Di Merauke, musim hujan telah tiba dengan membawa badai yang tak kenal ampun. Hujan deras mengguyur nyaris tanpa henti selama tiga hari terakhir. Atap seng Puskesmas bergemuruh keras, meredam suara langkah kaki para tenaga medis yang berlarian di lorong.
Cia berdiri di depan jendela ruang jaga, menatap jalanan tanah merah yang kini telah berubah menjadi kubangan lumpur pekat. Udara terasa sangat lembap dan dingin. Kantung matanya terlihat lebih gelap dari biasanya. Sudah dua malam ia tidak tidur dengan layak karena jumlah pasien rujukan dari distrik-distrik pedalaman melonjak drastis akibat wabah demam berdarah dan diare yang menyerang pascabanjir.
Gadis itu merogoh saku jas putihnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya retak tipis di bagian sudut.
Pukul 19.30 WIT. Waktu Indonesia Timur. Berarti di tempat Ren, waktu baru menunjukkan pukul setengah enam sore.
Cia membuka aplikasi pesan. Ia menatap deretan pesannya sejak kemarin pagi yang hanya berakhir dengan satu centang abu-abu. Sinyal telekomunikasi di wilayah ini hancur berantakan karena cuaca buruk. Sudah dua hari ia tidak bisa menghubungi suaminya.
Sebuah embusan napas lelah meluncur dari bibir Cia. Ia menempelkan ponsel itu di dadanya, tepat di atas dog tag yang selalu setia mengalung di lehernya.
"Mas, aku capek banget hari ini," bisiknya pada layar kosong. "Semoga kamu di sana nggak lupa makan."
"Dokter Cia!"
Suara teriakan dari arah lobi depan membuat Cia tersentak. Dr. Rian berlari menghampirinya, jas putihnya basah kuyup di bagian pundak, wajahnya tegang.
"Ada panggilan darurat dari Kepala Distrik di pedalaman Muting. Tanggul sungai jebol satu jam yang lalu. Air merendam belasan rumah. Banyak warga lansia dan anak-anak yang terjebak dan mengalami hipotermia serta luka-luka karena terbawa arus," lapor Rian cepat, napasnya memburu. "Tim SAR daerah kekurangan tenaga medis. Kita ditugaskan berangkat ke titik evakuasi sekarang."
Insting dokter Cia seketika menyala, menyingkirkan seluruh rasa lelahnya. "Siapkan medical kit darurat! Bawa stok cairan infus, selimut termal, dan alat jahit sebanyak yang kita punya. Kita berangkat pakai ambulans double cabin."
Sepuluh menit kemudian, Cia sudah duduk di kursi depan ambulans gardan ganda yang menembus tirai hujan lebat. Jalanan trans-Papua yang membelah hutan terlihat sangat gelap. Lumpur tebal membuat ban mobil beberapa kali selip, namun sang sopir terus memacu kendaraan itu menembus badai.
Di tengah guncangan hebat di dalam kabin mobil, tangan kanan Cia mencengkeram erat handle di atas pintu, sementara tangan kirinya tanpa sadar meremas kepingan besi dingin di balik seragam medisnya.
Saat ini, aku sedang berada di medan perangku, Mayor.
Di saat yang sama, ribuan kilometer dari badai tersebut, langit asrama militer tampak cerah berawan.
Mayor Ren Adhyaksa sedang duduk di ruang kerjanya di Pusat Pendidikan Infanteri. Meja kayunya dipenuhi oleh tumpukan berkas penilaian para taruna muda. Ren memegang sebuah pena, namun matanya sama sekali tidak menatap kertas-kertas tersebut.
Pandangannya terpaku pada ponsel hitam yang tergeletak di samping laptopnya.
Layar ponsel itu gelap.
Jari telunjuk tangan kanan Ren—yang kini sudah bisa digerakkan dengan normal—mulai mengetuk permukaan meja kayu. Tuk. Tuk. Tuk. Ketukan beritme konstan yang menandakan sang Mayor sedang berpikir keras, atau dalam kasus ini, menahan kecemasan yang luar biasa.
Sudah empat puluh delapan jam Almeera Cia tidak bisa dihubungi.
Biasanya, sesibuk apa pun Cia, gadis itu selalu menyempatkan diri mengirim satu pesan singkat di pagi hari atau saat jam istirahat siang. "Mas, aku lagi makan ikan bakar," atau "Pasiennya banyak, tapi aku kuat!" Namun sejak kemarin, hanya ada keheningan. Pesan yang dikirim Ren menggantung tanpa status terkirim.
Pintu ruangan diketuk dua kali, lalu terbuka. Letnan Bima melangkah masuk dengan setumpuk map. Pria itu tampak jauh lebih sehat, tubuhnya kembali proporsional meski ia tidak lagi ditugaskan di garis depan operasi penyusupan karena kondisi ginjalnya.
"Lapor, Mayor. Evaluasi kurikulum lapangan minggu ini sudah selesai disusun," ucap Bima, meletakkan map tersebut di meja.
Ren hanya mengangguk pelan, matanya tak lepas dari layar ponsel.
Bima menarik kursi dan duduk, memperhatikan komandannya dengan raut maklum. "Belum ada sinyal juga dari Papua, Ndan?"
Ren menghentikan ketukan jarinya. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi berita, dan memutar layar itu menghadap Bima.
"Badai tropis menghantam pesisir selatan Papua sejak tiga hari lalu," suara Ren terdengar sangat berat, baritonnya dipenuhi ketegangan. "Berita terakhir menyebutkan beberapa menara Base Transceiver Station (BTS) tumbang akibat angin kencang. Akses komunikasi ke beberapa distrik di Merauke putus total."
Bima menelan ludah. Ia tahu persis bahwa kondisi 'putus komunikasi' adalah mimpi terburuk bagi seorang prajurit yang memiliki orang terkasih di sana. Terlebih lagi, Ren pernah mengalami hal serupa saat ia disandera, namun kali ini posisinya terbalik. Cia yang berada di tengah kekacauan, dan Ren yang terjebak dalam ruang tunggu bernama ketidaktahuan.
"Mbak Cia itu dokter yang tangguh, Komandan," Bima mencoba menenangkan, nadanya bersungguh-sungguh. "Dia pasti aman di dalam Puskesmas. Bangunan pemerintah biasanya dibangun kokoh."
Ren menyandarkan punggungnya ke kursi. Rahangnya mengeras. "Masalahnya, Bima... istri saya bukan tipe dokter yang akan bersembunyi di balik meja saat orang lain membutuhkan pertolongan di luar sana."
Ren sangat mengenal Cia. Gadis itu keras kepala. Kepeduliannya pada pasien jauh melampaui rasa takutnya pada bahaya. Jika ada panggilan darurat, Ren tahu persis Cia akan berada di barisan terdepan, menerjang badai dengan jas putih kebesarannya.
Dan pemikiran bahwa istrinya sedang bertaruh nyawa di tengah bencana tanpa bisa ia awasi, membuat seluruh otot di tubuh Ren menegang hebat.
Ponsel Ren tiba-tiba berdering, memecah kesunyian ruangan.
Bukan panggilan dari Cia, melainkan dari markas komando atas. Ren segera mengangkatnya.
"Siap, Adhyaksa di sini," jawab Ren.
Ekspresi Ren berubah drastis saat mendengarkan laporan dari seberang telepon. Matanya menyipit tajam. "Status tanggap darurat militer? ... Titik kumpul di Lanud besok pagi pukul enam? ... Siap, saya mengerti, Jenderal."
Ren mematikan panggilan itu dan langsung berdiri dari kursinya.
"Ada apa, Ndan?" tanya Bima, ikut berdiri dengan postur tegap.
"Bencana banjir bandang di beberapa distrik pedalaman Merauke semakin parah. Pemerintah daerah kewalahan. Komando atas baru saja memerintahkan pengiriman satuan tugas penanggulangan bencana ke Papua Selatan besok subuh. Pesawat Hercules akan membawa bantuan logistik, perahu karet, dan tim medis tambahan."
Ren meraih baret hijaunya dari atas meja, memakainya dengan gerakan presisi yang sangat cepat. Mata elangnya memancarkan sebuah tekad baja yang sudah lama tidak Bima lihat sejak pria itu pindah ke satuan pendidikan.
"Mayor, Anda mau ke mana?" tanya Bima saat melihat Ren melangkah cepat menuju pintu.
Ren menoleh sekilas, tatapannya tidak menerima bantahan apa pun.
"Menghadap Jenderal Arman," jawab Ren dingin. "Saya akan mengajukan diri sebagai Komandan Satgas Pengamanan Logistik Bencana untuk penerbangan besok pagi."
Di sebuah tenda pengungsian darurat yang didirikan dari terpal biru tebal, kondisinya bagaikan neraka dunia.
Air hujan masih merembes masuk dari celah-celah terpal. Tanah di bawah kaki mereka becek oleh lumpur. Suara tangis balita bersahut-sahutan dengan erangan kesakitan para korban yang berhasil dievakuasi dari derasnya arus banjir bandang. Penerangan hanya mengandalkan beberapa lampu darurat berbaterai dan senter dari helm tim SAR.
Cia berlutut di atas tanah berlumpur, sama sekali tidak memedulikan celana jeans dan lututnya yang kotor. Jas putihnya sudah tidak berwarna putih lagi, melainkan cokelat pekat.
Di depannya, terbaring seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun yang menggigil hebat. Bibirnya membiru, napasnya tersengal-sengal.
"Anak ini hipotermia berat, Dok!" teriak seorang perawat lokal yang membantu Cia. "Suhu tubuhnya cuma tiga puluh empat derajat!"
"Bawakan thermal blanket! Cepat!" perintah Cia tegas, tangannya bergerak cepat melepas pakaian basah anak itu. "Kita harus naikkan suhu tubuhnya pelan-pelan."
Perawat itu berlari dan kembali dengan wajah panik. "Habis, Dokter! Selimut termalnya sudah terpakai semua untuk korban lansia di tenda sebelah!"
Cia menggertakkan giginya. Situasi krisis selalu memaksa otak untuk berpikir di luar batas normal. Tanpa ragu sedetik pun, Cia membuka kancing jas putih basahnya, membuangnya ke tanah, lalu melepas kemeja flanel kotak-kotak tebal yang ia kenakan sebagai lapisan luar kausnya.
Ia membalutkan kemeja flanel kering itu ke tubuh anak kecil tersebut, lalu menggosok pelan kedua lengan anak itu untuk menciptakan friksi dan panas buatan.
"Bertahan ya, Dek. Jangan tidur. Ayo, buka matanya," bujuk Cia dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meski ia sendiri mulai merasa kebas karena kedinginan. "Kamu kuat. Anak laki-laki hebat harus kuat."
Cia menoleh pada perawat. "Ambilkan cairan infus NaCl, hangatkan sebentar di ketiakmu atau rendam pakai air hangat dari termos sebelum kita pasang. Kita berikan cairan hangat intravena."
Di tengah kekacauan itu, saat Cia memeluk anak laki-laki itu untuk menyalurkan suhu tubuhnya sendiri, sebuah kilat menyambar terang di langit, disusul suara guntur yang memekakkan telinga.
Angin kencang bertiup menerjang tenda. Tiba-tiba, salah satu pasak bambu penyangga terpal di sudut kiri patah. Terpal biru itu merosot turun dengan suara robekan yang mengerikan, menumpahkan genangan air hujan yang tertahan di atasnya langsung ke arah kerumunan korban luka.
"Awas!" teriak dr. Rian dari ujung tenda.
Melihat arah jatuhnya terpal penyangga itu mengarah tepat pada anak kecil yang sedang dipeluknya, tubuh Cia bergerak melampaui logikanya. Insting yang mungkin tertular dari suaminya mengambil alih.
Cia memutar tubuhnya, membelakangi jatuhnya bambu penyangga tersebut, menjadikan punggung dan tubuhnya sebagai tameng manusia untuk melindungi sang pasien kecil.
Brak!
Ujung bambu yang cukup berat itu menghantam punggung kiri Cia dengan keras, disusul oleh guyuran air dingin dan lumpur dari atas terpal yang mengubur sebagian tubuh mereka.
Sebuah rintihan tertahan lolos dari bibir Cia. Rasa nyeri luar biasa menjalar dari tulang belikat kirinya hingga ke pangkal leher, membuatnya nyaris kehilangan kesadaran. Pandangannya menggelap selama beberapa detik.
"Dokter Cia!" Suara panik rekan-rekannya terdengar samar di telinganya. Beberapa relawan segera berlari, mengangkat terpal dan bambu yang menimpa punggung gadis itu.
Cia terengah-engah, memaksakan matanya tetap terbuka. Ia menatap ke bawah, ke arah pelukannya. Anak laki-laki itu tidak terluka sama sekali, wajahnya aman dari benturan karena tertutup tubuh Cia.
"D-dia... aman..." gumam Cia terputus-putus.
Tangan Cia yang bergetar hebat akibat rasa sakit dan dingin, bergerak secara naluriah meraba dadanya, mencari benda yang selalu memberinya kekuatan. Jari-jarinya menggenggam dog tag besi itu erat-erat.
Aku belum menyerah, Mayor. Aku nggak akan nyerah.
Namun, dinginnya malam Papua dan kelelahan ekstrem yang mendera tubuhnya akhirnya memenangkan pertarungan itu. Genggaman tangan Cia perlahan melemah, dan dunia di sekelilingnya memudar menjadi kegelapan yang sunyi.