Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Intelijen Jaket Oranye
Setelah kejadian di gudang kemarin, Guntur merasa nggak cukup cuma duduk diam nunggu laporan dari Adit. Dia tahu, tikus-tikus dari Jakarta itu pasti punya persembunyian di sekitar Surabaya. Dan nggak ada mata-mata yang lebih tajam selain mata para driver ojek yang tiap detik muter di jalanan.
Malam itu, Guntur kembali memakai atribut ojeknya. Bukan ojek hijau yang biasa, kali ini dia sengaja pakai jaket oranye dari aplikasi sebelah biar nggak terlalu mencolok. Dia mangkal di depan sebuah bar mewah di daerah Surabaya Barat yang katanya jadi tempat nongkrong preman-preman bayaran kelas kakap.
"Mas, anterin ke hotel di pusat kota ya," ucap seorang pria dengan logat Jakarta yang kental, bajunya penuh bau alkohol. Guntur cuma mengangguk pelan dari balik helmnya yang kacanya gelap. Di otaknya, dia sudah menandai kalau pria ini punya tato kalajengking di lehernya, persis seperti salah satu anak buah si rambut pirang kemarin.
Sepanjang jalan, pria itu sibuk teleponan. Guntur memasang telinga lebar-lebar di balik deru mesin motor matic-nya. "Iya Bos, tenang saja. Proyek si Guntur sudah kita bikin macet total. Malam ini anak-anak mau gerak lagi ke kantor pusatnya. Kita bakar sekalian biar si Naga itu tahu rasa!" ucap pria itu sambil tertawa sinis.
Guntur yang mendengar itu cuma tersenyum iblis di balik helm. Matamu picek, arep obong-obong kantor? Gak weruh tah nek sing ngeterake kowe iki sing duwe kantor? (Matamu buta, mau bakar-bakar kantor? Nggak tahu tah kalau yang mengantarmu ini yang punya kantor?) batin Guntur sambil menahan diri agar tidak langsung membanting motornya.
Bukannya ke hotel, Guntur malah membelokkan motornya ke sebuah gang buntu yang gelap di dekat kuburan umum. Pria di belakangnya mulai curiga. "Woy, Driver! Mau ke mana lu? Ini bukan jalan ke hotel! Lu mau ngerampok gue ya?" teriak pria itu sambil mencoba meloncat dari motor.
Guntur langsung ngerem mendadak, membuat pria itu terpelanting jatuh ke tanah yang becek. Guntur turun dari motor, melepas helmnya pelan-pelan, lalu menatap pria itu dengan pandangan yang membuat nyali siapapun menciut. "Kandani Bosmu... yen kepingin dolanan geni, ojo nang nggone Naga!" (Bilangi Bosmu... kalau ingin main api, jangan di tempatnya Naga!)
Pria itu gemetar hebat saat menyadari siapa driver yang dia tumpangi. "L-lu... lu Guntur Hidayat?! Kok bisa lu narik ojek?!" tanya pria itu dengan suara yang nyaris hilang. Guntur nggak menjawab dengan kata-kata, dia langsung melayangkan satu tendangan keras ke arah perut pria itu sampai dia terjepit di tembok gang.
"Sopo sing ngongkon kowe bengi iki? Jawab, utawa cangkemu tak dadekno knalpot!" (Siapa yang menyuruh kamu malam ini? Jawab, atau mulutmu tak jadikan knalpot!) ancam Guntur sambil mencengkeram leher pria itu sekuat tenaga. Pria itu akhirnya menyerah, dia membocorkan alamat markas sementara mereka di sebuah ruko tua di pinggiran Surabaya.
Setelah mendapatkan informasi, Guntur tidak langsung menghabisi pria itu. Dia malah menelepon rombongan ojek pangkalan Cak Leman. "Leman, mreneo nggowo massa. Iki ono 'hadiah' gawe kowe kabeh. Tumpakno pick-up, serahno nang polisi tapi 'dicicil' dhisik balunge!" (Leman, ke sini bawa massa. Ini ada 'hadiah' buat kalian semua. Naikkan ke pick-up, serahkan ke polisi tapi 'dicicil' dulu tulangnya!)
Guntur kembali naik ke motornya, menatap langit malam yang mendung. Rencananya sudah matang. Malam ini juga, ruko tua itu akan jadi saksi bisu kemarahan sang Naga yang sedang menyamar jadi rakyat jelata. Bagi Guntur, balas dendam itu paling enak disajikan saat musuh merasa sudah di atas angin, lalu dijatuhkan sampai ke dasar kerak bumi.
Guntur memarkir motor matic-nya agak jauh dari ruko tua yang ditunjuk oleh preman tadi. Suasana di sana sangat sepi, hanya ada satu lampu remang-remang yang menyala di teras ruko. Guntur berjalan mengendap-endap, tangannya sudah mengepal kuat, siap untuk menghancurkan siapapun yang ada di dalam.
Begitu dia mengintip lewat jendela yang pecah, Guntur melihat seorang pemuda kurus sedang dipukuli oleh tiga orang preman besar. Pemuda itu tangannya diikat di kursi, wajahnya babak belur, tapi matanya tetap menatap tajam tanpa rasa takut sedikit pun. "Lek kepingin mateni aku, ndang patenono saiki! Gak usah kakehan cangkem!" (Kalau ingin bunuh aku, segera bunuh sekarang! Nggak usah kebanyakan mulut!) teriak pemuda itu dengan suara parau.
Guntur tertegun. Suara itu... logat itu... sangat akrab di telinganya. Di leher pemuda itu, Guntur melihat sebuah tanda lahir berbentuk bintang kecil yang sangat dia kenal. Jantung Guntur serasa mau copot. Itu adalah Bagas, adik kandungnya yang hilang sepuluh tahun lalu saat mereka terpisah karena kerusuhan di pasar malam Sidoarjo.
Tanpa pikir panjang lagi, Guntur mendobrak pintu ruko dengan sekali tendang sampai engselnya jebol. "Woy, jancuk! Lepasno arek iku saiki!" (Woy, jancuk! Lepaskan anak itu sekarang!) teriak Guntur dengan suara yang nggarai ruko itu bergetar. Emosinya sudah di ubun-ubun, melihat adiknya sendiri diperlakukan seperti binatang.
Ketiga preman itu kaget bukan main. "Siapa lagi lu? Mau jadi pahlawan kesiangan?" tanya salah satu preman sambil menghunuskan parang. Guntur nggak menjawab, dia langsung melesat maju. Gerakannya kali ini jauh lebih ganas dari biasanya. Pukulan Guntur mendarat telak di tenggorokan preman pertama sampai dia tumbang nggak bisa bernapas.
Preman kedua yang memegang balok kayu mencoba memukul Guntur, tapi Guntur menangkap balok itu dengan tangan kosong dan mematahkannya jadi dua. Dengan satu sundulan kepala yang keras, Guntur bikin hidung preman itu hancur berantakan. Preman terakhir yang ketakutan mencoba lari, tapi Guntur menarik bajunya dan membantingnya ke meja kayu sampai mejanya hancur berkeping-keping.
Guntur segera berlari ke arah pemuda yang terikat itu. Dengan tangan gemetar, dia melepas ikatan tali di tangan Bagas. Bagas mendongak, menatap pria berjaket ojek di depannya dengan sisa-sisa kesadarannya. "S-sopo kowe? Kenapa kowe nulungi aku?" (S-siapa kamu? Kenapa kamu menolong aku?) tanya Bagas lemah.
Guntur memeluk adiknya itu sangat erat, air matanya yang selama ini dia tahan akhirnya jatuh juga. "Bagas... iki aku, Mas Guntur, Le! Aku wis nggoleki kowe sepuluh taun!" (Bagas... ini aku, Mas Guntur, Dek! Aku sudah mencari kamu sepuluh tahun!) bisik Guntur dengan suara terisak. Bagas terdiam kaku, matanya membelalak lebar menyadari kalau pria yang menyelamatkannya adalah kakak yang sangat dia rindukan.
"Mas. Mas Guntur tangis Bagas pecah seketika di pelukan kakaknya. "Maafno Bagas, Mas. Aku kepepet kerjo dadi kurir nggo wong-wong iki mergo gak duwe dhuwit nggo urip. Aku gak weruh nek wong-wong iki musuhmu!" Guntur menggeleng kuat, dia merasa gagal menjaga adiknya selama ini, tapi dia berjanji dalam hati, mulai detik ini, siapapun yang berani menyentuh seujung kuku Bagas, akan dia kirim langsung ke neraka.
Guntur menggendong Bagas keluar dari ruko terkutuk itu. Di luar, Adit dan rombongan ojek pangkalan sudah sampai. Guntur menatap Adit dengan mata merah penuh amarah sekaligus haru. "Dit, gowo Bagas nang rumah sakit paling apik nang Surabaya. Jogoen dheweke koyok kowe njogo nyawamu dewe. Iki adikku, Adit! Adik kandungku sing ilang!" Adit melongo nggak percaya, tapi dia langsung bergerak cepat membawa Bagas masuk ke mobil.
Malam itu, Guntur berdiri sendirian di depan ruko yang sudah porak poranda itu. Dia tidak merasa lelah sedikit pun, malah tenaganya terasa berlipat ganda. Sekarang, alasannya untuk menghancurkan musuh-musuhnya sudah bertambah satu: demi Bagas. Sang Naga tidak hanya akan mengusir para pengganggu, tapi dia akan membakar habis siapapun yang sudah membuat adiknya menderita selama sepuluh tahun ini.