Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tiga Hari Dimulai Malam Ini
Embun belum turun ketika Xiao Fan melompat turun dari batu karang.
Tubuhnya terasa ringan. Sangat ringan. Seolah-olah rantai besi yang membelenggu pergelangan kakinya selama tiga tahun akhirnya terlepas. Alam Kondensasi Qi Lapis Kelima masih jauh dari kekuatan puncaknya di kehidupan sebelumnya. Tapi untuk memulai pembalasan kecil-kecilan, itu sudah lebih dari cukup.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju Dapur Luar. Bukan karena ia menerima hukuman itu. Tapi karena di sanalah target pertamanya berada.
Lin Hao.
Pemuda itu selalu datang ke dapur sebelum fajar. Bukan untuk mengambil makanan—murid sekelas dia punya pelayan pribadi. Ia datang untuk memukuli Xiao Fan. Setiap pagi. Sudah menjadi rutinitas. Hiburan sebelum latihan pedang.
Malam ini, Xiao Fan akan membalik meja itu.
Dapur Luar Sekte Langit Biru adalah bangunan tua beratap jerami. Di dalamnya hanya ada tungku tanah dan tumpukan kayu bakar. Xiao Fan tiba di sana saat bulan masih menggantung rendah. Ia tidak masuk. Ia hanya duduk di bangku kayu di depan pintu, menyilangkan kaki, dan menutup mata.
Teknik Kuno: Langkah Bayangan Senyap.
Ini adalah jurus dasar dari kehidupan sebelumnya. Bukan jurus menyerang. Hanya teknik mengaburkan keberadaan. Tapi dengan Qi Kematian yang kini mengalir di nadinya, teknik ini berubah menjadi sesuatu yang lebih menyeramkan. Tubuhnya tidak hanya tersembunyi dari penglihatan—ia menyatu dengan kegelapan itu sendiri.
Satu jam berlalu.
Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Dua orang. Satu langkah ringan penuh percaya diri. Satu langkah berat seperti kerbau.
Lin Hao muncul dari balik rimbunan bambu. Di belakangnya, seorang pemuda gemuk bernama Zhao Pang—pengikut setia sekaligus tukang pukul pribadi Lin Hao.
"Kak Lin, apa kita harus datang sepagi ini?" keluh Zhao Pang sambil menguap lebar. "Si sampah Xiao Fan pasti masih tidur. Bukankah lebih enak memukulinya nanti siang saja?"
Lin Hao terkekeh. "Kau tidak mengerti, Zhao Pang. Ada kenikmatan tersendiri melihat wajah ketakutan seseorang saat ia baru membuka mata. Selain itu, Tetua Leng Yue sudah memindahkannya ke sini. Mulai hari ini dia cuma juru masak. Artinya, kita bisa memukulinya kapan saja tanpa perlu alasan."
Keduanya tertawa.
Mereka berjalan melewati Xiao Fan yang duduk diam di bangku depan pintu. Tidak melihatnya. Tidak merasakan keberadaannya. Bagi mata mereka, Xiao Fan hanyalah bagian dari bayangan malam.
"Sampah! Keluar kau!" Lin Hao menendang pintu dapur hingga terbuka lebar.
Hening.
Tidak ada jawaban.
Zhao Pang melongok ke dalam. "Kak, tempat ini kosong. Mungkin dia belum pindah."
Lin Hao mendengus kesal. "Dasar tidak berguna. Sampai pindah pun terlambat."
Ia berbalik hendak pergi. Tapi langkahnya terhenti.
Karena tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya. Bukan angin. Bukan embun. Tapi aura. Aura yang begitu pekat, begitu gelap, seolah-olah seseorang telah membuka pintu ke dunia orang mati tepat di belakangnya.
"Lin Hao."
Suara itu. Suara yang dikenalnya sebagai suara lemah dan penuh ketakutan. Tapi sekarang... suara itu terdengar seperti bisikan dari dasar jurang.
Lin Hao berbalik dengan cepat. Matanya membelalak.
Xiao Fan berdiri tepat di belakangnya. Entah sejak kapan. Wajahnya setengah tertutup rambut hitam yang tergerai. Tapi yang membuat bulu kuduk Lin Hao merinding adalah mata pemuda itu. Sebelah kiri emas menyala. Sebelah kanan hitam pekat tanpa dasar.
"Kau... kau siapa?!" Lin Hao tersentak mundur.
Xiao Fan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kanannya. Perlahan. Sangat perlahan. Seperti seseorang yang sedang menikmati detik-detik sebelum badai.
"Tiga tahun, Lin Hao. Tiga tahun kau memukuliku setiap pagi. Mematahkan tulang rusukku dua kali. Merendahkanku di depan seluruh sekte." Suara Xiao Fan datar tanpa emosi. "Sekarang giliranku."
Lin Hao ingin tertawa. Ingin mencemooh seperti biasanya. Tapi mulutnya terkunci. Instingnya—insting seorang kultivator Alam Kondensasi Qi Lapis Ketujuh—menjerit keras di dalam kepalanya. Lari. Lari sekarang juga.
Ia tidak sempat.
Satu jari Xiao Fan menyentuh dahinya. Hanya satu jari. Sentuhan ringan seperti bulu.
Tapi yang dirasakan Lin Hao adalah neraka.
Qi Kematian mengalir dari ujung jari Xiao Fan langsung ke lautan kesadaran Lin Hao. Bukan untuk melukai fisiknya. Tapi untuk menunjukkan sesuatu. Sebuah gambar. Sebuah ingatan yang bukan miliknya.
Lin Hao melihat seorang pria berjubah hitam berdiri di atas tumpukan mayat. Langit di belakangnya berwarna merah darah. Di tangannya, sebilah pedang hitam yang sama persis dengan yang tertidur di jiwa Xiao Fan. Pria itu menoleh. Wajahnya... wajah Xiao Fan. Tapi lebih tua. Lebih dingin. Lebih mengerikan.
Itu Kaisar Pedang.
Lin Hao jatuh berlutut. Air seni membasahi celananya. Matanya kosong. Mulutnya terbuka lebar tanpa suara.
Zhao Pang yang menyaksikan dari samping hanya bisa gemetar. Ia tidak melihat apa yang dilihat Lin Hao. Tapi ia melihat tuannya—kultivator lapis ketujuh yang selalu sombong—kini terduduk seperti boneka kain dengan tatapan hilang.
Xiao Fan menarik jarinya. Matanya kembali normal. Hitam biasa. Seperti pemuda lusuh yang selalu dihina.
Ia berjongkok di depan Lin Hao. "Aku tidak akan membunuhmu malam ini. Pembunuhan pertama setelah kebangkitanku terlalu berharga untuk diberikan pada sampah sepertimu."
Ia menepuk pipi Lin Hao pelan. "Kau akan tetap hidup. Tapi setiap kali kau menutup mata untuk tidur, kau akan melihat wajah itu. Setiap malam. Sampai kau gila. Atau sampai kau bunuh diri. Itu adalah hadiah perpisahan dariku."
Xiao Fan berdiri. Ia menatap ke arah Puncak Utama yang mulai diterangi cahaya fajar.
"Satu sudah selesai. Masih ada seluruh sekte."
Ia melangkah pergi meninggalkan dapur. Meninggalkan Lin Hao yang masih berlutut dengan tatapan kosong, dan Zhao Pang yang pingsan di sampingnya.
Di atas Puncak Utama, Tetua Leng Yue membuka matanya dari meditasi. Keningnya berkerut dalam.
"Aura itu lagi. Lebih kuat dari tadi malam." Ia mengepalkan tangannya. "Siapa kau sebenarnya, Xiao Fan? Apa hubunganmu dengan Kaisar Pedang yang mati sepuluh ribu tahun lalu?"
Fajar menyingsing di Sekte Langit Biru.
Hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan Xiao Fan... baru saja dimulai.