Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intervensi Tak Terlihat dari Sang penguasa
Kekalahan di restoran Le Petit Verdot meninggalkan luka yang bernanah di dalam dada Lisa.
Dicopot dari jabatan Direktur Pemasaran secara sepihak oleh Rendy bukan sekadar kehilangan pekerjaan bagi Lisa; itu adalah pengusiran dari lingkaran kekuasaan yang telah ia rebut dengan mengorbankan moralitas dan darah Alana. Baginya, "Elena Van Doren" adalah ancaman eksistensial yang nyata. Wanita Eropa itu terlalu sempurna, terlalu kaya, dan yang paling menakutkan, ia memiliki kendali mutlak atas masa depan finansial Rendy.
Di dalam apartemen pribadinya yang berlokasi di kawasan SCBD, Lisa berjalan mondar-mandir seperti singa yang terkurung. Lantai parketnya yang mahal berbunyi ketukan berulang kali akibat sepatu hak tingginya. Di tangannya, sebatang rokok yang menyala dibiarkan begitu saja hingga abunya jatuh mengotori karpet.
"Tidak mungkin ada wanita sekaya itu yang tiba-tiba datang dan tertarik pada proyek Rendy tanpa alasan," gumam Lisa, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Pewaris Van Doren Group? Mengapa dia memilih Indonesia? Mengapa dia memilih Adiguna City yang sedang sekarat? Ada yang tidak beres di sini."
Lisa meraih ponselnya, mencari sebuah nomor kontak yang telah lama tidak ia hubungi. Nomor milik Gunawan, seorang mantan detektif swasta yang terkenal piawai dalam melakukan investigasi latar belakang, pelacakan aset, dan spionase industri untuk kalangan elit Jakarta.
"Gunawan," ucap Lisa begitu panggilan tersambung, suaranya bergetar oleh kombinasi antara amarah dan obsesi. "Aku butuh bantuanmu. Ada seorang wanita asing bernama Elena Van Doren. Dia mengaku sebagai pewaris tunggal Van Doren Group dari Eropa. Aku ingin kau melacak setiap jengkal latar belakangnya. Cari tahu di mana dia bersekolah, siapa orang tuanya, riwayat perbankannya di Swiss atau di mana pun, dan yang paling penting ... cari tahu apakah ada celah atau kepalsuan dalam identitasnya."
"Ini akan memakan biaya besar, Nona Lisa. Melacak nama sebesar Van Doren di Eropa membutuhkan jaringan intelijen internasional," sahut suara berat Gunawan di seberang telepon.
"Aku tidak peduli berapa biayanya! Aku akan mentransfer uang mukanya sekarang juga. Temukan sesuatu yang bisa kugunakan untuk menghancurkannya di depan Rendy!" bentak Lisa sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.
Lisa tersenyum licik, membayangkan bagaimana ia akan membalas dendam. Jika ia bisa membuktikan bahwa Elena Van Doren adalah seorang penipu yang mencoba memeras Adiguna Group, Rendy akan berlutut memohon ampun kepadanya, dan wanita jalang berbaju putih gading itu akan membusuk di penjara imigrasi.
Namun, Lisa tidak pernah menyadari bahwa di dunia tempat ia mencoba bermain catur, ia hanyalah sebutir debu di atas papan yang dikendalikan oleh seorang penguasa sejati.
Hanya dalam hitungan menit setelah Lisa mentransfer uang muka ke rekening Gunawan, sebuah alarm digital berbunyi di ruang monitor rahasia milik Arka di Pacific Place. Sistem keamanan siber terintegrasi yang dibangun oleh Arka telah diprogram secara khusus untuk mengawasi setiap aktivitas perbankan, komunikasi, dan pergerakan digital orang-orang di sekitar Rendy dan Lisa.
Budi melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa, membawa sebuah laporan terenkripsi di dalam tabletnya. Ia mendekati Arka yang sedang duduk di kursi kerjanya, menatap dinding layar besar yang menampilkan pergerakan data bursa saham dunia.
"Tuan Arka," beralih Budi, suaranya rendah namun sarat akan urgensi. "Lisa baru saja menyewa Gunawan, seorang penyelidik swasta independen. Target investigasinya adalah Madam Elena Van Doren. Gunawan baru saja menghubungi kontaknya di sebuah firma hukum di Amsterdam untuk memverifikasi akta kelahiran dan silsilah keluarga Van Doren."
Arka tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia perlahan meletakkan pulpen montblanc miliknya ke atas meja marmer. Matanya yang hitam legam memancarkan kilatan dingin yang mematikan.
"Lisa mulai menggunakan cakar kecilnya," ucap Arka datar, suaranya begitu tenang namun memiliki bobot intimidasi yang luar biasa. "Dia pikir dia cukup pintar untuk menggali kuburan yang kami desain."
"Apakah kita perlu menghentikan Gunawan secara fisik, Tuan?" tanya Budi, siap menggerakkan tim keamanan lapangan mereka.
Arka menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak perlu kekerasan fisik untuk menghancurkan seekor semut, Budi. Gunawan bergerak berdasarkan data digital. Jika dia mencari data Elena Van Doren di Eropa, berikan dia data yang paling valid yang pernah ada di dunia ini."
Arka menegakkan punggungnya, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik komputer khususnya yang memiliki akses langsung ke pelayan data bayangan di seluruh dunia. "Hubungi peretas kita di Singapura dan Belanda. Masuk ke dalam pusat data sipil di Amsterdam, perbarui arsip digital Van Doren Group dari tahun 1990 hingga sekarang. Masukkan nama Elena Van Doren sebagai putri mahkota yang sah, lengkapi dengan foto masa kecil yang sudah direkonstruksi secara digital dengan AI, riwayat medis di rumah sakit Zurich, dan catatan akademis di Universitas Oxford."
Arka menarik napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya kembali. "Gunakan kekuatan finansial kita untuk menyuap kepala arsip di sana jika diperlukan. Dalam waktu tiga jam, jika ada orang yang mencari nama Elena Van Doren, bahkan interpol sekalipun akan menyatakan bahwa dia adalah wanita paling nyata dan paling kaya di Eropa."
"Baik, Tuan. Dan bagaimana dengan Gunawan sendiri?" tanya Budi lagi.
"Kirimkan peringatan halus kepadanya," perintah Arka, matanya menyipit kejam.
"Bekukan seluruh rekening bank milik firma penyelidiknya selama dua puluh empat jam ke depan dengan alasan pemeriksaan pencucian uang oleh otoritas pusat. Biarkan dia tahu bahwa dia sedang menyentuh wilayah kekuasaan dewa yang bisa melenyapkan kariernya dalam semalam."
Tiga jam kemudian, di sebuah kantor kecil yang remang-remang di kawasan pasar minggu, Gunawan duduk di depan tiga layar komputernya dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
Setiap kali ia mencoba mengakses data atau memasukkan draf laporan mengenai Elena Van Doren, layarnya mendadak berkedip merah dan menampilkan pesan kesalahan sistem yang aneh. Lebih menakutkan lagi, lima menit yang lalu, ia menerima notifikasi dari pihak bank bahwa seluruh rekening operasional firmanya telah diblokir secara sepihak oleh otoritas keuangan pusat tanpa alasan yang jelas.
Ponsel Gunawan berdering. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Dengan tangan bergetar, ia mengangkatnya.
"Halo?" ucap Gunawan, suaranya tercekat.
"Tuan Gunawan," sebuah suara pria yang terdengar berat dan distorsi secara digital berbicara dari seberang sana. "Uang muka sebesar lima ratus juta dari Lisa tidak akan cukup untuk membiayai pemakaman karier Anda, atau bahkan pemakaman diri Anda sendiri. Berhentilah menggali tanah yang di atasnya berdiri sebuah gunung raksasa. Jika dalam sepuluh menit Anda tidak menghapus seluruh berkas tentang Elena Van Doren dan mengembalikan uang Lisa, rekening Anda tidak akan pernah dibuka lagi ... selamanya."
Klik. Panggilan terputus.
Gunawan terpaku, napasnya memburu. Sebagai mantan detektif, ia tahu betul apa artinya ini. Ia sedang berhadapan dengan kekuatan bayangan yang levelnya berada jauh di atas hukum pidana biasa,seorang penguasa finansial yang mampu mengendalikan sistem perbankan dan komunikasi dalam sekejap. Tanpa berpikir panjang, Gunawan langsung menghapus seluruh data Elena di komputernya, mematikan pelayan datanya, dan mengirimkan pesan singkat kepada Lisa bahwa ia membatalkan kontrak kerja sama mereka karena alasan keselamatan.
*****
Malam itu, Elena berdiri di balkon rumah mewahnya, menikmati angin malam yang berembus dari arah laut. Ia baru saja menerima laporan dari Budi mengenai kepanikan Lisa dan bagaimana Arka menyapu bersih ancaman tersebut dari balik layar tanpa ia ketahui sebelumnya.
Pintu kaca balkon bergeser terbuka. Arka melangkah keluar, membawa dua gelas teh kamomil yang hangat. Ia menyerahkan satu gelas kepada Elena, lalu berdiri di samping wanita itu, ikut menatap cakrawala kota yang dipenuhi kerlip lampu.
"Kau melakukan intervensi lagi hari ini, Arka," ucap Elena tanpa menoleh, suaranya terdengar lembut namun sarat akan rasa terima kasih yang mendalam. "Kau melindungiku dari penyelidikan Lisa."
Arka menyesap tehnya perlahan, ekspresi wajahnya tetap sedatar batu marmer di bawah sinar bulan. "Aku tidak melindungimu karena kau lemah, Elena. Aku melindungimu karena aku tidak suka ada pion pengacau seperti Lisa yang merusak keindahan dari permainan catur yang sedang kita mainkan."
Elena menoleh, menatap garis wajah Arka yang tegas dari samping. "Aku merasa bersalah. Ini adalah dendam pribadiku, ini adalah perangku melawan Rendy dan Lisa. Tapi kau ... kau mempertaruhkan jaringan intelijen internasional dan sumber daya finansialmu yang berharga hanya untuk memuluskan jalanku."
Arka membalikkan badannya, menatap langsung ke dalam sepasang mata es milik Elena. Ada intensitas yang begitu kuat dalam tatapan pria itu, sesuatu yang membuat jantung Elena berdegup dengan ritme yang berbeda dari biasanya.
"Uang dan jaringan intelijen tidak ada artinya bagiku jika tidak digunakan untuk menghancurkan orang-orang angkuh seperti Rendy, Elena," ucap Arka, suara baritonnya terdengar begitu kokoh di dalam keheningan malam. "Aku menginvestasikan segalanya padamu karena aku ingin melihat keadilan ditegakkan dengan cara yang paling absolut. Rendy membangun kerajaannya di atas keringatmu, lalu mencoba membuangmu seperti sampah setelah dia merasa cukup kuat. Itu adalah penghinaan terhadap kerja keras dan ketulusan."
Arka melangkah satu jengkal lebih dekat, membuat Elena bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu di tengah dinginnya angin malam. "Jangan pernah berpikir bahwa kau berjalan sendirian di medan perang ini, Elena. Di depan publik, kau adalah Elena Van Doren yang dingin dan tak punya belas kasihan. Tapi di belakangmu, ada aku, Arka, yang akan memastikan tidak ada satu pun peluru yang bisa menyentuh punggungmu."
Elena terpaku. Kata-kata Arka mengalir masuk ke dalam hatinya yang selama sebulan ini telah membeku menjadi es kebencian.
Untuk pertama kalinya sejak malam ia didorong ke dalam sungai, Elena merasakan ada sebuah dinding pertahanan yang begitu kokoh berdiri menjaganya. Ia menyadari bahwa di balik topeng penguasa bursa saham yang kejam dan bergerak di bawah radar, Arka memiliki jiwa pelindung yang sangat tulus untuknya.
Elena menarik sudut lips-nya, sebuah senyuman tulus yang sangat langka muncul di wajah barunya. "Terima kasih, Arka. Jika begitu ... mari kita percepat kehancuran mereka. Tim auditmu sudah menyelesaikan tugasnya, bukan?"
Arka mengangguk kecil, kepuasan tersirat jelas dari sorot matanya yang tajam. "Ya. Data keuangan mereka sudah berada di tangan kita secara utuh. Besok pagi, kita akan memberikan pukulan kedua yang akan membuat Rendy Pratama merangkak di bawah kakimu demi mendapatkan tanda tangan kontrak utama."