NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERI AKU WAKTU

Alana terdiam, menatap manik mata Samudera yang memancarkan kesungguhan mutlak. Di satu sisi, egonya berontak karena tidak ingin terus-menerus berutang budi pada pria yang pernah menorehkan luka. Namun di sisi lain, bayangan wajah Arkana yang ketakutan saat didiskriminasi oleh gurunya tadi kembali terlintas. Keamanan mental putranya adalah yang utama.

​"Lalu... bagaimana dengan jaraknya dari rumah ini?" tanya Alana lirih, mulai melunak. "Tempat tinggalmu sangat jauh dari sini. Kasihan Arka kalau harus kelelahan di jalan setiap hari."

​Samudera tidak langsung menjawab. Sebuah senyuman tipis yang penuh taktik misterius terbit di sudut bibirnya. Tatapannya menatap Alana dengan arti yang mendalam. "Soal jarak... itu adalah hal berikutnya yang ingin kubahas bersamamu."

Mendengar kekhawatiran Alana soal jarak, Samudera tidak membiarkan wanita itu kembali menarik diri ke dalam keraguannya. Langkah kaki Samudera maju satu ketukan lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Alana bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh tegap pria itu.

​Sebelum Alana sempat mundur, Samudera mengulurkan kedua tangan besarnya. Dengan gerakan yang sangat lembut namun mantap, ia menggenggam kedua tangan Alana yang terasa dingin.

​Alana sedikit tersentak. Ia mencoba menarik tangannya, namun genggaman Samudera begitu kokoh, menguncinya dengan kehangatan yang tulus, bukan dengan paksaan.

​"Alana, lihat aku," pintanya dengan suara yang begitu rendah dan serak, sarat akan emosi yang mendalam.

​Alana perlahan mendongak, menatap sepasang mata tajam Samudera yang kini meredup, dipenuhi oleh kabut penyesalan yang teramat sangat.

​"Untuk sekali lagi... aku minta maaf," ucap Samudera lirih. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap punggung tangan Alana dengan lembut. "Maaf karena ketidakbisaanku menjagamu empat tahun lalu membuatmu harus menanggung semua kesulitan ini sendirian. Maaf karena kelalaianku membuat putra kita sempat dihina oleh orang lain hari ini. Semua itu salahku."

​Napas Alana tercekat. Setiap kata maaf yang keluar dari bibir Samudera terasa begitu tulus, perlahan-lahan mengikis sisa-sisa dinding es yang selama ini ia bangun untuk membentengi hatinya.

​"Aku tidak ingin Arkana kelelahan di jalan setiap hari hanya karena jarak sekolah yang jauh," lanjut Samudera, menatap Alana tanpa sedikit pun keraguan. "Dan aku juga tidak mau lagi melewatkan satu hari pun tanpa memastikan kalian berdua aman di bawah perlindunganku."

​Samudera menarik napas dalam, memantapkan kalimat berikutnya yang akan mengubah takdir mereka.

​"Ayo kita menikah, Alana. Mari kita segera mendaftarkan pernikahan. Bukan hanya untuk memberikan Arkana sebuah keluarga yang utuh secara hukum dan status sosial, tapi juga agar aku punya hak penuh untuk memboyong kalian tinggal bersamaku di rumahku. Berikan aku hak legal untuk melindungi kalian berdua sebagai seorang suami dan ayah."

​Permintaan yang tiba-tiba namun begitu tegas itu membuat dunia seolah berhenti berputar bagi Alana. Jantungnya bertalu-talu di dalam dada. Menikah dengan Samudera—pria yang pernah membuatnya hancur sekaligus pria yang kini menjadi satu-satunya pelindung bagi putranya—bukan lagi sekadar bayangan masa lalu, melainkan sebuah realitas yang kini menuntut jawaban instan di atas lantai dapur yang sunyi itu.

Kata-kata Samudera yang begitu lugas mengenai pernikahan seketika memicu alarm kewaspadaan di dalam kepala Alana. Sentuhan hangat di punggung tangannya yang tadi terasa menenangkan, mendadak berubah menjadi beban yang amat berat.

​Dengan gerakan perlahan namun penuh penegasan, Alana menarik kedua tangannya dari genggaman Samudera. Ia melangkah mundur satu tapak, menciptakan kembali jarak aman di antara mereka yang sempat mengikis.

​Samudera merasakan kekosongan di telapak tangannya, namun ia tidak memprotes. Ia hanya menatap Alana, menunggu dengan sabar respons yang akan keluar dari bibir wanita itu.

​Alana mengatur napasnya yang sempat memburu, mencoba menjernihkan pikiran di tengah gemuruh emosi. "Menikah... itu bukan perkara mudah, Samudera. Empat tahun kita terpisah dengan ego dan luka masing-masing. Aku tidak bisa memutuskan hal sebesar ini hanya dalam hitungan menit, sekalipun itu demi status hukum Arkana."

​Samudera mengangguk pelan, rahangnya mengendur. "Aku tahu, Alana. Aku tidak bermaksud memaksamu—"

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!