NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 22. Perjalanan diantar

"Kau hati-hati sama lawan gender kau di keluarga kami. Ayah paham kau suka kebebasan, tapi bentengilah diri kau sebaik mungkin. Kami berduit, kami pun menang secara fisik. Jangan sampai kau lengah," ungkapnya penuh misteri.

Ada apa dengan gender laki-laki di keluarga ini?

“Ayah tenang aja," sahutku tenang dengan tersenyum simpul.

"Ayah ganteng, ayo pulang,” ajak seorang nenek-nenek yang masih cantik dan bugar, ia berjalan menghampiri ayah Barra.

Ayah Barra pun sudah kakek-kakek, usianya di atas ayah Wiya. Sekitar tujuh puluh tahun lebih.

Ayah Barra adalah kakak sulung dari ayah Wiya. Meski katanya bukan anak kandung, tapi ia menjadi direktur utama perusahaan Putra Tunggal Berintan ini. Saat rapat pun ada bisik-bisik dari karyawan lain, bahwa ia adalah anak bawaan menantu di keluarga ini. Tidak ada hubungan darah antara ayah Barra dan keluarga ini, tapi ia menjadi tetua yang dihormati.

Apalagi jika darah daging mereka ya kan?

“Biarin Abang di sini dulu ya? Abang balik sama Wiya,” tolak ayah Barra dengan menunjuk ke arah bang Wiya dengan dagunya.

Aku memperhatikan bola mata mereka. Kebanyakan dari mereka memiliki warna bola mata coklat gelap, bahkan banyak juga hitam. Namun, mas Barraq sendiri yang memiliki bola mata coklat terang seperti bule. Mana kulitnya cerah lagi.

Entah karena hanya aku dekat dengannya, entah karena aku memiliki sedikit ketertarikan fisik. Tapi aku merasa memang ia lebih tampan dari mereka semua. Meski ia bertato, tato itu tidak menutupi kerupawanan dan kharismanya.

“Jangan liatin Mas aja," ujarnya lirih dengan menyenggol sepatu hak tinggiku.

Aku membuang arah pandangku ke arah lain.

Warna bola perempuan di sini berubah-ubah, karena softlens. Sama sepertiku juga. Tapi aku yakin para laki-laki di sini itu tidak memakai lensa seperti perempuan.

Aku terkekeh kecil dan membuang wajahku ke arah lain. Aku tak mendengar percakapan mereka, karena aku pun asyik mengagumi rupa mas Barraq tadi.

Dilihat secara saksama lagi, ternyata warna rambutnya bukan benar-benar hitam pekat. Tapi coklat tua kehitamanan. Terlihat begitu jelas perbedaannya, karena di sini langsung dibandingkan dengan saudara sedarahnya yang lain.

"Tampan ya anak Ayah?” celetuk ayah tiba-tiba, membuat tawa kami berbaur sempurna.

"Urus perceraian kau, kalau kau mau sama dia ya?” timpal ayah Wiya kemudian.

Aku tidak akan pernah mengurusnya, aku malu untuk kembali dengan status janda.

“Wah, karyawan sini banyak jandanya. Abang jadi khawatir punya bujangan sebiji ini." Ayah Barra memupuk pelan bahu anak laki-laki yang tadi minta di follback itu.

Ia pewaris tunggal. Tapi apakah ia akan menjadi direktur utama nantinya? Mengingat tentang tahta itu yang tidak tahu akan jatuh ke tangan siapa. Mungkin bukan dilihat dari darah siapa, tapi siapa yang paling mampu mengembannya.

Bisa tidak ya mas Barraq yang tiba-tiba menjadi direktur selanjutnya? Karena mendengar di akhir pidato ayah Barra tadi, tahun ini ia akan pensiun. Dalam artian, ia akan memberikan tanggung jawab perusahaan besar dengan ratusan anak perusahaan itu pada laki-laki yang ada di keluarga ini.

"Kalau general manager perempuan, biasanya mereka itu pasti janda. Coba aja Abang perhatikan. Contohnya si…" Ayah Wiya dalam mode bergosip dengan saudaranya itu.

“Ayo diantarkan," ajak mas Barraq dengan bangkit dari duduknya.

Aku mengangguk cepat, fokusku buyar untuk mendengarkan gosip itu.

"Permisi ya, Yah, Bang,” pamitku sopan pada ayah Wiya, ayah Barra dan anaknya ayah Barra itu.

Berarti anak laki-laki yang usianya di bawah mas Barraq itu anak tunggal? Ayah Barra hanya memiliki satu anak? Jika memang iya, berarti hanya ia sendiri di keluarga itu yang memiliki anak satu.

"Iya ati-ati, Dek.”

"Antar balik aja, Nak. Jangan kau ikut singgah.”

Pesan mereka, ketika aku mengikuti langkah kaki mas Barraq.

Sejak awal aku tahu bahwa pabrik kopi inilah tempat rapat ini, aku kebanyakan terkesima. Ternyata oh ternyata, kopi yang sering aku racik, dari sini awal mulanya.

"Rencana kamu gimana setelah ini, De?” Mas Barraq membukakan pintu mobilnya untukku.

Masih banyak orang di sini, aku yakin pasti banyak diantara mereka yang nebeng pada saudaranya. Karena mobil di sini tinggal sedikit, dengan para rombongan wanita yang terus-menerus keluar area pabrik dengan mobil-mobilnya.

Aku menantinya masuk ke dalam kemudi lebih dulu. “Aku udah hubungi Shelly, Mas. Aku juga udah ada obrolan sama ayah, katanya nanti bangunan tempat aku tinggal itu ruko. Ruko ini persis di belakang salah satu coffee shop cabang Medan. Dari situ juga dekat dengan rumah orang tua Shelly yang di Medan. Nantinya, bagian bawahnya jadi office untuk seluruh coffee shop yang ada di cabang Medan. Jadi misalnya ada perekrutan pun ya calon karyawan datangnya ke office itu. Masalah hunianku nanti, dapat perumahan di daerah sini misalnya aku bisa menyanggupi persyaratan di awal,” terangku lugas.

Masalahnya, cabang yang ada di kota Medan itu ada lima cabang. Satu kota lima cabang, bayangkan saja.

Mas Barraq manggut-manggut. "Kamu tau? Aku bakal dilempar ke Singapore.” Wajahnya terlihat tidak suka dengan kebenaran yang ia katakan itu.

"Aku bahkan belum dapatin kamu, Dea,” lanjutnya dengan menyentuh punggung tanganku.

Mobil sangat pelan melaju, karena di depan mobil kami banyak mobil yang baru keluar dari pabrik kopi ini juga. Yang tadi aku katakan, rombongan para perempuan.

"Aku istri orang, Mas," akuku dengan tawa ringan.

“Kek yang ayah bilang, urus perceraian kamu,” timpalnya enteng.

Lalu aku akan mengawali hubungan lagi begitu? Ya ampun, itu pasti perlu usaha yang lebih ekstra. Sudah mana mengurus perceraian itu memakan waktu dan biaya. Aku tak punya tenaga untuk mengurus itu semua.

"Aku nggak peduli dengan status aku, Mas.” Aku memalingkan pandanganku memperhatikan perkebunan kopi yang sangat luas ini.

"Kalau Mas yang bilang begitu, kira-kira kamu panik nggak?” Ia menarik tanganku dan ia tempatkan di atas pahanya.

Aku menoleh dan menggeser posisiku agar lebih dekat dengannya karena tanganku tertarik cukup jauh. Aku memperhatikannya yang masih fokus mengemudi itu.

“Coba kamu bayangkan adanya hubungan kita di atas status kamu yang nggak jelas itu. Terus Mas ngajakin nikah, apa nggak semakin repot kamu ngurusnya nanti?" timpalnya kembali tanpa aku sahuti.

Memang siapa yang ingin menikah kembali?

"Mas berdiam diri tanpa usaha dekati kamu lebih, karena sadar dapatin kamu itu mudah aja. Masalahnya, nanti Mas nggak bisa lepasin kamu kalau sampai Mas bener-bener pengen sama kamu. Akhirnya Mas yang bingung sendiri, karena pengen memperistri kamu tapi terhalang status kamu yang belum berpisah.”

Kata-katanya berputar di kepalaku.

Sejak ia meminta kepastian, hingga sampai saat ini, pantas saja ia tidak ada pergerakan. Ternyata ia memikirkan semua resikonya. Ternyata aku masih menjadi keinginannya. Ternyata lagi, aku juga sumber masalah untuknya.

Jika ia tidak memiliki rasa denganku, mana mungkin ia harus memikirkan langkah selanjutnya untuk tujuannya. Aku khawatir ia berhenti di masa ini saja, karena tidak bisa mengalihkan ketertarikannya padaku.

Hei, bukan aku kepedean. Aku hanya mengkhawatirkan hal itu.

Ia salah jika menaruh rasa pada perempuan yang ia sebut badai ini.

1
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
Christine
pasti berasa banget ya de uhhhh Lala...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!