Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02: Boutique
Kereta kuda berwarna ungu tua berlambangkan bunga mawar emas itu melaju perlahan membelah jalanan ibu kota. Di dalamnya, Amorette duduk bersandar pada bantalan empuk, pandangannya menatap lurus ke depan namun pikirannya terus berputar memikirkan kejadian tadi di kamarnya.
Ingatannya kembali pada tumpukan gaun yang diserahkan para pelayan. Awalnya ia mengira itu adalah hadiah atau bentuk perhatian dari ayahnya, namun saat ia memerhatikan lebih teliti, bibirnya hampir melengkung dalam senyum sinis. Model, potongan, hingga warna kainnya—semuanya sama persis dengan gaya pakaian yang biasa dipakai oleh Elarise. Bahkan, ada beberapa helai yang warnanya identik dengan gaun-gaun milik adik tirinya itu.
Trik lama yang sangat murahan, batin Amorette dengan dingin.
Di dalam novel, memang tertulis bahwa Elarise selalu tampil sebagai sosok yang manis dan unik. Dan setiap kali Amorette mengenakan sesuatu yang mirip atau sama, semua orang akan langsung berseru bahwa sang putri penjahat itu sedang meniru gaya Elarise, berusaha terlihat sebaik adik tirinya namun selalu gagal dan terlihat konyol. Itu adalah salah satu cara sederhana namun efektif untuk terus-menerus merendahkan harga diri Amorette di mata publik dan keluarga.
"Jika aku memakai sampah itu, aku hanya akan memberi mereka bahan tertawaan baru," gumamnya pelan. Ia sudah bertekad sejak tadi: ia tidak akan lagi berjalan di jalan yang sudah dipetakan oleh musuhnya. Ia adalah Autumn Isabella, wanita yang membangun hidupnya sendiri dari nol, memiliki selera seni yang tinggi dan pemahaman mendalam tentang keindahan alam dan tumbuhan. Ia tahu persis apa yang cocok untuk dirinya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun—apalagi Elarise—menentukan bagaimana ia harus tampil.
Itulah sebabnya ia memutuskan untuk pergi keluar istana, memerintahkan kusir bersiap dan membawa dirinya berkeliling. Raja Julius memang mengizinkannya keluar, asalkan diawasi ketat oleh dua pengawal istana yang berdiri tegak di bagian belakang kereta. Bagi mereka, ini adalah tugas mengawasi "penjahat" agar tidak membuat masalah di luar. Bagi Amorette, ini adalah kesempatan emas untuk bernapas dan menegaskan kembali jati dirinya.
Tak lama kemudian, kereta melambat dan berhenti. Suara kusir terdengar dari luar, sopan dan tegas.
"Kita tiba, Tuan Putri."
Pintu kereta dibuka. Salah satu pengawal mengulurkan tangannya untuk membantu sang putri turun. Amorette meletakkan tangannya yang terbalut sarung tangan sutra ke atas telapak tangan kasar namun kokoh itu, lalu melangkah turun dengan gerakan yang anggun dan tenang—sangat berbeda dengan Amorette masa lalu yang biasanya turun dengan kasar atau terburu-buru. Ia menegakkan punggungnya, menatap bangunan di hadapannya.
Ini bukan kawasan butik mewah tempat para bangsawan biasa berbelanja, melainkan sebuah jalan kecil yang agak tersembunyi. Di hadapannya berdiri sebuah toko pakaian berukuran sedang dengan papan nama yang sudah agak kusam tertulis "Rumah Jahit Lavender". Dari luar saja sudah terlihat bahwa tempat ini tidak banyak dikunjungi, meski gantungan baju yang terpajang di jendela memamerkan kain-kain dengan motif yang sangat indah dan rumit.
Tanpa ragu, Amorette melangkah masuk, diikuti dari dekat oleh kedua pengawalnya yang kini berdiri diam di dekat pintu, menatap waspada ke sekeliling.
Udara di dalam butik itu berbau wangi sari bunga dan benang katun, aroma yang langsung membuat Amorette merasa nyaman—mengingatkannya sedikit pada laboratorium dan kebun tempat ia bekerja di dunia asalnya. Di balik meja panjang yang berantakan dengan kain dan pola jahitan, duduk seorang wanita tua yang sedang menjahit dengan teliti. Wanita itu mengangkat kepalanya saat mendengar langkah kaki, matanya yang berkerut karena usia terbelalak sejenak melihat siapa yang masuk.
Ia mengenali wajah itu. Wajah yang sering dibicarakan di pasar, wajah sang putri yang kejam, sombong, dan penuh kecemburuan. Wanita tua itu buru-buru berdiri, membersihkan roknya dengan gugup, lalu menundukkan badan dalam penghormatan yang dalam.
"Eh, Tuan Putri! Apa yang Anda cari? Bisakah saya membantu?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut dan penuh kesopanan, namun terselip rasa takut yang jelas terdengar. Ia khawatir kehadiran putri ini bukanlah hal yang baik—mungkin sang putri datang untuk marah-marah, atau menuntut sesuatu, atau sekadar melepaskan emosinya pada orang biasa seperti dirinya.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat wanita tua itu hampir tidak percaya.
Amorette justru tersenyum. Sebuah senyum yang lembut, hangat, dan tulus—senyum yang sudah lama tidak ditunjukkan oleh pemilik tubuh ini kepada siapa pun, terutama kepada rakyat jelata. Tidak ada sedikit pun jejak kesombongan atau kemarahan di wajah cantik itu.
"Saya mencari gaun berwarna zamrud yang cocok dengan warna mata saya, dan juga beberapa perhiasan yang senada dengan gaun," jawab Amorette dengan suara yang sama lembutnya, matanya menatap lurus ke mata wanita tua itu dengan pandangan yang ramah dan cerdas.
Wanita tua itu—yang bernama Nyonya Elmira—tertegun cukup lama. Ia menatap wajah sang putri, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan atau ejekan, namun ia tidak menemukan apa pun. Gadis muda di hadapannya ini benar-benar sedang mencari gaun, dan ia bertanya seolah-olah mereka adalah kenalan lama. Rasa takutnya perlahan luntur, digantikan oleh rasa hormat dan keheranan.
"Tentu saja, Yang Mulia. Silakan berkeliling. Saya memiliki beberapa kain terbaik yang saya simpan di belakang, warna zamrud adalah warna yang sangat langka dan sulit dicocokkan, tapi saya rasa saya memiliki sesuatu yang pas untuk keindahan Mata Baginda," jawab Nyonya Elmira dengan antusiasme yang kembali tumbuh.
Selama satu jam berikutnya, suasana di dalam butik itu terasa hangat dan damai. Amorette menyusuri setiap rak, menyentuh kain-kain itu dengan jari-jarinya yang terlatih—sebagai ahli botani, ia memiliki kepekaan tinggi terhadap tekstur dan kualitas bahan. Ia menolak beberapa gaun yang meski indah namun terlalu mencolok atau berlebihan, sesuatu yang biasa dipakai Amorette asli untuk menarik perhatian namun berakhir terlihat norak. Ia mencari sesuatu yang lain: keanggunan yang tersembunyi, kemewahan yang tidak berteriak.
Hingga akhirnya, tangannya berhenti di sebuah gantungan yang agak tersembunyi di sudut ruangan.
"Ini dia," bisiknya.
Itu adalah gaun berwarna hijau zamrud pekat, warnanya persis sama dengan manik matanya. Bahannya terbuat dari kain beludru halus yang berkilau lembut saat terkena cahaya, disertai lapisan kain sutra tipis yang transparan di bagian lengan dan bahu. Potongannya sangat sederhana, tidak memiliki sulaman emas yang berlebihan atau manik-manik besar. Namun, di bagian pinggang dan ujung rok, terdapat sulaman benang perak yang membentuk pola dedaunan dan bunga mawar yang sangat rumit dan halus—hasil karya tangan yang luar biasa indah.
"Ini karya Anda sendiri, Nyonya Elmira?" tanya Amorette sambil mengangkat gaun itu.
Wanita tua itu mengangguk bangga. "Benar, Yang Mulia. Saya merancangnya setahun lalu. Saya simpan karena saya berpikir tidak ada yang cukup pantas untuk mengenakan warna dan desain ini. Warnanya terlalu dalam dan berkarakter untuk gadis-gadis muda yang biasanya suka warna cerah seperti merah muda atau biru langit."
Amorette tersenyum lebar. "Anda benar. Warna ini bukan untuk mereka. Warna ini milikku."
Ia segera membawa gaun itu ke ruang ganti. Saat ia mengenakannya dan berdiri di depan cermin besar yang agak kusam di sudut ruangan, bahkan Nyonya Elmira sampai menutup mulutnya dengan tangan karena tak berkedip menatap.
Gaun itu terlihat sederhana saat masih digantung, namun saat berada di tubuh Amorette, gaun itu berubah menjadi sesuatu yang luar biasa indah. Potongannya pas di lekuk tubuhnya, menonjolkan bahu yang indah dan pinggang yang ramping. Warna zamrud itu menyatu sempurna dengan rambut hitam legam dan kulitnya yang putih bersih, membuatnya terlihat seolah-olah ia adalah bagian dari hutan purba yang hidup dan bernapas. Amorette kemudian mengambil beberapa perhiasan sederhana yang juga dijual di sana: sepasang anting berhias batu zamrud kecil, kalung tipis dengan liontin daun, dan ikat pinggang perak polos. Semuanya senada, semuanya sederhana, namun saat dipadukan, efeknya sangat memukau.
"Aku lupa betapa indahnya warna ini," ujar Amorette secara tiba-tiba, matanya menatap pantulan dirinya sendiri dengan rasa bangga yang wajar, bukan kesombongan. Di dunia asalnya, warna hijau adalah warna favoritnya, warna kehidupan, warna tumbuhan yang selalu menemaninya sepi. "Warna ini selalu cocok denganku, sejak dulu."
"Benar sekali, Yang Mulia," sahut Nyonya Elmira dengan mata berbinar-binar haru. "Anda terlihat bersinar. Seperti putri sejati yang turun dari lukisan kuno. Tidak ada satu pun gaun di istana yang bisa menandingi penampilan Anda saat ini."
"Terima kasih, Nyonya. Saya sangat menyukainya."
Setelah puas memandangi penampilannya, Amorette kembali mengganti pakaiannya dan menyerahkan gaun serta perhiasan itu untuk dibungkus. Nyonya Elmira membungkusnya dengan hati-hati ke dalam kotak kayu sederhana yang dilapisi kain kasa.
Saat tiba saatnya pembayaran, wanita tua itu menyebutkan harga dengan ragu-ragu. Ia tahu Putri Amorette sering kali tidak membayar atau membayar seikhlasnya saja, atau bahkan memaksa mengambil barang secara cuma-cuma.
"Harganya... dua belas koin emas saja, Yang Mulia," ucapnya pelan.
Amorette mengangguk pelan, lalu merogoh kantong kecil di ikat pinggangnya. Ia mengeluarkan sejumlah koin emas berkilau dan meletakkannya di atas meja kayu. Namun, bukan dua belas keping yang terdengar jatuh, melainkan bunyi denting yang berulang kali, berjumlah jauh lebih banyak. Nyonya Elmira menghitung dengan cepat, matanya terbelalak kaget hingga hampir copot.
Delapan puluh koin emas.
"Ini... ini terlalu banyak, Yang Mulia! Saya tidak berani menerima sebanyak ini!" seru Nyonya Elmira sambil berusaha mengembalikan sebagiannya.
Namun, Amorette menahan tangan keriput itu dengan lembut. Tatapannya tajam namun penuh arti.
"Untuk merenovasi butikmu," ucapnya, nada suaranya terdengar sedikit pedas, seolah sedang menegur, namun di balik itu terselip rasa hormat yang besar. "Sayang sekali, gaun di tempat ini sangat indah dan berkualitas tinggi. Kualitas jahitanmu jauh lebih baik daripada penjahit istana yang hanya pandai menempelkan permata besar agar terlihat mewah. Namun sangat sepi pengunjung. Papan namanya sudah kusam, jendelanya berdebu. Keindahan tidak boleh disembunyikan seperti ini, Nyonya. Lakukan perbaikan, agar orang-orang tahu di mana letak seni yang sesungguhnya."
Wanita tua itu gemetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama puluhan tahun ia bekerja, tidak ada satu pun bangsawan yang pernah menghargai karyanya, apalagi berbicara sebaik dan sebijaksana itu kepadanya. Selama ini ia hanya dianggap pembuat baju murahan. Kini, sang Putri Amorette—yang konon jahat dan kejam—memberinya kekayaan dan penghargaan yang luar biasa.
"Terima kasih, Yang Mulia! Terima kasih banyak! Semoga dewi keberuntungan selalu menyertai langkah Baginda!" serunya sambil bersujud syukur berkali-kali di depan sang putri.
Amorette tersenyum hangat dan meminta wanita itu berdiri. "Berdirilah, Nyonya. Kau tidak perlu bersujud padaku. Kau adalah seniman, dan seniman harus dihargai."
Setelah memastikan kotak gaun tersimpan aman di tangan pengawal, Amorette melangkah keluar dari butik itu dengan langkah ringan dan hati yang lega. Angin sore yang sejuk menyapu wajahnya, membuatnya merasa lebih siap menghadapi apa pun yang akan datang di pesta ulang tahun Elarise nanti.
Ia berniat kembali ke kereta, namun tanpa disadari, sosok berkuda yang sejak tadi berhenti di ujung jalan itu melihat semuanya dengan sangat jelas.
Pangeran Theodore Sullivan Remington duduk tegak di atas punggung kuda hitamnya yang gagah. Ia datang ke kawasan ini karena mendengar ada penjahit tua yang pandai membuat gaun dengan kain nyaman, dan ia berniat membelikan sesuatu yang istimewa namun sederhana untuk Elarise—sesuatu yang cocok dengan sifat gadis itu yang polos dan lembut.
Namun, niatnya itu terhenti seketika saat ia melihat sosok yang keluar dari toko tua itu.
Pangeran Theodore mengerutkan keningnya, matanya yang tajam menatap penuh kebingungan. Ia mengenali wajah itu, ia mengenali sosok itu sangat baik. Itu adalah Amorette Ysandre Elowen. Wanita yang ia kenal selalu berjalan dengan angkuh, berbicara keras, dan selalu menatap penuh kebencian. Wanita yang selalu berusaha menyaingi Elarise dengan cara-cara yang memalukan.
Namun, apa yang baru saja dilihatnya di balik jendela toko itu... hal itu tidak masuk akal baginya.
Ia melihat Amorette tersenyum. Bukan senyum sinis atau senyum kemenangan, melainkan senyum yang tulus dan lembut. Ia melihatnya berbicara sopan, ia melihatnya memperlakukan wanita tua itu dengan hormat, dan yang paling mengejutkan—ia melihatnya memberikan banyak sekali uang, jauh di atas harga barang, seolah sedang membantu orang itu dengan tulus.
Pangeran Theodore tetap diam di sana, tidak bergerak, tertegun di atas kudanya saat Amorette masuk kembali ke dalam keretanya dan perlahan melaju pergi menjauh.
Apakah aku salah lihat? batinnya bertanya-tanya, perasaannya menjadi tidak tenang. Putri Amorette? Wanita yang kejam itu? Mengapa... mengapa tadi dia terlihat begitu... anggun? Dan mengapa matanya yang biasanya penuh amarah itu kini terlihat begitu tenang, cerdas, dan jauh lebih indah dari yang pernah aku bayangkan sebelumnya?
Di dalam benaknya yang kaku dan penuh prasangka itu, sedikit demi sedikit mulai tumbuh sebuah keraguan kecil yang mengganggu. Sesuatu telah berubah pada diri Putri Amorette, dan Pangeran Theodore sama sekali belum menyadari bahwa perubahan itu akan mengguncang seluruh alur cerita yang ia kenal selama ini.