Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH SATU
Mobil melaju kencang, menelan jalanan malam Kamis yang sunyi. Lampu jalan berlarian mundur di kaca jendela, menciptakan bayangan redup yang menari di dalam mobil.
Aku duduk terpaku di kursi penumpang, jemariku tak henti meremas ujung blusku. Sejak perdebatan tadi, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku maupun Althaf. Hanya suara mesin mobil dan detak jantungku yang terasa terlalu keras di telinga.
Namun, beberapa menit kemudian, aku baru sadar sesuatu. Jalur ini—ini bukan jalur pulang. Jalan ini sama sekali tidak menuju rumah Althaf. Aku mengerjap, menelan ludah. Degup jantungku makin kencang.
Kenapa jalannya ke arah berlawanan?
Aku menarik napas dalam, memberanikan diri membuka suara. “Mas…” ucapku pelan, nyaris berbisik, takut suaraku terdengar gemetar. “Kayaknya mas salah jalan. Ini bukan jalan ke rumah.”
Althaf menoleh sekilas padaku, lalu kembali menatap lurus ke depan. Rahangnya mengetat, matanya fokus. “Nggak salah jalan,” katanya datar, seolah keputusannya sudah bulat. “Malam ini kita pulang ke apartemen saya.”
Aku membeku. “A-apartemen?” ucapku tercekat, suara nyaris hilang.
Althaf tetap tenang, seolah hal itu adalah keputusan paling wajar. “Besok saya ada jadwal pagi. Siangnya meeting di kantor Oma. Lebih praktis dan tidak kejauhan, Jadi nggak buang waktu.”
Aku tercekat. Ke apartemen? Berdua? Menginap? Pikiran itu membuat darahku berdesir aneh, campur aduk antara gugup, takut, dan sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Tanganku refleks menggenggam erat tas di pangkuanku, mencari pegangan.
“Tapi… baju saya, Mas. Saya nggak bawa apa-apa. Saya—”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, suaranya langsung memotong, dingin tapi tegas. “Perlengkapan kamu sudah disiapkan Reihan.”
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak. Jadi, semua ini sudah ia rencanakan? Bahkan detail sekecil itu pun dipikirkan? Aku menunduk, wajahku memanas entah karena malu atau kesal. Rasanya aku seperti tidak punya ruang untuk menolak.
Althaf melirik sekilas, mungkin menyadari diamku, tapi dia tidak menambahkan apapun. Kedua tangannya tetap kokoh di setir, ekspresinya nyaris tanpa celah.
Aku menarik napas, mencoba meredakan gelombang aneh dalam dadaku. “Makasih, Mas…” ucapku akhirnya, lirih. Kata-kata itu lebih seperti formalitas, bukan rasa syukur yang sesungguhnya.
Aku kembali menatap jendela, membiarkan pandanganku hanyut bersama lampu-lampu kota yang berkelebat. Namun, semakin lama aku memandang, semakin terasa tekanan dalam kabin ini. Bukan hanya hening—tapi hening yang mencekam, seolah setiap tarikan napas kami bisa meledakkan emosi yang masih tertahan.
Jantungku berdegup tak karuan. Aku tak berani menoleh. Sementara Althaf, dengan wajah tegasnya, tetap memegang kendali. Dan di kepalaku, satu pertanyaan terus berputar:
Apa yang akan terjadi malam ini, saat hanya ada aku dan dia, di apartemen itu?
Mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung menjulang tinggi dengan lampu-lampu yang menyala indah, membentuk garis cahaya berliku di fasadnya. Mataku spontan membelalak, tak percaya melihat bangunan semewah itu berdiri nyata di hadapanku.
Cahaya lampu-lampu kota berbaur dengan sorotan emas yang melingkari tiap balkon, membuat apartemen itu tampak megah sekaligus angkuh. Dari bawah, aku harus mendongak tinggi hanya untuk melihat puncaknya. Rasanya gedung itu seperti menelan langit malam.
Aku merasakan dada berdebar, telapak tanganku dingin. Benarkah aku akan masuk ke tempat semewah ini? Bayangan kehidupanku yang sederhana terasa begitu jauh dari dunia yang berdiri kokoh di depanku.
Althaf turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobilku. “Turun,” ucapnya singkat. Suaranya datar, namun mengandung kuasa yang membuatku tak bisa menolak.
Aku melangkah keluar dengan hati-hati, sepatu hak kecilku beradu dengan paving blok halaman apartemen. Tatapanku tak bisa lepas dari gedung itu. Ada rasa kagum, tapi juga cemas yang menusuk.
Langkahku terasa berat ketika menyusuri jalan menuju lobi. Bangunan tinggi dengan lampu-lampu elegan itu seakan berbisik, kamu tidak pantas di sini. Aku menunduk, mencoba menenangkan diri. Namun jantungku terus berdebar, makin kencang ketika aku sadar—malam ini aku akan masuk, dan mungkin menginap, di dunia Althaf yang terasa begitu jauh dariku.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitku. Langkahku terhenti sejenak di ambang pintu, mataku terpaku pada lobi yang begitu megah.
Lantai marmer putih berkilau, memantulkan cahaya lampu kristal yang tergantung megah di langit-langit tinggi. Dindingnya dilapisi kaca besar dengan bingkai emas, menampilkan bayangan kota yang penuh lampu di luar sana. Sofa kulit berwarna krem ditata rapi di sudut, dengan meja kaca yang dihiasi vas bunga segar.
Aku menelan ludah, merasa semakin kecil. Jemariku otomatis meremas ujung tas yang kubawa, berusaha menyalurkan rasa gugup. Tempat ini terlalu mewah… seperti dunia yang tidak pernah kuhuni.
Althaf berjalan di depanku dengan langkah tenang, aura dinginnya semakin terasa di antara kemewahan ruangan itu. Ia sempat menoleh sebentar, tatapannya singkat namun tegas.
“Ayo jalan, jangan bengong.”
Aku tersentak dan segera menyusulnya, meski kakiku terasa kaku. Beberapa penghuni apartemen lewat di sekitarku, wangi parfum mahal mereka menyusup tajam ke hidung. Aku sempat menangkap tatapan sekilas—tatapan menilai, seolah keberadaanku dipertanyakan.
Pintu lift terbuka dengan bunyi denting halus. Althaf melangkah masuk tanpa banyak bicara, dan aku mengikuti di belakangnya. Saat pintu tertutup, hanya ada kami berdua di dalam ruang lift yang sunyi.
Begitu pintu apartemen terbuka, aku sontak terdiam di ambang. Napasku tercekat, mataku terpaku pada pemandangan di hadapanku.
Bukan sekadar apartemen… ini lebih mirip penthouse mewah yang hanya pernah kulihat di film.
Langkahku terasa ragu saat melangkah masuk. Lantai putih yang mengilap membentang luas, berpadu dengan karpet tebal berwarna gelap yang menelan bunyi langkahku. Ruangan ini menjulang tinggi dengan langit-langit yang dihiasi lampu gantung panjang, menggantung dramatis seperti bintang-bintang modern.
Sofa kulit snu-abu besar terletak di tengah ruangan, begitu elegan namun dingin, menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan panorama kota penuh cahaya malam. Tirai tebal berwarna cokelat gelap menjuntai anggun, memberi kesan misterius sekaligus megah.
Aku menoleh ke sekeliling—ada bar kecil di sudut ruangan dengan rak berisi deretan botol mahal, meja makan panjang dengan kursi yang ditata presisi, dan setiap sudut ruangan tampak tertata rapi tanpa cela. Semuanya serba hitam, serba elegan, serba mahal.
Tanganku tanpa sadar meremas tali tas, tubuhku menegang. Rasanya aku seperti orang asing yang tiba-tiba masuk ke dunia lain. Dunia Althaf. Dunia yang begitu jauh dari kehidupanku yang sederhana.
“Kenapa diam di sana?” suara Althaf terdengar dari belakangku, dalam dan berat, membuatku menoleh. Ia sedang melepas jas hitamnya lalu menaruhnya di sandaran sofa, gerakannya santai namun berwibawa, seolah ruangan ini memang sepenuhnya miliknya—dan ia bagian dari kemewahan itu.
Aku menelan ludah. “Tempatnya… besar sekali. Indah, tapi… terasa asing buat saya.” Suaraku terdengar kecil, nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan.
Althaf menatapku sekilas, lalu berjalan mendekat dengan langkah mantap. “Asing? Kamu akan terbiasa. Anggap saja mulai malam ini, tempat ini juga rumahmu.”
Ucapan itu membuat jantungku berdebar lebih cepat, bukan karena nyaman—tapi karena canggung dan gugup. Rasanya sulit membayangkan diriku… tinggal di tempat sebesar dan semegah ini, berdua dengannya.
Begitu pintu utama menutup otomatis di belakang kami, suara berat Althaf terdengar datar, tanpa ekspresi, menusuk telingaku.
“Di sini kamarnya cuma ada satu. Kalau kamu mau ganti baju, silakan masuk ke kamar. Semua perlengkapanmu sudah ada di walk-in closet.”
Aku refleks menoleh padanya, ingin memastikan apakah aku tidak salah dengar. Satu kamar? Kata-kata itu membuat tenggorokanku tercekat, tapi Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku. Ia langsung berjalan menuju dapur dengan langkah panjang dan mantap.
Aku terdiam sejenak sebelum mengikuti pandangan mataku pada ruangan yang ditempatinya. Dapur itu… benar-benar seperti dapur yang hanya ada di majalah interior.
Kabinet hitam glossy berjajar rapi hingga ke langit-langit, memantulkan cahaya lampu putih redup yang terpasang di setiap sudut. Meja marmer putih membentang di tengah, bersih tanpa noda, dengan kursi tinggi berjajar rapi di sampingnya—lebih mirip bar eksklusif daripada sekadar dapur. Bau samar wangi citrus bercampur aroma besi dingin memenuhi ruangannya, menambah kesan modern yang menegangkan.
Aku memperhatikan Althaf membuka kulkas besar hitam. Gerakannya tenang, seolah sudah sangat terbiasa dengan rutinitas itu. Dari dalam, ia mengambil sebotol air mineral dingin, lalu meneguknya langsung. Butiran embun menempel di permukaan botol, menetes di jemarinya yang kokoh. Adam’s apple-nya naik-turun jelas ketika menelan, membuatku tanpa sadar menahan napas.
Entah mengapa pemandangan sederhana itu—seorang pria minum air di dapur—terasa begitu intim, terlalu dekat, terlalu personal.
Aku cepat-cepat memalingkan wajah, berpura-pura sibuk memperhatikan detail dapur: blender canggih di pojok meja, toples kaca berisi biji kopi, rak kecil dengan bumbu dapur yang tertata lurus tanpa ada yang miring sedikit pun. Semuanya serba rapi, serba terkontrol. Ya, sangat seperti Althaf—dingin, sempurna, dan tak memberi ruang untuk kesalahan.
Pintu kamar itu terbuka dengan bunyi klik lembut, dan begitu aku melangkah masuk, napasku seakan tercekat di tenggorokan.

Ruangan ini bukan sekadar kamar—ini seperti suite hotel bintang lima, atau bahkan lebih mewah dari itu. Lantai kayu cokelat gelap berpadu dengan karpet tebal abu-abu yang terasa empuk di bawah langkah kakiku. Cahaya lampu LED yang tersembunyi di sepanjang langit-langit menyorot lembut, memberi nuansa hangat sekaligus elegan. Tempat tidurnya begitu besar, king size dengan sprei satin abu muda yang tampak rapi tanpa satu kerutan pun, seolah setiap sudutnya dipasang dengan presisi militer.
Di sisi lain, sofa panjang abu-abu dan meja bundar beludru hitam berdiri anggun, lengkap dengan buku-buku tebal bergaya coffee table yang tertata rapi. Semua tampak begitu mahal, begitu Althaf.
Aku masih melangkah pelan, seolah takut kakiku akan menodai kesempurnaan ruangan ini, hingga pandanganku tertuju pada sebuah lorong kecil di samping kamar.
Walk-in closet.

Aku mendekat, lalu kembali tercengang. Lorong itu memanjang dengan dinding penuh lemari kaca transparan berbingkai hitam, memamerkan koleksi pakaian yang tertata rapi. Setelan jas, kemeja, sepatu kulit, hingga aksesori kecil tersusun seperti pajangan butik mewah. Lampu-lampu LED menyinari tiap sudut, membuat pantulan kaca semakin menegaskan nuansa elegan.
Di tengah ruangan, ada bangku panjang beludru abu-abu, dan meja rias marmer hitam dengan kursi bundar putih. Di atasnya, vas bunga segar dengan mawar putih dan pink pucat menghiasi, memberi sentuhan lembut di tengah dominasi warna gelap.
Aku menyentuh permukaan meja marmer dengan jemariku, dingin dan licin. Rasanya tidak nyata—seolah aku bukan sedang berada di apartemen seorang pria yang baru beberapa waktu lalu menarik tanganku dengan kasar, melainkan sedang berada di dunia yang lain. Dunia Althaf. Dunia yang penuh kendali, penuh kesempurnaan, tapi sekaligus terasa menekan.
Aku bergumam pelan, hampir hanya untuk diriku sendiri.
“Masya Allah… kayaknya ini bukan kamar, tapi hotel bintang lima.”
Aku menghela napas panjang, kedua mataku menyisir rak demi rak di walk-in closet yang luas dan dingin ini. Bau khas kain baru tercium samar, karena sebagian besar pakaian wanita yang tergantung masih rapi dengan label tag yang belum dicabut. Gaun-gaun mahal, blus sutra, rok berpotongan rapi—semuanya ada, kecuali satu hal yang paling kucari: piyama sederhana untuk aku pakai malam ini.
Kakiku sudah pegal bolak-balik di ruangan ini, sampai akhirnya aku berjongkok, mengulurkan tangan ke rak paling bawah. Ada setumpuk kain terlipat rapi berwarna merah, warnanya sangat menggoda. Aku meraihnya dengan sedikit tergesa, hatiku hampir melonjak.
“Ah, akhirnya…” bisikku lega, senyum tipis mulai merekah.

Namun senyum itu langsung lenyap seketika begitu kain itu terbuka di tanganku. Napasku tercekat, mata membelalak.
Ini bukan piyama.
Bukan pakaian tidur sederhana yang kubayangkan.
Tapi lingerie.
Kain satin tipis berkilau dengan renda halus menghiasi bagian dada, potongannya menggoda, warnanya merah marun yang dalam—terlalu sensual untuk sekadar pakaian tidur. Aku membeku, menatap benda itu seperti baru saja menemukan sesuatu yang terlarang.
Tanganku refleks melepaskannya, lingerie itu terjatuh ringan di lantai. Aku menatapnya lama, dada berdebar keras hingga terasa sesak. Panas merambat ke pipiku, entah karena malu atau marah pada kenyataan bahwa benda seperti ini justru yang kupilih dengan penuh harapan.
“Ya Tuhan… kok bisa ada beginian di sini…” bisikku, suara gemetar.
Aku menelan ludah, menunduk menatap lingerie itu yang kini tergeletak di lantai putih, tampak kontras sekaligus menantang. Rasa tak nyaman menyusup di dadaku. Pikiranku kalut—siapa yang menaruhnya? Apakah Althaf sengaja menyiapkannya untukku?
Aku buru-buru meraihnya kembali, tangan bergetar hebat. Kain satin itu terasa begitu lembut di kulit, justru membuatku semakin gelisah. Aku menutupinya dengan cepat menggunakan lipatan baju lain, seolah takut ada mata yang melihat.
“Tidak, aku nggak mungkin pakai ini…” gumamku lirih, mencoba menenangkan diri.
Tapi kalimat itu justru terasa hampa di udara, sebab di dalam hatiku aku tahu—di luar sana, ada Althaf. Dan aku tidak tahu apa yang sesungguhnya dia harapkan dariku malam ini.
Aku masih berdiri kaku di depan rak pakaian, menahan napas saat menyembunyikan lingerie merah itu di balik tumpukan baju. Jantungku berdegup terlalu keras, seakan bisa terdengar jelas di ruangan yang tenang ini.
Althaf berhenti di ambang pintu kamar. Tubuhnya yang tegap bersandar santai pada kusen, tapi tatapannya tetap menusuk dingin. Rambut basahnya masih menetes, aroma segar sabun dari tubuhnya menebar samar di udara.
“Senjani,” panggilnya pelan, namun cukup untuk membuatku menoleh cepat.
“I-iya, mas?” suaraku nyaris serak.
Dia menatapku beberapa detik, seakan membaca keresahan yang kusimpan. Lalu, dengan nada datar tapi jelas, ia berkata:
“Cepat bersih-bersih. Saya tunggu kamu di ruang tamu.”
Aku mengerjap, kaget. “D-ditunggu? Memangnya ada apa, mas?” tanyaku ragu, berusaha menyembunyikan rasa gugup.
Althaf menegakkan tubuhnya, lalu melangkah pelan ke arah luar kamar. Tepat sebelum keluar, ia sempat berhenti sebentar, menoleh sekilas dengan sorot mata yang sulit kutebak.
“Ada hal yang harus kita bicarakan. Jangan lama.”
Hanya itu. Suaranya tegas, tanpa memberi celah untuk bertanya lebih jauh.
Pintu kamar dibiarkan setengah terbuka ketika ia melangkah pergi. Aku terpaku, menatap punggung lebarnya yang menghilang ke koridor menuju ruang tamu.
Tanganku yang masih menggenggam lingerie terasa bergetar. Rasanya panas, seolah kain tipis itu membawa pertanda buruk.
Aku menggigit bibir, menelan rasa panik yang menyesakkan. “Ada yang ingin dibicarakan…” gumamku lirih, seakan kata-kata itu sendiri cukup untuk menyalakan ribuan kemungkinan di kepalaku.
Aku buru-buru menyelipkan lingerie itu kembali ke tempat semula, lalu melangkah cepat ke kamar mandi. Setiap detik rasanya berharga, karena di ruang tamu… Althaf sedang menunggu.
Dan aku tahu, apapun yang akan ia katakan nanti… pasti akan mengubah malam ini.
Aku akhirnya memilih langkah aman. Baju tidur yang disiapkan oleh Raihan jelas bukan pilihanku, terlalu berani untuk sekadar terlelap. Jadi aku meraih salah satu kemeja Althaf yang tergantung rapi di lemari. Warnanya abu-abu, khas dirinya—dingin, maskulin, berwibawa. Kemeja itu jelas kebesaran di tubuhku, jatuh longgar hingga menyapu pahaku, membuat kulitku terlihat lebih pucat di bawah cahaya lampu kamar.
Aku menelan ludah. Tanpa bra, rasanya terlalu bebas, tapi aku memang tak pernah nyaman tidur dengan sesuatu yang mengekang. Aku memang tidak menggunakan bra saat tidur.
Dengan langkah ragu, aku berjalan keluar kamar. Jantungku seakan berpacu lebih cepat setiap aku semakin dekat ke ruang tamu.
Saat tiba, aku melihatnya duduk di sofa hitam elegan. Althaf masih mengenakan celana panjang rumahnya dengan kaus polo berwarna hitam… sepasang kacamata berbingkai tipis bertengger di wajahnya. Ia tampak serius menatap iPad di pangkuannya, jemarinya sesekali menyapu layar. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuatnya semakin tampak dingin—dan menggoda.
Aku mendekat pelan. “Mas…” bisikku lirih, nyaris seperti cicitan kecil.
Kepalanya langsung terangkat. Tatapan mata hitam itu segera menangkap sosokku. Untuk sepersekian detik, aku melihatnya terdiam. Tatapannya seakan membekukan udara di sekitarku. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan.
Aku langsung merasa salah. “M-maaf, mas,” ujarku cepat, menundukkan kepala. “Saya pakai kemeja mas tanpa izin. Karena baju tidur yang disiapkan Raihan… kurang cocok buat saya.”
Aku kira ia akan menegur, tapi ternyata tidak. Tanpa sepatah kata, Althaf meletakkan iPad di meja. Lalu, dalam gerakan cepat yang tak sempat kuantisipasi, tangannya meraih pergelangan tanganku. Tarikannya tegas, membuat tubuhku oleng ke arahnya.
“A-ah, mas!” seruku kaget, sebelum akhirnya aku jatuh terduduk tepat di atas pangkuannya.
Aku bisa merasakan betapa kuat lengannya saat menahan pinggangku agar tak bergerak. Jarak kami kini terlalu dekat. Napasku tercekat ketika merasakan kehangatan tubuhnya menyergap.
“Sedang menggoda saya, ya, Senjani?” suaranya rendah, parau, dengan senyum miring yang langsung membuat darahku berdesir liar.
Tatapannya menelusuri wajahku, turun perlahan ke arah kemeja yang kebesaran itu—kemejanya—yang kini justru menampakkan bagian kulitku lebih banyak daripada yang menutupinya.
Aku menggeleng cepat, wajahku memanas. “B-bukan… saya tidak berniat—”
“Hmm…” ia mendekatkan wajahnya, suaranya terdengar nyaris seperti bisikan di telingaku. “Tapi kamu tak tahu, pakai kemeja saya tanpa izin… rasanya justru seperti undangan yang terlalu sulit saya abaikan.”
Darahku berdesir makin kencang, jantungku seakan hendak pecah. Tangannya yang kokoh masih menahan pinggangku, membuatku benar-benar terperangkap di atas pangkuannya.
Dan aku sadar, tak ada lagi jalan keluar dari tatapan membara milik Althaf malam ini.