Pernikahan terpaksa ini sungguh menyakitkan..
Apalagi jika benih cinta mulai muncul secara sepihak..
ah begitu sakit rasanya..
Tapi aku harus kuat, Aku tak ingin membuat banyak hati kecewa karena sikapnya padaku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PSH - 22
Fely pulang kerumah menumpangi taxi online, karena Rara dan Nayla masih makan siang di kantin dan mengerjakan tugas yang belum mereka selesaikan , mengingat besok adalah UAS maka nilai tugas yang masih kurang harus segera ia cukupi, kalau Fely? bagi dosen nilai Fely selalu lebih dari cukup, itulah mengapa Fely selalu menjadi kebanggan para dosen..
**
Tiba dirumah mewah itu, Fely langsung bergegas membersihkan diri.. di lihat tubuhnya di depan cermin masih banyak lebam, ingin ia menangisi semuanya namun kembali ia tepis dengan langkah panjangnya menuju keberhasilan dalam hidup..
Usai membersikan diri ia sholat lalu beristirahat sejenak,...
Sore hari, Fely mulai membuka laptopnya ia mulai mengulas materi demi materi yang akan di ujikan besok.. meski menurut beberapa temannya semua materi sudah berada di luar kepala Fely namun Tak membuat Fely besar kepala, baginya banyak sekali materi yang ia lupakan..
2 jam berkutik dengan serius pun akhirnya buyar seketika karena suara Adzan berkumandang, Felly keluar kamarnya menuju dapur.. di teguknya air putih hangat yang ia ambil dari dispenser.... Fely mengambil satu buah aple dan tiga butir kurma lalu ia kembali ke kamarnya sambil membawa segelas air di tangan kirinya, ia memilih memakan aple, dan kurma di kamarnya, malas rasanya jika harus bertemu dengan Rey...usai melepas dahaga dan mengganjal perutnya, ia melakukan sholat magrib kemudian ia lanjutkan dengan mengaji, Bu Mar yang semula ingin mengajak Fely makan malam pun merasa tak enak jika harus menganggu Fely mengaji..
"Dimana Fely Bu" Tanya Rey yang sudah berada di meja makan
"Sedang mengaji Den, Ibu ga enak ganggunya.. Aden makan duluan aja" Kata Bu Mar
Rey mengangguk, namun ia malah beranjak dari kursi makan menuju ruang Keluarga, dari ruang tersebut terdengar jelas suara Fely mengaji.. Rey memejamkan matanya sambil merebahkan kepalanya di pelupuk sofa
dia gadis baik-baik.. tentu beruntung Pria yang mendapatkannya, Namun apalah daya Fell.. aku mencintai Fika bukan kamu... - Batin Rey
Tak lama Rey tak mendengar suara Fely lagi, dengan cepat ia meminta Bu Mar menghampiri kamar Fely agar bisa makan malam bersama dengannya..
Bu Mar pun segera melakukannya, tak lama Fely datang mengekor Bu Mar..
"Silakan Non" kata Bu Mar pada Fely
"aku makan di belakang aja Sama Ibu ya" kata Fely pelan namun Rey dapat mendengarnya dan membuat Rey tersingung akan ucapan Fely
Rey menjatuhkan sendok dan garpunya ke atas piring, membuat Fely tersentak ketakutan..
"Duduk! Makan disini" Kata Rey dengan tatapan membunuh ke arah Fely, dengan gemetar tubuhnya Fely duduk, wajahnya memucat, ingatannya kembali memutar rekaman saat dirinya di pukul oleh Rey,seketika pula keringat deras membasahi kening Fely.. Bu Mar yang sudah lebih dulu ke dapur tidak melihat kondisi Fely saat ini, hanya Rey yang melihat..
Rey merasa bersalah dan jantungnya berdebar kencang, takut jika terjadi sesuatu pada Fely..
"Maaf... Makanlah supaya keadaanmu semakin membaik" Kata Rey dengan sopan dan lembut
Fely mengangguk, getar di tangannya sungguh terlihat saat Fely mengambil makanan.. Dengan cepat Rey mengambil alih dan meletakan nasi serta lauk di atas piring Fely
"Makanlah.. maafkan aku" ucap Rey kemudian Fely mengangguk, Fely tak berani menatap Rey, ia terus menunduk dan menahan gemetar di tubuhnya..
ternyata aku sudah menorehkan luka mendalam di hatinya samapai ia sebegitu takutnya dengan ucapakan ku ini...
*
Usai makan malam selesai, Fely merapihkan piring kotor ke dapur.. Rey semakin merasa bersalah saat Fely benar-benar ingin menjauh dari nya karena sikapnya yang kasar...
"Fel.. ada yang mau saya bicarakan, saya tunggu di ruang kerja saya" kata Rey menjadi sedikit formal.. Fely kembali berdebar, rasa gugup mendera tubuhnya seolah ingin menolak namun itu adalah hal terburuk jika Sampai ia menolak Rey..
Fely menatap pungung Rey yang berjalan menuju lantai dua rumah tersebut..
sejenak Fely mematung di area dapur..
Jika aku mati di tangan Rey , mungkin itulah jalanku menuju kebahagiaan di alam lain...
Batin Fely seolah akan berhadapan langsung dengan seekor harimau buas...
****
Like
komen
Vote
MAKASIH...