Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
“Kamu serius hamil?”
Puspa menatap Diana dengan keterkejutan yang jelas terlihat di wajahnya.
Diana mengangguk pelan.
“Iya, Kak Puspa. Kekasih saya menjebak saya dengan mencampurkan obat perangsang di minuman saya.”
Suara Diana mulai bergetar.
Ia berhenti sejenak. Air matanya perlahan jatuh, tetapi buru-buru ia menghapusnya agar tetap terlihat tegar.
“Kekasih saya tidak ingin bertanggung jawab saat saya mengatakan kalau saya hamil. Dia mengakhiri hubungan kami dan memilih perjodohan orang tuanya.”
Diana menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
“Dia juga meminta saya untuk mengaborsi kandungan ini... tapi saya tidak menginginkannya.”
Tangannya perlahan mengusap perutnya.
“Saya sudah terlanjur berdosa karena melakukan zina. Dosa itu akan semakin besar kalau saya membunuh janin yang tidak berdosa ini.”
Rosa dan Puspa terdiam.
Keduanya terlihat tertegun.
Alih-alih marah, mereka justru merasa iba pada Diana.
Ternyata di balik senyum tulus wanita itu selama ini, tersimpan luka yang begitu besar.
“Apa kamu paham soal hubungan seksual?” tanya Puspa hati-hati.
Diana menggeleng pelan.
“Tidak, Kak. Kehamilan saya terjadi karena saya dijebak mantan kekasih saya dan sesuatu terjadi hal yang tidak saya inginkan,” jawab Diana jujur.
Ia menatap Rosa dan Puspa dengan mata berkaca-kaca.
“Saya hanya ingin memperbaiki diri dengan merawat janin yang tidak berdosa ini.”
Rosa menatap Diana dengan sorot yang lebih lembut.
“Apa orang tuamu tahu soal ini?”
Diana kembali menggeleng.
“Tidak, Bu. Mereka sudah meninggal,” jawabnya lirih.
Rosa langsung merasa tidak enak.
“Maaf, saya tidak tahu.”
Diana tersenyum tipis meski matanya masih basah.
“Tidak apa-apa, Bu. Itu wajar.”
Rosa terdiam sesaat sebelum kembali bertanya.
“Kenapa kamu menceritakan semua ini kepada saya?”
Tatapan Rosa menjadi serius.
“Kemungkinan besar saya bisa saja tidak menerima kamu bekerja di sini... atau bahkan memecat kamu.”
Diana menundukkan kepala sejenak sebelum menjawab dengan suara penuh ketulusan.
“Saya percaya rezeki yang Tuhan titipkan pada anak saya.”
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
“Saya hanya ingin jujur kepada Ibu agar ke depannya tidak ada salah paham.”
Diana menggigit bibir bawahnya, menahan air mata.
“Bukan berarti saya bangga hamil di luar nikah. Saya hanya sedang berusaha memperbaiki diri.”
Ia menarik napas panjang.
“Apapun keputusan Ibu, saya akan menerimanya. Tapi saya sangat berharap bisa tetap bekerja di sini... untuk mencari rezeki bagi anak saya.”
Ruangan kembali hening.
Rosa terdiam cukup lama.
Ia menimbang keputusan yang harus diambil.
Di satu sisi, situasi Diana sangat rumit.
Namun di sisi lain, Rosa sangat kagum pada keberanian dan kejujuran Diana. Wanita itu berani mengambil risiko besar hanya demi berkata jujur.
Akhirnya Rosa mengembuskan napas panjang.
“Diana... saya menghargai kejujuranmu.”
Diana langsung menatap Rosa dengan harapan besar.
“Kamu tetap bekerja di sini.”
Air mata Diana kembali jatuh.
“Saya memegang ucapan kamu yang benar-benar ingin memperbaiki diri.”
Tangis bahagia Diana pecah begitu saja.
“Terima kasih, Bu... terima kasih banyak.”
Ia berkali-kali membungkukkan badan penuh rasa syukur.
“Ibu masih berkenan menerima saya bekerja di sini setelah tahu saya hamil. Saya janji akan bekerja dengan baik.”
Rosa mengangguk tegas.
“Saya pegang ucapan kamu.”
Lalu ia menatap Puspa.
“Sekarang kalian berdua bisa keluar.”
“Baik, Bu. Kami permisi,” ucap Puspa.
Mereka berdua beranjak dari duduk mereka. Diana merasa lega setelah akhirnya mengutarakan semuanya.
Setelah keluar dari ruangan Rosa, langkah Diana terasa sedikit lemas.
Puspa yang berjalan di sampingnya melirik sekilas.
“Kenapa kamu nggak cerita dari awal kalau kamu sedang hamil?” tanyanya pelan.
Diana menunduk.
“Saya takut, Kak. Saya baru diterima kerja di sini. Saya takut Kak Puspa kecewa dan langsung memecat saya.”
Puspa menghela napas panjang.
“Jujur saja, aku memang terkejut.”
Diana menggigit bibir bawahnya, jantungnya kembali berdebar.
“Tapi...” lanjut Puspa.
Diana perlahan mendongak.
“Aku nggak menyangka kamu menanggung semuanya sendirian di usia semuda ini.”
Air mata Diana langsung menggenang.
Puspa menghentikan langkahnya lalu menatap Diana serius.
“Aku nggak tahu seberapa besar luka yang kamu rasakan, tapi aku tahu satu hal.”
Diana menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu wanita yang kuat.”
Air mata Diana akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Kak...” lirihnya.
Puspa menepuk pundaknya pelan.
“Kamu memang melakukan kesalahan, tapi setidaknya kamu berani bertanggung jawab atas hidup anakmu. Tidak semua orang bisa melakukan itu.”
Tangis Diana pecah.
Selama ini banyak orang memandangnya rendah, tetapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang justru memberinya dukungan.
“Terima kasih, Kak...” ucap Diana dengan suara bergetar.
Puspa tersenyum tipis.
“Sudah, jangan menangis. Kalau kamu stres terus, nanti bayi kamu ikut sedih.”
Diana tertawa kecil di sela tangisnya lalu mengusap air matanya.
“Iya, Kak.”
“Sekarang kembali kerja. Pesanan kue masih menunggu kita.”
Diana mengangguk sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian menghadapi semuanya.
°°••°°
Di ruang kerja Samuel, berkas-berkas menumpuk tinggi di atas mejanya, tetapi tak satu pun ia lirik.
Pikirannya hanya dipenuhi satu hal—di mana Diana berada sekarang?
Entah kenapa, hatinya justru terasa hampa setelah Diana pergi.
Padahal bukankah ini yang ia inginkan sejak awal?
Samuel menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia mengembuskan napas berat.
“Di mana dia berada?” lirihnya pelan.
Tatapannya kosong menatap jendela besar di ruangannya.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Samuel menoleh.
“Masuk.”
Pintu perlahan terbuka dan Dika, asisten pribadinya, masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa, Dika?” tanya Samuel malas tanpa semangat.
Dika berjalan mendekat sambil membawa beberapa dokumen penting.
“Apa Tuan lupa? Beberapa menit lagi kita ada rapat di restoran. Kita harus berangkat sekarang, Tuan,” jawab Dika profesional.
Samuel kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Wajahnya terlihat lelah.
“Apa kamu bisa menggantikan saya?”
Hari ini, Samuel benar-benar tidak ingin melakukan apa pun.
Dika langsung menggeleng.
“Tidak bisa, Tuan. Tuan sendiri yang harus hadir.”
Ia menjeda ucapannya sejenak.
“Di sana juga ada Tuan Besar. Tidak mungkin saya yang menggantikan, kan?”
Samuel kembali mengembuskan napas berat.
“Baiklah.”
Dika pun mulai menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa untuk rapat.
“Dika...”
Dika langsung menoleh.
“Iya, Tuan?”
Samuel terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Cari tahu di mana keberadaan Diana.”
Dika tertegun mendengar perintah itu.
“Tuan... Anda masih berhubungan dengannya?”
Samuel langsung menggeleng tegas.
“Tidak. Saya sudah memutuskannya.”
Rahang Samuel mengeras saat mengingat semuanya.
“Diana juga sudah keluar dari toko kue Mama.”
Tatapan Samuel berubah serius.
“Saya ingin kamu cari tahu keberadaannya.”
Ia menatap Dika tajam penuh penekanan.
“Dan ini hanya kita berdua yang tahu.”
Nada suaranya berubah dingin dan penuh ancaman.
“Jangan sampai Mama tahu... terutama Citra.”
Dika terdiam beberapa saat, tampak ragu dengan permintaan itu.
“Maaf, Tuan... tapi bukankah ini akan membuat masalah baru?” tanyanya hati-hati.
Tatapan Samuel langsung berubah tajam.
“Saya hanya ingin tahu dia baik-baik saja atau tidak. Setelah itu, aku tidak akan mengganggunya lagi.”
Dika menelan ludah pelan.
“Baik, Tuan. Saya akan mencoba mencarinya.”
Samuel mengangguk tipis.
“Cari secepat mungkin.”
“Baik, Tuan.”
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...