Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Argh!"
"Anakku!"
Rania terbangun setelah beberapa saat tertidur di atas pesawat yang membawanya kembali dari kota Pakis menuju kota Anggrek. Di sampingnya, dokter Pri ikut terlonjak karena Rania yang tiba-tiba memanggil anaknya.
"Rania, ada apa? Kau mimpi buruk?" tanyanya dengan cemas. Ia memberikan sebotol air mineral yang sudah dibukanya terlebih dahulu.
Rania mengambil air tersebut dan menenggaknya hingga menyisakan setengahnya saja. Ia menarik napas pendek-pendek untuk mengurangi sesak yang tiba-tiba merebak dalam dada.
"Anakku dalam bahaya. Berapa lama lagi kita di udara? Apakah kota Anggrek masih jauh?" tanya Rania dengan suara yang terputus-putus.
Dokter Pri menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tiga puluh menit lagi. Kita hampir sampai. Apa kau akan langsung ke rumah suamimu?" tanya laki-laki itu menatap Rania yang pucat karena firasat buruknya.
"Ya, aku harus segera ke sana. Aku ingin tahu bagaimana kondisi anakku dibawah pengasuhan ayahnya," jawab Rania tanpa ragu.
Dokter Pri menganggukkan kepalanya, berpaling menatap jendela. Menikmati keindahan langit di malam hari. Beberapa saat lagi mereka akan mendarat di kota kelahiran. Kota yang telah ia tinggalkan sejak mereka lulus dari sekolah dan menempuh tujuan masing-masing.
Ia sudah menghubungi seseorang di bandara untuk menjemput mereka. Sementara Rania, memegangi dadanya yang masih terasa sesak. Teringat akan si buah hati yang tak ia ketahui seperti apa rupanya. Akankah mereka saling mengenal satu sama lain?
Gemerlap lampu kota menyambut kedatangan pesawat mereka. Nama kota Anggrek ditulis dengan huruf raksasa dan dihias dengan gemerlap lampu berwarna emas. Dari langit nama itu terlihat megah dan gemerlap. Lambang kemajuan kota tersebut.
"Lihat! Kita sudah tiba di kota Anggrek. Beberapa saat lagi pesawat ini akan mendarat," ucap dokter Pri membuat Rania menoleh tak sabar untuk melihat jendela.
Air matanya menggenang, ia sudah pergi lima tahun lalu dan sekarang kembali. Semuanya tetap sama dari atas langit. Entah bagaimana keadaan kota tersebut saat ia turun nanti.
"Syukurlah! Akhirnya aku akan segera bertemu dengan anakku," ucap Rania antuasias.
Pesawat mendarat dengan selamat di bandara kota Anggrek. Langkahnya terburu-buru keluar, tak sabar ingin segera menemui anaknya. Sebuah Van putih sudah menunggu mereka di depan bandara. Tak ada koper yang dibawa Rania karena memang ia pergi tanpa membawa apapun kecuali uang penjualan Sania.
"Itu mobilnya," ucap dokter Pri saat melihat seseorang yang dikenalnya berdiri di samping Van tersebut.
Laki-laki memakai seragam hitam itu segera menghampiri mereka.
"Tuan!" Ia menyapa dokter Pri dengan sopan.
"Ini supir keluargaku," katanya memperkenalkan kepada Rania.
Wanita itu mengangguk dan mengikuti langkah sang supir. Ia masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintunya.
"Ke mana kita, Tuan?" tanyanya setelah memasang sabuk pengaman dan bersiap menjalankan mobilnya.
"Kediaman Fattana, secepatnya!" jawab Rania dengan cepat.
Supir tersebut mengangguk, kemudian menjalankan mobilnya dengan cepat meninggalkan bandara. Rania menghela napas, gugup tiba-tiba melanda membayangkan pertemuannya dengan sang anak.
Dokter Pri merasakan kegelisahan Rania, ia menoleh dan tersenyum kecil. Melihat kegugupan yang begitu jelas di wajahnya.
"Gugup?" tanyanya.
Rania kembali menghela napas, menatap jauh ke jendela. Bangunan-bangunan megah nan kokoh, menjulang tinggi seolah-olah berlomba untuk menggapai langit. Setelah lima tahun berlalu, kota Anggrek tidak banyak berubah. Kemegahannya masih sama, tetap mempesona mata setiap orang.
"Aku hanya takut apakah dia akan mengakui aku sebagai ibunya? Apakah kami akan saling mengenal satu sama lain? Aku belum pernah melihat wajahnya dengan jelas," ujar Rania tanpa berpaling dari gedung-gedung tinggi yang berjejer di sepanjang jalan kota Anggrek.
Dokter Pri tersenyum, ia mengerti perasaan Rania.
"Jangan khawatir, kalian adalah ibu dan anak. Perasaan kalian kuat, pasti akan saling mengenal satu sama lain," katanya memberi harapan dan semangat untuk Rania.
Rania menoleh, tersenyum pahit. Mencoba untuk percaya pada harapan yang ia gantungkan di langit. Mereka berada di jalan tol sepi yang jarang kendaraan. Laju mobil semakin cepat, Rania tersenyum.
Namun, tiba-tiba hatinya terasa sakit, saat mereka berpapasan dengan mobil lain yang melaju lebih cepat. Mobil yang berlawanan arah dengan mereka.
"Ada apa?" tanya dokter Pri.
Rania menatap spion tengah, melihat mobil yang baru saja melewatinya.
"Berhenti! Putar arah!" katanya tiba-tiba.
"Nona, ini jalan satu arah. Jika kita berbalik tiba-tiba, itu melanggar aturan!" ucap sang supir tak berani.
"Hentikan mobilnya! Aku bilang hentikan dan putar balik!" Suara Rania meninggi, dokter Pri dan supirnya terhenyak kaget.
"Rania!" Dokter Pri mengusap pundaknya, tapi Rania menepis dengan kuat.
"Hentikan! Ku bilang menepi!" titahnya lagi.
"Rania!"
"Cepatlah!"
Ciiiit!
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄