Next Season 2
Judul : THE THIRD EYE (SEASON 2)
Yang ingin baca kelanjutannya silahkan cek profile Author.
Warning : Jangan baca di tengah malam!!
Genre: Horor, Romantis, Misteri, Supranatural, Action & Fantasi.
Sinopsis:
Bercerita mengenai anak-anak pemilik kekuatan Mata Ketiga (The Third Eye) yang bertarung dengan para Iblis, Jin, Siluman dan semua makhluk tak kasat mata yang menargetkan manusia sebagai makanan bagi mereka. Persaingan menjadi yang terkuat, persahabatan, rivalitas dan pengkhianatan mewarnai cerita ini. Apakah Hanes dan kawan-kawan bisa menciptakan kedamaian atas dunia yang telah dikuasai oleh para Iblis Penuntut Nyawa.
Penulis : Mayhard20
Sosmed : herdi_meidianto (instagram)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayhard20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 Lepas Kendali
Part sebelumnya :
Hal ini menyebabkan luka memar yang cukup sakit untuk naga Sri Gundini sendiri. "Maafkan aku, Raka. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi saat itu. Kau benar-benar berubah menjadi seperti orang lain karena keris Panglima hitam itu. Bahkan aku tidak kuasa untuk menahan kekuatanmu yang meledak-ledak dan kemudian inilah yang terjadi," ucap naga Sri Gundini dengan mimik sedih. "Sekarang apa yang harus aku lakukan Gundini? Aku sudah menghilangkan nyawa orang lain kali ini, sebenarnya sampai kapan kekuatan ini akan ada di dalam diriku? Aku ingin berhenti menyakiti orang lain Gundini!!" Raka berteriak dengan sangat keras malam itu.
***
Tidak terasa malam itu hujan deras mulai menjatuhi bumi. Petir dan kilat kini menyambar-nyambar di atas sana. Hal ini tampak seperti, dunia juga bersedih dengan apa yang telah dilakukan oleh Raka, nyawa Kakek Woto tidak dapat ditolong lagi. Ia telah meninggal malam itu karena tengkorak kepalanya pecah setelah ditusuk dengan keris Panglima hitam. Tubuhnya yang gagah perkasa kini menjadi membiru dan luka sayatan dari benda tajam benar-benar terlihat terbuka dan menganga. Bau anyir dari darah mengundang lalat untuk hinggap dan datang.
Naga Sri Gundini yang melihat hal ini segera menggunakan kesaktiannya dan membaca sebuah mantra. Tanah mulai bergoyang dengan cepat dan sebuah lubang sedalam 10 meter kini tercipta di hadapan naga Sri Gundini. Dengan berat hati naga Sri Gundini melilitkan ekornya ke tubuh Kakek Woto. Setelah dirasa cukup kuat belitan di ekor tersebut, dengan perlahan-lahan naga Sri Gundini menurunkan tubuh Kakek Woto ke dalam lubang tersebut dan menguburnya. Raka hanya diam tanpa ekspresi sama sekali. Ia hanya berpikir bahwa kekuatan di dalam dirinya yang tidak dapat ia kendalikan, malam ini sudah memakan korban jiwa.
***
Hanes sedang bersantai di dalam kamarnya. Ia merasa malas pagi ini untuk beraktifitas seperti biasa. Hal ini dikarenakan karena hari ini memang sedang libur. Om Bobi entah kemana dari tadi pagi Hanes tidak melihat wajahnya, sedangkan Mbak Rani sedang sibuk di dapur membuat sarapan. Hanes masih memandangi layar handphonenya pagi ini dan sesekali membalas SMS dari Andini. Hubungan mereka kian akrab lewat pesan SMS, walau jika di sekolah mereka tidak terlalu menampakkan hubungan yang terlalu dekat. Entah sudah berapa kali Andini dan Hanes saling membalas SMS pagi ini. Hingga akhirnya Hanes memutuskan untuk mengajak Andini jalan-jalan ke salah satu Mall yang berada di kota ini.
Dengan membulatkan tekadnya, Hanes mencoba untuk mengajak Andini pergi jalan-jalan. Hanes segera membuka handphonenya dan menekan nomor Andini dan tidak lama kemudian sebuah suara yang sangat imut pun terdengar di seberang sana, "Halo ... Ya ada apa, Nes?" tanya Andini. "Halo juga Ndin. Hmm ... sebenarnya begini!" jawab Hanes sembari terbata. Ia benar-benar grogi ketika harus berbicara dengan Andini kala itu. "Sebenarnya apa, Nes? Ayo bilang aja! Aku jadi penasaran nih," ujar Andini. Hanes akhirnya membulatkan tekadnya dan mencoba mengutarakan sesuatu. "Eh kalau hari ini aku ajak kamu jalan-jalan ke Mall di daerah PSX bisa?" tanya Hanes. Andini sempat terdiam selama beberapa saat, karena penasaran Hanes kembali bertanya, "Bagaimana, Ndin? Bisa ga?" Mendengar Hanes bertanya sekali lagi Andini segera menjawab, "Eh iya ... bisa kok bisa, Nes!" jawab Andini. Kedua anak manusia beda jenis kelamin ini mulai berbincang-bincang santai. Hingga tidak terasa sudah 30 menit waktu berlalu. "Eh handphoneku lowbatt nih, Ndin. Aku charge sebentar ya. Hmm ... mau dijemput atau ketemu di PSX?" tanya Hanes. "Ngajak anak gadis orang jalan, tapi kamu ga ke rumah. Kamu jemput ke rumah ya, Nes biar sekalian papa sama mama kenal kamu juga," ujar Andini.
"Baiklah, nanti aku jemput jam 2 ya. Aku charge handphone dulu. Dah ...," percakapan tersebut akhirnya berakhir.
Hanes segera bersiap-siap mencharge handphonenya dan juga mengambil power bank yang sudah ia charge semalam. Dengan semangat 45 Hanes segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Di dalam kamar mandi Hanes hanya berpikir, kira-kira Andini mau diajak kemana hari ini. Setelah cukup lama berkutat di dalam kamar mandi, akhirnya Hanes memutuskan untuk segera sarapan dan pergi menjemput Andini.
Di lantai bawah sudah ada Mbak Rani yang sedang menonton televisi. Melihat Hanes turun dari lantai atas, Mbak Rani pun berkomentar, "Mas Hanes makan dulu ya itu sudah Mbak buatkan sarapan nasi goreng!" Hanes kemudian tersenyum dan segera duduk di meja makan. "Wah!! Masakan Mbak Rani memang mantap dari baunya saja sudah enak," balas Hanes. Mbak Rani hanya tersenyum penuh arti dan Hanes segera makan dengan lahapnya pagi itu.
Selesai makan Hanes segera pergi ke depan rumah. Di mana Pak Leman sedang asik mencuci mobil mercy berwarna putih itu. Melihat Tuan mudanya keluar dari rumah Pak Leman pun menyapa dengan ramah. "Tuan muda mau kemana?" tanya Pak Leman. "Mobil nanti bisa dipakai, Pak? Aku mau jemput teman di daerah bukit kecil, bisa kan?" Mendengar hal tersebut Pak Leman pun langsung tersenyum. "Tentu bisa Tuan muda. Tapi saya selesaikan dulu cuci mobilnya baru setelah itu kita berangkat Tuan muda," ujar Pak Leman. Hanes hanya mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah. Hanes segera bersiap dan memilih-milih baju apa yang akan ia pakai ketika bertemu dengan Andini.
Di lain tempat naga Sri Gundini sedang binggung dengan apa yang terjadi. Sudah dari semalam Raka mengurung dirinya di dalam kamar. Orangtua Raka bahkan sampai kebingungan dengan apa yang terjadi dengan Raka. Entah sudah berapa kali sang ibu mengedor-gedor kamar Raka agar ia keluar dari dalam kamar. Raka hanya bersembunyi dibalik selimut tebal dan meringkuk dalam penyesalannya. Ia masih membayangkan bagaimana bisa ia membunuh Kakek Woto. Kepala Kakek Woto berlubang sangat besar karena ditusuk dengan keris Panglima hitam dan tubuh Kakek Woto juga bersimbah darah. Kenangan itu benar-benar bergelayut di pikiran Raka. Ia benar-benar menyesali apa yang telah ia lakukan. Kekuatan di dalam diri Raka adalah warisan dari leluhurnya. Kakek Raka adalah seorang yang sakti mandraguna di jaman itu.
Berbagai macam kesaktian dimiliki oleh mendiang Kakek Raka yang bernama Kartijoni. Pak Karti adalah seorang yang gemar belajar ilmu-ilmu kanuragan dan olah batin. Tidak seperti seorang Dukun tapi lebih dari sekedar pendekar yang gemar mendalami ilmu-ilmu gaib. Pak Karti juga adalah orang yang diserahi keris Panglima hitam. Keris ini adalah warisan turun temurun dari keluarga besar Raka dan kini keris Panglima hitam diwariskan kepada Raka. Masih teringat di dalam benak Raka, ketika sang Kakek menitipkan keris tersebut melalui mimpi. Pesan dari sang Kakek adalah untuk tidak menggunakan amarahnya ketika menghadapi bahaya. Karena dapat memicu pengendalian dari kekuatan keris Panglima hitam. Tapi kali ini Raka lupa dengan pengendalian diri yang telah dipesankan oleh sang kakek. Hal itu membuat dirinya menjadi pembunuh dengan menghabisi Kakek Woto.
Naga Sri Gundini hanya menunggu di luar tanpa berani sekali pun ia mengusik Raka yang sedang menyesali perbuatannya. Raka tampaknya akan merenung seharian penuh ini karena kesalahan tersebut, pikir Sri Gundini.
Di lain tempat kini Hanes sudah menjemput Andini dari rumahnya dan segera menuju ke PSX Mall untuk jalan-jalan bersama Andini. Hal pertama yang dilakukan Hanes saat kencan ini adalah mengajak Andini ke sebuah resto yang berada di lantai 2 PSX Mall. Setelah perut terasa kenyang, Hanes segera memutuskan untuk mengajak Andini menuju bioskop. Rencana Hanes hari itu adalah meluangkan waktu yang lebih bersama Andini.
Hanes dan Lysa kemudian masuk ke dalam teater, mereka berdua memutuskan untuk menonton film komedi pada saat itu. Hanes tidak menyadari satu hal pada hari itu. Bahwa sebenarnya Lysa mengawasi dirinya dari kejauhan. Ketika akan duduk di deretan bangku paling atas, Hanes tiba-tiba terkejut. Hal ini dikarenakan Lysa yang ternyata sudah duduk di bangku penonton. Melihat hal ini Hanes tidak bisa berbuat banyak, karena tidak mungkin ia akan mengeluarkan sepatah kata apa pun ketika sedang bersama Andini. Bisa saja Andini akan menilai bahwa Hanes adalah orang aneh yang gemar berbicara sendiri. Dengan menghela nafas dalam-dalam Hanes kemudian duduk di bangku penonton. Ia berusaha sebisanya untuk tidak menoleh ke arah Lysa yang berada di sebelah kanannya.
***
Naga Sri Gundini benar-benar kebingungan kali ini. Ia sedang berada di dalam kamar Raka saat ini. Kamar ini benar-benar kacau dan isinya porak poranda. Hal ini dikarenakan Raka yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Kekuatan Indigo yang dimiliki Raka lepas kendali karena penyesalan Raka yang tidak berujung. Raka adalah anak Indigo yang memiliki kekuatan Telekinetik, di mana kekuatan ini dapat mengerakkan benda-benda di sekitarnya sesuai kehendak. Namun dalam kondisi seperti sekarang ini, benda-benda di kamar Raka berterbangan tidak terkendali. Raka sudah menjadi seperti orang gila pada saat itu. Naga Sri Gundini mengunakan kekuatannya untuk meredam suara dari tempat ini agar tidak terdengar keluar. Jika itu terjadi entah apa yang akan terjadi dengan Raka dan semua keanehan ini, pikir naga Sri Gundini.
Tidak lama kemudian semua benda-benda ini pun berhenti bergerak dan jatuh ke lantai. Raka tergolek pingsan di atas tempat tidur itu. Naga Sri Gundini ini memandangi Tuannya dan kemudian berkata, "Aku tidak menyangka akan seperti ini, warisan itu benar-benar membuatnya lepas kendali. Aku berharap ia bisa mengendalikan kekuatan yang ia miliki. Aku takut kekuatan ini malah dapat berubah menjadi lebih buruk lagi setiap harinya," ujar naga Sri Gundini. Ia pun teringat akan masa lalunya ketika masih menjaga mendiang Kakek Raka. Apakah Raka akan menjadi seperti sang kakek atau Raka akan memilih jalannya sendiri. Kisah kelam kehidupan Raka sedikit demi sedikit mulai terkuak.
Bersambung