NovelToon NovelToon
Samudra Di Atas Langit

Samudra Di Atas Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.

Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejatuhan dari Puncak Ilusi

Papan skor digital raksasa di tengah aula menampilkan lonjakan angka yang dramatis. Dalam waktu satu jam sejak bursa dibuka, portofolio saham sektor milik kelompok Kenzo melesat ke atas, mencatatkan keuntungan sebesar enam puluh persen. Angka hijau yang menyala terang itu langsung memicu gemuruh tepuk tangan dari barisan pendukungnya.

Kenzo berdiri dari kursi komputernya, sengaja melangkah ke tengah panggung utama agar bisa dilihat seluruh penonton di aula. Ia melipat tangan di dada sembari membusungkan dada, memandang ke arah meja Gala dengan tatapan yang sangat meremehkan.

"Heh, Gala!" seru Kenzo dengan suara lantang yang menggema melalui mikrofon kerah jepitnya. Ia tertawa hambar, sengaja mempermalukan Gala di depan para pengusaha dan konglomerat yang hadir.

"Lihat papan skor itu baik-baik! Itu bedanya darah bangsawan bisnis dengan otak anak beasiswa miskin. Teori jurnal lo kemarin gak ada gunanya begitu berhadapan dengan kekuatan modal puluhan miliar milik gue! Lo mending siap-siap merangkak keluar dari gerbang kampus sekarang!"

Davin dan anggota gengnya ikut berdiri di belakang Kenzo, tertawa terbahak-bahak sembari menunjuk-nunjuk kelompok Gala.

Di barisan kursi VVIP, Tante Ratna tersenyum sangat lebar dengan wajah angkuh, melambaikan tangan bangga ke arah putranya.

"Anak kita memang luar biasa, Bram," ucap Tante Ratna dengan nada melengking, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar Mama Shinta yang duduk beberapa baris di sampingnya. "Darah daging Samudra yang asli tidak pernah berbohong. Sudah jelas siapa yang pantas menjadi Putra Mahkota dan pewaris tunggal masa depan korporasi ini."

Om Bramantyo mengangguk pongah, dengan gaya elegan yang dibuat-buat. "Tentu saja, Ratna. Ini baru hari pertama, dan Kenzo sudah menunjukkan kelasnya sebagai calon orang terkaya di negeri ini. Orang luar tidak akan pernah mengejar level kita."

Mendengar sindiran tajam itu, Mama Shinta tampak meremas gaunnya, menahan amarah yang mulai membakar dadanya. Namun, Papa Baskara yang duduk di sebelahnya tetap tenang. Papa Baskara hanya menatap lurus ke arah panggung, memberikan senyum misterius yang penuh arti.

Di samping mereka, Kakek Wijaya bertumpu pada tongkat naganya, menatap tajam ke arah layar komputer Gala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Di atas panggung, Aluna mulai panik, jemarinya bergetar di atas meja. "Gala, portofolio mereka makin gak terkejar! Selisihnya sudah sangat jauh. Kita benar-benar akan kalah di hari pertama kalau cuma diam."

Adit yang biasanya slengean kini ikut menghentikan putaran pulpennya, menatap Gala dengan cemas. "Gal, si Kenzo makin ngelunjak tuh bacotnya. Kita beneran gak mau counter sekarang?"

Gala yang sejak tadi hanya duduk bersandar santai, justru terkekeh pelan. Ia menatap Kenzo dari balik lensa kacamatanya dengan senyum manis slengean yang sangat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh ejekan massal di dalam aula.

Bagi seorang Cakrawala yang sudah terbiasa menganalisis pasar global tingkat tinggi di luar negeri, taktik Kenzo hanyalah permainan anak taman kanak-kanak.

"Santai, Lun, Dit," ucap Gala dengan nada suara yang sangat tenang dan teratur. Ia memakai kembali kacamatanya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah monitor.

"Biarkan dia menari di atas awan sebentar lagi. Menjatuhkan orang dari tempat tinggi itu efeknya jauh lebih meremukkan, kan?"

Gala mengetuk layar komputer, menunjuk sebuah grafik mini yang terus berkedip kuning di sudut sistem perdagangan bursa.

"Re, waktu kita tinggal dua menit sebelum pengumuman regulasi pembatasan ekspor nikel mentah dirilis oleh kementerian. Siapkan seluruh akun kita untuk mengambil posisi short selling (jual kosong) pada seluruh lot nikel yang dipegang Kenzo, dan alihkan semua sisa modal kita ke saham sektor teknologi energi terbarukan."

Reza yang sejak tadi menunggu komando langsung menyeringai tipis, jemarinya langsung bergerak secepat kilat di atas papan ketik. "Semua posisi siap dieksekusi dalam hitungan mundur sepuluh detik, Bos."

"Tiga... dua... satu... lepas," desis Gala dingin.

Tepat saat Reza menekan tombol enter, layar monitor raksasa di aula mendadak berkedip merah secara serentak. Sebuah berita kilat dari pusat bursa efek nasional muncul di layar utama: "Pemerintah Resmi Membatasi Ekspor Nikel Mentah Berlaku Mulai Hari Ini"

Dalam hitungan detik, grafik saham nikel milik Kenzo yang tadinya tegak lurus ke atas langsung terjun bebas, anjlok hingga batas auto rejection bawah sebesar tujuh puluh persen. Angka hijau yang membanggakan itu berubah menjadi merah pekat yang mengerikan. Seisi aula seketika senyap bak kuburan, sebelum akhirnya meledak dalam kegemparan yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!