Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Di Desa Kecil
Di dalam perjalanan menuju rumah Selena, suasana sunyi petang melanda, hanya terdengar suara angin malam, dan gonggongan anjing-anjing desa, jarak yang di tempuh juga jauh dan banyak tanjakan.
Di pertengahan jalan orang-orang Robin mulai beraksi dengan mengarahkan senjatanya ke arah mobil Selena di balik semak-semak tinggi pinggir jalan.
"Door ... Door ...," dua bahkan melesat hampir mengenai kaca mobil mereka.
Valen dan Selena segera waspada, jebakan Robin baru di mulai, keduanya dengan arah yang saling membelakangi mulai fokus sambil menggenggam erat senjatanya dan diarahkan ke arah musuh.
"Waspada Queen," kata Valen sambil memberi arahan kepada Selena.
Gadis itu hanya mengangguk, tatapannya mulai fokus mengintai arah tembakan tadi, di saat hening dan peluruh dari musuh sudah berhenti, dengan insting tajamnya Selena mulai membidik ke arah yang ia yakini tempat persembunyian para musuhnya.
"Door ... Door ...," bidik Selena tepat sasaran dan membuat musuh keluar dari persembunyiannya.
"Aaaaah...!" teriak musuh ketika lengannya mengenai timah panas.
"Sial ... lagi-lagi gadis kecil itu menemukan persembunyian kita," ucap salah satu dari anak buah Robin.
Selena segera menarik badannya ke belakang, ketika musuh mulai menembakkan pelurunya ke arah mobil. Mobil segera melesat kencang menembus jalanan sepi, namun tembakan demi tembakan masih memburu seolah tak ingin berhenti menembakkan
Di sepanjang jalan serangan kerap melanda, Valen mulai memberi arahan kepada supirnya, untuk tepat waspada, begitu juga dengan Selena.
"Hati-hati mereka pasti akan menyerang kembali," ucapnya dengan nada dingin.
Mobil terus melaju menembus jalanan berbatu, sorot lampu bersinar tajam, cukup menerangi jalanan yang gelap, Namum di setiap tikungan terasa penuh ancaman, di balik semak terdengar suara ranting patah, membuat Selena semakin waspada menghadapi situasi seperti ini.
"Berhenti di tanjakan berikutnya!" perintah Valen terdengar cepat.
Supir menginjak rem perlahan, mobil berhenti di titik gelap tanpa penerangan. Selena menarik napas, jemarinya tetap menggenggam pistol erat.
"Kenapa berhenti Don, perjalanan masih jauh, lebih baik kita lanjutkan lagi dari pada harus meladeni musuh yang membuat tenaga kita terbuang," sela Selena.
Valen menoleh, ada rasa bangga dibalik tatapannya yang dingin, ternyata gadis tawanannya itu sudah mulai pintar mengatur strategi. "Heeeemb, baiklah kita lanjutkan kembali, tapi tetap waspada karena bahaya sedang mengintai."
☘️☘️☘️☘️
Supir langsung melajukan kembali mobilnya. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma wangi asap kayu. Di kejauhan, anjing-anjing desa menggonggong tak henti, seolah merasakan sesuatu yang tidak wajar. Langit kelam tanpa bintang, hanya bulan sabit pucat yang menggantung muram di atas pepohonan.
Sesampainya di tempat. Selena berdiri tegak di antara pasukannya. Wajahnya tidak lagi sama dengan gadis yang dulu penuh keraguan. Kini sorot matanya tegas, mengandung bara yang membakar setiap ketakutan. Sejenak, ia menatap ke arah rumah kayu tua di ujung desa, tempat keluarganya ditahan.
Hatinya berdesir, ada rasa takut kehilangan, tapi juga tekad baja yang menekan segala keraguan. Malam ini bukan hanya tentang menyelamatkan ibu dan adiknya. Malam ini adalah ujian pertama, apakah ia pantas menyandang nama “Queen” atau akan runtuh di hadapan musuh.
Malam itu desa kecil di pinggiran hutan sunyi tak seperti biasanya. Lampu-lampu di beberapa rumah padam lebih cepat, udara dipenuhi kesenyapan mencurigakan. Selena berdiri di balik pepohonan, matanya tajam menelisik setiap bayangan.
“Semua pos sudah siap?” bisiknya pada Don, tangan kanannya.
“Siap, Queen. Tapi firasatku… mereka sudah ada di tempat orang tuamu, dan bakal ada banyak kejutan yang nanti membuatmu tercengang," jawab Valen segera.
Selena menggenggam senjata pendek di tangannya. Darahnya berdesir ketika menyangkut nama keluarganya. Ia tahu Robin tidak akan menyerang terang-terangan, dia lebih suka jebakan. Tapi kali ini yang dipertaruhkan adalah keluarganya yang masih tertahan di rumah kayu.
Tiba-tiba, suara lengkingan peluit terdengar dari arah berlawanan. Keheningan pun pecah. Dari balik rumah-rumah reyot, puluhan pria bersenjata keluar serentak. Api obor menyala, menerangi wajah-wajah bengis anak buah Robin.
“Selamat datang, Queen baru!” teriak salah satu di antara mereka dengan nada mengejek.
Mereka melangkah dari arah sebrang, tawanya mulai menggema tatapannya dingin seolah meremehkan gadis di hadapannya itu.
"Bocah bodoh kalau berani ayo lawan aku," ucapnya disambut oleh gelak tawa teman-temannya.
Selena menarik napas panjang, lalu melangkah maju.
“Kalau kau kira aku datang untuk bermain-main, kau salah besar,” ucapnya dingin.
Bagikan kilat, tembakan pertama meletus dengan cepatnya Pasukan Selena yang sudah bersiap langsung membalas tembakan tersebut.
"Door ... Door ....," rentetan tembakan melesat, sesekali tepat sasaran.
Selena menjulurkan kembali pistolnya, ke arah lawan, dengan cepat dirinya menyembunyikan wajahnya di balik batu besar yang menjadi tameng.
Desa kecil itu berubah jadi medan perang. Jeritan, ledakan kecil dari bom molotov, dan api yang menjilat atap rumah membuat suasana semakin mencekam.
"Awas hati-hati ...!" teriak Valen sambil menyeret tubuh Selena membawanya menjauh dari ledakan itu.
Selena menatap dalam rumah beberapa warga yang hancur, tangannya mulai mengepal, otot-otot di rahangnya terlihat jelas api kemarahannya.
"Don rumah warga," ucapnya terdengar parau.
"Kita pikirkan itu Nanti saat ini kita harus memikirkan bagaimana menumbangkan lawan," sahut Valen.
Di tengah kepanikan itu, Selena tidak kehilangan fokus. Ia melihat celah di sisi kanan, jalan sempit menuju rumah kayu tempat keluarganya disekap.
“Don, lindungi sisi kiri! Aku ambil jalur kanan, keluarkan mereka!” perintahnya tegas.
“Queen, itu terlalu berisiko! Robin pasti ...," ucap Valen tercekat.
“Lakukan saja! Aku tahu apa yang kulakukan!” potong Selena keras, lalu berlari menerobos kobaran api dan hujan peluru.
Di balik asap pekat, langkahnya semakin cepat. Tubuhnya merunduk, sesekali menembak tepat sasaran. Setiap peluru yang keluar dari pistolnya seakan membawa pesan: ia bukan lagi Selena yang dulu, ia adalah pemimpin yang siap mati demi yang ia cintai.
Namun saat jaraknya tinggal beberapa meter dari rumah kayu, suara tawa berat menggema. Dari kegelapan, muncullah sosok tinggi besar—Robin sendiri, dengan senyum sinis di wajahnya.
“Queen kecil… akhirnya kau keluar dari sarang.”
Selena terhenti. Matanya menatap tajam, jantungnya berdegup kencang. Pertemuan itu bukan sekadar duel biasa, tapi awal dari pertarungan yang akan menentukan segalanya.
Bersambung ...
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf