Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Kenapa tidak?" tanya Katie penasaran.
"Karena Cindy itu tipe yang mau tidur dengan siapa saja yang bisa memberinya kesenangan sesaat. Dan di zaman modern seperti sekarang, pergaulan bebas itu sangat berbahaya."
Katie meringis kecil. "Benar-benar gambaran menyedihkan tentang manusia, ya? Ketakutan ternyata bisa melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan oleh etika."
Mark Barrington hanya mengangkat bahu. "Protes saja pada hukum alam, jangan padaku. Yang jelas, aku tidak tidak pernah main-main dengan Cindy."
Mengetahui hal itu membuat perasaan Katie jauh lebih baik. Menghadiri pesta ini sudah cukup menegangkan, ia tidak butuh beban pikiran tambahan harus berurusan dengan mantan kekasih Mark.
"Mark! Akhirnya kamu bisa datang juga!" Saat mereka memasuki rumah, sang tuan rumah langsung menyambut Mark dengan pelukan yang menurut Katie jauh lebih antusias daripada yang seharusnya.
"Cookie," Mark dengan cekatan melepaskan diri dari pelukan itu. "Kamu masih ingat Katie Wilson, kan?"
"Aku rasa ti—" Cookie menatap Katie lekat-lekat. Katie menonton dengan rasa puas—meskipun batinnya mengingatkan bahwa pemikirannya ini kekanak-kanakan—saat mulut Cookie membulat membentuk huruf 'O' karena terkejut ketika akhirnya wanita itu mengenali siapa yang ada di depannya. "Tapi bukankah dulu kamu gemuk sekali?"
"Dan kamu dulu kurus sekali," ceplos Katie. Katie tidak sadar ia mengucapkannya dengan suara lantang sampai Mark tersedak napasnya sendiri.
Cookie tampak terkejut, dan Katie hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Malam ini pasti akan jadi bencana. Aku bahkan belum berada di sini selama lima menit dan sudah berani menghina tuan rumahnya.
Namun di luar dugaan, Cookie tidak bereaksi seperti yang Katie bayangkan.
"Maafkan aku, Katie. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku tidak bermaksud jahat. Yah, setidaknya tidak sejahat itu," ujar Cookie santai.
"Tidak apa-apa," jawab Katie, merasa lega karena bisa berdamai dengan situasi ini.
"Nanti, kalau suasana pestanya sudah agak tenang, kamu harus cerita padaku apa saja yang kamu lakukan selama bertahun-tahun ini."
"Tentu, aku mau sekali," bohong Katie, lalu segera mencari celah untuk melarikan diri saat pasangan tamu lain mulai mendekati mereka.
Katie tanpa sadar merapat lebih dekat ke sisi Mark saat kebisingan pesta mulai memenuhi pendengarannya...
Begitu mereka berada di dalam, kebisingan pesta langsung menerpa Katie. Perasaan tidak percaya diri yang sudah lama ia kenal kembali membekukan pikirannya. Senyum yang ia paksakan terasa kaku, dan perutnya mulai terasa mulas karena gugup.
"Dari ekspresimu, kamu terlihat seperti orang yang sedang menunggu pembunuh berantai menerkammu," bisik Mark Barrington. "Kelompok ini pada dasarnya tidak berbahaya. Ayo, kita mulai berlatih bersosialisasi".
Katie pun mengekor di belakang Mark saat pria itu perlahan membelah kerumunan, berhenti di sepanjang jalan untuk mengenalkannya kepada banyak orang. Di setiap perkenalan, Katie memaksakan senyum, mencoba mengingat siapa saja mereka, tetapi ia gagal karena terlalu banyak orang di sana.
"Mark Barrington, pas sekali kamu di sini. Aku butuh sesuatu," ujar sebuah suara wanita yang serak.
Katie menoleh dan melihat seorang wanita berpakaian modis yang berusia sekitar tiga puluh tahun, berjinjit untuk mengecup pipi Mark.
"Hai," sapa wanita itu sambil tersenyum hangat kepada Katie. "Aku Barbara Kelvington. Apa kamu salah satu teman Mark dari New York?"
"Namanya Katie Wilson, dan dia orang lokal," sahut Mark, meninggalkan Katie yang bertanya-tanya mengapa pria itu tidak menyangkal jika mereka adalah teman—setidaknya tipe teman yang mungkin dipikirkan oleh Barbara.
"Aku baru saja kembali dari luar negeri," jelas Katie. "Sebenarnya aku lahir di kota ini, Hamilton".
Barbara meringis. "Kamu dan semua orang di sini. Kadang aku merasa seperti satu-satunya orang yang pernah pindah ke kota ini".
"Suami Barbara adalah seorang pendeta setempat," Mark memberitahu Katie.
"Dan Barbara adalah seorang seniman," timpal Barbara.
"Aku sedang berusaha, tapi di dunia seni, kamu harus mati dulu baru bisa terkenal," keluh Barbara.
Katie terkekeh. "Kamu bisa mencoba memotong telingamu sendiri".
Barbara menggelengkan kepala dengan sedih. "Jemaat suamiku tidak akan menyukainya. Mereka saja belum bisa menerima lukisan-lukisan telanjang karyaku".
"Memangnya apa yang kamu inginkan, Barbara?" tanya Mark Barrington.
"Dan Zeving baru saja kehilangan pekerjaannya, dan istrinya sedang panik luar biasa. Aku berharap kamu bisa memberinya pekerjaan."
Mark langsung menolak dengan tegas. Penolakan itu bahkan mengejutkan Katie, meskipun Barbara tidak terlihat terlalu kaget. Barbara menghela napas. "Yah, kalau kamu berubah pikiran..."
"Aku tidak akan berubah pikiran."
"Senang bertemu denganmu, Katie," ucap Barbara.
"Selamat tinggal." Setelah Barbara pergi, Katie langsung bertanya kepada Mark, "Kenapa kamu tidak mau memberinya pekerjaan?"
"Karena aku masih punya akal sehat."
"Beramal itu tidak ada hubungannya dengan akal sehat," desak Katie. "Ini soal kasih sayang dan..."
"Simpan saja doktrin liberalmu yang penuh belas kasihan itu."
Katie melotot kepadanya. "Simpan saja label-label praktis itu untuk dirimu sendiri! Kamu sebenarnya bisa membantu."
"Zeving itu kecanduan kokain. Dia sudah kehilangan dua pekerjaan karena mabuk di tempat kerja, dan saat ini dia sedang dalam masa jaminan karena kasus pembunuhan saat mengemudi. Dia berkendara dalam kondisi teler dan menabrak mobil yang penuh dengan remaja. Dua orang tewas," ujar Mark datar.
"Mungkin kalau dia mendapatkan perawatan..."
"Dia sudah bolak-balik masuk pusat rehabilitasi selama bertahun-tahun."
"Yah, kalau dia tidak mau menolong dirinya sendiri, memang tidak banyak yang bisa dilakukan orang lain untuknya. Tapi..." Katie mengerutkan dahi, berpikir sejenak mempertimbangkan masalah tersebut. "Bagaimana kalau kamu mencarikan pekerjaan untuk istrinya?" tanyanya kemudian.
"Apa?"
"Tadi Barbara bilang istrinya sedang khawatir, mungkin karena butuh uang untuk membayar tagihan. Kalau kamu memberinya pekerjaan, dia bisa menghidupi dirinya sendiri sampai suaminya bisa memperbaiki keadaannya."
Mark menatap mata Katie yang memohon. Ia tahu akhirnya ia akan setuju, meskipun ia sebenarnya tidak ingin berurusan dengan apa pun yang berhubungan dengan narkoba, bahkan secara tidak langsung.
"Bagaimana kalau aku memberikan cek uang saja pada Barbara untuk istrinya?" tanya Mark Barrington.
"Sama sekali tidak!" tegas Katie Wilson. "Pekerjaan berarti wanita itu bisa mengambil kendali atas hidupnya sendiri. Hidup dari belas kasihan, bahkan yang bermaksud baik sekalipun, justru akan menghancurkan harga dirinya."
Mark akhirnya menyerah. "Baiklah. Aku akan menawarkan pekerjaan padanya. Tapi apakah dia mau mengambilnya atau tidak, itu sepenuhnya terserah padanya."
"Itu lebih dari adil," ujar Katie dengan wajah berseri-seri. Mark merasakan kehangatan menyelimutinya saat menerima persetujuan wanita itu.
Ternyata Katie tidak se-idealis yang dia bayangkan sebelumnya. Katie mungkin seorang pembaru, tetapi semangat pembaharuan wanita itu sangat kuat didasarkan pada akal sehat. Mark merasakan sedikit getaran kegelisahan; dalam jangka panjang, hal itu mungkin ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang ia duga.
Bersambung ....