"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Debur Ombak di Selatan Jawa
Setelah minggu-minggu yang menguras energi dan air mata, Yogyakarta menjadi pelabuhan yang dipilih Baskara untuk memanjakan Arini. Sebuah resort di atas bukit Karangbolong, Queen Of The South, menjadi tempat mereka bernaung. Resort ini menawarkan pemandangan Samudra Hindia yang luas tanpa batas, dengan arsitektur kayu yang asri dan infinity pool yang seolah menyatu dengan garis cakrawala.
Arini berdiri di balkon kamar mereka, membiarkan angin laut yang asin memainkan anak rambutnya. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma laut yang bersih, jauh dari bau formalin rumah sakit atau debu ruang sidang.
"Suka tempatnya?" suara berat Baskara terdengar tepat di belakangnya.
Baskara melingkarkan lengannya di pinggang Arini, menarik tubuh istrinya bersandar pada dadanya yang bidang. Ia sudah menanggalkan setelan jas jaksanya, kini hanya mengenakan kemeja linen tipis yang kancing atasnya dibiarkan terbuka.
"Sangat suka, Bas. Terima kasih," jawab Arini sambil mengusap lengan kokoh suaminya. "Rasanya seperti beban di pundakku benar-benar luruh saat melihat ombak itu."
"Apalagi aku, Rin! Akhirnya bisa berjemur gaib!" Mika tiba-tiba muncul, sudah memakai kacamata hitam imajiner dan duduk santai di atas pagar balkon yang tinggi. "Lihat deh airnya, biru banget! Mas Jaksa pinter juga milih tempat yang nggak banyak hantu agresifnya."
Arini tertawa kecil mendengar celotehan Mika. Memang benar, area ini terasa sangat murni. Meskipun ada beberapa sosok nelayan kuno yang melintas di pesisir jauh di bawah sana, mereka tampak tenang, seolah ikut menjaga kedamaian pantai ini.
"Kenapa tertawa?" tanya Baskara sambil mengecup bahu Arini yang terbuka.
"Mika bilang kamu pintar pilih tempat. Dia senang bisa berjemur," sahut Arini.
Baskara menghela napas, bibirnya mengukir senyum tipis yang langka. "Sampaikan pada asisten gaibmu itu, aku memesan tempat ini juga untuk menyogoknya agar dia mau 'istirahat' sebentar di botol parfum. Aku ingin waktu berdua saja dengamu tanpa ada komentar dari langit-langit."
Mika menjulurkan lidahnya. "Dih, Mas Jaksa pelit! Padahal aku kan yang kasih tahu soal buku catatan biru itu! Tanpa aku, dia masih pusing di pengadilan."
Arini hanya tersenyum simpul, tidak menyampaikan protes Mika kepada Baskara. Ia membalikkan tubuh dalam pelukan Baskara, menatap mata suaminya yang kini tampak jauh lebih santai. "Dia bilang dia berjasa besar, Bas."
"Aku tahu," jawab Baskara pelan. Ia menangkup wajah Arini, jemarinya mengelus kulit pipi Arini dengan sangat lembut. "Tapi malam ini, biarkan aku yang mengambil alih peran menjagamu. Bukan sebagai pelindung hukum, tapi sebagai suamimu."
Baskara menunduk, mencium bibir Arini dengan perlahan dan penuh perasaan. Ciuman itu terasa berbeda—tidak ada ketergesaan atau rasa takut seperti di hotel tempo hari. Kali ini hanya ada kelembutan dan janji masa depan.
"Bas..." bisik Arini di sela ciuman mereka, "bau laut ini... membuatku merasa benar-benar hidup."
"Kamu memang hidup, Arini. Dan aku akan memastikan kamu tetap seperti ini selamanya," balas Baskara sebelum kembali menyatukan bibir mereka.
Di sudut balkon, Mika menguap lebar sambil menutupi matanya. "Oke, oke! Aku paham! Aku masuk botol parfum sekarang! Tapi besok pagi kita harus ke Parangtritis ya, Arini! Aku mau lihat senja di sana!"
Suara debur ombak di bawah tebing menjadi musik latar yang sempurna bagi malam pertama bulan madu mereka. Di bawah langit Yogyakarta yang bertabur bintang, Arini akhirnya memahami bahwa cinta Baskara adalah satu-satunya pelindung yang ia butuhkan untuk menghadapi dunia, baik yang nyata maupun yang tak kasat mata.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣