NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kecapean

Disebuah ruangan serba merah muda, nampaklah seorang laki-laki paruh baya tengah memeriksa kondisi seorang gadis yang terlihat sangat pucat pasi. Bahkan jantungnya terdengar lebih kencang dari debaran jantungnya orang yang normal.

"Gimana dok?" Tanya pemuda yang dari tadi membersamai mereka.

"Dia hanya kecapean, jangan banyak pikiran dan istirahat yang cukup ya, dek manis!" Laki-laki paruh baya yang disebut dokter itu mengusap kepala sang gadis dengan tersenyum lembut.

"Kalo sudah beres anda boleh melanjutkan aktivitas anda lagi, dokter Mehra, terimakasih atas pengobatannya" Ujar pemuda itu dengan nada tidak suka. Jelas sekali ucapan itu seakan mengusir sang dokter. Meskipun kedengarannya tidak sopan, tapi dokter Mehra memahaminya.

"Baiklah, saya pamit undur diri. Jangan lupa diminum ya obatnya! Semoga lekas sembuh!" Dokter Mehra melambaikan tangannya ceria pada gadis yang terbaring lemah itu. Lantas sang gadis pun membalasnya dengan senyuman andalannya saja. Manis.

"Jangan lama-lama senyumnya!" Kejut pemuda yang tiba-tiba duduk disampingnya.

"Napa? Iri karena aku bisa lebih sering tersenyum dari pada kak Zevan, balem mulu rapet tu lama-lama bibir"

"Pujian atau hinaan?" Tanyanya dengan dingin.

"Terserah kak Zevan nganggepnya apa!" Gadis itu memalingkan wajahnya kesal. Dia merasa malu bukan kepalang atas kejadian tadi. Kalo saja ia tau bahwa sebenarnya Zevan hendak menelepon, ia tidak akan bertingkah aneh seperti itu. Mana Zevan malah kepo terus nanyain kenapa. Kan jadi repot Lily palsu harus jawabinya gimana.

"Okey. Makasih atas pujianya" Tiba-tiba saja ia tersenyum lebar sembari menatap sang gadis.

Dirasa heran, gadis itu mengerjap beberapa kali menatap sang empu penuh tanya. 'Ganteng si, tapi nakutin!' Batinya ngeri.

"Okey! Kalo lo lagi ada masalah, jangan ragu untuk ngasih tau gue, ya"

"Sebenarnya lagi ada, sih..." Lily memainkan selimut yang sedang dipakainya.

"katakan" Zevan menatapnya serius.

"Tapi... Kak Zevan janji dulu ya, gak akan marahin aku!" Ia memicingkan matanya menatap Zevan.

Zevan mengangkat alisnya heran. "Oke?"

"Sebenarnya...."

Ting tong!

Suara bel rumah berbunyi.

"Mbok!" Panggil Zevan seraya keluar dari kamarnya Lily.

Ting tong!

Bel rumahnya terus saja berbunyi. Dikira mbok hanurnya sedang tidak ada dirumah, Zevan pun lantas inisiatif sendiri untuk melihat siapa yang bertamu.

Kriiet

Zevan mulai membuka pintunya. Lalu nampaklah seseorang dengan wajah tertutup masker dan topi hitam. Ia juga memakai kacamata hitam.

"Hai" Ucapnya lalu melepaskan kacamatanya.

"Kenapa kau kemari?!" Langsung saja Zevan menyeretnya keluar dari rumah itu.

•••••

"Austin, apa pelakunya sudah ditemukan?" Tanya seorang gadis yang tengah duduk manis disofa depan rumah mereka.

Sang empu yang ditanya pun menjawab.

"Belum kak, tapi Austin mencurigai seseorang!" Ia menekan-nekan tombol layar monitor didepanya.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya gadis itu heran.

"Ya mencari informasi lebih detail" Jawabnya santai.

"Informasi apa lagi?" Gadis itu pun menghampirinya dan duduk disampingnya melihat kegiatan sang adik.

"Seseorang" Ia mengetik sesuatu dengan cepat.

"Ya! Ini dia! Ternyata dugaanku benar" Austin menatap layar itu dengan serius.

"Siapa gadis itu?"

"Dia Lily, adik kelas ku yang ternyata dituduh telah melakukan scandal di sekolahku"

"Adik kelas? Bukankah dia..."

"Kita tidak boleh membiarkan siapapun menyentuhnya"_ Austin.

"Kau benar, dia pasti target yang empuk untuk mereka! Tapi, kenapa kita harus melakukannya padanya?"

"Dia memang terget yang sempurna" _ Austin.

"Bukankah dia bukan anak kandung Laura dan suaminya?" Sang gadis merasa bersalah atas rencananya.

"Itu bukan urusanku sih" Austin pun menutup laptopnya dan pergi meninggalkan kakaknya itu.

Flashback Austin off

Austin mengusap wajahnya kasar. Ia tiba-tiba teringat akan hal yang telah ia lakukan. Sebenarnya dialah yang membantu Zevan dalam mencari tau siapa dibalik tuduhan scandal disekolahnya. Ia menyembunyikan identitasnya ketika membantunya. Namun ia merasa ada yang salah dengan hatinya. Kenapa ia malah jadi ingin terus melakukannya?

"Kenapa dia berbeda dari dirinya yang dulu?" Heranya sembari menatap keluar jendela.

"Oh iya! Aku belum menghubunginya!" Ia pun mengambil ponselnya dan hendak menelpon sang gadis.

Di sebrang sana...

Drrttt!!

Drttt!!

Seorang gadis nampak celingukan saat mendengar suara panggilan telepon. Ia pun mencarinya.

"Eh?! Kak Austin!" Teriaknya kaget setelah menemukan ponselnya dibawah bantalnya sendiri, lalu ia pun mengangkatnya.

"Haloo kak" Sambutnya dengan biasa.

"Hai sayang!"

Sang gadis menutup mulutnya sat set sat set. Ia rasanya geli sendiri saat dipanggil seperti itu. Apa-apaan itu sayang!

"Eh kak... Kak Austin apa kabar? Aku gak liat kak Austin disekolah?" Basa-basinya mencoba menenangkan jantungnya.

Terdengar suara helaan nafas dari sebrang telepon sana. "Maaf ya sayang, besok aku sekolah kok! Kangen ya?" Rayunya pada sang gadis.

"Iih apaan sih, orang aku cuman nanya juga" 

"Kamu lagi apa?"

Pertanyaan basi yang selalu orang tanyakan.

"Um lagi telephonan sama kak Austin kan?"

"Hahahaha kamu lucu banget!"

"Kak Zevan?!"

Gadis itu langsung menutup ponselnya ketika Zevan datang. Wajahnya langsung menunduk takut.

"Lo lagi ngobrol sama siapa? Kayaknya gue rabun karena gak ngeliat siapapun disini. Bener kan, lily?" Ucapnya dengan nada menusuk. Ia pun perlahan mendekati Lily.

"Gak kok! Aku... Ngobrol sama... Peri!" Bohongnya. Pasalnya ia takut jika Zevan tau akhir dari hidupnya ini akan berakhir saat ini juga.

"Peri? Lo bercanda? Gak ada peri didunia ini!" Bentaknya sembari tiba-tiba melemparkan piring yang berada diatas laci samping tempat tidur Lily.

"Maaf kak!" Lily terus menerus menundukan kepalanya takut. Matanya bergetar dan jantungnya menjadi tak karuan. Sepertinya penyakit tempramen kakaknya ini mulai kambuh.

Lalu, tangan kekar itu menjambak rambut Lily kasar.

"Ah sakit kak!" Ringisnya ketika merasakan rambut dikepalanya dijambak begitu saja.

"Liat gue! Jangan lo pikir, dengan kondisi sakit lo ini bisa ngambil hati papa!" Bentaknya dengan sorot mata yang tajam penuh dendam. Sebelumnya Lily belum pernah melihat sorot mata yang seperti ini. Siapa tadi yang bertamu hingga Zevan tega berlaku kekerasan kepadanya.

"Maaf kak..." Hanya itu yang bisa Lily katakan. Jujur, baru kali ini ia mendapat perlakuan kasar dari seorang laki-laki. Ternyata itu sangat menakutkan.

"Maaf katamu!" Ia mendorong kepala Lily yang tengah dijambaknya hingga membentur sisi kayu tempat tidurnya.

Duk!

Suara benturan kepala Lily. Ia memejamkan matanya ketika merasakan pusing dan perih menyatu dikepalanya. Lalu terasa cairan merah mengalir dari keningnya. Ia menyentuhnya perlahan lalu melihatnya.

"Merah?" Heranya seraya menatap noda merah ditanganya. Ia menoleh pada Zevan yang telah melenggang pergi meninggalkan sendirian.

"Sakit banget" Ucapnya lalu membaringkan tubuhnya lemas. Apa salahnya hingga tiba-tiba Zevan sepertu itu? Terlalu banyak misteri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang aneh itu. Dan Lily sudah menyerah lebih dulu untuk saat ini.

"Lagi-lagi dia bersikap kasar"

"Ngomong-ngomong, kenapa dia sensitif sekali jika aku dekat dengan laki-laki?"

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!