Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Investigasi
Keesokan paginya Dinda telah berada di rumah Bianca untuk berangkat bersama ke kampus. Setelah kejadian kemarin di kampus, pasti banyak yang salah paham dan tidak menginginkan Bianca muncul di kampus hari ini. Tapi apa boleh buat, kalau mereka tidak ke kampus sekarang, bagaimana menemukan buktinya? Karena tempat kejadian perkaranya ada di kampus.
Setelah mereka sampai di kampus, semua orang menatap ke arah Bianca dengan tatapan kebencian.
Semua siswa meneriaki Bianca yang berjalan di tengah lapangan. Dinda yang tidak senang melihat sahabatnya diteriaki orang-orang pun berkata,
"Kalian tidak tahu apa-apa, jadi diam saja," ucap Dinda dengan lantang.
Bianca menyuruh Dinda untuk diam saja. Dia takut orang-orang itu semakin marah karena untuk saat ini Bianca belum punya bukti untuk membela diri.
Benar saja, setelah Bianca berbicara seperti itu, ada seorang siswa yang melempar air ke arah Bianca. Namun datanglah Barra yang langsung berdiri tepat di depan Bianca untuk menyelamatkannya.
Siswa yang tadi menyiram langsung kabur begitu tahu Barra yang terkena airnya.
Bianca kaget melihat Barra menyelamatkannya dan melihat tubuh Barra yang basah kuyup.
Bianca jadi marah dan berkata dengan lantang serta berani.
"Kalian semua dengain gue baik-baik, gue tidak pernah melakukan itu. Sekarang memang gue tidak punya bukti, tapi kasi gue waktu seminggu. Kalau dalam waktu seminggu gue enggak menemukan pelakunya, maka gue akan keluar dari kampus ini dan kalian boleh menyiram gue dengan air sepuas kalian!"
Setelah Bianca berbicara, Barra juga menambahkan.
"Dan dalam satu minggu ini tidak ada yang boleh mengganggu Bianca. Kalau ada orang yang mengganggu Bianca, orang itu akan berhadapan langsung dengan gue."
Semua murid kampus itu menyetujui dan langsung membubarkan diri.
Bianca berterima kasih kepada Barra karena sudah membantunya. Bianca juga menanyakan bagaimana dengan baju Barra yang basah kuyup itu.
"Aduh, bajumu jadi basah begini. Bagaimana nanti kalau kamu masuk angin? Kamu kan susah banget kalau disuruh minum obat," ucap Bianca sambil memegangi baju Barra dengan nada pelan yang terdengar hampir manja.
Barra yang mendengar Bianca mengatakan itu hanya tersenyum manis penuh cinta.
Bianca yang tersadar dengan ucapannya langsung menggigit bibirnya dan memutar badannya untuk meninggalkan Barra karena dia merasa malu.
Barra dengan iseng menahan tangan Bianca dan membisikkan ke telinga Bianca, "Ternyata kamu masih peduli padaku, aku senang sekali."
Bianca yang malu langsung berlari meninggalkan Barra dan Dinda.
Namun Dinda tidak memperhatikan tingkah manis Barra dan Bianca. Mata Dinda malah tertuju ke arah sudut ruangan. Di sana ada Leo yang berdiri sejak tadi memperhatikan mereka.
Dinda bingung kenapa sekarang Leo lebih sering menjadi penonton saja. Dulu Leo selalu berada di barisan terdepan untuk membela kalau Bianca diganggu di kampus ini.
Leo yang sadar Dinda memperhatikannya langsung bergerak pergi meninggalkan tempatnya berdiri.
Dinda tidak tinggal diam, dia langsung mengejar Leo namun sayang Leo telah menghilang.
Dinda yang sadar dia meninggalkan Bianca sendirian langsung mencari keberadaan sahabatnya. Ternyata Bianca sedang duduk di taman belakang kampus. Dinda menghampiri Bianca untuk mengajaknya ke ruang CCTV.
Setelah mereka sampai di ruang CCTV, Dinda menyuruh penjaga untuk memutarkan rekaman kemarin saat mereka berada di kantin. Karena Bianca mengatakan dia tidak pernah melepas tasnya kecuali saat makan dan ke toilet.
Dinda dan Bianca memperhatikan dengan saksama rekaman itu, takut ada sesuatu yang terlewatkan, namun mereka tidak menemukan apa-apa.
Bianca bersedih karena tidak menemukan apa-apa di sana. Karena hanya ini yang bisa mereka lakukan. Jika CCTV saja tidak menangkap apa pun, bagaimana mereka mencari pelakunya?
Dinda mencoba menenangkan Bianca dengan menyuruh Bianca mengingat-ingat ke mana saja dia pergi setelah dari kafe kampus.
Bianca mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang dia lakukan setelah keluar dari kafe kampus. Bianca teringat kalau dia hendak ke toilet sebentar untuk merapikan diri sebelum masuk kelas, namun dia jadi lama di toilet karena seseorang menumpahkan sesuatu ke bajunya.
Bianca tidak melihat wajah orangnya karena orang itu langsung pergi begitu saja. Saat itu Bianca tidak berpikir apa-apa, yang ada di pikirannya saat itu hanya harus segera membersihkan bajunya karena kelas akan segera dimulai.
Dinda mengajak Bianca ke toilet, siapa tahu ada barang bukti yang tertinggal di sana.
Dinda dan Bianca segera meninggalkan ruangan CCTV karena di dalam toilet memang tidak terpasang CCTV.
Sesampainya di toilet, mereka berdua mencari ke sekeliling ruangan tapi tidak menemukan apa-apa. Bianca mencoba membongkar isi tempat sampah dan menemukan sebuah struk belanjaan yang di dalamnya tertulis pembelian minuman kaleng soda berwarna merah.
Bianca teringat kalau noda yang tumpah ke bajunya kemarin berwarna merah.
Dinda merebut kertas itu dari tangan Bianca dan berkata, "Di mana dia membelinya? Coba lihat nama tokonya."
Dinda mengetahui di mana tempat minuman itu dibeli, letaknya tidak berapa jauh dari kampus mereka.
Bianca merasa senang karena akhirnya mendapatkan petunjuk.
Mereka berdua langsung menuju ke toko itu, namun sayang pihak toko tidak mengenal dan tidak mengingat lagi wajah orang yang membeli minuman itu.
Dinda meminta pihak toko untuk menunjukkan rekaman CCTV mereka pada jam yang tertera di struk tersebut. Tapi memang nasib belum berpihak pada mereka.
Pihak toko tidak bisa menunjukkan rekaman CCTV sembarangan kecuali ada surat perintah dari kepolisian atau untuk kepentingan persidangan.
Dinda memohon kepada penjaga toko untuk membantunya, namun pihak toko tetap tidak bisa membantu. Akhirnya mereka berdua keluar dari toko dengan rasa kecewa. Namun Dinda teringat untuk meminta bantuan kepada Leo karena keluarganya cukup berpengaruh, hal seperti ini pasti sangat sepele bagi Leo.
Dinda mencoba menelepon Leo, dan Leo menjawab telepon dari Dinda.
Tanpa basa-basi Dinda langsung saja menceritakan tujuannya menelepon Leo, namun jawaban Leo sangat membuat Dinda murka.
"Maaf Din, gue lagi sibuk jadi gue enggak bisa bantuin Lo ," jawab Leo dan langsung mematikan teleponnya.
Melihat wajah Dinda yang berubah menjadi kesal, Bianca mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi dan kenapa Dinda tampak kesal. Dinda tidak mau melihat Bianca bersedih karena Leo tidak bisa membantu mereka.
Jadi Dinda memberikan alasan kalau dia kesal karena Leo tidak mengangkat teleponnya. Bianca menenangkan Dinda dengan mengatakan kalau mungkin Leo sedang sangat sibuk. Bianca juga menambahkan kalau dia juga tidak mau membebani Leo dengan masalahnya.
Namun di dalam hati kecilnya, Bianca juga mempertanyakan apa yang terjadi dengan Leo. Sejak kejadian di kampus kemarin, Leo sama sekali tidak pernah menghubunginya bahkan menemuinya. Tapi Bianca tetap berusaha berpikir positif, mungkin Leo memang sedang ada urusan yang lebih penting.
Bianca dan Dinda pergi meninggalkan toko itu dengan rasa putus asa.
Sementara itu ternyata Leo sedang berdua dengan Aza yang sedang duduk di taman kampus.
Aza bertanya kepada Leo siapa yang meneleponnya tadi. Karena Leo tidak mau menyinggung perasaan Aza, dia berbohong kalau yang meneleponnya adalah ibunya.
Aza bertanya pada Leo untuk apa Leo mengajaknya ke sini.
Leo berkata, "Aku hanya ingin memastikan satu hal. Apakah kamu mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya? Karena tadi aku melihat Bianca dengan sangat lantang membuat sebuah tantangan di lapangan kampus, kalau dalam satu minggu dia akan membuktikan kalau dia tidak bersalah."
Aza yang mendengar pertanyaan Leo menjadi marah. "Jadi kamu menuduh aku menjebak dia? Kamu tidak percaya padaku," ucap Aza marah sambil berdiri dari duduknya.
Leo menenangkan Aza dan menyuruhnya duduk kembali karena bukan itu maksudnya. Leo tidak ingin terjadi apa-apa pada Aza. Menurut Leo, jika bukan Bianca pelakunya, mungkin ada orang yang tidak suka dengan kalian berdua.
Jadi Leo juga berniat mencari pelakunya. Mendengar hal itu sontak Aza kaget. Dia bingung, jika Leo juga turun tangan maka semuanya akan kacau. Tapi jika Aza melarang Leo untuk mencari pelakunya, mungkin Leo akan curiga padanya. Leo tidak boleh mencurigai dirinya karena Leo bisa menjadi alat untuk memisahkan Barra dan juga Bianca.