Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.
Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.
Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.
Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.
Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Something New
Sinar matahari menerobos lewat celah-celah kaca yang tidak tertutup penuh oleh gorden mengenai tepat dua wajah pasangan yang entah sadar atau tidak tengah berpelukan sekarang.
“Engh,” Indra menggeliat dalam tidurnya saat merasakan kerisihan terkena cahaya matahari. Dengan kesadaran yang belum penuh, ia melepaskan pelukan lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya dan seseorang yang tentu saja kembali ia peluk dengan eratnya.
Tiwi merasa sesak, pernafasannya seolah dicekal oleh sesuatu. Buru-buru ia membuka matanya. Gelap, itu yang bisa ia tangkap.
Saat kesadarannya terkumpul penuh. Ada dua hal yang ia ketahui menjadi penyebab ia merasakan sesak.
Selimut yang menutupi kepalanya dan pelukan erat yang ia dapatkan dari suaminya.
Seketika perasaan hangat memeluk hatinya. Meski ini adalah hal yang pertama baginya, ia tidak akan seterkejut wanita-wanita yang di novel sana saat tahu laki-laki yang menjadi suaminya dari perjodohan dengan tidak sengaja memeluknya untuk pertama kali.
Sebuah senyum tipis merekah di bibirnya. Ia tidak lagi tidur dengan bantalnya semalam, melainkan lengan kekar milik Indra. Entah sejak kapan juga, tangannya melingkar di pinggang Indra.
Dengan hati-hati dan pelan, ia menarik tangannya lalu menyingkap sedikit selimut yang menutupi kepalanya. Seketika itu juga matanya mengerjap-ngerjap karena mendapat serangan langsung dari cahaya matahari.
Setelah beberapa saat, ia berhasil membiasakan silauan itu pada wajahnya, keningnya berkerut. Kalau matahari sudah berhasil menyelinap masuk ke kamarnya, berarti sekarang sudah pukul tujuh ke atas, buru-buru ia membangunkan Indra setelah menurunkan selimut dari atas kepala mereka.
“Ndra,” panggilnya dengan menggoyang pelan tubuh sang suami.
“Hm,” gumam Indra dengan serak khas bangun tidur dan mata yang masih tertutup.
“Bangun, udah siang ini, ke kantor udah tela—eh?” Perkataannya terpotong saat Indra kembali menaikkan selimut demi menutup kepalanya, dan pelukan yang erat tentu saja.
Ada semburat merah kecil yang tiba-tiba muncul tanpa permisi di wajah Tiwi.
Tiwi kembali menurunkan selimut, tapi Indra menariknya kembali, begitu terus sampai Tiwi merasa jengah, dan mengalah.
“Udah bangun ish, udah telat tau, nggak ke kantor atau bagaimana nih?” Tanyanya dengan bola mata yang memutar malas.
Indra mendengus. “Aku bosnya, sesuka-sukaku lah mau datang cepat atau terlambat, nggak akan ada yang berani marahin,” ujarnya.
Tiwi berdecih. “Ada yang marah.”
Indra membuka mata—meski wajah sang istri tidak terlihat karena gelap. “Siapa?” Tanyanya heran.
Tiwi bergerak, dari yang tadi menyamping sekarang menghadap ke atas.
“Istri di rumah,” lirihnya pelan.
Indra terkekeh pelan. “Jangan gerak banyak, nanti ada yang tersentuh, aku yakin kamu bakal kesakitan.”
Tiwi mengernyitkan alisnya, sungguh ambigu di pikirannya.
Indra menyentil kening Tiwi, membuat istrinya itu meringis. “Jangan mikir sembarang, maksud aku kakimu, nanti kalau kesentuh, kamu jerit-jerit lagi.”
“Ck.”
Indra tertawa lepas lalu memeluk sayang istrinya, seolah ingin bermesra lama menggantikan tiga bulannya yang tidak ada apa-apanya.
“Ih, ih, ke-kenapa meluk-meluk begini?” Tanya Tiwi sedikit gugup pasalnya pelukan ini berbeda seperti menuntut hal lebih.
Indra menyingkap selimut, ingin menikmati wajah malu-malu istrinya. “Kenapa emangnya? Udah halal juga, dari lama pengin ginian, kamu nggak peka-peka,” ujarnya yang semakin membuat Tiwi malu.
“Sana mandi terus berangkat kerja,” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Indra menggeleng, lantas merapatkan diri dengan menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri.
Tiwi yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menelan ludahnya. Ia merutuki dirinya, semoga saja Indra tidak mendengar detak jantungnya, yang sialnya sedang berpesta pora di dalam sana.
“Mau berangkat kalau udah dapat jatah.”
Tiwi menegang seketika mendengar penuturan Indra, terlebih hembusan nafas lelaki itu tengah menggelitik leher jenjangnya.
“Ja-jatah apaan?” Gugup, tentu saja.
Indra menarik pelan lengannya yang dijadikan bantal oleh istrinya. Lengan itu lalu ia gunakan menahan tubuh saat posisinya sudah berubah seperti menindih setengah badan istrinya.
“Boleh ya, Wi?” Tanyanya saat wajahnya sudah berada tepat di atas wajah Tiwi dengan jarak yang sangat dekat.
“Bo-boleh ap—”
Cup
Satu kecupan singkat berhasil mendarat di bibir ranumnya. Matanya melotot, jujur saja, ini pertama kalinya ada seseorang yang mengecup bibirnya.
“I-Indra, kam—”
Cup
Lagi-lagi, Indra mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Singkat namun sangat berefek bagi keduanya.
“Boleh ya, Sayang?”
Suara berat dan serak itu membuat Tiwi meremang dan reflek menutup mata. Detak jantungnya semakin berbuat ulah kala panggilan sayang itu meluncur mulus dari mulut Indra.
Tiwi tidak menolak, ia hanya terdiam, membuat Indra tersenyum karena mendapat lampu hijau, terlebih kedua tangan Tiwi sudah mengalung di lehernya.
Perlahan tapi pasti, bibir keduanya sudah bertemu, mulai bergerak dan saling memagut.
Meski pertama bagi keduanya, tentu berciuman dan hal saling membalas sudah mereka ketahui. Usia sudah matang dan sudah siap melakukan hal lebih.
Ini juga pertama bagi seorang Kavindra Ayden Adhitama, meski pernah berpacaran apalagi di tempat yang bebas bergaul, Indra menetapkan prinsip berpacaran sehat, bukan merusak, barulah saat halal Indra akan bebas melakukan apapun.
Pagutan itu semakin panas dan mulai berpindah ke area leher, tangan Indra yang terbebas tentu tidak tinggal diam, tangan itu sudah bergerak nakal memasuki pakaian tidur Tiwi.
Drtt.. Drtt..
Saat tangan itu sudah hampir sampai ke tempat tujuannya, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar. Ingin rasanya mengutuk orang yang sudah berani mengganggu kegiatannya.
“Angkat dulu, gih,” kata Tiwi.
Dengan perasaan tidak rela ia melepas pagutannya, dan meraih ponselnya dengan ogah-ogahan.
Sekretaris Fajar
“Halo,” Indra menyapa duluan dengan suara sinis.
“Halo, Pak. Maaf mengganggu, saya mau mengingatkan, setengah jam lagi ada meeting dengan Mr. Jack.” Fajar berkata to the point, selain dirinya yang tidak suka berbasa-basi, ia tahu sekali bosnya itu sama dengannya.
“Ok, saya segera kesana,” ujarnya lalu memutuskan sambungan dan kembali memeluk istrinya.
“Yaudah sana mandi ih, buruan ke kantor,” Tiwi melepas pelukan Indra.
Dengan perasaan dongkol dan muka tertekuk, ia bangkit dari tidurnya.
Cup
Ia mengecup pipi istrinya sebelum benar-benar beranjak masuk ke kamar mandi.
“Jangan senyum-senyum terus, Sayang, lama-lama gila.”
Tiwi merutuki dirinya saat tertangkap basah tersenyum. Ingin membalas ucapan itu, Indra sudah menutup pintu kamar mandi.
***
“Eh, Wi, kok nggak bilang-bilang mau turun?” Yuna segera memapah adik iparnya itu saat keluar dari lift.
Setengah sepuluh ia baru keluar dari kamarnya setelah selesai membersihkan badan. Indra berangkat ke kantor sejam yang lalu.
Yuna menahan senyum saat selesai mendudukkan Tiwi di kursi makan.
Tiwi yang menyadari hal itu, gatal ingin bertanya. “Kenapa, Kak?”
“Pantas, ya,” kekeh Yuna.
Tiwi semakin bingung. “Pantas kenapa, Kak?”
“Pantas Indra ke kantornya agak siangan, abis berkelahi di ranjang toh rupanya,” goda Yuna yang sudah tidak menahan tawa.
Tiwi tahu maksud ucapan kakak iparnya itu. “Ah, sembarangan banget Kak kalau ngomong,” elaknya dengan wajah yang memanas karena malu.
Yuna tertawa. “Aduh, Tiwi-tiwi, kamu nggak bisa bohong, di lehernya mu itu loh, ada yang merah-merah.”
Tiwi melotot, tangannya reflek meraba lehernya. Ia merutuki dirinya sendiri begitu sadar akan kesalahannya. Ia lupa menyamarkan bekas itu karena perutnya yang sudah minta diisi.
Dan, Yuna hanya bisa tertawa. Ada rasa lega dalam hatinya begitu mengetahui hubungan adiknya itu. Lalu membuang jauh-jauh pemikirannya tentang pembahasan yang kemarin.
Udah buka segel toh rupanya. Batin Yuna berkata.
tbc
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe