Novel lanjutan dari Istri Rahasia Sang Aktor
Pria yang Aya kira sudah menjadi mantan suaminya, kembali hadir dan mengatakan mereka masih terikat hubungan sebagai sepasang suami istri.
Berbagai upaya Darren lakukan agar sang istri memaafkannya bahkan mencintainya, mengingat pernikahan mereka 5 tahun silam merupakan buah dari perbuatannya merenggut kehormatan seorang gadis.
Bahkan akhirnya dihadapan media, Darren mendeklarasikan, bahwa Aya adalah istrinya, bagaimana lika-liku perjalanan mereka selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
#22
“Aaaa …” suara Darren ketika membuka mulutnya, ia tengah berbaring manja di pangkuan Aya, sesekali memetik gitar, melantunkan nada indah berbalut tatapan hangat penuh cinta.
Mereka memang tak berbulan madu, lebih suka berdua saja di apartemen, damai tak ada pengganggu, atau penggemar yang menghampiri, urusan jalan jalan bisa dilakukan lain waktu, masih panjang babak yang harus mereka lalui, mungkin nanti bebatuan terjal harus mereka lalui, semoga cinta mampu menguatkan mereka.
#Othor doakan Dare … awas kalau nakal lagi, kulempar tiang bendera dari sini.
Aya kembali menyuapkan sepotong apel ke mulut suaminya, dan jangan lupa disertai kecupan kecil, yang kini menjadi makanan sehari-hari nya bersama sang suami. Nampaknya kini ia pun lebih suka berada di rumah saja, tapi dua hari lagi masa bulan madu ini berakhir, terlalu cepat waktu berlalu, mereka seakan menikmati masa 5 tahun yang terlewat sia-sia. Minggu depan padat jadwal pekerjaan mulai menanti keduanya. Aya harus memberikan kesaksian di kantor polisi perihal tuntutan yang Darren ajukan pada Clara, dan juga kasus penembakan yang hingga kini masih berbuntut panjang, karena Baldy terbukti terlibat dengan komplotan Black Shadows, kelompok Mafia kelas kakap yang sejak lama jadi buruan kepolisian internasional.
Cup
Darren mengecup leher Aya, ketika sang istri tak menyahut panggilannya, “Apa yang kamu pikirkan hmm?”
Aya tersenyum, kemudian menggeleng, ia kembali mengusap sayang rambut kecoklatan sang suami, “Tinggal 2 hari lagi.” Jawab Aya.
“Apa kamu juga enggan keluar rumah?”
Aya mengangguk malu, “Tapi hidup terus berjalan, jika kita tak bergerak dan keluar, maka kita yang akan terlindas zaman.”
Darren meletakkan gitarnya di lantai, kemudian menenggelamkan wajahnya di perut rata sang istri, “Dare hentikan !!” sergah Aya ketika ulah Darren mulai membuatnya merinding disco.
“Aku suka di sini Ay … apa saat ini sudah ada isinya?” Jawab Darren penuh harap.
Aya mengangkat kedua pundaknya, “Kamu sudah seingi itu memiliki anak?”
Darren mengangguk dengan wajah berbinar, “aku menantikan momen menghabiskan banyak waktu denganmu dan anak-anak kita, bukan hal mewah yang ku inginkan, piknik di padang rumput, bermain layang layang, atau sekedar bermain air, seperti nya akan menjadi surga kecil kita.”
“Iya … berdoa saja semoga kita segera mendapat ganti si kembar.”
Cup, Aya mengecup kening Darren, di sela sela kegiatannya. Aktivitas kecil Aya yang kini terlalu disukai oleh Darren.
“Ay … boleh aku tanya sesuatu?”
“Hmm Apa?” jawab Aya selagi mengunyah sepotong apel di mulut nya.
Darren bangkit kemudian memasang wajah serius, wajah yang belakangan ini jarang Aya lihat, padahal dulu setiap hari ia berhadapan dengan Darren yang serius menyimak materi yang ia ajarkan.
“Aku tak berani bertanya, karena takut kamu akan kembali terluka ketika mengingatnya, tapi sungguh aku penasaran dengan penyebab kamu mengalami keguguran. Apakah itu terasa sakit, aku takut bertanya karena saat itu pun aku tak berdaya, tapi yang ku ingat, malam itu aku kesakitan hingga petugas lapas membawaku ke klinik, tapi di klinik pun tak ada dokter yang bisa mendiagnosa penyakitku. Sekujur tubuhku panas dan tulang tulangku seperti dipatahkan dalam waktu bersamaan, sepertinya malam itu kamu pun kesakitan, dan tuhan membagi kesakitanmu di tubuhku. Benarkah perkiraanku?”
Aya mengusap Air mata nya, “tapi pada Akhirnya aku harus berterus terang padamu kan?” Ada luka dalam sorot mata Aya, masa itu memang teramat berat, Aya seperti dihantam badai bertubi-tubi.
“Aku tak tahu bagaimana mula nya, aku sedang menjemur kain jarit ketika tiba kurasakan, beberapa pria membekap mulut dan hidungku, tak lama aku merasakan kepalaku terasa berat dan pandanganku mulai gelap. ketika aku bangun, aku sudah tak tahu berapa lama waktu berlalu, yang kutahu, aku hanya tidur dari waktu ke waktu. Hingga suatu ketika aku bangun dan mendengar suara gaduh pertengkaran suami istri, entah apa yang mereka perdebatkan, aku tak bisa berteriak karena tubuhku lemas, sama sekali tak bertenaga, entah kapan terakhir kali aku merasakan nikmatnya makan, karena selama disekap mereka tak memberiku setetes air pun.”
Aya tersenyum getir dan Darren hanya bisa mengepalkan tangan penuh amarah, “belakangan baru aku tahu, yang menyekapku adalah bos Johan, ia berniat menjadikan aku istri kelima, Karena Mas Danu telah berani mengusik istri muda Bos Johan, maka sebagai gantinya ia menculikku.”
Darren mendekap Aya erat, sangat erat, bahkan dirinya sendiri merasakan sesak, kala mendengar penuturan istrinya, “Maaf Ay … aku benar benar lelaki tak berguna, bahkan menjagamu saja aku tak bisa,” Beberapa saat mereka berbagi tangisan.
“Rupanya istri Bos Johan adalah wanita baik, malam itu beliau memberiku makanan dan segelas susu agar tubuhku bisa melawan pengaruh obat tidur, terlebih sudah lebih dari 24 jam tak ada asupan makanan untukku, Bos Johan sengaja melakukan itu untuk menyingkirkan bayi dalam kandunganku, malam itu aku bisa melarikan diri dengan bantuan Istri Bos Johan, tapi di tengah panik dan ketakutanku, aku terjatuh. Ketika aku bangun, ada Oma yang menatapku dengan pandangan terluka, menyampaikan kabar duka kepergian si kembar.”
“Maaf Ay … maaf … aku hanya bisa memberimu luka,” lirih Darren dalam tangis nya, ia tak menyangka perjuangan Aya begitu berat hanya demi menyelamatkan bayi nya, maka pantas jika Aya memilih menyerah dan pergi begitu saja, mungkin ia sampai di batas kesakitannya, hingga pergi seorang diri demi menyembuhkan luka hati.
.
.
Dering ponsel membangnkan sepasang pasutri muda itu dari pelukan hangat mereka, Darren melirik ponsel mereka yang tergeletak di atas nakas, benar-benar terabaikan, seperti seonggok barang tak berguna.
“Siapa yang menelepon?” Tanya Aya dengan suara serak nya.
“Entah … sepertinya Mama, karena sejak kemarin aku mengabaikan panggilannya.” Kekeh Darren, pasti kali ini sang Mama akan memarahinya, karena Darren sengaja mematikan ponsel Aya, jadi Panggilan pada mereka hanya melalui satu jalur.
#salah sendiri jadi pengantin kadaluarsa 😮💨
“Hallo Mamaku sayang …” sapa Darren dengan seringai di wajah tampannya, ia sedang membayangkan wajah murka sang mama.
“Kapan kamu membawa menantu mama ke rumah?” Sembur Mama Disya ketika akhirnya ia mendengar suara sang putra.
“Kapan-kapan Ma …”
“Kenapa? Mama kesepian? kan sudah ku bilang, aku tak keberatan jika memiliki adik lagi.” Jawab nya asbun.
“Harusnya kamu yang bawa cucu buat Mama, bukannya minta adik.”
“Nah itu tahu, makanya aku mengurung istriku di Apartemen, Agar cucu pesanan mama segera hadir.
“Kamu pikir pesanan makanan?”
“Kan dulu Mama dan Papa juga sama, Honeymoon keliling Eropa, tak ingat pulang, dan begitu pulang menghasilkan kami bertiga.”
Kicep, Mama Disya tak lagi bersuara, memang begitulah dirinya dan Papa Kevin dahulu, menebus 4 tahun waktu yang hilang. Maka jika kini Darren meniru ulahnya dengan sang suami, ia tak bisa lagi mengajukan protes, mungkin memang sudah saatnya Darren menjadi dewasa dengan pengalamannya menjadi kepala keluarga.
“Ah terserah lah, cepatlah ke rumah, Papa dan Daniel bertengkar.” Adu Mama Disya.
“Bertengkar?” tanya Darren terkejut, ia segera duduk dari posisi baringnya, Daniel adalah sosok yang humble, ia tak mudah tersulut emosi, jika hanya mengenai hal hal kecil. “bertengkar soal apa Ma?”
“Soal kelanjutan pertunangan Daniel dengan Carissa, putri Profesor Hardiman.”
Darren memijat pelipisnya, ia tahu jika dahulu Hubungan Daniel dan Naya tak pernah terjalin dengan baik, tapi nyatanya hingga kini Daniel tak mampu melupakan cinta pertamanya tersebut, bahkan menyewa seorang Detektif demi menelusuri jejak Naya.
“Pantas saja jika Daniel marah, Papa jelas tahu gimana perasaan Daniel pada Naya, malah cari perkara dengan menjodohkan Daniel.” Gerutu Darren.
“Ah entahlah, kamu segera kemari, Mama sudah masak banyak untuk makan siang nanti.”
“Iya mah …” Jawab Darren tanpa protes lagi.
Darren kembali meletakkan ponselnya, usai panggilan berakhir. ia kembali menarik selimut dan masuk dalam dekapan hangat sang istri yang masih terlelap, ah … udara pagi memang masih terlalu dingin untuk pasangan suami istri tersebut.
.
.
Suasana makan siang ini terlalu tegang, pasca pembicaraan yang tak menemukan titik temu, bahkan Daniel tampak malas menghabiskan makanannya, sungguh berbeda dengan Daniel yang biasanya.
“Aku sudah selesai,” Ujar Daniel yang buru-buru meninggalkan meja makan, tapi ia tak menuju kamarnya di lantai atas, melainkan pergi melalui pintu penghubung, mungkin dia akan menemui Dean, selain karena malas dengan suasana di rumahnya sendiri, malam nanti Dean kembali bertolak ke London, demi melanjutkan pendidikannya.
“Aku ikuti Daniel dulu yah?” Pamit Darren pada sang istri, sepeninggal Darren pun suasana masih tampak tegang, bahkan di susul kepergian Papa Kevin ke ruang kerja nya.
Kini tinggallah para wanita di sana melanjutkan makan siang.
“Ayo makan yang banyak,” Ujar Mama Disya ketika melihat Aya tak bersemangat menyentuh makanannya.
“Iya Ma …” Jawab Aya santun, tak ada penolakan dari Aya, selama itu masih sebuah bentuk perhatian dan kasih seorang Ibu.
“Mama juga yah, jangan sampai sakit,” balas Aya, membuat si cantik yang duduk di seberangnya cemberut.
“Udah punya menantu sekarang, anak gadis sendiri di lupakan.” gerutu Luna.
Jika dulu saja ia kerap iri dengan kedua kakak nya yang mendapatkan perhatian lebih dari sang Mama, Kini Luna merasa kembali memiliki pesaing, yakni kakak iparnya sendiri.
Mama Disya tersenyum, menanggapi sikap posesif putri bungsunya tersebut, “Kamu tetap kesayangan Mama dan Papa.”
“Sekarang aja bilang begitu, buktinya Mommy dan Daddy lebih sayang padaku.” Jawab Luna dengan wajah tersenyum jahil.
“Anak gadis Mama, suka aneh aneh kalau lagi cemburu.” Jawab Mama Disya sembari mencubit gemas pipi Luna, Ia tahu Luna hanya bercanda, pada kenyataannya Luna adalah kesayangan semua orang, karena diantara 7 Cucu Alexander Geraldy, Luna adalah satu-satunya cucu perempuan, tentu saja ia adalah putri kesayangan yang dilindungi banyak ksatria.
Dan rencananya, Luna akan segera melangsungkan pernikahan selepas pertunangan Daniel.
.
.
Dah yah … bagaimana nasib kisah cinta Daniel, nanti di bukunya Daniel sendiri.
Luna? tentu saja di bukunya sendiri juga, Sama siapa? Evander Gunadi atau Sergio Nathan? nanti di bukunya, anggap aja sekarang othor nyicil kisi-kisi Daniel dan Luna.
.
.
terima kasih sudah mampir dan kasih atensi🥰
hati2 y/Sneer//Sneer/