BIANCA DEALOVA, gadis tengil yang suka sekali dengan tantangan,ia menjadi pusat perhatian di SMA Karya Bakti semua murid cowok pasti mengenalinya.Hingga pada akhirnya, dia ditantang oleh teman-temannya untuk menaklukkan hati seorang siswa baru, EDGAR GRISSHAM pemuda berwajah dingin dan misterius.
"apakah Allexa berhasil menaklukkan hati seorang pemuda dingin itu atau tidak.yuk, Kepoin kisah mereka selanjutnya!!"👋🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Days Of Chasing Love
Edgar, Samudra, Kelvin, dan Velix, kumpulan remaja dengan wajah tampan itu, kini kembali melangkahkan kaki mereka memasuki lantai atas, tepatnya di lantai 4.
"Sepi banget," ujar Kelvin, menoleh kanan kiri, mengandeng tangan Samudra.
"Jelas lah sepi, kalo rame di pasar," jawab Velix, dengan nada yang santai.
"Bisa jauh-jauh ngak Lo?" kesal Samudra, menatap Kelvin.
"Gue takut, nanti kalo kuntilanak curi gue gimana?" tanya Kelvin, tak mau melepaskan tangannya dari lengan samudra.
"Palingan yang culik Lo Ailiy, kan yang tewas di sini cuman Ailiy," jawab Samudra, dengan nada yang datar.
"Lagi pula Ailiy culik Lo, pikir-pikir dulu," ujar Velix
"Ruangan ini kan?" tanya Edgar, setelah mereka sampai di satu kelas terbengkalai.
"Iya," jawab mereka serempak, menatap ruangan yang tampak sudah lama tidak digunakan.
"Nih, ponsel Bianca," ujar Edgar, memberikan ponselnya Bianca ke Samudra.
"Lepasin dulu tangan gue, Kel," ujar Samudra, dengan nada yang sedikit kesal.
"Hehehe, maaf," ujar Kelvin, kemudian mendekati Edgar, hanya mendekat tak berani mengandeng.
"Ini foto Lo sama Ailiy kan?" tanya Velix, saat melihat foto di ponsel Bianca.
"Mana, gue lihat," pinta Kelvin, mendekat ke Samudra.
"Hmmm, gue curiga sama nomor itu," ujar Edgar, memperhatikan ponsel Bianca dengan seksama.
"Lah, kenapa bisa kirim ke Bianca nih foto?" tanya Kelvin, penasaran.
"Gue rasa pengirim foto ini ada sangkut pautnya dengan kematian Ailiy," jawab Edgar, dengan nada yang serius.
"Jangan bilang dia juga incar Bianca, pasti pelakunya ada di sekitar sekolah ini," ujar Samudra,
"Dengan ini kita bisa memanfaatkan Bianca, mancing nih orang keluar dari sarangnya," ujar Edgar, dengan rencana yang sudah terlihat di matanya
"Yang bener aja Lo bos, Ailiy aja dibunuh apa lagi Bianca," ujar Kelvin, dengan nada yang tidak setuju.
"Gue setuju sama Edgar," celetuk Velix, dengan nada yang mendukung.
"Lo tahu kan, kalo Varsya, Victoria, dan Almira tahu kita memanfaatkan temannya, bisa-bisa hubungan gue hancur," ujar Kelvin, dengan nada yang khawatir.
"Tunggu sini, gue bales dulu pesan nya," ujar Samudra, mengambil ponsel dari tangan Kelvin.
Setelah membaca pesan di ponsel, Samudra mengetik dengan cepat dan kemudian berhenti sejenak sebelum mengirimkan pesan balasan.
Anda:Sapa Lo yang berani ngelarang Gue?
tulis Samudra di pesan balasan, Samudra mengirimkan pesan itu dan menunggu respons dari pengirim pesan misterius itu.
"Centang satu," ujar Samudra, memperlihatkan pesan yang dikirimnya,
"Cabut, kita nggak boleh lama-lama di sini," ujar Velix, dengan nada yang penuh kekhawatiran.
"Kita harus hati-hati, siapa tahu pengirim pesan itu ada di sekitar sini," tambah Edgar, sambil melihat sekeliling dengan waspada.
"Iya, ayo kita pergi dari sini," ujar Kelvin, sambil mengangguk setuju.
Kelompok remaja itu kemudian bergegas meninggalkan ruangan terbengkalai itu, berusaha untuk tidak menarik perhatian pengirim pesan misterius itu. Mereka berjalan dengan cepat dan hati-hati.
Saat sampai di pantai bawah banyak murid menatap ke arah mereka
Saat sampai di pantai, banyak murid menatap kagum ke arah mereka. Bagaimana tidak, kelima remaja itu memiliki daya tarik tersendiri. Velix, dengan jiwa playboy-nya, tidak bisa menahan diri untuk tidak bermain-main dengan para gadis cantik di sekitar mereka.
"Hello, Dede cantik, nungguin Abang yah?" tanya Velix, dengan senyum mempesona.
Para gadis itu tersenyum dan mulai mendekati mereka, membawa coklat dan surat-surat.
"Ini buat Lo dan ini buat Edgar, tolong," ujar seorang gadis, sambil memberikan coklat dan surat kepada Velix.
"Ini juga bagi-bagi yah, Lix," tambah seorang gadis lain, memberikan lima coklat dan lima surat.
"Ini buat kalian berlima," kata gadis itu, sambil tersenyum.
remaja itu menerima coklat dan surat-surat itu dengan senyum, kecuali Edgar pemuda itu menatap para gadis gadis itu datar sedangkan Kelvin panik toh Takut Varsya lihat bisa mampus
"Ini buat Kak Kelvin, tapi jangan lapor Kak Varsya, ini coklat tutup mulut," ujar seorang gadis, sambil memberikan coklat kepada Velix.
"Ini buat Kak Samudra, bilangin dia Kak aku cemburu kalo dia dekat cewek lain," tambah seorang gadis lain.
"Ini buat Edgar, bilang dia jangan galak-galak," kata seorang gadis, sambil memberikan surat kepada Velix
Setelah memberikan semua coklat dan surat-surat itu, para gadis itu berlari dengan tertawa riang, meninggalkan kelompok remaja itu.
"nih buat kalian, senang banget nih dapat coklat kayak gini, apa lagi banyak cewek cantik setiap hari deh gue ke sini," ujar Velix dengan gembira.
"Gak, buat lo aja," tolak keempatnya serempak menolak coklat dan surat-surat itu.
"Ngak usah nolak rezeki yah, ini buat lo berdua, kalo lo Kel ,ngak usah mau gue aduhin lo terima coklat pemberian cewek lain," ujar Velix dengan mengancam
"Siapa juga yang mau terima, jijik bet," ujar Kelvin dengan nada jijik.
"Buat lo aja," tolak Edgar dengan tegas.
"Yah udah kalo kalian ngak mau, di kasih hati malah minta jantung," ujar Velix dengan nada kesal, sambil memasukkan coklat dan surat-surat itu ke dalam tasnya.
"Gue simpen aja deh, siapa tahu nanti ada yang mau," tambahnya dengan senyum licik menatap wajah samudra dan Kelvin