Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Munculnya Perasaan Spesial
Malam hari setelah Aurora terluka, Putri Dania memutuskan untuk mendatangi kamar Pangeran Brian.
"Tok tok tok, boleh aku masuk?" kata Putri Dania dari luar pintu kamar Pangeran Brian.
"Untuk apa dia kemari?" gumam Pangeran Brian sedikit tidak suka akan kedatangan Putri Dania.
"Ada apa Tuan Putri?, tumben sekali Anda mencari saya?" tanya Pangeran Brian setelah membuka pintu kamarnya.
"Mungkin jika aku masuk kamarmu, akan muncul kesalahpahaman, bisa kita bicara di luar saja?" kata Putri Dania tanpa enggan sedikit pun.
Kemudian, Pangeran Brian pun menuruti permintaan Putri Dania untuk berbincang bincang di luar kamarnya
"Sepertinya Anda ingin menyampaikan sesuatu kepada saya?" tanya Pangeran Brian.
"Ya, sebelum aku pulang ke kerajaan Tamir, aku ingin memastikan sesuatu," kata Putri Dania dengan serius.
"Silahkan, apa yang ingin Anda ketahui?" tanya Pangeran Brian.
"Apa hubunganmu dengan Nona Aurora? apa kalian ada hubungan spesial, atau kalian sepasang kekasih?" tanya Putri Dania tanpa basa basi.
"Kenapa Anda tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Pangeran Brian.
"Sepertinya kalian sering bersama," ucap Putri Dania.
"Lalu?" tanya Pangeran Brian mulai merasa tidak nyaman.
"Jika memang kau punya perasaan kepada Aurora, jangan biarkan Aurora di ambil alih hatinya oleh lelaki lain," jelas Putri Dania.
"Saya sama sekali tak mengerti perkataan Anda, Putri," saut Pangeran Brian yang berdiri di samping Putri Dania.
"Aurora dan Yang Mulia Raja, apa hubungan Aurora dan Yang Mulia Raja?" tanya Putri Dania sangat penasaran.
"Kenapa Anda tanyakan pada saya? Raja Demian adalah seseorang yang di jodohkan dengan Anda, seharusnya Anda tanyakan langsung kepada beliau," tutur Pangeran Brian.
"Aku yakin, kau pun merasa cemburu dengan mereka berdua, bukan begitu?" tanya Putri Dania mulai memprovokasi.
"Aurora adalah putri dari sahabat Ayah saya, dan tak ada hubungannya dengan Yang Mulia Raja, Anda tak perlu khawatir," kata Pangeran Brian dengan yakin.
"Okey, sepertinya kau belum tahu banyak tentang Aurora," kata Putri Dania begitu antusias.
"Mungkin, Anda juga belum tahu banyak tentang Raja Demian Tuan Putri," balas Pangeran Brian ingin segera meninggalkan Putri Dania.
"Memang, jika dilihat dari sikapnya akhir-akhir ini, dia sangat memperhatikan Aurora, seakan akan Aurora adalah kekasihnya, bukan begitu?" kata-kata Putri Dania terus memprovokasi Pangeran Brian.
"Lebih baik, Anda selesaikan rasa cemburu dan penasaran Anda kepada Raja Demian, Anda bisa tanya langsung kepadanya," kata Pangeran Brian mengakhiri pembicaraan mereka.
Setelah pembicaraan itu selesai, Pangeran Brian kembali ke kamarnya. Akan tetapi semua yang disampaikan oleh Putri Dania terus terfikir olehnya.
"Aurora, apa aku melewatkan hal yang belum kuketahui tentangmu?, jika dilihat dari kejadian kemaren, Raja Demian memang sangat menghawatirkan Aurora, apa benar Mereka berdua ada hubungan spesial?, apa lebih baik k tanyakan langsung kepada Aurora besok?"
semua pertanyaan yang muncul dalam fikiran Pangeran Brian yang membuat Ia tak bisa tidur.
*****
Di taman istana, aku sengaja menemani Putri Dania berjalan-jalan, karena besok pagi Putri Dania dan keluarganya akan meninggalkan kerajaan Endom.
"Yang Mulia, saya ingin memberikan sesuatu untuk Anda," kata putri Dania sambil memegang sebuah syal berwarna biru.
"Apa itu?" tanyaku.
Kemudian Putri Dania memasangkan syal warna biru itu dan melingkarkan ke leherku.
"Ini adalah syal yang saya rajut sendiri selama saya tinggal di sini, sepertinya musim dingin akan tiba, jadi, saya mohon Anda jaga kesehatan dan selalu pakai syal ini jika Anda merasa kedinginan," kata Putri Dania dengan sedikit malu.
"Terimakasih," jawabku singkat.
"Apa Anda tidak menyukainya?" tanya Putri Dania dengan khawatir.
"Tidak, ini sangat nyaman sekali, terimakasih," kataku untuk menjaga perasaan Putri Dania.
Tiba-tiba pelayan datang menyampaikan kepada Putri Dania untuk segera mendatangi orang tuanya.
"Yang Mulia, maaf saya ada perlu sebentar, Anda lanjutkan saja jalan-jalannya," tutur Putri Dania yang membuatku sangat lega.
Setelah Putri Dania beranjak pergi, aku pun memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan dan menikmati indahnya taman istana.
"Hari ini cerah sekali, jika tahu seperti ini, seharusnya aku ajak Kai dan Ken untuk menemaniku," ucapku sambil terus berjalan dan menikmati indahnya bunga.
"Mia, lihat ini !"Tiba-tiba suara Aurora terdengar di telingaku.
"Aurora?" sautku sedikit tak percaya karena berjumpa dengannya di taman istana.
Aurora dan Mia pun terkejut menatapku yang sedang berdiri di depannya.
"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Aurora sedikit panik.
"Taman ini adalah milikku, kenapa harus ada alasan khusus untukku ke sini?" kataku membuat Aurora salah tingkah.
"Mmhhh, kalau begitu saya kembali dulu, kalian bisa menghabiskan waktu untuk mengobrol," kata Mia memberi kode pada Aurora.
"Kau mau ke mana?" tanya Aurora berbisik pada Mia.
Mia pun meninggalkan kami berdua dengan cepat.
"Jika kau juga ingin pergi, silahkan saja," kataku basa basi yang berarti tak ingin Aurora pergi.
Aurora hanya terdiam sambil merapikan rambut panjangnya.
"Bagaimana luka di bahumu?" tanyaku memulai obrolan kami.
"Sudah membaik" kata Aurora singkat.
Kami terdiam sejenak karena canggung dengan suasana.
"Apa Anda tidak enak badan?" tanya Aurora karena melihatku yang saat itu memakai syal.
" Oh, tidak, aku baik-baik saja," terangku.
"Apa, akan turun salju?" tanya Aurora sambil melihat ke arah langit dan menadahkan telapak tangannya.
"Akan kulepas syalnya," ucapku sambil melepas syal berwarna biru itu.
"Kenapa Anda sendirian, Yang Mulia?" tanya Aurora ingin tahu.
"Lebih baik sendiri, karena aku butuh menenangkan fikiranku," tuturku sambil merapikan syal yang ada di tanganku.
"Baiklah kalau begitu, supaya Anda bisa tenang, lebih baik saya juga pergi," kata Aurora hendak meninggalkanku sendiri.
"Tunggu," kataku menarik tangannya.
"Bukankah Anda ingin menenangkan diri?" tanya Aurora yang begitu polos dan tak mengetahui maksudku.
"Kenapa kau ingin meninggalkanku begitu saja?" tanyaku pada Aurora.
Ketika kami berdua berdebat kecil, tiba-tiba Putri Dania mencariku kembali.
"Yang mulia, Anda di mana?!!" teriak Putri Dania mencariku. Aku pun sangat terkejut.
"Cepat ikut aku!, dan menunduklah!" seruku pada Aurora. Kami berdua bersembunyi di balik bunga-bunga taman.
"Kenapa Anda membiarkan Putri Dania kebingungan mencari Anda?" tanya Aurora.
"Huuussttt, bisakah kau jangan berisik?" pintaku pada Aurora sambil menggenggam erat tangannya.
"Yang mulia, bisakah Anda melepas tangan saya?" pinta Aurora membuatku sedikit canggung.
"Maafkan aku," kataku yang kemudian melepaskan tangannya dari genggamanku.
Tak lama kemudian Putri Dania pun meninggalkan taman.
"Haaaccuuuu, Haaaaccuuuu" suara bersin Aurora karena terhirup serbuk bunga.
"Kau tidak apa apa?" tanyaku pada Aurora.
"Saya ada alergi serbuk bunga, Haaaaccuuu ...," kata Aurora berusaha menahan bersinnya.
"Kemarilah, ada sedikit serbuk bunga yang menempel di wajahmu," kataku dengan mengangkat dagu Aurora mendekat ke arah wajahku. Tanpa sadar kuusap lembut hidung dan pipi indah Aurora yang membuatku menelan air liutku.
_ _ _ _ _
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan