NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suara deru mesin Ninja 150RR itu akhirnya berhenti, berganti dengan suara detak logam mesin panas yang mendingin di keheningan gang sempit Jatinegara. Sandi menyandarkan standar motornya dengan gerakan mekanis, sementara Ibunya turun perlahan, merapikan sedikit gamis yang agak kusut setelah perjalanan jauh dari Jakarta Selatan. Begitu pintu kayu rumah kontrakan mereka terbuka, aroma minyak telon dan kelembapan khas rumah tua menyambut.

Sandi tidak langsung menuju kamar. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu jengki yang sudah mulai goyang di ruang tamu kecil itu. Ia menyandarkan kepala, menatap langit-langit yang warnanya sudah menguning akibat rembesan air hujan tahun lalu.

"Bisa-bisanya hidup kita berubah jadi drama perjodohan dalam waktu dua jam, Bu," gumam Sandi, suaranya terdengar antara lelah dan tak percaya. "Rasanya kayak habis nonton sinetron, tapi pemeran utamanya kita sendiri."

Ibu Sandi terkekeh kecil sembari melepas kerudungnya. Ia duduk di kursi sebelah Sandi, menatap putra semata wayangnya dengan tatapan menyelidik yang lembut. "Tapi... kamu sebenarnya suka nggak sih sama Saskia? Jujur sama Ibu."

Sandi terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada cicak yang merayap di plafon. "Siapa sih, Bu, laki-laki yang nggak suka sama Saskia? Dia itu paket lengkap. Cantik iya, kaya banget jangan ditanya, hatinya juga baik nggak sombong. Ya... kurangnya cuma satu, sifat 'Oneng'-nya itu yang kadang bikin elus dada."

Ibu Sandi tersenyum simpul, jemarinya yang kasar mengelus lengan Sandi. "Manusia itu nggak ada yang sempurna, San. Tuhan itu adil, semua pasti diseimbangkan. Ibu tadi sempat khawatir, takutnya kamu merasa terbebani atau terpaksa karena hutang nyawa Kakek dulu. Ibu nggak mau kamu mengorbankan perasaan demi membalas budi masa lalu."

Sandi menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah ibunya. "Awalnya Sandi justru menganggap dia itu kayak adik sendiri, Bu. Ibu tahu sendiri kan, Saskia itu kalau jalan suka nggak liat-liat. Mau masuk kelas atau keluar kelas, kepalanya pasti kena kusen pintu atau kejedot. Pas istirahat, dia sering sendirian di pojok taman sekolah cuma buat main pasir, sementara teman-teman yang lain pada ngetawain. Teman-teman cuma mendekat kalau butuh jajan atau butuh uangnya Saskia. Sandi nggak tega liat dia dimanfaatin begitu."

Sandi menjeda kalimatnya, ada senyum tipis yang muncul tanpa ia sadari. "Makanya Sandi jagain terus. Eh, nggak sangka, perhatian Sandi malah bikin dia makin nempel dan nggak mau jauh. Sampai sekarang dia merasa aman cuma kalau ada Sandi di dekatnya."

Ibu Sandi tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kenangan. "Yah, itulah jodoh, San. Jalannya nggak pernah bisa kita duga, persis kayak Ibu sama Ayahmu dulu. Kamu tahu nggak? Ayahmu itu orangnya pinter banget, tapi pemalunya minta ampun kalau depan perempuan. Kalau bukan karena bantuan Mpok Suryani, tukang gado-gado Betawi di ujung jalan itu, mungkin Ibu nggak akan pernah kenal Ayahmu."

Mata Ibu Sandi berbinar menceritakan masa mudanya. "Mpok Suryani itu makcomblang paling galak yang pernah Ibu kenal. Dia sampai menyeret Ayahmu, tahu nggak? Ayah datang nemuin Ibu dengan telinga merah padam karena dijewer Mpok Suryani sepanjang jalan cuma buat digiring supaya berani nyapa Ibu."

Sandi tertawa renyah, bayangan ayahnya yang selama ini ia kenal gagah dan berwibawa seketika runtuh oleh cerita itu. "Ternyata dibalik sosok Ayah yang selalu terlihat tegas, ada sisi kocak yang dia tutup-tutupi ya, Bu?"

"Betul, San," Ibu Sandi mengangguk mantap. "Ayahmu itu kalau di depan anaknya selalu jaga image. Dia mau kamu melihatnya sebagai sosok yang kuat supaya kamu bisa meniru ketegarannya. Padahal kalau sudah sama Ibu, dia itu orangnya lembut sekali."

Sandi mengangguk paham. Keheningan sejenak menyelimuti mereka sebelum Sandi teringat hal teknis. "Oh iya, Bu, kalau kita beneran pindah ke rumah Saskia dalam waktu dekat, berarti kita harus mulai ngemas barang-barang dong?"

"Mungkin nggak semuanya kita bawa, San," jawab Ibu Sandi setelah berpikir sejenak. "Barang-barang yang sudah nggak layak atau perabotan yang terlalu besar mending kita tinggal saja. Kita kasih ke tetangga-tetangga sekitar sini, biar mereka pakai atau mereka kilo-in buat nambah-nambah uang dapur mereka. Kita bawa yang penting-penting saja."

Sandi mengangguk, namun raut wajahnya kembali termenung. "Tiba-tiba banget ya, Bu. Kemarin kita masih mikir besok makan apa atau cucian pelanggan sudah kering belum, sekarang kita malah mau pindah ke Pondok Indah."

Ibu Sandi menggenggam tangan Sandi dengan erat, suaranya berubah menjadi sangat serius. "Mungkin ini salah satu jawaban Tuhan dari semua doa dan usaha keras kita selama ini, San. Tapi Ibu mau pesan satu hal... kalau nanti kamu benar-benar jadi tunangan Saskia, jangan pernah sekali-kali kamu sakiti perasaannya. Kamu dengar sendiri kan tadi bagaimana tulusnya dia mengungkapkan perasaannya di depan Kakek dan Mamanya? Dia itu tulus banget sayang sama kamu."

Sandi menunduk, merenungkan setiap kata yang keluar dari bibir ibunya. Ia teringat tatapan mata Saskia di meja makan tadi, tatapan yang begitu jernih tanpa ada niat terselubung.

"Dan satu hal lagi, San," lanjut Ibunya dengan nada yang lebih dalam. "Jangan pernah berubah sedikit pun saat roda kehidupanmu sudah berada di atas. Tetaplah jadi Sandi yang rendah hati. Jangan sombong hanya karena nanti kamu tinggal di rumah mewah atau punya fasilitas bagus. Dunia itu titipan, San."

Sandi menatap wajah ibunya dengan penuh hormat. Ia melihat guratan kelelahan di sana, namun juga ada harapan besar yang terpancar. Sandi mengangguk patuh dan mantap. "Pasti, Bu. Sandi janji akan lakukan yang terbaik untuk menjaga nama baik keluarga kita. Sandi nggak akan bikin malu Kakek yang sudah mempertaruhkan nyawa, atau Ayah yang sudah mendidik Sandi jadi laki-laki, apalagi bikin Ibu sedih."

Ibu Sandi tersenyum lega, air mata haru hampir menetes. Ia menarik Sandi ke dalam pelukannya, mendekap putra semata wayangnya yang kini telah tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa yang memikul tanggung jawab besar di pundaknya. Di tengah pelukan itu, Sandi tahu bahwa hidupnya tak akan pernah sama lagi setelah malam ini.

Malam itu, setelah badai informasi yang memorak-porandakan tatanan hidup sederhana mereka, Sandi dan Ibunya segera beranjak ke peraduan. Tak ada diskusi panjang lagi; tubuh mereka yang lelah serta batin yang masih bergetar hebat akibat kabar perjodohan dan perubahan nasib itu menuntut istirahat. Dalam sekejap, kesunyian rumah kontrakan itu hanya diisi oleh napas teratur keduanya yang terlelap dalam mimpi yang mungkin kini terasa lebih berwarna.

Keesokan paginya, kokok ayam jantan di gang sempit Jatinegara seolah terdengar lebih nyaring. Sandi terbangun dengan kesadaran baru. Ia bergegas mandi, membiarkan air dingin membasuh sisa-sisa keterkejutan semalam. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri berpamitan dengan takzim kepada Ibunya. Di motor Ninjanya, sudah bertengger kantong plastik ukuran jumbo berisi pakaian bersih milik pelanggan setia cucian Ibunya—tugas terakhirnya sebagai "kurir laundry" sebelum rutinitas hidupnya bergeser total.

Sandi memacu motornya menembus kabut tipis Jakarta, tiba di gerbang sekolah tepat pukul 06.11 WIB. Suasana masih tenang, namun ketenangan itu pecah saat sebuah mobil mewah berwarna perak metalik masuk ke halaman sekolah dengan anggun. Sandi baru saja hendak melepas helm saat telinganya menangkap pekikan yang frekuensinya sudah sangat ia kenal.

"SANSAN!!!"

Saskia turun dari mobil dengan gerakan yang hampir melompat. Ia sempat menyalam tangan Mamanya dengan kilat sebelum berlari kencang menghampiri Sandi. Senyumnya pagi itu begitu cerah, nyaris menyilaukan, persis seperti binar bahagia yang terpancar di ruang makan Pondok Indah semalam. Sandi hanya bisa membalas lambaian tangan Mama Saskia dari kejauhan sebelum mobil perak itu meluncur meninggalkan area sekolah.

Belum sempat Sandi membuka mulut, Saskia sudah berdiri tepat di depannya dengan wajah mendongak dan mata berbinar-binar. "Selamat pagi sayangku... calon tunanganku!" bisik Saskia, namun suaranya cukup melengking untuk membuat Sandi jantungan.

"Gila lo, Sas!" Sandi tersentak hebat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gerakan waspada, memastikan tidak ada siswa lain atau guru yang mendengar deklarasi maut tersebut. Tanpa basa-basi, ia segera membekap mulut Saskia dengan telapak tangannya. "Jangan ngomong begitu di sini, bisa kacau dunia persilatan! Lo mau kita jadi bahan gosip satu sekolah, Pe'a?!"

Saskia berontak kecil, melepaskan tangan Sandi dari mulutnya sambil merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. "Ihh, emang kenapa sih, San? Kan kita sudah resmi dijodohkan semalam. Papa tadi malam pas pulang juga sudah setuju kok setelah bicara sama Kakek. Dan tahu nggak? Aku sudah putusin Nanda semalam lewat telepon! Aku sudah free buat kamu!"

Mata Sandi makin membelalak. "Iya, gue tahu! Tapi nggak harus lo umbar di lapangan parkir juga kali. Kecuali kalau kita memang sudah resmi tukar cincin atau sudah terikat secara hukum adat, ini kan baru tahap perizinan keluarga. Tolonglah, jaga wibawa gue dikit."

Saskia mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat namun tetap terlihat manis. "Yah... padahal aku sudah nggak sabar mau cerita ke Anggita, Andra, sama Vino. Aku mau pamer kalau pelindungku sekarang sudah naik pangkat jadi calon imamku."

Mendengar itu, Sandi nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Kalo lo cerita ke Kelompok Sableng, itu namanya bunuh diri, Oneng! Mereka itu biangnya kompor. Tahan dulu napa sih? Kalau lo nggak bisa jaga rahasia ini sampai waktunya tiba, gue bakalan bilang ke Kakek gue buat batalin perjodohan ini. Gue serius!"

Ancaman itu bekerja seketika. Wajah Saskia memucat, ia langsung menarik-narik ujung kemeja seragam Sandi dengan cemas. "Yah, jangan dong, Yang... Eh, maksudnya Sandi. Plis, jangan marah ya? Aku janji bakal tutup mulut rapat-rapat."

"Dan satu lagi," potong Sandi tegas, "jangan panggil gue pakai sebutan 'sayang-sayang' begitu. Risih tahu! Kedengarannya kayak gue lagi dengerin radio dangdut pagi-pagi. Panggil nama kayak biasanya saja, ngerti?"

Saskia menunduk lesu, memainkan ujung jarinya. Suaranya mengecil, penuh keraguan. "Berarti kamu terpaksa ya, San, nerima permintaannya Kakek semalam? Kamu sebenarnya nggak mau ya sama aku?"

Sandi mendengus kesal, namun melihat bahu Saskia yang layu, hatinya sedikit melunak. Ia menghela napas panjang, mencoba menjelaskan dengan cara yang lebih manusiawi. "Saskia Fiana Putri, dengerin baik-baik. Inget, kita belum resmi. Kalau nanti sudah harinya, terserah lo mau panggil gue apa, mau panggil 'Ndoro' juga terserah. Tapi untuk saat ini, tolong jangan lakukan hal-hal aneh, apalagi di depan anak-anak Kelompok Sableng. Oke?"

Saskia masih menunduk diam, menunggu kepastian.

"Gue nggak terpaksa, Sas," lanjut Sandi pelan namun mantap. "Gue menerima ini dengan tulus. Selama Ibu gue senang, dan selama gue bisa menjaga kehormatan Kakek gue di mata Kakek lo, gue bakal jalani. Lagian... siapa sih yang bisa nolak takdir kalau Tuhan sudah naruh gue di depan gerbang rumah lo?"

Mata Saskia langsung berbinar kembali. Ia mendongak dengan senyum nakal. "Berarti kamu juga suka sama aku dong, San?"

Sandi kembali ke mode tengilnya. Ia menyeringai tipis. "Dih, males banget gue suka sama orang yang kepalanya hobi kejedot pintu kayak lo, hehe."

"Tuh kan! Sandi mah jahat!" Saskia langsung melancarkan serangan cubitan bertubi-tubi ke lengan Sandi. "Sandi mah terpaksa! Sandi bohong!"

"Aduh, aduh! Sakit, Sas!" Sandi menghindar sambil tertawa. "Gue bukannya nggak suka sama lo. Siapa sih cowok normal yang nggak suka sama lo? Lo cantik, kaya raya, baik hati pula. Cuma ya itu... kadang lo ngeselinnya minta ampun. Sifat 'Oneng' dan manja lo itu bikin badan gue remuk. Sejujurnya, gue lebih milih angkut beras puluhan kilo di pasar daripada harus ngadepin drama lo kalau lagi panik."

Saskia bukannya marah, malah tersenyum penuh kemenangan. Ia menjulurkan lidahnya dengan jenaka. "EGP 'Emang Gue Pikirin'! Yang penting Sandi sudah ngaku kalau aku cantik!"

"Yaudah, ayo ke kelas. Udah mulai ramai nih, nggak enak dilihat orang kalau kita malah 'pacaran' di parkiran," ajak Sandi sembari melangkah.

Saskia mengangguk semangat. Dengan gerakan refleks, ia langsung melingkarkan tangannya, memeluk lengan Sandi dengan erat.

Tak!

Sebuah sentilan mendarat telak namun lembut di kening Saskia. "Baru berapa menit yang lalu gue bilang, jangan aneh-aneh! Bersikap biasa saja, oke!" tegas Sandi.

Saskia mengusap keningnya sambil nyengir lebar. "Iya... sayangku..."

Sandi mengangkat tangannya lagi, bersiap memberikan sentilan kedua. "Ayo, ulangin lagi sekali lagi. Gue bikin jidat lo merah kayak orang India pakai bindi sekarang juga."

Saskia terkekeh kecil, berlindung di balik punggung Sandi. "Iya, iya, maaf San. Aku tuh beneran sudah nggak sabar. Kamu tahu nggak? Dari zaman SD, aku sudah latihan di depan cermin buat panggil kamu 'sayang'."

Sandi hanya bisa menggelengkan kepala, merasa nasibnya benar-benar di ujung tanduk. "Wah, ini sih sudah stadium akhir, Sas, namanya. Dari SD lo bilang? Lo beneran ada bakat kelainan apa? Ya Tuhan! huh... ya sudah, pokoknya kalau lo kelepasan lagi di depan umum, perjodohan ini tamat. Ngerti lo?"

Saskia mengangguk patuh dengan wajah yang dibuat seserius mungkin, meski matanya tetap memancarkan kebahagiaan yang meluap. Mereka berdua mulai berjalan menuju kelas 3-A. Namun, meski sudah dilarang memeluk lengan, Saskia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik-narik ujung seragam belakang Sandi, membuntuti pemuda itu dengan langkah riang seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!