Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Hitam di Atas Putih
Geovani berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap kabut yang menyelimuti perbukitan Etheria. Kejadian dengan dr. Adrian siang tadi masih menyisakan ketegangan di rahangnya yang kokoh. Ia tahu bahwa kebohongannya tidak akan bertahan selamanya jika ia tidak segera melegalkan posisi Briella di dalam hidupnya dengan cara yang lebih terstruktur.
Langkah kaki Briella terdengar ragu saat ia memasuki ruangan yang didominasi oleh rak buku tua dan aroma kertas antik tersebut. Geovani berbalik, memegang selembar map kulit berwarna hitam yang diletakkan di atas meja kerja mahogani miliknya. Sorot matanya kembali menjadi dingin, menghilangkan sisa kerapuhan yang sempat terlihat saat mereka berpelukan tadi.
"Duduklah, Briella. Ada sesuatu yang harus kita selesaikan secara resmi agar kau tidak perlu terus bersembunyi di balik lemari setiap kali ada tamu yang datang," ujar Geovani dengan suara yang berat dan otoriter.
Briella menarik kursi di depan meja Geovani, matanya tertuju pada map hitam yang tampak mengancam tersebut. "Apa lagi ini, Geovani? Apakah USG dan pemeriksaan medis setiap malam belum cukup bagimu untuk mengklaim kendali atas hidupku?"
Geovani membuka map tersebut, mengeluarkan dua lembar dokumen yang tertulis dengan rapi dan berstempel segel hukum rahasia. "Ini adalah kontrak kebebasanmu. Aku menawarkan perjanjian hitam di atas putih yang akan menjamin masa depanmu setelah tugasmu melahirkan ahli warisku selesai."
"Identitas baru? Kau benar-benar akan membiarkanku pergi setelah bayi ini lahir?" tanya Briella dengan nada yang tidak percaya, matanya memindai baris demi baris tulisan di kertas itu.
"Ya. Kau akan mendapatkan nama baru, paspor baru, dan dana yang cukup untuk hidup di negara mana pun yang kau inginkan. Kau akan terhapus dari sejarah keluarga Adijaya dan dari semua arsip di Etheria," Geovani menyodorkan sebuah pena berlapis emas ke arah Briella.
Briella membaca poin-poin dalam kontrak itu dengan teliti, namun matanya terhenti pada satu klausul yang tertulis di bagian tengah. "Syaratnya... aku harus memuaskan setiap hasratmu setiap hari tanpa keluhan? Kau benar-benar ingin menjadikanku pemuas nafsumu secara legal?"
Geovani memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Briella dengan tatapan yang sangat intens. "Aku tidak suka penolakan, dan aku tidak suka negosiasi yang berulang. Kau melayaniku sebagai pelepas stres, dan aku melindungimu dari dunia yang ingin menghancurkanmu. Itu adalah pertukaran yang adil."
"Bagaimana jika aku menolak? Bagaimana jika aku lebih memilih mati daripada harus terus melayani pria yang mengurungku seperti binatang?" tantang Briella, tangannya mengepal di atas pangkuannya.
Geovani tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang gelap. "Jika kau menolak, dr. Adrian akan kembali besok dengan polisi medis. Kau akan dibawa ke pusat rehabilitasi distrik bawah, dan anak itu akan diambil secara paksa darimu segera setelah lahir. Kau tahu mereka tidak akan selembut aku."
"Kau mengancamku dengan keselamatan anak ini lagi. Kau sungguh tidak punya hati, Geovani," bisik Briella dengan suara yang bergetar karena amarah yang tertahan.
"Aku memiliki logika, Briella. Hati hanya akan membuatku melakukan kesalahan seperti yang hampir terjadi tadi siang. Tanda tangani, dan kau akan memiliki jaminan hidup yang nyata di bawah naungan hukumku sendiri," Geovani mengetukkan jarinya pada dokumen tersebut.
Briella menatap pena di depannya, lalu menatap wajah Geovani yang tampak tak tergoyahkan. Ia menyadari bahwa di dalam sangkar emas Upper-Chrome ini, satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan mengikuti permainan sang pemilik sangkar. Rasa benci dan kebutuhan untuk selamat berperang hebat di dalam dadanya.
"Setiap hari? Tanpa keluhan? Kau meminta sesuatu yang mustahil dari seseorang yang kau paksa tinggal di sini," ujar Briella sambil meraih pena emas tersebut dengan tangan yang gemetar.
"Aku akan menyediakan semua kebutuhan medis dan kenyamanan yang kau perlukan. Kau hanya perlu memastikan bahwa saat aku kembali dari rumah sakit, kau siap memberikan ketenangan yang aku butuhkan," Geovani memperhatikan setiap gerak-gerik Briella dengan kepuasan yang tersembunyi.
Briella menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia membayangkan identitas baru itu; sebuah kehidupan di mana ia tidak lagi dikejar oleh bayang-bayang Prilly atau rasa lapar di distrik bawah. Ia akhirnya menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tersebut, meresmikan perbudakan modernnya demi sebuah janji kebebasan.
"Sudah. Sekarang kau puas? Aku sudah menjadi tawanan legalmu," kata Briella sambil membanting pena itu ke atas meja.
Geovani mengambil dokumen tersebut, memeriksanya sejenak, lalu memasukkannya kembali ke dalam map kulit. "Sangat puas. Sekarang, mulailah membiasakan diri dengan peran barumu. Malam ini, aku ingin kau menungguku di perpustakaan setelah aku selesai membersihkan diri."
"Kenapa harus di perpustakaan? Bukankah kau punya meja bedah pribadimu untuk memeriksaku?" sindir Briella sambil berdiri, bersiap untuk meninggalkan ruangan yang terasa semakin sesak itu.
Geovani bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Briella hingga gadis itu terpojok di dekat rak buku. "Karena kontrak ini bukan tentang medis lagi, Little One. Ini tentang klaimku atas setiap inci tubuhmu. Di mana pun dan kapan pun aku menginginkannya."
"Kau benar-benar seorang iblis berbaju putih, Geovani," Briella memalingkan wajahnya saat Geovani mendekatkan bibirnya ke telinganya.
"Dan kau adalah mangsa yang paling manis yang pernah tertangkap dalam perangkapku. Pergilah sekarang, bersiaplah. Aku tidak suka menunggu," Geovani melepaskan Briella, membiarkan gadis itu berlari keluar ruangan dengan perasaan hancur yang baru.
Briella kembali ke kamarnya, menatap bayangannya di cermin. Ia menyadari bahwa tanda tangan itu adalah segel terakhir yang mengunci nasibnya. Ia merasa kotor sekaligus lega; kotor karena telah menjual dirinya, namun lega karena setidaknya ada jalan keluar yang tertulis secara resmi meskipun sangat menyakitkan.
Di ruang kerja, Geovani menatap dokumen itu dengan perasaan yang aneh. Ia telah memenangkan kendali penuh, namun ada bagian kecil di dalam dirinya yang merasa gelisah. Ia tahu bahwa ia mulai melakukan segala cara agar Briella tetap berada di dekatnya, meskipun itu berarti harus menggunakan kontrak hitam yang melanggar semua moralitas.
"Kau tidak akan pernah benar-benar pergi dariku, Briella. Meskipun aku sudah memberimu identitas baru nanti," gumam Geovani sambil mengunci map itu ke dalam brankas tahan api di sudut ruangan.
Malam mulai larut di perbukitan Etheria, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalam perpustakaan yang remang-remang, Briella duduk menunggu dengan gaun sutra terbuka yang diberikan Geovani tempo hari. Ia tahu bahwa ini adalah malam pertama di mana ia harus memenuhi janji dari perjanjian hitam di atas putih yang baru saja ia buat.
Suara pintu perpustakaan yang terbuka membuat bahu Briella menegang. Aroma maskulin dan sisa bau antiseptik dari tangan Geovani mulai memenuhi ruangan. Perjanjian itu kini telah dimulai, dan Briella harus menelan semua harga dirinya jika ingin melihat cahaya matahari di negara lain suatu hari nanti.