Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Sulis
Pagi itu Sulis berdiri cukup lama di depan cermin kamarnya.
Tangannya mengenggam sebuah ponsel yang berisi puluhan foto, rekaman CCTV, dan berbagai bukti yang selama beberapa minggu terakhir berhasil ia kumpulkan,tersusun rapi.
Semua menunjukkan satu kenyataan yang sama,kalau Irwan masih berhubungan dengan Lastri.
Sulis menghela napas panjang,dadanya terasa sesak,kali ini bukan kesedihan yang mendominasi,melainkan tekad,Ia sudah terlalu lama diam,terlalu lama menahan luka seorang diri.
...****************...
Siang harinya Sulis berpamitan kepada Irwan.
"Aku mau ke kampung dua hari."
Irwan yang sedang bersiap berangkat kerja langsung menoleh.
"Ke rumah Ibu?"
"Iya."
"Ibu sakit?"
"Nggak. Kangen cucunya aja."
Irwan tampak santai,bahkan terlihat tampak sangat lega,karena selama beberapa waktu terakhir ia merasa Sulis mulai sulit ditebak.
"Ya udah, hati-hati."
Sulis tersenyum tipis.
"Iya."
Padahal setelah meninggalkan rumah, motor yang dikendarainya tidak menuju kampung halaman,Ia justru menuju rumah mertuanya, tempat kedua orang tua Irwan.
Ketika Sulis tiba, ibu dan ayah Irwan terlihat cukup terkejut.
"Eh, Sulis?"
"Masuk dulu, Nak."
Sulis menyalami keduanya dengan sopan.
Namun wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya,Ibu Irwan yang bernama Sumarni langsung menyadarinya.
"Kamu kenapa?"
Sulis tersenyum lemah.
"Nanti aja, Bu."
Mereka lalu duduk di ruang tamu,walnya Sulis berbincang ringan,tentang anak-anak,pekerjaan,dan keadaan keluarga,namun semakin lama suasana menjadi semakin serius.
Hingga akhirnya Sulis membuka ponselnya.
"Bapak... Ibu..."
Suara Sulis terdengar pelan.
"Ada sesuatu yang harus Bapak dan Ibu lihat."
Beberapa menit kemudian ruang tamu itu berubah sunyi,hanya suara kipas angin tua yang terdengar berputar di langit-langit,Bapak dari Irwan menatap layar ponsel dengan wajah mengeras.
Sementara Ibu Sumarni tampak berkali-kali menutup mulutnya sendiri.
Foto demi foto diperlihatkan,video diputar,rekaman CCTV mobil Irwan yang hampir setiap hari,semua tersusun begitu rapi, hingga sulit di bantah.
"Kurang ajar..."
Kalimat itu keluar pelan,namun penuh kemarahan.
Sulis menundukkan kepala,air matanya mulai jatuh lagi.
Tiba-tiba pria tua itu langsung berdiri.
"Bapak datangi dia sekarang!"
Tangannya mengepal kuat,wajahnya penuh amarah,sebagai seorang ayah, ia merasa malu,merasa gagal mendidik anak laki-lakinya.
"Setelah semua yang kamu lakukan untuk dia?"
Suara ayah Irwan mulai meninggi.
"Setelah kamu menemani dia dari susah?"
Sulis hanya menangis diam-diam,Ibu Sumarni ikut mengusap matanya.
"Kami nggak nyangka dia jadi begini..."
Namun Sulis segera berdiri.
"Bapak jangan dulu."
Pria tua itu menatap menantunya.
"Kenapa?"
"Kalau Bapak datang sekarang, dia pasti menyangkal."
Pria itu terdiam.
Sulis pun melanjutkan,
"Dia pintar cari alasan."
Kalimat itu membuat semua orang kembali diam,karena mereka tahu Sulis benar,Sulis menarik napas panjang,lalu mengutarakan rencana yang selama ini ia pikirkan.
"Saya mau Bapak dan Ibu lihat sendiri."
"Maksudmu?"
"Saya mau bawa Bapak sama Ibu ke tempat itu."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Sulis lalu menjelaskan semuanya,tentang kost tempat Lastri tinggal, Irwan yang rutin datang ke sana,Ia menjelaskan dengan tenang,padahal setiap kata yang keluar sebenarnya mengiris hatinya sendiri.
Mertuanya mendengarkan tanpa menyela,semakin lama wajahnya semakin keras,sementara Ibu Sumarni terlihat berkali-kali menangis.
"Jadi selama ini dia bohong sama semua orang?" bisik wanita tua itu.
Sulis mengangguk pelan.
"Iya, Bu."
Mertua laki-laki Sulis,berusaha meredam emosinya,lalu akhirnya berkata,
"Kalau begitu kita lihat sendiri."
Sulis menatap mertuanya.
"Benar, Pak?"
Pria tua itu mengangguk tegas.
"Kalau memang dia bersalah, Bapak mau menyaksikannya dengan mata kepala sendiri."
Ibu Sumarni ikut mengangguk.
"Aku juga."
...****************...
Menjelang sore mereka bertiga mulai menyusun rencana, mereka akan kesana ketika Irwan sedang berada di kostnya Lastri,mereka hanya ingin melihat kenyataan secara langsung.
Namun Sulis tahu satu hal,jika hari itu benar-benar terjadi...maka tidak akan ada lagi jalan kembali,karena setelah orang tua Irwan mengetahui semuanya dengan mata kepala sendiri, kebohongan yang selama ini dibangun Irwan akan runtuh sepenuhnya.
Malam itu Sulis memilih menginap di rumah mertuanya.
Ia mengatakan kepada Irwan melalui pesan singkat bahwa ibunya meminta dirinya tinggal lebih lama karena ingin ditemani beberapa hari.
Irwan membalas dengan santai.
Iya, nggak apa-apa. Salam buat Ibu.
Membaca pesan itu membuat Sulis tersenyum pahit.
Bahkan sampai saat ini Irwan masih terus berbohong tanpa menyadari bahwa kebohongannya sudah mulai terbongkar satu per satu,ponsel kemudian ia letakkan di meja.
Mertua laki-lakinya yang duduk di ruang tamu masih terlihat gelisah,beberapa kali pria tua itu berjalan mondar-mandir,wajahnya sulit menyembunyikan kemarahan.
"Ayah nggak habis pikir," gumamnya.
Ibu Sumarni menghela napas panjang.
"Saya juga."
"Laki-laki itu punya istri baik. Punya anak-anak yang lucu. Kurang apa lagi?"
Tak ada yang menjawab,karena pertanyaan itu memang tidak memiliki jawaban sederhana.
Sulis hanya menunduk,dulu ia juga sering bertanya hal yang sama kepada dirinya sendiri.
Apa kurangnya dirinya,salahnya dan yang tidak bisa ia berikan?
Kini Sulis mulai menyadari bahwa perselingkuhan bukan selalu tentang kekurangan pasangan,sering kali itu tentang pilihan,dan Irwan telah memilih jalan yang salah.
...****************...
Keesokan paginya, Sulis menerima pesan dari Bu Ratna,jantungnya langsung berdebar saat membaca isi pesan tersebut.
"Bu, tadi pagi Mas Irwan datang lagi."
Di bawah pesan itu terdapat foto terbaru,mobil pikap Irwan terlihat terparkir di depan kost,lengkap dengan waktu yang tercantum pada kamera pengawas,Sulis segera menunjukkan pesan tersebut kepada kedua mertuanya.
Bapak mertuanya langsung mengepalkan tangannya
"Masih datang juga."
"Pak, sabar dulu," kata Ibu Sumarni pelan.
Namun terlihat jelas wanita itu sendiri sedang berusaha menahan kekecewaan yang begitu besar,Sulis kemudian membuka catatan yang sudah ia buat selama beberapa minggu terakhir,Ia menunjukkan pola kedatangan Irwan,bapak mertuanya memperhatikan dengan seksama.
"Berarti kemungkinan dia masih di sana sampai siang?"
"Besar kemungkinan begitu."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Kalau begitu kita berangkat nanti."
...****************...
Menjelang siang suasana rumah terasa tegang,tidak banyak percakapan yang terjadi,masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Sulis duduk di teras sambil memandangi halaman rumah,tangannya terasa dingin meski cuaca cukup panas,ini adalah langkah yang selama ini ia persiapkan,namun ketika saatnya benar-benar tiba, rasa takut tetap muncul.
Bagaimana jika semuanya berakhir lebih buruk dari yang dibayangkan,jika Irwan marah dan keluarganya benar-benar hancur setelah hari ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya,hingga Ibu Sumarni duduk di sampingnya,wanita tua itu menggenggam tangan Sulis dengan lembut.
"Kamu kuat sekali, Nak."
Kalimat sederhana itu membuat mata Sulis langsung berkaca-kaca.
"Aku sebenarnya capek, Bu."
"Saya tahu."
"Saya cuma nggak mau anak-anak jadi korban."
Ibu Sumarni mengusap punggung tangannya pelan.
"Kamu sudah melakukan yang benar."
Air mata Sulis akhirnya jatuh,bukan karena sedih,tapi karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ada seseorang yang benar-benar memahami perjuangannya.
Tak lama kemudian, Bapak mertuanya keluar dari kamar dengan wajah serius,Ia sudah mengenakan kemeja dan sandal,tatapannya tegas.
"Sudah siap?"
Sulis dan Ibu Sumarni berdiri bersamaan,tak ada lagi keraguan di wajah pria tua itu,yang tersisa hanya keinginan untuk mengetahui kebenaran secara langsung.Hari itu mereka bertiga akhirnya bersiap berangkat menuju kost tempat Lastri tinggal.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ketika mereka tiba di sana,tapi jika Irwan benar-benar berada di tempat itu bersama Lastri, maka rahasia yang selama ini ia sembunyikan akan berakhir hari ini,tidak akan ada lagi kebohongan yang bisa melindunginya.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .