NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rapat di balai desa

Bab 22

Kabar itu tidak diumumkan.

Tidak perlu.

Di Karang Wilis, kabar berjalan dengan caranya sendiri — dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut. Sebelum matahari benar-benar naik, setengah desa sudah mengetahui bahwa semalam telah terjadi sesuatu, Di perbatasan.

beritanya bermacam-macam.

Ada yang mengatakan dua orang dari desa sebelah masuk dengan parang. Ada yang menyebut lima orang. Ada yang bilang seorang prajurit terluka parah.

Tetapi begitulah kabar. Ia tumbuh dalam perjalanan.

Nayla menyadarinya pertama kali ketika berkeliling pagi.

Rumah pertama — Ibu Ratmi, hipertensi, kontrol rutin. Biasanya perempuan tujuh puluh tahun itu sudah duduk di teras menunggu dengan senyum dan pertanyaan tentang cuaca. Pagi ini, pintunya tertutup. Nayla mengetuk dua kali.

Hening.

Lalu suara langkah perlahan. Pintu terbuka setengah.

"Dok." Wajah Ibu Ratmi tidak seperti biasanya — matanya gelisah, tangannya menggenggam kusen pintu. "Masuk, masuk cepat."

Nayla masuk. Pintu langsung ditutup di belakangnya.

"Ada apa, Bu?" tanya Nayla perlahan.

"anu dok" Ibu Ratmi duduk di kursi kayunya, tangannya tidak berhenti bergerak di pangkuan. "Semalam saya mendengar ada suara. Dari arah bambu. Ucapnya

"Ibu mendengar suara apa?"

"Tidak jelas. Tetapi seperti keributan." Matanya menemukan wajah Nayla. "Benarkah ada yang terjadi semalam?"

Nayla menarik napas perlahan. Kata-kata Raditya kemarin malam terngiang — satu informasi keliru di desa ini lebih berbahaya dari tiga orang di batas bambu.

"Ada insiden kecil di pos perbatasan, Bu," jawab Nayla hati-hati. "Sudah ditangani. Jumlah penjaga sudah ditambah."

"Kecil?" Ibu Ratmi menatapnya. Tatapan orang tua yang sudah terlalu lama hidup untuk percaya pada kata 'kecil.'

"Sudah ditangani, Bu," ulang Nayla. Kali ini lebih tegas, tetapi tetap rendah. "Sekarang izinkan saya memeriksa tekanan darah Ibu terlebih dahulu. Boleh?"

Ibu Ratmi diam sejenak. Lalu mengangguk, mengulurkan lengannya.

Tensimeter berbunyi. Nayla membaca angkanya.

160/95.

Lebih tinggi dari minggu lalu.

Rumah kedua, ketiga, keempat — polanya sama.

Pintu yang biasanya terbuka kini setengah tertutup. Warga yang biasanya duduk di luar kini berada di dalam. Anak-anak yang kemarin masih berlarian di halaman sekarang tidak terlihat — hanya terdengar suaranya mereka dari balik jendela, bertanya sesuatu pada ibu mereka yang menjawab dengan nada yang berusaha terdengar biasa.

Di depan rumah Pak Hendra. Terlihat seorang laki-laki paruh baya berdiri dengan cangkul di tangan. Ia tidak pergi ke kebun. Hanya berdiri, menatap ke arah ujung jalan yang menuju batas bambu.

Nayla berhenti. "Selamat pagi, Pak."

Ia menoleh. "Pagi, Dok." Lalu matanya kembali ke ujung jalan.

"Mau ke kebun ya pak?"

"iya dok tapi Belum pasti." Suaranya rendah — bukan rendah seperti Raditya yang terukur, melainkan rendah milik orang yang sedang mempertimbangkan sesuatu dan belum mendapat jawabannya.

" karena Kebunnya di dekat bambu itu, Dok. Dekat perbatasan."

Nayla tidak langsung menjawab.

"kalau hari ini aman, saya akan pergi. Tetapi kalau saya tidak pergi" Ia mengangkat bahu. "Tidak ada yang panen. Tidak ada yang makan."

Nayla kembali ke pos komando dengan langkah lebih cepat dari biasanya.

Ia menemukan Raditya yang sedang berbicara dengan dua prajurit. Lalu terlihat Raditya menoleh saat mendengar langkahnya.

"izin pak" ucap salah satu dari dua perajurit itu.

Raditya mengangguk, lalu terlihat dua perajurit itu pergi.

"Pak, Warga mulai cemas. Dan tadi saya bertemu Ada petani yang hendak ke kebunnya sendiri tapi enggak berani karena Kebunnya dekat batas bambu. Jika ini terus berlanjut—"

"Saya paham dok." Suaranya tidak memotong kasar — hanya singkat, terlihat Raditya menghela nafas berat

Nayla terdiam sejenak. "Bapak sudah mengetahuinya?"

"Dimas melapor pagi ini." Raditya melipat peta kecilnya. Ia menatap Nayla. "Sore ini ada pertemuan dengan kepala desa dan tokoh masyarakat. Saya meminta Dokter untuk hadir."

Nayla mengernyit. "Hadir?"

"iya kita semua harus hadir." setelah mengatakan itu Raditya berbalik

Nayla memandangi punggungnya.

"Pukul empat," ucap Raditya tanpa menoleh.

Pertemuan diadakan di balai desa — ruangannya tidak terlalu besar, dan dengan kursi plastik yang berderit setiap kali seseorang bergerak.

Kepala desa, Pak Suwarno — laki-laki enam puluhan dengan rambut putih tetapi suaranya masih terdengar tegas ia duduk di ujung meja. Di kiri dan kanannya, empat tokoh masyarakat. Di sisi lain meja, Raditya dan Dimas. Nayla duduk satu kursi di samping Raditya.

Kursi plastiknya berderit saat ia duduk.

Pak Suwarno membuka pertemuan.

"Warga sudah mendengar kabar tentang semalam letnan," ucapnya. "Saya tidak dapat lagi menyembunyikan hal ini. Tetapi saya juga tidak ingin mereka takut lebih dari yang perlu."

Raditya mengangguk. "Insiden semalam adalah bentrokan kecil di batas perbatasan. Tidak ada warga sipil yang terlibat. Hanya Satu prajurit kami yang mengalami luka ringan dan sudah ditangani.

"Tetapi tetap saja letnan, walaupun tidak ada warga yang terlibat mereka tetap khawatir sekarang"

Terlihat Raditya menghela nafas" bapak tenang aja Kami telah meningkatkan penjagaan di semua pos. Situasinya terkendali."

Salah satu tokoh masyarakat di samping pak Suwarno angkat bicara. "Terkendali macam apa, Letnan? Bagaimana dengan insiden Beberapa waktu lalu, tetangga saya kehilangan kambing di dekat batas."

Dimas terlihat hendak membuka mulut — tetapi Raditya mendahuluinya.

"saya paham, Pak betul Saya tidak dapat menjanjikan kapan ini benar benar selesai. Tetapi saya dapat menjanjikan bahwa selama kami di sini, tidak ada warga yang menghadapi ini sendirian."

Ruangan hening sejenak.

Pak Suwarno terlihat mengangguk perlahan. Lalu matanya beralih ke Nayla.

"Dokter," ucapnya.

terlihat Nayla menegakkan punggung nya

"saya pak"

"Bagaimana kondisi kesehatan warga sejauh ini?"

"Beberapa warga mengalami peningkatan tekanan darah sejak pagi — kemungkinan karena stres dan kurang tidur.

lalu terlihat ia menatap sekeliling

"Untuk warga dengan riwayat hipertensi, saya menyarankan tetap minum obat rutin dan tidak memendam perasaan sendirian".

" dan kalau boleh saya juga menyarankan untuk Petani yang kebunnya di dekat batas bambu," lanjut Nayla terlihat ia melirik raditya sesaat,

"saya memahami kalian harus tetap bekerja. Tetapi jika memungkinkan, janganla kalian pergi sendirian untuk sementara waktu. Berangkatlah berdua atau bertiga."

Pak Suwarno mengangguk.

pertemuan berlangsung selama dua jam.

dan selesai ketika langit di luar sudah berubah jingga.

Terlihat Orang-orang beranjak perlahan. Ada yang berjabat tangan dengan Raditya singkat, ada juga yang menghampiri Nayla dengan pertanyaan kecil tentang obat atau keluhan yang sudah lama disimpan.

Nayla melayani satu per satu sampai ruangan hampir kosong.

Ketika ia akhirnya berdiri dan menggantung tas di bahu, Raditya masih berada di dekat pintu. Berbicara dengan Pak Suwarno.

lalu terlihat Pak Suwarno mengangguk lalu pergi.

Raditya berbalik. Melihat Nayla sebentar lalu ia berjalan ke arahnya.

"Ayok"

Nayla mengangguk.

Mereka berjalan keluar bersama — tidak berdampingan persis, tetapi cukup dekat untuk berbicara tanpa harus mengeraskan suara.

Di luar, angin sore menerpa. Membawa aroma tanah dan asap kayu dari dapur rumah-rumah yang mulai menyiapkan makan malam.

Di kejauhan, terlihat Iva berlari keluar dari rumahnya — melihat Nayla, melambaikan tangan dengan semangat yang tidak peduli pada apapun yang baru terjadi hari ini.

Nayla melambaikan balik.

Di sampingnya, Raditya menatap ke depan.

Tetapi kali ini, ia tidak mempercepat langkah untuk pergi.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!