Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Selesai membantu suaminya menjinakkan benda pusaka. Lulu melenggang keluar kamar dan menuju dapur. Berada di ruangan lembab cukup lama ternyata membuat tenggorokannya terasa kering, apa lagi Dev membungkam terus bibirnya dengan pagutan.
Gluk...gluk...gluk...
"Ha... segarnya!" Gumam Lulu setelah meneguk air dingin dari kulkas.
"Loh, Non Lulu gak jadi tidur, ya?" Tegur Bu Asih bertanya.
"Eh, Bibi! iya, di dalam terlalu panas, jadi aku gak bisa tidur! oh iya, Bibi tadi masak apa aja? kebetulan, aku juga lapar sekarang, he..." Kekeh Lulu tersipu malu.
"Ya ampun, Non! Bibi hampir lupa mengingatkan kalian, tadi! ayo duduk! Bibi akan sajikan dulu makanannya, untung tadi baru saja Bibi hangatkan." Sahut Bi Asih seraya menyajikan kembali masakan yang tengah dia buat untuk majikannya.
"Terimakasih, ya Bi!" Ucap Lulu seraya mendaratkan bokongnya di salah satu kursi meja makan.
"Den Devin gak makan juga, ya Non?" Tanya Bi Asih.
"Sepertinya dia kelelahan, Bi! jadi dia langsung tidur setelah mandi!" Sahut Lulu dengan santainya. Padahal jawabannya itu membuat Bi Asih tersenyum mendengarnya.
"Sepertinya suara berisik tadi memang ulah mereka berdua! hihi..." Batin Bi Asih yang mengira jika Lulu sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Padahal belum sepenuhnya terjadi.
"Bibi kenapa senyum-senyum sendiri? memangnya ada yang lucu, ya Bi?" Tegur Lulu menyadarkan lamunan Bi Asih.
"Eh, engga ko Non! Bibi cuma jadi teringat tukang sayur tadi pagi yang salah kasih kembalian gara-gara liat cewek cantik lewat, tapi sayangnya giginya ompong, Non! ahahaha..." Kekeh Bu Asih menyembunyikan rasa malunya karena ketauan senyum-senyum sendiri.
"Haist! aku pikir Bibi senyum kenapa? Bibi temani aku makan, ya! aku gak biasa makan sendirian, rasanya aneh banget! sepi!" Tutur Lulu mengajak Bi Asih duduk di sampingnya.
"Ehh... gak usah, Non! Bibi sudah makan ko tadi, lagi pula gak sopan kalau Bibi ikut makan bareng Non Lulu satu meja makan." Tolak Bi Asih sungkan.
"Udah, Bibi gak usah sungkan. Ayo makan bareng aku, Bi!" Seru Lulu menarik wanita paruh baya tersebut duduk disampingnya. Tanpa Bi Asih duga, Lulu juga mengambilkannya nasi serta lauk untuknya makan. Membuat ART sekaligus pengasuh suaminya itu terharu.
"Terimakasih, ya Non! seumur-umur, Bibi baru pertama kali ini makan satu meja dengan majikan," Ucap Bi Asih dengan mata yang mulai berembun.
"Sama-sama, Bi! udah yuk kita makan sekarang!" Sahut Lulu tak ingin terbawa perasaan.
Puas mengisi perut, Lulu kembali ke kamarnya dan mulai merangkak naik ke tempat tidur sesuai perintah Devin sebelum pria itu tidur lebih dulu.
"Pokoknya mulai malam ini kita harus selalu tidur satu ranjang, tidak boleh menolak, titik!" Ucap Devin membuat peraturan.
"Ha... baiklah!" Jawab Lulu pasrah.
"Apa dia benar-benar sudah tidur, ya? hm... sepertinya bakal seru nih kalau aku bisa kerjain dia!" Tiba-tiba saja Lulu mendapat ide untuk menjahili suaminya itu.
Lulu kembali turun dari tempat tidur dan mencari benda yang dia butuhkan. Setelah ketemu, Lulu kembali naik ke atas tempat tidur dan memulai aksi jahilnya.
"Hehe... aku mau tau reaksinya seperti apa saat melihat mukanya nanti! hihi... selamat malam suamiku," Gumam Lulu dengan suara sekecil mungkin.
Ternyata, Devin benar-benar pulas tertidur saat Lulu melukis wajahnya dengan lipstik miliknya. Sehingga Devin tak merasa terganggu sama sekali saat aksi jahil istrinya itu berlangsung. Namun, di tengah malam, Devin terbangun karena merasa suhu di kamar yang semakin dingin, akhirnya Devin terbangun dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan tubuh sang istri.
"Ternyata kamu semakin imut jika tidur seperti ini, selamat malam kucing kecil ku! eh..." Ucap Devin hendak mencium kening Lulu. Namun aksinya terhenti saat tangannya terasa menindih sesuatu yang keras.
"Apa ini? apa dia memakai riasan sebelum tidur ya?" Gumam Devin seraya mengamati benda yang dia temukan.
"Aha! aku punya ide! hehe... aku akan buat dia terkejut saat bangun nanti!" Ucap Devin lagi seraya membuat coretan-coretan abstrak di wajah istrinya.
Pagi harinya, keduanya masih terlihat bersembunyi di balik selimut. Padahal pagi itu, Kakek Satrio sudah menelepon mereka berkali-kali. Rencananya Kakek Satrio akan mengunjungi apartemen cucunya itu untuk menjenguk mereka berdua, sekaligus memastikan jika hubungan cucunya dengan sang cucu menantu tidak ada masalah, sesuai yang di laporkan Bi Asih.
"Kenapa mereka tidak mengangkat teleponku sama sekali?" Gumam Kakek Satrio sedikit kesal karena tak mendapat jawaban seperti yang dia harapkan.
"Tuan, kenapa tidak hubungi Bi Asih saja? dia pasti tau kenapa Tuan muda dan istrinya tidak menjawab telepon dari Tuan!" Tutur Wandi, asisten kepercayaan Kakek Satrio.
"Kamu benar, Wan! kalau begitu aku akan menelepon Asih saja untuk menanyakan kabar mereka!" Sahut Kakek Satrio seraya mencari kontak Bi Asih di ponselnya. Tak berselang lama, panggilan teleponnya pun terhubung.
📞 "Saya Tuan, apa ada yang Tuan butuhkan?" Seru Bu Asih.
📞 "As, kenapa anak-anak tidak menjawab telepon dariku? apa mereka tidak ada di rumah, ya? mereka baik-baik saja, kan?" Cecar Kakek Satrio.
Bi Asih menceritakan semua yang dia ketahui semalam tanpa terlewatkan sedikit pun. Kakek Satrio benar-benar bahagia. Dia sungguh bersyukur jika cucunya dan cucu sang mendiang sahabatnya bisa semudah itu saling mencintai.
📞 "Bagus! kalau begitu aku akan mengunjungi mereka sebentar lagi, aku sudah tidak sabar ingin menyaksikan kedekatan mereka langsung dengan mata kepala ku sendiri!" Ucap Kakek Satrio antusias.
"Wan, nanti kita mampir ke toko perhiasan dulu, ya! aku ingin membeli hadiah untuk cucu menantuku! sekarang aku mau mandi dulu!" Seru Kakek Satrio.
"Baik Tuan," Jawab Pak Wandi seraya menyiapkan mobil sebelum majikannya mengajaknya pergi.
Setelah harum dan rapi, Kakek Satrio di antara Pak Wandi menuju sebuah toko perhiasan langganannya. Kakek Satrio segera meminta pemilik tokonya sendiri yang memilihkan hadiah untuk cucunya itu.
"Ini adalah gelang berlian terbaru yang baru toko kami buat Minggu ini, Tuan! dan ini hanya di buat dua buah saja di toko kami! silahkan Tuan lihat dulu. Semoga saja gelang ini sesuai dengan selera Tuan!" Ucap pemilik toko perhiasan.
"Aku menyukainya, kalau begitu tolong bungkus yang berwarna biru ini untukku!" Sahut Kakek Satrio setelah meneliti detail ukiran berlian yang mengelilingi gelang tersebut.
"Baik Tuan, saya akan membungkusnya serapih mungkin untuk anda!" Ucap pemilik toko.
Setelah berhasil mendapatkan yang di inginkan, Kakek Satrio kembali bergegas bersama asisten setianya mengunjungi apartemen sang cucu. Diperjalanan, Kakek Satrio tak hentinya mengembangkan senyumnya karena tak sabar ingin melihat kedekatan hubungan cucu-cucunya.
Tiba di apartemen, Kakek Satrio segera masuk dan di suguhi secangkir teh hangat oleh Bi Asih. Namun saat hendak menyeruput minuman khas Nusantara tersebut, Kakek Satrio di kejutkan dengan kedua cucunya yang baru saja terbangun dan menghampirinya setelah Bi Asih memberi tahu mereka dari balik pintu kamar.
Tok...tok...tok...
"Den, Non! di ruang tamu ada Tuan Satrio," Seru Bi Asih setelah mengetuk pintu.
"Dev, bang... ahahaha," Ucap Lulu tercekat setelah mengingat kejahilannya semalam melukis wajah sang suami.
"Emm... ada apa, aku masih ngantuk! sini aku peluk lagi!" Gumam Devin yang masih enggan membuka kedua bola matanya dan malah menarik kembali pergelangan tangan Lulu agar berbaring lagi.
"Kakek ada di luar, Dev! sebaiknya kita menemuinya sekarang! ayo bangun!" Seru Lulu berusaha menyadarkan Devin dari rasa kantuk.
"Haist! kenapa Kakek datang pagi-pagi begini, sih?" Gerutu Devin yang akhirnya terbangun dan melihat wajah Lulu yang dia poles semalam.
"Ahahaha..." Kelakar Devin tertawa.
"Kenapa kamu tertawa? memangnya ada yang lucu, ya? ayo cepat bangun! aku akan malu jika kita tidak segera keluar!" Seru Lulu seraya menarik tangan Devin untuk keluar dari kamar mereka.
"Ok-ok, tapi kamu benar-benar membuatku ingin tertawa, Lu! ahahha..." Ucap Devin kembali tertawa.
"Terus saja mengejekku, apa kamu bisa menahannya jika Kakek sampai mengetahui mukamu yang jelek itu? hihi," Batin Lulu.
Ceklek...
"Selamat Pagi, Kek!" Sapa Devin dan Lulu.
Byurr...
Bukannya membalas sapaan, Kakek Satrio malah menyemburkan teh yang baru saja dia seruput karena terkejut.
.
.
.
.
.
Haduh Kek, untung gak nyembur kena muka Momi 😅
Makasih ya udah mampir, jangan lupa kasih dukungannya juga ya, biar Momi tambah semangat up...
See you next bab... 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.