Nama Davina Ane Birawa
Berat Badan 80kg, Tinggi 150cm
Gendut itu yang pertama kali orang lihat dari diriku, bukan kepintaranku, kepandaianku atau kesuksesanku, bahkan wajah manisku ini hilang karena berat bandanku. Ya karena Aku Gendut, terus kenapa?..........
Nama Dipa Madaharsa
Tampan, wibawa, pintar, pandai, dan sukses. Namun angkuh.......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Susilowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengirim kue
Dipa bangun seperti biasanya, olah raga adalah rutinitasnya sebelum bekerja. Karena hari ini adalah akhir pekan dan dia tidak bekerja di akhir pekan, Dipa memilih untuk berlari di sekitar apartemen miliknya. Tak jauh dari apartemen miliknya ada sebuah sungai dengan taman yang cukup asri di pinggirannya, banyak orang juga berolah raga di sana bersama sanak keluarga.
Hampir setengah jam dia berlari mengitari sungai, merasa sudah cukup dia beristirahat sejenak sebelum kembali ke apartemen. Sambil menghilangkan lelahnya Dipa mengamati orang yang sedang lalu lalang. "Ramai sekali kalau akhir pekan disini" batinnya. "Dia lagi apa ya?" batinnya lagi yang tiba-tiba teringat seseorang yang tak lain adalah wanita pujaan hatinya, walaupun masih malu mengakuinya.
Setelah merasa baik kan Dipa memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sampai di apartemen Dipa bersih-bersih badan dan dilanjutkan sarapan sambil membaca koran. Di apartemen Dipa tidak memiliki pembantu dia mengerjakan semuanya sendiri, kadang dibantu Anjar saat Anjar datang ke apartemennya.
Dipa tidak pernah mengajak wanita ke apartemen nya sama sekali. Karena selama ini dia jarang tertarik kepada wanita. Pernah suatu ketika dia suka kepada wanita namun setelah dia selidiki wanita itu tidak tulus dengan nya. Jadi semenjak itu dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Baginya semua wanita sama saja, namun saat pertama kali bertemu dengan Ane, Dipa mulai membuka hatinya yang sempat dia tutup rapat-rapat.
"Halo ma" ucap Dipa setelah menerima panggilan telepon dari mama nya.
"Halo Nak, apa kamu nanti malam ada acara?" tanya mama Indah.
"Dipa nanti malam ada jamuan sama tuan Rinto Ma" jawab Dipa.
"Oh, Mama kira kamu free malam ini" ucap nyonya Indah.
"Emang ada Ma?" tanya Dipa.
"Nggak ada apa-apa, cuma Mama kangen sama anak Mama yang sekarang jarang pulang nemuin Mama sama Papa nya" ucap Nyonya Ane.
"Ah Mama Dipa bukan anak kecil lagi, lagian di rumah kan sudah ada kakak sama kakak ipar" ucap Dipa.
"Kamu ya, tetap aja begitu" protes nyonya Indah.
"Oke nanti siang Dipa ke rumah, Mama masakin ya" ucap Dipa buat nyenengin Mamanya.
"Beneran Nak?" tanya nyonya Indah untuk meyakinkan lagi.
"Iya, Dipa nanti siang pulang ke rumah" ucap Dipa.
"Baiklah mama akan masak makanan kesukaanmu kalau begitu" ucap nyonya Indah girang.
"Sudah dulu ya Ma, Dipa mau ada kerjaan bentar" ucap Dipa.
"Iya Nak, sampai ketemu nanti" ucap nyonya Indah mengakhiri panggilan telepon.
Bukannya Dipa tidak suka berlama-lama mengobrol dengan Mama nya, tapi ada pesan masuk di laptop depannya dari Anjar. Pesan yang harus Dipa periksa terlebih dulu, karena menyangkut usahanya.
Lama Dipa menganalisa laporan yang dikirim Dipa, banyak poin-poin yang membuatnya curiga. Dengan cekatan dia sudah menandai dan menyuruh Anjar untuk memeriksa ulang.
Setelah memeriksa laporan Dipa memutuskan untuk berangkat ke rumah utama, dia memakai kaos dan celana jins sobek-sobek. Gayanya tidak mencerminkan bahwa dia adalah orang kaya, namun tidak mengurangi ketampanannya.
Dipa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia ingin memberikan kejutan kepada mamanya. Dipa melewati sebuah toko kue, dia membeli beberapa kue kesukaan mamanya, dan dia tiba-tiba teringat dengan Ane.
"Maaf apa toko ini melayani pesan antar?" tanya Dipa kepada salah satu pelayan toko.
"Bisa tuan, kemana saya harus mengirim kue nya?" tanya pelayan.
"Aku mau kamu mengirim kue ini ke hotel angkasa, untuk nona Ane peserta kompetisi desain PT. Fashion xx" jelas Dipa.
"Baik tuan. Setelah ini kurir kami akan mengantarkannya" ucap pelayan toko.
"Baiklah, jadi total berapa sama kue yang sudah saya ambil ini" tanya Dipa.
"Sebentar tuan" ucap pelayan.
Setelah beberapa menit pelayan toko menghitung totalnya, kemudian memberitahu Dipa dan Dipa pun membayarnya.
Setelah membeli kue Dipa kembali mengendarai mobilnya menuju rumah utama.
Beberapa menit kemudian Dipa sampai di rumah utama. Dipa memarkirkan mobilnya di depan rumah setelah satpam rumah utamanya membukakan gerbang.
"Mama kemana?" tanya Dipa kepada salah satu pelayan rumah utama.
"Nyonya sedang di dapur tuan muda" jawab pelayannya.
Dipa kemudian melangkahkan kaki nya menuju dapur untuk mencari keberadaan mamanya. Tak butuh waktu lama, Dipa bisa melihat mama nya sedang memasak, dibantu kakak iparnya.
"Wah baunya harum sekali" ucap Dipa yang mengagetkan orang di dalam dapur.
"Lo kok sudah datang kamu?" tanya nyonya Indah.
"Katanya mama kangen sama Dipa, jadi Dipa datang lebih awal biar mama kesayangan Dipa tidak protes bahwa anak keduanya sudah tidak sayang lagi" ejek Dipa.
"Kamu bisa aja" ucap nyonya Indah sambil memukul lengan anaknya.
"Ma ini ada kue buat Mama sama yang lainnya" ucap Dipa.
"Makasih sayang" ucap nyonya Indah.
"Iya ma" ucap Dipa.
"Kamu tunggu sebentar ya mama belum selesai memasak" ucap nyonya Indah.
"Iya Dipa tunggu kok, mama santai aja masaknya" ucap Dipa.
Dipa kemudian mengalihkan pandangannya kepada Adena kakak iparnya.
"Kak mana kak Bagas?" tanya Dipa.
"Lagi main catur sama papa di teras dekat kolam renang" jawab Adena.
"Oke. Ma Dipa temui papa sama kakak dulu" ucap Dipa sambil berlalu meninggalkan dapur.
Tak butuh waktu lama Dipa menjangkau teras yang di maksud kakak iparnya tadi, kini dia sudah bisa melihat papa dan kakaknya sedang sibuk menatap papan catur didepan mereka.
"Yang lagi konsen main catur" ucap Dipa mengagetkan papa sama kakaknya.
"Kamu, kapan datang?" tanya Tuan Aji papa Dipa.
"Barusan Pa" jawab Dipa singkat.
Tuan Aji hanya membalas dengan anggukan saja, karena matanya masih fokus dengan bidak catur nya.
Dipa kalau sedang berkumpul dengan keluarga sangatlah berbeda dengan Dipa yang ada di luaran maupun kantor. Dengan pelayan dirumahnya Dipa bisa bersikap keras dan cuek.
Karena tidak ingin mengganggu papa sama kakaknya Dipa memilih untuk ke perpustakaan di rumah utama. Karena perpustakaan letaknya tidak jauh dengan teras tempat papa dan kakaknya bermain catur.
Setelah masuk Dipa mengambil salah satu buku tentang bisnis yang papa nya koleksi.
Di dapur Adena dikejutkan dengan nota kue yang dibawa Dipa, bukan harganya namun tanda terima Dipa mengirim kue ke hotel angkasa atas nama Ane. Dimana hotel itu tempat temannya ikut kompetisi. Tapi curiga Adena dibantah sendiri oleh Adena, mana mungkin temannya mengenal Dipa. Setahu nya Dipa orang yang masa bodoh dengan wanita, dia tidak pernah tertarik dengan wanita selama yang Adena kenal sebagai adik iparnya apalagi dengan Ane.
Adena memilih untuk menyembunyikannya daripada dia bercerita kepada mertuanya. Dia akan memberi tahu kepada suaminya dan meminta tolong untuk mencari kebenarannya.
Kalau perlu dia akan menelepon Ane untuk mencari kebenarannya dari mulut sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
bersambung.